Dimana dia, duh aku lupa naruhnya. Ayo diinget-inget lagi nee kamu taruh dimana.. atau jangan-jangan ketinggalan waktu di pesantren aktivis kemaren? Duh benar2 lupa. Gak inget sama sekali tak taruh dimana arloji tuaku. Yah walaupun tua namun dia menyimpan banyak kenangan.
Terlintas bagaimana reaksi babe jika tau arlojiku hilang, pasti sedih dan marah. Sesak rasanya dada ini membayangkan babeku kecewa berat padaku. Tak biisa menjaga barang. Mungkin bukan masalah nilainya namun lebih ke bagaimana tanggungjawabku. Sudah hampir 9 tahun jam itu selalu menemaniku dalam suka dan duka (kalau yang ini nge-lebay pisan). Iyah sudah hampir 9 tahun sejak aku kelas 2 smp (atau kelas satu smp akhir yha, lupa) hingga saat ini aku sudah berada di semester akhir studiku, akhir semester 8. Dan jam itu sudah tak ditanganku saat ini.
Dimana..dimana…arlojku(jadi inget lagunya ayu ting..ting yang lagi ngeehits). Yah hanya bisa ikhtiar sembari berdoa. Sms temen yang jadi panitia pesantren aktivis kemaren. Tapi gak dibls, akhirnya ketemu temen waktu di masjid minta tolong tanyain ke ustadzah yang ada disana barangkali ada arloji yang ketinggalan. Yakin deh 99 persen jamku itu ketinggalan disana, di pesantren Ar-Rohmah, kalau nggak salah di kamar mandi. Semoga firasatku tidak benar. Temanku ini adiknya juga mondok disana jadi siapa tau jamku itu masih bisa diselamatkan. Semoga saja.
Sebenarnya saya bukannya nggak rela ataupun tidak ikhlas. Namun aku sedih jika bapak tau. Aku sedih kalau bapak kecewa. Jam itu dibelikan bapak barengan sama punya kakak. Hampir miriplah modelnya, sama-sama merk Alba. Walaupun punya kakakku lebih girly. Tragedi kehilangan jam waktu sd dulu saja masih kuinget dengan jelas. Jam tangan merk casio dengan talinya warna hitam. Masih bagus waktu hilang (atau mungkin ketinggalan? Dasar nee emang pelupa). Saat itu ada acara kemah sekolah bareng sama sekolah lain. Dan saat dibelikan yang baru aku sudah berjanji gak akan ngilangin lagi. Memori itu masih begitu terekam jelas diingatanku,
Hari berganti hari, dan tak ada kabar tentang jam tangan Albaku warna silver. Dimanakah gerangan, berdoa dan berdoa saja, selalu berdoa itu yang kulakukan. Jika memang masih diberi jodoh pasti akan bertemu lagi kalaupun memang harus hilang biarlah tak apa, sebenarnya saya biasa saja. Namun rasanya pahit jika harus mengecewakan orang tua walaupun hanya sedikit. Yang saya pinta pada yang Maha Memberi adalah jangan biarkan ayah saya marah ataupun kecewa. Rasanya sedih jika mengingat itu. Padahal saat ini nee lagi istilah nya pdkt sama bapak ibu, agar mereka percaya, agar mereka tak menganggap nee sebagai anak kecil. Pembuktian pendewasaan mungkin istilahnya. Atau membangun image? Entahlah saya rasa sama saja.
Hari berganti hingga terhitung satu minggu. Hmm.. sampai hampir lupa. Ikhlas wis, itu yang kurasa. Pada hari minggu nee mencuci baju diatas. Karna memang kostan yang sangat besar dan tinggi, dan kami yang berada di lantai paling atas atau lantai 3 nyucinya ada dilantai 4. Saat asyik-asyiknya mencuci, tiba-tiba pandangan mata tertuju pada sebuah benda yang berada agak menjorok kedalam dibawah tong air. Allah Kariim jeritku dalam hati. masyaAllah itu kan jam tanganku.
Iya jam tanganku ketinggalan waktu nyuci. Dan tetap saja saya tak ingat bahwa pernah menaruh jam itu disitu, tetap yang kuingat adalah jam itu ketinggalan dikamar mandi waktu ada pesantren aktivis. Sudahlah yang penting jam itu sudah ditemukan. Alhamdulillah, walaupun sudah hampir 9 tahun, jam itu masih tetap sama. Bentuk, rupa hingga warnanya masih tetap sama seperti 9 tahun lalu saat baru dibelikan ayahku. Banyak sejarah telah terukir bersamanya. Apakah lupa itu sebuah penyakit? Entahlah. Ada yang tahu??
Yang unik adalah bagaimana kuingat caraku berdoa. Mungkin karna terpengaruh oleh apa yang pernah disampaikan pak Jamil A. dimana beliau waktu training memaparkan tentang epos dan eneg. Dan akhirnya saya praktekan itu. “Ya Allah jika saya punya epos maka cairkanlah itu dengan mengembalikan jam tangan pemberian bapak saya. Kabulkanlah ya Allah. Mudah bagiMu mengatur alam semesta dan jagat raya, Sesungguhnya lebih mudah bagiMu untuk mengabulkan doaku, ya Allah kabulkanlah.(kira-kira seperti itu namun gak plek kayak gitu sih). Dan selipan doaku adalah jika memang Engkau tak berkendak mengembalikannya karna mungkin jodohku dengannya telah usai maka lapangkanlah hati Bapakku. Jangan buat dia sedih atau kecewa karna putrinya ini. Amin.” Dan setelah itu hatiku rasanya ploong keyakinanku kalaupun Allah berkehendak untuk mengembalikannya pasti ada jalan, entah jalan darimana. Kalaupun tak juga kembali itu jam semoga Bapakku tak kecewa. Alhamdulilah jalan pertama yang diberikan oleh Allah.
Sama cetitan ma aku..haha
BalasHapuswah ternyata ada yang punya cerita sama denganku :D
BalasHapus