Minggu, 08 April 2012

LUKA DARI SABANG SAMPAI MERAUKE

Akan terasa lebih nikmat jika Anda membacanya sembari memutar Serdadu karya Iwan Fals. 

Ini negeri dengan sejarah luka yang panjang. Tahun 1965-1966, seusai G-30S, terjadi penangkapan dan pembantaian anggota PKI atau mereka yang sekedar dituduh terkait dengan PKI diperkirakan 500.000 sampai 3.000.000 jiwa. Akhir tahun 1980-an, ada Petrus (Penembak Misterius) yang membuat pasar, jalan, atau terminal dipenuh mayat-mayat bertato, pembunuhan gali .

Menjelang detik-detik kejatuhan orde baru tahun 1997-1998, beberapa mahasiswa penggerak bendera reformasi dinyatakan hilang atau tewas tertembak. Sewaktu kecil saya melihat langit menghitam, Jum’at Kelabu, 23 Mei 1997, yang menyisakan trauma di masyarakat Banjarmasin. Di daerah tetangga, Pontianak, Kalimantan  Barat, tahun 1967 terjadi pengusiran dan pembantaian 3.500 orang Tionghoa. Daftar ini masih panjang; ada Sampit, Palangkaraya, Sambas, Poso, dan Ambon. Anda ingin menambahkan? Silahkan. Dalam skala “kecil”, di televisi kita sudah melihat maraknya aksi pengadilan jalanan dan tawuran antar warga. Tiap-tiap tragedi jelas memiliki bab pembahasannya sendiri, tapi sama dalam bahasa yang digunakan kekerasan.  Dalam Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum dan Insiden (novel), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus bicara (kumpulan esai), Seno Gumira Ajidarma (wartawan cum sastrawan) bercerita soal Insiden Dili 12 November 1991 di Timor Timur.

Ribuan orang dari segala penjuru kota datang berduyun-duyun memenuhi pemakaman untuk memperingati kematian Sebastiao Gomez yang tewas di tangan ABRI (karena imej ABRI sudah cacat di mata dunia, kemudian diubah menjadi TNI). Tak dinyana, serdadu ABRI sudah berbaris menghadang dengan M-16 terkokang buatan Amerika. Sekonyong-konyong  serdadu memuntahkan peluru. Dikenal dengan Pembantaian Santa Cruz. Tentu ini bukan pembantaian yang pertama dan terakhir.

Timor Timur telah diduduki secara brutal oleh militer Indopahit selama 16 tahun, sejak invasi tahun 1975. Militer mengisolasi Timor Timur dari media dan dunia internasional. Sebuah perpaduan sempurna untuk sebuah ladang pembantaian. Tercatat, sepertiga populasi Timor Timur, 200.000 warga tewas. Setelah referendum, warga Timor-Timur memutuskan untuk merdeka dari Indonesia pada tanggal 20 Mei 2002 menjadi Republik Timor Leste.   Seno menulis Insiden Dili dalam balutan sastra. Menuliskannya dalam reportase jurnalistik tidak memungkinkan. Cengkeraman Orba begitu melumpuhkan. Maka fakta-fakta yang ada, Seno sisipkan dengan halus dalam karya fiksi. Solusi cerdik untuk mengibuli sensor pemerintah.

Tidak banyak yang tahu di era reformasi seperti ini istilah Tapol (tahanan politik) masih ada. Adalah Filep Karma dan teman-teman lainnya yang dijebloskan ke penjara Indopahit.  Ada Theys Eluay yang dibunuh Kopassus pada 10 November 2001. Lalu Arnold Ap, seniman Papua, yang ditembak di perut pada November 1983. Ap mengumpulkan lalu memasarkan rekaman musik dari berbagai etnik Papua sekaligus dalam bahasa asli mereka. Kegiatan Ap ini dianggap subversif karena ditakuti akan membantu pembentukan nasionalisme Papua.  Kita seringkali mendapat sejarah yang dipelintir.

Dalam artikel Belajar dari Filep Karma karya Andreas Harsono, sedari mula Papua sebenarnya tidak tertarik untuk bergabung dengan Indopahit. Selepas Belanda, Papua berniat membangun negaranya sendiri. Pada 1 Desember 1961, Papua mengibarkan bendera bintang kejora. Soekarno berang, menuduhnya sebagai negara boneka, lalu mengerahkan tentara. Ketika kondisi semakin memburuk, Amerika Serikat turun tangan. Lalu diadakanlah musyawarah ala Indopahit (referendum ditolak).   “Penentuan Pendapat Rakyat, yang diawasi PBB dan direkayasa Amerika Serikat serta Indonesia, berlangsung dari 14 Juli hingga 2 Agustus 1969 di delapan kota: Merauke, Jayawijaya, Paniai, Fak-fak, Sorong, Manokwari, Biak dan Port Numbay.

Ia hanya diwakili sekitar 1.025 warga Papua, termasuk sebagian orang Indonesia yang dikirim ke Papua. Semua ditentukan pemerintah Indonesia. Mereka dikumpulkan terlebih dahulu oleh tentara Indonesia dalam barak-barak selama enam minggu. Mereka diminta memilih Indonesia … atau dibunuh. Maka mereka bulat-bulat 100 persen memilih integrasi dengan Indonesia. Banyak penduduk Papua memandang Penentuan Pendapat Rakyat merupakan manipulasi Indonesia untuk menduduki Papua,” tulis Harsono.

Tidak aneh, jika kemudian Papua menganggap Indonesia adalah penjajah kedua setelah Belanda. Indonesia bersama Freeport McMoran (Amerika) mengeruk dengan rakus gunung Jaya Wijaya, tambang emas kedua terbesar di dunia. Apa yang warga Papua dapatkan? Alam yang luluh dan kebudayaan yang lantak. Bayangkan, untuk limbah tambangnya saja, Freeport mampu menutupi kota Jakarta, Depok dan Bekasi setinggi 5 meter dengan lumpur beracun! Apa mereka tidak berhak untuk marah?  Pemerintah, pendidikan dan media indopahit telah dengan sebegitu rupa mendangkalkan opini kita. Segala sesuatu yang berbau OPM, Republik Papua Barat, atau Republik Melanesia Barat kita sebut sebagai separatis. Bahkan, orang Papua seringkali digambarkan sebagai suku primitif, dekil dan bodoh.

Kriminalisasi ide politik adalah hal yang lumrah di negeri ini.  Yang paling akrab di telinga kita adalah pergolakan Acheh—orang Indonesia menulis “Aceh”, tapi publik disana memilih “Acheh”, istilah ini sangat politis. Kita bisa saja beranggapan Acheh adalah bagian dari Indonesia. Tapi lucunya, perasaan ini “asing” dalam benak mereka. Bagi Hasan  Tiro, “Indonesia” hanyalah nama samaran dari kolonialisme “bangsa Jawa”, musuh bebuyutan bangsa Acheh sejak abad 13.

Ketika isu ini disikapi dengan nasionalisme dangkal, sebagai isu sektarian dan ancaman terhadap NKRI. Seperti sudah bisa ditebak, korban berjatuhan di kedua belah pihak, seusai itu kita hanya bisa mencatat kisah-kisah traumatis yang tak terhitung jumlahnya. Satu dari banyak luka itu adalah Tragedi Simpang Kraft, 19 kilometer dari Lhoksemauwe, Mei 1999. Serdadu Indopahit sukses mencatat 46 orang tewas, 156 orang luka, dan 10 orang hilang.  Di belahan Indonesia timur lainnya,  ada enam orang pesakitan politik  Maluku di penjara Lowokwaru, Malang. Yunus Maryo Litiloly, Johan Teterisa, John Syaranamual, Leonard Joni Sinay, Leonard Hendriks dan Ferjohn Saiya. Johan Teterisa adalah seorang guru SD di desa Aboru, Pulau Haruku, yang memimpin 27 penari membawakan tarian cakalele sambil mengibarkan bendera RMS pada 29 Juni 2010 dihadapan Presiden SBY.

Kita boleh sepakat dan tidak soal wacana merdeka yang mereka ajukan. Tapi, selama mereka mengajukan pandangan politik mereka dengan cara yang damai, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mendengarkan. Dialog selalu lebih baik dan utama. Eh, khas Indopahit, solusinya ya maen pukul-pentungan. Mereka dianiaya oleh polisi Ambon dan Densus 88.   "Kita dibuka pakaian, tinggal celana dalam, tidur dikasih di atas tegel, pagi-pagi disuruh merayap, ditendang, diinjak. Kalau mereka pegang besi, kita kena besi. Kalau mereka pegang kayu, ya kita kena kayu. Kabel ya kabel. Sepatu, kepalan tangan." Kata Reimond Tuapattinaya, juga pesakitan RMS, kini di penjara Kediri dengan hukuman makar karena ikut upacara bendera RMS pada 25 April 2006.

Atmosfer kampus setahun ini memang mengejutkan. Teman-teman aktivis dengan bangga menyerukan “NKRI harga mati! Pancasila ideologi bangsa!” Seruan ini seringkali bersifat slogan, bombastis, dan emosional. Orang-orang ini ketika ditanya, alih-alih memberi argumen yang memuaskan, isanya kalau tidak memaki ya melabel. “Dasar separatis! Hey kau yang tidak pancasilais, pergi kau dari bumi Indonesia!” Terlalu bersemangat.

Mereka alpa bahwa persatuan itu nomor kesekian, keadilan tetaplah nomor satu. Orang bisa bersatu dalam kelaparan, tapi tidak dalam kezaliman. Ironisnya, slogan kebanggaan persatuan kita selama ini, “Dari Sabang sampai Merauke!” adalah hasil contekan Soekarno dari  perwira Belanda J.B. van Heutsz, yang menaklukkan Aceh pada 1904. Van Heutsz dengan sadis membunuh 2.900 orang, 1.100 diantaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Jika direnungkan, pemerintah Indopahit justru adalah pemeran pengganti dari VOC dan Kolonial Belanda. Teknik kekerasan dan politik belah bambunya mirip. Daya hisap terhadap Sumber Daya Alam (SDA) rakyat juga tidak kalah serakah. Kolonial Belanda dimaki tapi juga diteladani. []

ZINE

*************************************************************************************
Bahan Bacaan:
 Saksi Mata, Jazz, Parfum dan Insiden, dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (Trilogi Insiden). Seno Gumira Ajidarma. Bentang, 2010.
Belajar dari Filep Karma, Asing Di Tanah Acheh, dan Kriminalisasi Aspirasi Politik. Silah baca di andreasharsono.blospot.com
Sebuah Renungan Merauke, “Asing” Di Tanah Acheh. Andreas Harsono. Agama Saya adalah Jurnalisme.  Kanisius, 2010.
 Sebuah Kegilaan Di Simpang Kraft. Chik Rini. Dimuat dalam Jurnalisme Sastrawi , Pantau 2008.
The Lost Generation.  Muhlis Suhaeri. Dimuat dalam Menuju Jurnalisme Berkualitas,
KPG, 2009.
Untuk data kejahatan Freeport McMoran, saya banyak terbantu oleh Selamatkan Indonesia!  Amien Rais. PPSK Press, 2008.
Kerusuhan Banjarmasin, Wikipedia.




______________________________________________________________
ini bukan tulisanku, gila aja tulisanku sebagus ini.
tapi saya menyukainya makanya tak pajang di sini.
mau protes??
ya terserah aku dong, ini kan blogku.. aseeeg,,hehe
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar