Minggu, 08 April 2012

Wajah para ‘yang katanya’ Agent Of Change

Terseok kaki ini melangkah menuju gubuk kecil disudut kampus. Dengan beban yang lumayan berat menggelantung dikedua pundak. Dengan pikiran yang menerawang menembus angkasa. “ah..revisi lagi..revisi lagi..”  pikiran itulah yang melenggang dalam angannya. Maklum mahasiswi tingkat akhir, yang habis konsultasi ke dosen pembimbingnya. Seharian nyatrongin kampus.  Bukan jalan menuju kost-kostannya malah belok kearah gubuk (gazebo) lalu duduk disitu melepas penat sendirian sambil buka laptop dan dengerin gending jawa. Kembali bayangan skripsi menggelayut dalam otaknya. Pagi harus baca jurnal, siang baca jurnal, malam pun sebelum tidur tak lupa wajib baca jurnal. Seakan jurnal itu bacaan wajib setara wajibnya dengan membaca alquran (naudzubillah). Yah memang seperti itulah kenyataannya, dan bukan hanya dia saja, namun hampir seluruh mahasiswa tingkat akhir (yang masih peduli sama kuliahnya) akan mendadak rajin setengah mati. Yang biasanya males-malesan mendadak rajin luar biasa, malam-malam jarang tidur buat nglembur proposal. Yang biasanya jarang baca karena emang dasarnya males, paling kalo baca yang dibaca komik-komik gak jelas karena memang tulisannya dikit dan lebih tertarik sama gambar-gambarnya yang eksotis itu eeh ternyata tuh komik diganti juga sama baca buku n jurnal-jurnal.hahaha..


  Mendadak mereka ini jadi orang paling sok sibuk sedunia. Kemana-mana yang ada dipikirannya skrisi, skripsi dan skripsi. Yang dibicarakan pun tak jauh seputar itu. Ternyata dibalik kesibukan mereka-mereka yang sedang bergelut sama tugas akhir ini masih ada juga menyempatkan apel di malam minggu, eh nggak ding sekarang mah kagak jaman apel malam minggu. Sekarang jamannya nempel terus tiap menit tiap detik kapan aja dimana aja. Bener tuh iklan jaman dulu itu yang ada istilah nempel kayak perangko. Paling pisahnya kalo mau tidur, eeh besok paginya udah datang lagi tuh sang pujaan hati didepan pintu kost. Nah loo… katanya pengen fokus kok masih tetep aja berdua-duaan. Masih aja have fun  bareng temen-temen sampe gak inget waktu hingga larut malam dan ternyata tuh buat ngerayain tahun baru,..wowowowo…belum taukah kalian kalo tradisi tahun baruan itu tradisinya kaum pagan, penyembahan dewa matahari. Masak yang muslim ikut-ikutan gitu, yang diikutin pun tradisi gak bener. “Yang penting mah heve fun man”.kata mereka-mereka. Hmm, Makanya kalo nggak tau cari tau dong guys.  coba kalo diajak buat nuntut ilmu dunia akhirat pasti bilangnya kagak ada waktu, pasti kagak ada yang mau. Pasti adaaa aja alesan. Weleh-weleh… virus hedonis sudah akut menjangkit para mahasiswa dan kalangan muda, paling pinter kalo buat nyari kesenangan, jika dikomen  mereka pasti berkata namanya juga anak muda, ya wajar dong. Kayak gak pernah muda aja loh...


Ternyata eh ternyata fenomena tersebut telah  menjangkit hampir seluruh mahasiswa. Dari yang masih imut-imut (mahasiswa baru) hingga yang amit-amit (mahasiswa bangkotan). Sepertinya sistem pendidikan saat ini benar-benar menuntut para mahasiswa untuk semakin menyita waktunya hanya untuk kuliah dan berkutat dengan tugas dan tugas. Jika para mahasiswa tingkat akhir beralibi dengan tugas akhir atau skripsi berbeda dengan mahasiswa yang masih maba, setengah dan menjelang akhir yang menjadikan tugas kuliah sebagai ‘tuhan’nya, sepertinya tak ada yang lebih penting dari tugas kuliah. Kuliah adalah segalanya, “yaiyalah dengan rajin kuliah dapat nilai bagus, pekerjaan dan gaji yang besar.” “Emang itu toh tujuannya kuliah..”begitulah kira-kira yang ada dipikiran mereka. Ujung-ujungnya memang materi yang dicari.


  Bagai pisau dengan dua mata sisi yang berbeda. Ketika berbicara tentang kuliah maka hal itu seperti didewakan, tak ada yang lebih penting dari itu. Diajak diskusi gak ada waktu, diajak mengkaji ilmu dunia akhirat jangan ditanya deh. Apalagi diajak ngurus umat, hhmm,..orang radiasi pragmatisnya sudah mengakar tuh di jiwanya. Namun ketika ada kesempatan libur maka yang ada dibenaknya adalah main dan main. Bukan main antusiasnya ketika diajak seneng-seneng have fun. Walah gini katanya mahasiswa.ck,,ck,,ck


  Tak sadar apa ya mereka bahwa dipundaknya tuh ada sesuatu amat besar. Iya gelar agent of change otomatis tersemat dipundak ketika dia jadi mahasiswa. Ditangan mahasiswa lah perubahan itu ada. Ditangan kita generasi mudalah esok negeri ini akan dibawa. Apa jadinya coba kalo wajah agent of change nya aja seperti itu. Sistem pendidikan yang ada sekarang sangatlah berperan dalam mencetak para generasi muda. Namun apakah dengan sistem pendidikan yang ada saat ini sudah bisa mencetak generasi yang excelent, yang handal dan menjadikan aturan dari yang maha pengatur sebagai landasan hidupnya.?? Atau hanya malah mencetak generasi yang menghamba pada dunia semata?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar