Dia
hanya seorang pekerja kasar. Kuli yang bekerja menggergaji batu putih di bukit
desa. Hampir sebagian besar penduduk desa memang bekerja dengan mengambil batu
kapur di bukit tersebut. Selebihnya menjadipetani dan buruh tani di sawah.
Hanya sebagian kecil yang bekerja sebagai pedagang dan pegawai.
Sudah
dua tahun ini dia ikut bekerja sebagai penambang batu kapur. Terpaksa tidak melanjutkan
sekolah untuk membiayai hidup keluarganya. Mengambil alih tulang punggung
keluarga sejak ditinggal pergi sang Bapak meninggal. Karsi, nama si pemuda itu.
Membanting tulang untuk membantu Ibunya. Menghidupi adik-adiknya yang masih
kecil.
“Le,
hari ini kamu jadi menambang batu kapur?”
“Iya
Bu, nanti agak siangan berangkat.”
“Ya
sudah, Ibu tinggal ke pasar dulu yo Le.” Kata sang Ibu yang sehari-sehari
berjualan sayur-sayuran di pasar.
”Nggeh
Bu.”
Siangnya
Karsi dan beberapa teman kerjanya segera menuju ke tempat penambangan. Bukit
tersebut memang sudah lama dijadikan objek penambangan batu kapur oleh penduduk
sekitar. Dengan menggunakan gergaji, para penambang tersebut mengambil batu
kapur ersebut. Untuk akhirnya dijual sebagai bahan bangunan. Ada pula yang
disetor ke pabrik-pabrik untuk diolah kembali menjadi produk baru yang lebih
bernilai ekonomis.
Dulu
bukit tersebut tinggi gagah menjulang langit. Namun kini tampak sakit dan
rapuh. Di dalamnya, setiap hari orang-orang menambang batu. Makin hari makin
keroposlah ia. Tumbuh-tumbuhan yang dulu banyak menumbuhi area bukit, kini
seolah ikut menangis, terlihat gersang dan tandus. Begitu pula dengan
binatang-binatang yang dulu menghuni bukit itu, kini punah. Bukit itu tak
berpenghuni. Hanya suara-suara gergaji yang beradu dengan kerasnya batulah yang
mengakrapi bukit tersebut.
Sore
itu Karsi duduk-duduk di dalam gua, tempat ia menambang batu. Kebetulan sore
itu hujan deras. Angin rebut kesana kemari. Terpaksa ia dan teman-temannya tak
bisa pulang. Bernaung di dalam gua. Menunggu hujan dan angin mereda. Tidak
biasanya hujan sederas itu. Suara angin terdengar menderu-deru dari kejauhan.
Sembari
menunggu hujan reda. Karsi dan teman-temannya duduk-duduk dan ngobrol kesana
kemari. Namun sayup-sayup terdengar suara seorang gadis yang menangis. Karsi
yang mendengar pertama kali, langsung pasang telinga untuk mendengarkan lebih
seksama.
“Hiks..Hiks….”
Suara tangisan seorang gadis tersebut semakin keras.
Karsi
mengerutkan dahi dan wajahnya seperti berpikir. Ia semakin pasang telinga untuk
mendengarkan dengan lebih jelas. Hal ini mengundang pertanyaan dari
teman-temannya.
“Ada
apa Si, kenapa wajahmu berubah seperti itu?” Tanya Sulio, temannya
“Aku
mendengar suara gadis yang sedang menangis. Coba kalian dengarkan.” Jawab Karsi.
“Iya
aku mendengarnya.” Jawab salah seorang temannya yang lain sambil pasang telinga.
Lalu
Karsi bangkit dan meninggalkan teman-temannya. Ia masuk kedalam gua penambangan
tersebut. Gua buatan manusia yang semakin membuat bukit tersebut ringkih.
“Mau
kemana Si?” Tanya Sulio saat melihat Karsi beranjak meninggalkan mereka.
“Kalian
tunggu saja disini, aku periksa dulu asal suara tersebut.”
“Jangan
Si, disini saja. Kamu tahu kan disini gak mungkin ada seorang gadis, apalagi
menangis. Mungkin saja itu hanya suara hujan yang terdengar seperti tangisan.
”Namun
Karsi tidak menghiraukan suara temannya. Ia tetap saja berdiri dan melangkahkan
kaki ke dalam. Ia terus saja masuk, dan suara tersebut kadang timbul tenggelam.
Karsi tidak sadar Ia semakin masuk ke dalam. Ia langkahkan kakinya
perlahan-lahan. Namun tiba-tiba, braaak…braaak..!! Naas, ternyata batu-batu
diatasnya luruh, jatuh menimpa tubuh Karsi. Bukit yang telah keropos tersebut
tentu saja sangat berpotensi untuk longsor.
Sejak
kejadian itulah bukit tersebut dinamai
Bukit Tangesan. Karena suara-suara tangisan semakin sering terdengar dari
bukit tersebut. Tak ada lagi yang berani menambang disana. Bahkan hikmahnya,
masyarakat sekitar semakin peduli dengan lingkungannya. Tidak lagi merusak
lingkungan. Mereka mencari mata pencaharian lain, seperti berdagang, bertani,
menggembala binatang ternak dan lain sebagainya. Dari usaha-usaha tersebut
ternyata masyarakat juga bisa hidup dengan lebih makmur. Tidak lagi
mengandalkan penambangan batu kapur yang merusak lingkungan.[]Nee
Tuban, 8 Januari 2013
**ceritanya lagi belajar bikin dongeng n cerita anak-anak
Tuban, 8 Januari 2013
**ceritanya lagi belajar bikin dongeng n cerita anak-anak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar