Sabtu, 16 Juni 2012

Suka duka mahasiswa fisika material yang gak lulus-lulus



Universitas Negeri MalangDisaat mahasiswa fisika yang lain sibuk dengan urusan yudisium serta persyaratan kelulusan yang lainnya. Ada segerombolan mahasiswa dari kbk material yang belum menunjukkan tanda-tanda kelulusan. Bahkan tanda-tanda keberhasilan penelitiannya pun masih jauh dari yang diharapkan. Banyak yang hampir frustasi dan hanya bisa diam serta terus berusaha dan berdoa. Walaupun sebenarnya masih banyak dari kbk yang lain yang juga belum lulus dan masih berkutat dengan penelitiannya.
Tidak seperti anak bimbingan dosen lain, sudah banyak yang selesai dengan penelitian akhirnya. Anak bimbingan Mr. Mark banyak yang belum selesai dengan skripsinya. Dosen yang banyak ditakuti mahasiswa ini terkenal dengan sikap perfeksonisnya. Banyak dihindari jadi penguji skripsi. Namun bagi sebagian yang lain bapak satu ini patut dijadikan sebagai salah satu tantangan, apalagi kalau bukan sebagai dosen pembimbing skripsi. Banyak kemauan itu pasti, banyak menuntut apalagi, sudah menjadi hal yang biasa. Anak bimbingannya hanya satu yang telah selesai ujian yang lainnya masih tidak jelas juntrungannya. Alias masih berkutat dengan penelitian skripsinya.
Heni Utami, adalah salah satu mahasiswa fisika material yang juga anak bimbingannya Mr.Mark. Dia mengungkapkan bagaimana suka dukanya selama berbulan-bulan tinggal di lab nanomaterial (salah satu lab material yang ada di fisika, UM). Dia mengungkapkan bahwa hingga saat ini bahan yang ia doping belum juga berhasil. Sudah berkali-kali ia harus uji karakterisasi entah itu XRF ataupun XRD. Dengan berbagai metode dan variasi entah doping entah ph ataupun variasi suhu annealing ia coba semua. Namun hasilnya masih juga belum memuaskan. Terkadang jika sedang jenuh ia jejer semua hasil XRD yang pernah ia lakukan dan melihatnya satu persatu seperti orang linglung.
Hampir sama dengan Heni, cak ipin yang beberapa waktu lamanya sempat patah tulang itu juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahannya per 5 gram mencapai 500ribu. Sedangkan sintesis yang ia lakukan juga belum tentu berhasil. Juga ada Arum yang harus ganti judul karena berkali-kali gagal. Kebanyakan memang banyak yang terbebani dengan biaya dan faktor X yang menyebabkan bahannya tidak jadi juga.
 “Banyak yang bilang saya gak niat ngerjain skripsi, tapi mereka gak tahu apa yang terjadi. Kalau masalah semangat saya ini semangat tapi yang memberatkan ya itu, setiap karakterisasi XRD harus mengeluarkan biaya 75rb per sampel. Sampelnya pun banyak.tidak hanya satu atau dua. Padahal untuk karakterisasinya pun gak hanya itu. Masih ada XRF, SEM atau bahkan EDAX jika disuruh dosen pembimbing. Dan tiap sampel bisa mencapai lebih dari 100rb untuk tiap karakterisasi misalnya SEM yang untuk mahasiswa um harganya 125rb per sampel. Sudah habis uangku cuma buat XRD yang hingga kini untuk biaya penelitian saja sudah mencapai 2jutaan padahal itupun belum berhasil.”
Diakhir pembicaraan Heni berharap jika ia bisa segera menyelesaikan penelitiannya dan segera ujian. Dia menambahkan semoga Mr. Mark mau berbaik hati menyumbang untuk anak-anak bimbingannya agar tidak terlalu berat beban yang ditanggung. Seperti membebaskan biaya untuk anak-anaknya saat uji karakterisasi. Hal ini pun diamini oleh mahasiswa material yang lainnya. []Delima Putih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar