Dimatanya lelaki ini mempunyai rupa yang baik, juga baik
pekertinya. Lelaki tersebut telah menawan hatinya. Hati seorang perempuan
bernama Rida. Karena tidak lagi menimba ilmu dikampus yang sama akhirnya mereka
menjalani hubungan jarak jauh. Hanya sesekali mereka bertemu. Menginjak satu
tahun hubungan ini, tanpa ada firasat kejadian tak terduga ia alami. Laki-laki
tersebut membawa Rida ke rumah dan bertemu dengan keluarganya. Tanpa
disangka-sangka sebelumnya, tiba-tiba sang Ayah menentukan tanggal pernikahan
untuk mereka berdua. Dengan tanpa basa basi dan tanpa tedeng aling-aling
sang ayah telah menentukan tanggal sakral tersebut.
“Baiklah tanggal untuk penikahan kalian tanggal 11 bulan depan” Kata
Ayah dari pacarnya tersebut tanpa basa basi.
Rida sangat kaget mendengarnya. Ia syock dan
tidak bisa berkata-kata. Entahlah. Rida seakan tak bisa berpikir saat itu. Ia
hanya mengangguk dan hanya tersenyum kecut. Antara kaget, bingung bercampur
menjadi satu. Sekarang masalahnya ia harus berkata apa pada kedua orangtuanya. Entahlah,
ia bingung.
Dalam perjalanan pulang kerumahnya, Rida
seperti orang linglung karena bingung harus berkata apa pada kedua orangtuanya.
Saat itu ia diantar oleh sang lelaki. Akhirnya entah logis atau tidak, lelaki itu
menjelaskan bahwa Ayahnya sudah tua dan ingin ia segera menikah. Karena itu
Rida dibawanya kerumah. Ia tak bisa langsung mengerti apa maksutnya ini. Ia
pulang dengan dada yang sesak. Lalu beberapa hari kemudian ia menyampaikan
kejadian dirumah pacarnya pada kedua orangtuanya.
“Rida, bukannya Ibu dan Ayah tidak merestui
hubungan kalian. Namun seharusnya bukan dengan seperti ini caranya.” Kata sang
ibu menanggapi apa yang telah disampaikan Rida.
“Seharusnya ada pembicaraan sebelumnya, kenapa
tak ada sama sekali. Menikah bukan perkara gampang kenapa mendadak sekali.”ujar
sang Ayah tidak habis pikir.
Rida hanya diam mendengar Ibu dan Ayahnya
berbicara. Terlihat bahwa sebenarnya orang tuanya belum bisa langsung menerima.
Namun akhirnya toh mau tidak mau orangtuanya merestui ia untuk menikah.
Disamping memang untuk menjauhi fitnah karena merekapun tahu bahwa puterinya
telah lama menjalin hubungan dengan lelaki tersebut. akhirnya diterimalah
lamaran tidak hormat tersebut. Tahapan lainpun diatur dan disempurnakan oleh
pihak keluarga perempuan. Hingga akhirnya mereka menikah.
Pernikahan baru berjalan satu dua bulan dan ia
akhirnya mengetahui dengan jelas lelaki yang menjadi suaminya itu. Ternyata ia
menikahi lelaki licik. Ia hanya lelaki yang memiliki rupa yang bagus, semua tak
sama seperti yang ia tampakkan dulu sewaktu pacaran. Suaminya bukan lelaki yang
selama ini ia kira. Bahkan untuk mengerjakan porogapit saja ia tak bisa, sholat
saja belum sempurna. Bukan lelaki seperti itu yang ia inginkan untuk menjadi
suami, bukan yang seperti yang ia harapkan. Namun toh sekarang ia sudah menjadi
istrinya. Rida berpikir bahwa ia harus bisa menerima suaminya, mungkin saja
masih perlu penyesuaian yang lebih lama.
Tapi ternyata hari demi hari terlewati namun
tak tampak perubahan baik dari suaminya. Bahkan ia mendapati banyak hal tak
sesuai yang ia temui. Mertua laki-lakinya, yang dulu ingin agar ia segera
menikah dengan puteranya. Ternyata ketika ia sudah menjadi istri puteranya
tersebut seperti beliau terlihat begitu membencinya, bersikap angkuh dan
bengis. Ia jadi bertanya-tanya ada apa dan kenapa. Apakah pernikahan ini hanya
akal-akalan licik suaminya. Akhirnya ia tahu bahwa ternyata mertuanya meminta
ia segera menikah karena suaminya yang berkata pada Ayahnya bahwa Rida ingin
segera dinikahi. Pantas saja mertuanya bersikap kurang bersahabat padanya.
Namun ia segera menepis pikiran buruk itu.
Semakin hari bukannya semakin membaik malah
ketidaknyamanan itu makin menjadi. Suaminya bersikap sombong, angkuh dan
memberikan sikap tidak membutuhkan. Ia merasa tidak dihargai, ia mulai limbung
dan merasa diabaikan, ia hancur dan merasa dipermainkan, namun ia tetap
bertahan. Bagaimanapun ia adalah seorang istri, suaminyalah yang harus ia
taati. Hal yang sangat menyakitkan baginya ialah sang suami tak pernah memberi
nafkah padanya, uang seribu rupiahpun tidak. Sedangkan ibunya masih menyimpan
rasa kurang suka karena merasa tidak dihargai oleh keluarga suaminya. Ia jadi
bimbang harus berbuat apa.
Alhamdulillah tidak sempat terjadi kekerasan
secara fisik, namun kekerasan psikologi sungguh tak lebih menyakitkan dari
kekerasan fisik. Mungkin karena sudah mencapai titik saturasi akhirnya ia jatuh
sakit. Hingga satu minggu dirawat dirumah sakit. Keluarga dari suaminya
ternyata tidak begitu memerdulikannya, ia hanya dijenguk sesaat. Sangat
menyakitkan. Karena mereka seperti tidak mau menunggui. Sedangkan Ibu Rida saat
itu tidak bisa menunggui karena ada penataran dan harus menginap dua minggu.
Setelah pulang dari tempat penataran ibunya
pulang dan mengetahui kejadian yang menimpa puterinya tersebut. Akhirnya sang
ibu marah besar. Hingga mengeluarkan pendapat-pendapat yang tidak pernah ia
pikirkan sebelumnya.
“Bagaimana mungkin kamu sakit dan keluarga dari
suamimu tak ada yang menunggui sedangkan mereka tahu Ibu tidak bisa
menungguimu. Ini sudah kelewatan Rida. Sudah cukup, dari awal Ibu sudah ada firasat
bahwa dia tidak baik untukmu. Saran Ibu ceraikan saja dia. Lebih baik kalian
bercerai. Lihatlah kamu sampai sakit satu minggu, sedangkan ia dan keluarganya
tidak ada yang memperhatikanmu. Ibu tahu kalau perasaanmu telah babak lebur
dibuat olehnya.”Kata Ibu sambil berapi-api menahan amarah.
“Entahlah Ibu, saya bingung harus bagaimana.
Saya belum siap jika harus menjadi seorang janda. Mungkin beri saya waktu dan
apabila keadaan tidak juga membaik mau tidak mau saya akan menuruti nasehat Ibu
untuk bercerai.” Kata Rida dengan suara lirih dan mata sembab.
Akhirnya Ia sadar bahwa ia harus kembali pada
Tuhan. Ia pun larut dalam doa dan kepasrahan pada Allah. Hanya Allah yang bisa
menjadi sandarannya. Mungkin Tuhan telah mendengar doa-doanya. Karena semakin
hari semakin diperjelas. Sikap suaminya tidak berubah. Sebelum berjalan terlalu
jauh dan keadaan belum terlanjur memburuk. Ia pun mengambil keputusan dengan
mantap ia mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.
Memang tidak mudah menjalani hidup sebagai
seorang janda. Apalagi belum ada tiga bulan ia menikah. Seperti yang telah ia
duga sebelumnya bahwa akan ada banyak sekali ejekan dari orang-orang yang tidak
tahu menahu tentang kehidupannya. Berkomentar pedas, pahit dan buruk
seolah-olah mereka tahu tentang segalanya. Namun ia tetap mencoba untuk tegar
dan tersenyum dalam menghadapinya.
Rida terus berdoa selepas perceraiannya itu. Ia
tak berhenti memanjatkan doa agar ia segera mendapatkan ganti yang lebih baik,
bahkan yang terbaik. Sudah dua tahun berjalan ia menjalani hidup sebagai
seorang janda muda. Selama waktu itu banyak tawaran dari orangtua, teman dan
saudaranya. Namun kali ini ia bersikap lebih selektif, ia tidak mau main-main
dan kejadian yang sama akan terulang kembali. Ia hanya berharap Tuhan memberi
jawaban atas doa-doanya. Ia hanya menunggu, dan ia yakin itu.
Hingga datanglah hari itu, hari dimana tanpa
sengaja ia melihat salah satu foto orang di jejaring sosial. Baru pertama kali
melihat ia langsung tertarik dan sangat tertarik. Entahlah ia juga tidak tahu,
padahal foto itu bukan menampakkan foto seorang lelaki ganteng dengan pose yang
menawan. Namun dalam foto itu terlihat lelaki muda dengan pose yang lucu
menggigit spidol di mulutnya. Akhirnya ia mulai berkenalan dengannya. Mereka
saling mengenal satu sama lain. Ada perasaan kagum, sreg, dan nyambung yang tak
pernah ia rasakan sebelumnya. Hingga tumbuh rasa cinta dalam hatinya. Namun ia
tak mau menuruti perasaannya begitu saja. Karena ia tak ingin kejadian yang
sama terulang kembali. Tapi semakin hari ia makin yakin bahwa inilah jawaban
dari doa-doa yang telah ia panjatkan. Namun kini ia memandang dirinya sendiri.
Pantaskah ia untuk lelaki itu?
Beberapa waktu telah berlalu tanpa ada
perkembangan. Namun Ia kini lebih berharap pada kuasa Tuhan. Pada suatu hari
tanpa ia duga sebelumnya lelaki tersebut mengajukan diri untuk mengenalnya
lebih dekat. Tak terbendung lagi bagaimana rasa di hatinya, ia begitu gembira,
wajahnya pun sumringah. Yang lebih membahagiakan lagi ternyata laki-laki
tersebut telah mengetahui bahwa Ia sudah janda. Ia lega sekali karena tak perlu
menjelaskan lagi tentang hal itu.
Tidak menunggu lama setelah perkenalan mereka.
Pada tanggal 3 April 2011 keluarga lelaki tersebut datang kerumah Rida untuk
melamar dan menyematkan cincin di jari manisnya. Tentunya setelah mereka
bertemu dan membicarakan hal ini. Saat lamaran tersebut sang laki-laki
berhalangan hadir karena ada pekerjaan maka hanya orangtua dan keluarga yang
datang. Lalu pada tanggal 1 Juni 2011 akhirnya mereka menikah. Saat ini mereka
hidup bahagia dan telah dikaruniai seorang puteri yang cantik jelita. Rida
sangat mencintai suaminya, begitu juga sebaliknya. Suatu saat ia pernah berkata
pada suaminya.
“Suamiku, kini aku telah menjadi tulang rusukmu
dan kau tulang punggungku, semoga kita selalu bersama hingga menjadi tulang
belulang. Dan biarkan hanya aku saja yg memenuhi
ruang hatimu dan biarkan cinta ini hanya milik kita berdua.” Kata Rida
pada suaminya.
Demikianlah kisah ini berakhir dengan bahagia. Ia
mencintai suami juga puterinya. Ia dedikasikan hidupnya untuk keluarga. Kita
semua memang berhak bahagia, asalkan berani mengambil keputusan, dan setiap
keputusan itu kita libatkan Allah didalamnya. Suatu saat Rida pernah berkata
bahwa sungguh sangat banyak ladang pahala buat yang sudah menikah, salah
satunya menunggu suami pulang dari kerja dengan perasaan rindu dan cemas takut
terjadi sesuatu hal yang buruk, itu pun merupakan ibadah. maka menikahlah. Tak
perlu menunggu pacaran hingga bertahun-tahun karena toh ia sudah membuktikannya
bahwa masa pacaran tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai pasangan.
Dalam berumah tangga tidak hanya cinta yang berperan tapi juga tanggungjawab,
keterbukaan dan kepercayaan adalah hal yang sangat luar biasa dibutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar