Senin, 07 Januari 2013

Bukit Tangesan


Dia hanya seorang pekerja kasar. Kuli yang bekerja menggergaji batu putih di bukit desa. Hampir sebagian besar penduduk desa memang bekerja dengan mengambil batu kapur di bukit tersebut. Selebihnya menjadipetani dan buruh tani di sawah. Hanya sebagian kecil yang bekerja sebagai pedagang dan pegawai.

Sudah dua tahun ini dia ikut bekerja sebagai penambang batu kapur. Terpaksa tidak melanjutkan sekolah untuk membiayai hidup keluarganya. Mengambil alih tulang punggung keluarga sejak ditinggal pergi sang Bapak meninggal. Karsi, nama si pemuda itu. Membanting tulang untuk membantu Ibunya. Menghidupi adik-adiknya yang masih kecil.


“Le, hari ini kamu jadi menambang batu kapur?”

“Iya Bu, nanti agak siangan berangkat.”

“Ya sudah, Ibu tinggal ke pasar dulu yo Le.” Kata sang Ibu yang sehari-sehari berjualan sayur-sayuran di pasar.

”Nggeh Bu.”

Siangnya Karsi dan beberapa teman kerjanya segera menuju ke tempat penambangan. Bukit tersebut memang sudah lama dijadikan objek penambangan batu kapur oleh penduduk sekitar. Dengan menggunakan gergaji, para penambang tersebut mengambil batu kapur ersebut. Untuk akhirnya dijual sebagai bahan bangunan. Ada pula yang disetor ke pabrik-pabrik untuk diolah kembali menjadi produk baru yang lebih bernilai ekonomis.

Dulu bukit tersebut tinggi gagah menjulang langit. Namun kini tampak sakit dan rapuh. Di dalamnya, setiap hari orang-orang menambang batu. Makin hari makin keroposlah ia. Tumbuh-tumbuhan yang dulu banyak menumbuhi area bukit, kini seolah ikut menangis, terlihat gersang dan tandus. Begitu pula dengan binatang-binatang yang dulu menghuni bukit itu, kini punah. Bukit itu tak berpenghuni. Hanya suara-suara gergaji yang beradu dengan kerasnya batulah yang mengakrapi bukit tersebut.

Sore itu Karsi duduk-duduk di dalam gua, tempat ia menambang batu. Kebetulan sore itu hujan deras. Angin rebut kesana kemari. Terpaksa ia dan teman-temannya tak bisa pulang. Bernaung di dalam gua. Menunggu hujan dan angin mereda. Tidak biasanya hujan sederas itu. Suara angin terdengar menderu-deru dari kejauhan.

Sembari menunggu hujan reda. Karsi dan teman-temannya duduk-duduk dan ngobrol kesana kemari. Namun sayup-sayup terdengar suara seorang gadis yang menangis. Karsi yang mendengar pertama kali, langsung pasang telinga untuk mendengarkan lebih seksama.

“Hiks..Hiks….” Suara tangisan seorang gadis tersebut semakin keras.

Karsi mengerutkan dahi dan wajahnya seperti berpikir. Ia semakin pasang telinga untuk mendengarkan dengan lebih jelas. Hal ini mengundang pertanyaan dari teman-temannya.

“Ada apa Si, kenapa wajahmu berubah seperti itu?” Tanya Sulio, temannya

“Aku mendengar suara gadis yang sedang menangis. Coba kalian dengarkan.”  Jawab Karsi.

“Iya aku mendengarnya.” Jawab salah seorang temannya yang lain sambil pasang telinga.

Lalu Karsi bangkit dan meninggalkan teman-temannya. Ia masuk kedalam gua penambangan tersebut. Gua buatan manusia yang semakin membuat bukit tersebut ringkih.

“Mau kemana Si?” Tanya Sulio saat melihat Karsi beranjak meninggalkan mereka.

“Kalian tunggu saja disini, aku periksa dulu asal suara tersebut.”

“Jangan Si, disini saja. Kamu tahu kan disini gak mungkin ada seorang gadis, apalagi menangis. Mungkin saja itu hanya suara hujan yang terdengar seperti tangisan.

Namun Karsi tidak menghiraukan suara temannya. Ia tetap saja berdiri dan melangkahkan kaki ke dalam. Ia terus saja masuk, dan suara tersebut kadang timbul tenggelam. Karsi tidak sadar Ia semakin masuk ke dalam. Ia langkahkan kakinya perlahan-lahan. Namun tiba-tiba, braaak…braaak..!! Naas, ternyata batu-batu diatasnya luruh, jatuh menimpa tubuh Karsi. Bukit yang telah keropos tersebut tentu saja sangat berpotensi untuk longsor.

Sejak kejadian itulah bukit tersebut dinamai Bukit Tangesan. Karena suara-suara tangisan semakin sering terdengar dari bukit tersebut. Tak ada lagi yang berani menambang disana. Bahkan hikmahnya, masyarakat sekitar semakin peduli dengan lingkungannya. Tidak lagi merusak lingkungan. Mereka mencari mata pencaharian lain, seperti berdagang, bertani, menggembala binatang ternak dan lain sebagainya. Dari usaha-usaha tersebut ternyata masyarakat juga bisa hidup dengan lebih makmur. Tidak lagi mengandalkan penambangan batu kapur yang merusak lingkungan.[]Nee

Tuban, 8 Januari 2013
**ceritanya lagi belajar bikin dongeng n cerita anak-anak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar