Selasa, 12 Maret 2013

KITA SEMUA BERHAK BAHAGIA



Dimatanya lelaki ini mempunyai rupa yang baik, juga baik pekertinya. Lelaki tersebut telah menawan hatinya. Hati seorang perempuan bernama Rida. Karena tidak lagi menimba ilmu dikampus yang sama akhirnya mereka menjalani hubungan jarak jauh. Hanya sesekali mereka bertemu. Menginjak satu tahun hubungan ini, tanpa ada firasat kejadian tak terduga ia alami. Laki-laki tersebut membawa Rida ke rumah dan bertemu dengan keluarganya. Tanpa disangka-sangka sebelumnya, tiba-tiba sang Ayah menentukan tanggal pernikahan untuk mereka berdua. Dengan tanpa basa basi dan tanpa tedeng aling-aling sang ayah telah menentukan tanggal sakral tersebut.

“Baiklah tanggal untuk penikahan kalian tanggal 11 bulan depan” Kata Ayah dari pacarnya tersebut tanpa basa basi.

Rida sangat kaget mendengarnya. Ia syock dan tidak bisa berkata-kata. Entahlah. Rida seakan tak bisa berpikir saat itu. Ia hanya mengangguk dan hanya tersenyum kecut. Antara kaget, bingung bercampur menjadi satu. Sekarang masalahnya ia harus berkata apa pada kedua orangtuanya. Entahlah, ia bingung.

Dalam perjalanan pulang kerumahnya, Rida seperti orang linglung karena bingung harus berkata apa pada kedua orangtuanya. Saat itu ia diantar oleh sang lelaki. Akhirnya entah logis atau tidak, lelaki itu menjelaskan bahwa Ayahnya sudah tua dan ingin ia segera menikah. Karena itu Rida dibawanya kerumah. Ia tak bisa langsung mengerti apa maksutnya ini. Ia pulang dengan dada yang sesak. Lalu beberapa hari kemudian ia menyampaikan kejadian dirumah pacarnya pada kedua orangtuanya.

“Rida, bukannya Ibu dan Ayah tidak merestui hubungan kalian. Namun seharusnya bukan dengan seperti ini caranya.” Kata sang ibu menanggapi apa yang telah disampaikan Rida.

“Seharusnya ada pembicaraan sebelumnya, kenapa tak ada sama sekali. Menikah bukan perkara gampang kenapa mendadak sekali.”ujar sang Ayah tidak habis pikir.

Rida hanya diam mendengar Ibu dan Ayahnya berbicara. Terlihat bahwa sebenarnya orang tuanya belum bisa langsung menerima. Namun akhirnya toh mau tidak mau orangtuanya merestui ia untuk menikah. Disamping memang untuk menjauhi fitnah karena merekapun tahu bahwa puterinya telah lama menjalin hubungan dengan lelaki tersebut. akhirnya diterimalah lamaran tidak hormat tersebut. Tahapan lainpun diatur dan disempurnakan oleh pihak keluarga perempuan. Hingga akhirnya mereka menikah.

Pernikahan baru berjalan satu dua bulan dan ia akhirnya mengetahui dengan jelas lelaki yang menjadi suaminya itu. Ternyata ia menikahi lelaki licik. Ia hanya lelaki yang memiliki rupa yang bagus, semua tak sama seperti yang ia tampakkan dulu sewaktu pacaran. Suaminya bukan lelaki yang selama ini ia kira. Bahkan untuk mengerjakan porogapit saja ia tak bisa, sholat saja belum sempurna. Bukan lelaki seperti itu yang ia inginkan untuk menjadi suami, bukan yang seperti yang ia harapkan. Namun toh sekarang ia sudah menjadi istrinya. Rida berpikir bahwa ia harus bisa menerima suaminya, mungkin saja masih perlu penyesuaian yang lebih lama.

Tapi ternyata hari demi hari terlewati namun tak tampak perubahan baik dari suaminya. Bahkan ia mendapati banyak hal tak sesuai yang ia temui. Mertua laki-lakinya, yang dulu ingin agar ia segera menikah dengan puteranya. Ternyata ketika ia sudah menjadi istri puteranya tersebut seperti beliau terlihat begitu membencinya, bersikap angkuh dan bengis. Ia jadi bertanya-tanya ada apa dan kenapa. Apakah pernikahan ini hanya akal-akalan licik suaminya. Akhirnya ia tahu bahwa ternyata mertuanya meminta ia segera menikah karena suaminya yang berkata pada Ayahnya bahwa Rida ingin segera dinikahi. Pantas saja mertuanya bersikap kurang bersahabat padanya. Namun ia segera menepis pikiran buruk itu.

Semakin hari bukannya semakin membaik malah ketidaknyamanan itu makin menjadi. Suaminya bersikap sombong, angkuh dan memberikan sikap tidak membutuhkan. Ia merasa tidak dihargai, ia mulai limbung dan merasa diabaikan, ia hancur dan merasa dipermainkan, namun ia tetap bertahan. Bagaimanapun ia adalah seorang istri, suaminyalah yang harus ia taati. Hal yang sangat menyakitkan baginya ialah sang suami tak pernah memberi nafkah padanya, uang seribu rupiahpun tidak. Sedangkan ibunya masih menyimpan rasa kurang suka karena merasa tidak dihargai oleh keluarga suaminya. Ia jadi bimbang harus berbuat apa.

Alhamdulillah tidak sempat terjadi kekerasan secara fisik, namun kekerasan psikologi sungguh tak lebih menyakitkan dari kekerasan fisik. Mungkin karena sudah mencapai titik saturasi akhirnya ia jatuh sakit. Hingga satu minggu dirawat dirumah sakit. Keluarga dari suaminya ternyata tidak begitu memerdulikannya, ia hanya dijenguk sesaat. Sangat menyakitkan. Karena mereka seperti tidak mau menunggui. Sedangkan Ibu Rida saat itu tidak bisa menunggui karena ada penataran dan harus menginap dua minggu.

Setelah pulang dari tempat penataran ibunya pulang dan mengetahui kejadian yang menimpa puterinya tersebut. Akhirnya sang ibu marah besar. Hingga mengeluarkan pendapat-pendapat yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

“Bagaimana mungkin kamu sakit dan keluarga dari suamimu tak ada yang menunggui sedangkan mereka tahu Ibu tidak bisa menungguimu. Ini sudah kelewatan Rida. Sudah cukup, dari awal Ibu sudah ada firasat bahwa dia tidak baik untukmu. Saran Ibu ceraikan saja dia. Lebih baik kalian bercerai. Lihatlah kamu sampai sakit satu minggu, sedangkan ia dan keluarganya tidak ada yang memperhatikanmu. Ibu tahu kalau perasaanmu telah babak lebur dibuat olehnya.”Kata Ibu sambil berapi-api menahan amarah.

“Entahlah Ibu, saya bingung harus bagaimana. Saya belum siap jika harus menjadi seorang janda. Mungkin beri saya waktu dan apabila keadaan tidak juga membaik mau tidak mau saya akan menuruti nasehat Ibu untuk bercerai.” Kata Rida dengan suara lirih dan mata sembab.

Akhirnya Ia sadar bahwa ia harus kembali pada Tuhan. Ia pun larut dalam doa dan kepasrahan pada Allah. Hanya Allah yang bisa menjadi sandarannya. Mungkin Tuhan telah mendengar doa-doanya. Karena semakin hari semakin diperjelas. Sikap suaminya tidak berubah. Sebelum berjalan terlalu jauh dan keadaan belum terlanjur memburuk. Ia pun mengambil keputusan dengan mantap ia mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.

Memang tidak mudah menjalani hidup sebagai seorang janda. Apalagi belum ada tiga bulan ia menikah. Seperti yang telah ia duga sebelumnya bahwa akan ada banyak sekali ejekan dari orang-orang yang tidak tahu menahu tentang kehidupannya. Berkomentar pedas, pahit dan buruk seolah-olah mereka tahu tentang segalanya. Namun ia tetap mencoba untuk tegar dan tersenyum dalam menghadapinya.

Rida terus berdoa selepas perceraiannya itu. Ia tak berhenti memanjatkan doa agar ia segera mendapatkan ganti yang lebih baik, bahkan yang terbaik. Sudah dua tahun berjalan ia menjalani hidup sebagai seorang janda muda. Selama waktu itu banyak tawaran dari orangtua, teman dan saudaranya. Namun kali ini ia bersikap lebih selektif, ia tidak mau main-main dan kejadian yang sama akan terulang kembali. Ia hanya berharap Tuhan memberi jawaban atas doa-doanya. Ia hanya menunggu, dan ia yakin itu.

Hingga datanglah hari itu, hari dimana tanpa sengaja ia melihat salah satu foto orang di jejaring sosial. Baru pertama kali melihat ia langsung tertarik dan sangat tertarik. Entahlah ia juga tidak tahu, padahal foto itu bukan menampakkan foto seorang lelaki ganteng dengan pose yang menawan. Namun dalam foto itu terlihat lelaki muda dengan pose yang lucu menggigit spidol di mulutnya. Akhirnya ia mulai berkenalan dengannya. Mereka saling mengenal satu sama lain. Ada perasaan kagum, sreg, dan nyambung yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hingga tumbuh rasa cinta dalam hatinya. Namun ia tak mau menuruti perasaannya begitu saja. Karena ia tak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Tapi semakin hari ia makin yakin bahwa inilah jawaban dari doa-doa yang telah ia panjatkan. Namun kini ia memandang dirinya sendiri. Pantaskah ia untuk lelaki itu?

Beberapa waktu telah berlalu tanpa ada perkembangan. Namun Ia kini lebih berharap pada kuasa Tuhan. Pada suatu hari tanpa ia duga sebelumnya lelaki tersebut mengajukan diri untuk mengenalnya lebih dekat. Tak terbendung lagi bagaimana rasa di hatinya, ia begitu gembira, wajahnya pun sumringah. Yang lebih membahagiakan lagi ternyata laki-laki tersebut telah mengetahui bahwa Ia sudah janda. Ia lega sekali karena tak perlu menjelaskan lagi tentang hal itu.

Tidak menunggu lama setelah perkenalan mereka. Pada tanggal 3 April 2011 keluarga lelaki tersebut datang kerumah Rida untuk melamar dan menyematkan cincin di jari manisnya. Tentunya setelah mereka bertemu dan membicarakan hal ini. Saat lamaran tersebut sang laki-laki berhalangan hadir karena ada pekerjaan maka hanya orangtua dan keluarga yang datang. Lalu pada tanggal 1 Juni 2011 akhirnya mereka menikah. Saat ini mereka hidup bahagia dan telah dikaruniai seorang puteri yang cantik jelita. Rida sangat mencintai suaminya, begitu juga sebaliknya. Suatu saat ia pernah berkata pada suaminya.

“Suamiku, kini aku telah menjadi tulang rusukmu dan kau tulang punggungku, semoga kita selalu bersama hingga menjadi tulang belulang. Dan biarkan hanya aku saja yg memenuhi ruang hatimu dan biarkan cinta ini hanya milik kita berdua.” Kata Rida pada suaminya.

Demikianlah kisah ini berakhir dengan bahagia. Ia mencintai suami juga puterinya. Ia dedikasikan hidupnya untuk keluarga. Kita semua memang berhak bahagia, asalkan berani mengambil keputusan, dan setiap keputusan itu kita libatkan Allah didalamnya. Suatu saat Rida pernah berkata bahwa sungguh sangat banyak ladang pahala buat yang sudah menikah, salah satunya menunggu suami pulang dari kerja dengan perasaan rindu dan cemas takut terjadi sesuatu hal yang buruk, itu pun merupakan ibadah. maka menikahlah. Tak perlu menunggu pacaran hingga bertahun-tahun karena toh ia sudah membuktikannya bahwa masa pacaran tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai pasangan. Dalam berumah tangga tidak hanya cinta yang berperan tapi juga tanggungjawab, keterbukaan dan kepercayaan adalah hal yang sangat luar biasa dibutuhkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar