Universitas Negeri Malang – Disaat mahasiswa fisika yang lain sibuk dengan urusan yudisium
serta persyaratan kelulusan yang lainnya. Ada segerombolan mahasiswa dari kbk
material yang belum menunjukkan tanda-tanda kelulusan. Bahkan tanda-tanda
keberhasilan penelitiannya pun masih jauh dari yang diharapkan. Banyak yang
hampir frustasi dan hanya bisa diam serta terus berusaha dan berdoa. Walaupun
sebenarnya masih banyak dari kbk yang lain yang juga belum lulus dan masih
berkutat dengan penelitiannya.
Tidak seperti anak bimbingan dosen lain, sudah banyak yang selesai
dengan penelitian akhirnya. Anak bimbingan Mr. Mark banyak yang belum selesai
dengan skripsinya. Dosen yang banyak ditakuti mahasiswa ini terkenal dengan
sikap perfeksonisnya. Banyak dihindari jadi penguji skripsi. Namun bagi
sebagian yang lain bapak satu ini patut dijadikan sebagai salah satu tantangan,
apalagi kalau bukan sebagai dosen pembimbing skripsi. Banyak kemauan itu pasti,
banyak menuntut apalagi, sudah menjadi hal yang biasa. Anak bimbingannya hanya
satu yang telah selesai ujian yang lainnya masih tidak jelas juntrungannya.
Alias masih berkutat dengan penelitian skripsinya.
Heni Utami, adalah salah satu mahasiswa fisika material yang juga
anak bimbingannya Mr.Mark. Dia mengungkapkan bagaimana suka dukanya selama
berbulan-bulan tinggal di lab nanomaterial (salah satu lab material yang ada di
fisika, UM). Dia mengungkapkan bahwa hingga saat ini bahan yang ia doping belum
juga berhasil. Sudah berkali-kali ia harus uji karakterisasi entah itu XRF
ataupun XRD. Dengan berbagai metode dan variasi entah doping entah ph ataupun
variasi suhu annealing ia coba semua. Namun hasilnya masih juga belum
memuaskan. Terkadang jika sedang jenuh ia jejer semua hasil XRD yang pernah ia
lakukan dan melihatnya satu persatu seperti orang linglung.
Hampir
sama dengan Heni, cak ipin yang beberapa waktu lamanya sempat patah tulang itu
juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahannya per 5 gram mencapai
500ribu. Sedangkan sintesis yang ia lakukan juga belum tentu berhasil. Juga ada
Arum yang harus ganti judul karena berkali-kali gagal. Kebanyakan memang banyak
yang terbebani dengan biaya dan faktor X yang menyebabkan bahannya tidak jadi
juga.
“Banyak yang bilang saya gak niat ngerjain
skripsi, tapi mereka gak tahu apa yang terjadi. Kalau masalah semangat saya ini
semangat tapi yang memberatkan ya itu, setiap karakterisasi XRD harus
mengeluarkan biaya 75rb per sampel. Sampelnya pun banyak.tidak hanya satu atau
dua. Padahal untuk karakterisasinya pun gak hanya itu. Masih ada XRF, SEM atau
bahkan EDAX jika disuruh dosen pembimbing. Dan tiap sampel bisa mencapai lebih
dari 100rb untuk tiap karakterisasi misalnya SEM yang untuk mahasiswa um
harganya 125rb per sampel. Sudah habis uangku cuma buat XRD yang hingga kini
untuk biaya penelitian saja sudah mencapai 2jutaan padahal itupun belum
berhasil.”
Diakhir
pembicaraan Heni berharap jika ia bisa segera menyelesaikan penelitiannya dan
segera ujian. Dia menambahkan semoga Mr. Mark mau berbaik hati menyumbang untuk
anak-anak bimbingannya agar tidak terlalu berat beban yang ditanggung. Seperti
membebaskan biaya untuk anak-anaknya saat uji karakterisasi. Hal ini pun
diamini oleh mahasiswa material yang lainnya. []Delima Putih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar