Sejak pagi Avi sibuk bermain di ruang tengah sendirian.
Ibunya di dapur menyiapkan makanan untuk selametan
si kecil Avi yang hari ini sedang merayakan weton atau hari lahir jawa. Gadis imut itu memang masih kecil,
umurnya baru 3 tahun. Tapi ceriwisnya minta ampun. Akhirnya si ibu menyuruhnya
bermain di ruang tengah dengan setumpuk mainan dan televisi yang menyala. Ketimbang
harus meladeni si kecil yang tidak ada habisnya berceloteh. Sesekali ibu
melirik ke ruang tengah untuk memastikan Avi baik-baik saja.
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Oktober 2014
Sabtu, 09 Maret 2013
SGA, Naturalisme dan Anak-anak
Sebenarnya dalam
pengertian ideologis bumi juga sudah berarti keranjang sampah-celakanya tidak
ada tukang sampah untuk itu. Ibarat kata semua orang kentut, meludah, membuang
ingus dan muntah berak di sembarang tempat. Kata-kata yang keluar dari mulut
manusia ibarat cerobong asap yang kepulannya menghitamkan langit. Bacalah Koran,
maka engkau akan membaca kebohongan. Bunyikan radio maka engkau mendengar
kebohongan. Nyalakan TV, maka engkau akan tenggelam dalam lautan kebohongan. Namun
kita akan terus berada di depannya karena tidak punya pilihan lain. Dari saluran
satu ke saluran lain. Kita hanya akan mendapatkan kebohongan. Sampai kita
tertidur di depan TV, dengan mimpi-mimpi yang juga bohong.
Paragraf diatas
saya kutip dari buku Trilogi Insiden (buku Jazz, Parfum dan insiden) yang
ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Setelah membaca kalimat-kalimat dalam paragraf
tersebut saya menjadi teringat dengan salah satu aliran klasik dalam
pendidikan. Aliran itu bernama aliran Naturalisme. Aliran ini di pelopori oleh
seorang filsuf Prancis bernama J.J. Rousseau yang hidup pada tahun 1700an. Ia berpendapat
bahwa semua anak yang dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Sedangkan pembawaan
baik yang dimiliki oleh anak akan menjadi buruk atau rusak karena dipengaruhi
oleh lingkungan.
Disini pendidikan
sama sekali tidak dibutuhkan (terutama pendidikan formal ). Karena hanya akan
menimbulkan kerusakan pada pembawaan anak yang baik. Hal yang perlu dilakukan menurut
aliran ini adalah membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Agar pembawaan anak
yang baik itu tidak rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan kependidikan.
Aliran ini ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba
dibuat-buat (artificial) sehingga kebaikan anak-anak yang diperoleh secara alamiah
sejak saat kelahirannya itu tampak secara spontan.
Hanya saja
gagasan naturalisme atau ingin mengembalikan pendidikan anak seluruhnya kepada
alam atau ada juga yang menyebutnya sebagai gagasan/aliran negativisme tersebut
tidak terbukti dan dianggap sebagai aliran klasik yang tidak sepenuhnya
diterima. Karena kini pendidikan malah semakin diutamakan dan di galakkan di
segala lini. Berkebalikan dengan aliran naturalisme/negativisme.
Jika kita amati kata demi kata yang dirangkai oleh SGA (nama keren
dari Seno Gumira Ajidarma) dalam buku Trilogi Insiden pada paragraph diatas. Akan
kita temukan hal yang semakna dengan teori yang pernah di pelopori oleh J.J.
Rosusseau. Entah karena memang SGA terinspirasi dari aliran naturalisme
tersebut sehingga mengartikan bahwa bumi adalah sebuah keranjang sampah yang
berisi keburukan-keburukan dan kebohongan. Sama seperti pada aliran naturalisme
yang menganggap bahwa lingkungan hanya penuh dengan kepura-puraan dan kerusakan.
Atau mungkin SGA dan aliran klasik ini sebenarnya tidak ada kaitan apa-apa dan
hal tersebut memang hanya kebetulan belaka.
Namun disini ingin saya tekankan, bahwa saya rasa kita bisa
memberikan kata sepakat pada tulisan SGA diatas bahwa pada kenyataannya dunia
ini memang lebih banyak dipenuhi dengan kebohongan-kebohongan dan kerusakan
layaknya keranjang sampah. Media yang setiap hari kita konsumsi pun entah itu
berupa media cetak serupa Koran, tabloid, majalah maupun media lain seperti TV, radio, internet
dan lainnya sebenarnya hanya menyajikan serangkaian informasi yang masih perlu
dipertanyakan (jika tidak ingin dikatakan sebagai sebuah kebohongan-kebohongan).
Bagaimana dengan aliran naturalisme diatas? saya rasa kita pun
sepakat jika aliran tersebut tidak bisa digunakan. Karena pada hakekatnya
seorang anak dilahirkan dengan keadaan yang suci layaknya kertas putih. Maka kitalah
yang akan membantunya mewarnai tiap inci dari lembaran awal kertas putih
tersebut. Iya, anak memang dilahirkan dengan keadaan besih, putih dan suci. Selain
itu ia pun dilahirkan dengan berbagai potensi yang dimiliki oleh manusia. Sesuai
fitrah yang telah diberikan olehNya pada kita setiap insan manusia. Tak mungkin
kita membiarkan anak-anak kita di didik oleh alam. Tapi tangan-tangan kitalah
yang akan menjadi penunjuk dan pemberi arah pada anak-anak untuk mencapai
pemahaman dalam membedakan dan memilih mana yang baik dan buruk.
Anak laksana cermin yang memantulkan segala jenis pemberian
respon, perilaku atau tingkah laku dari orangtua dan lingkungan di sekitarnya. Ia
ibarat sebuah gelas kosong bening yang dapat kita isi dengan berbagai hal. Apa yang
kita isikan pada gelas tersebutlah yang akan terlihat dari balik kaca bening
dari gelas itu. Jika kita mengisinya dengan lumpur maka lumpurlah yang akan
mengisi gelas tersebut dan terlihat tampak dari luar. Begitu pula jika
mengisinya dengan susu putih maka susu jualah yang mengisi gelas itu dan
putihnya susu yang terlihat dari luar. Hanya saja terkadang debu-debu dan kotoran
lain pun dapat masuk kedalamnya tanpa kita ketahui kapan saat ia masuk. Tiba-tiba
saja terlihat dan kita malah disibukkan dengan saling menyalahkan siapa yang
memasukkan kotoran itu ke dalam gelas.
Bukankah alangkah pentingnya untuk menjaga apa saja yang masuk ke
dalam gelas tersebut? Dan memastikan bahwa yang masuk ke dalam gelas adalah
sesuatu yang baik-baik dan meminimalisir pengaruh buruk dari lingkungan luar? Jika
sudah terkena pengaruh buruk/kotoran maka bagaimana caranya agar gelas tersebut kembali
terisi oleh sesuatu yang baik ? dan berusaha untuk membersihkannya? Bukankah di
lingkungan yang sudah sedemikian rusaknya ini pendidikan* menjadi semakin penting untuk
anak-anak?[]Nee
*Pendidikan yang dimaksud
bisa pendidikan formal, informal maupun nonformal(atau gabungan dari yang satu
dengan lainnya).
Sabtu, 01 Desember 2012
Komunikasi Interpersonal
“Orang dewasa mengira bahwa dengan mengomeli kami mereka sedang berkomunikasi. Sebenarnya, mereka cuma bicara sendiri.“ kata Jerry dalam hati, saat Ibunya memarahi dia dan kakaknya.
“Kami pura-pura mendengarkan. Tapi omongan mereka, cucucuccucu, langsung menguap begitu saja. Mereka tidak peduli kami mendengarkan atau tidak. Asalkan mereka bisa bicara panjang dan lebar. Aku ragu mereka sadar, kalau omelan mereka bisa membunuh kami. Orang dewasa terlalu banyak bicara. Apa mereka tidak mengerti yang disebut dengan -kelebihan muatan-.” Kata Tom tak kalah serunya sambil melamun saat Ibunya asyik sendiri dengan omongan yang tidak ada jedanya.
Sabtu, 17 November 2012
Melatih Bukan Memerintah
Siang itu, ceramah dan diskusi didalam sebuah ruang kelas di
bimbing oleh seorang ibu muda. Ia adalah seorang dosen yang cantik dan keibuan
yang juga ternyata pendidikan magisternya ditempuh di perguruan tinggi tempat
saya menimba ilmu fisika. Beliau berbicara panjang lebar tentang psikologi sosial yang saat itu menyangkut
tentang anak-anak.
Mau tidak mau setelah di rumah saya pun harus mencari tau
tentang hal tersebut. Lebih tepatnya tentang psikologi perkembangan anak. Walaupun
saat itu beliau tidak menyinggung tentang psikologi perkembangan. Namun bagi
saya sendiri pelajaran ini sangat penting untuk diketahui karena sangat erat
kaitannya dengan pembahasan yang saat itu dibahas.
Selasa, 18 September 2012
Indahnya Menyusui
Suatu saat saudara sepupu saya telah
menjadi wanita yang sempurna. Ia baru saja melahirkan seorang bayi mungil yang
cantik. Tak terkira bagaimana rasa senang di hatinya, walaupun sebagai seorang
karyawan di sebuah perusahaan dengan tugas yang banyak menyita waktunya. Ia
tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk puterinya. Ia ingin tetap
menyusui bayinya sebagaimana dulu ibunya menyusui dia. Memberikan ASI
eksklusif.
Ia sempat dibuat setres karena
putingnya yang kecil tidak mau keluar dan cenderung tenggelam atau “ndlesep”.
Sehingga menyebabkan kesulitan ketika akan menyusui. Namun ia tak
kehilangan akal, berbagai cara ia lakukan. Setiap pagi dan sore sebelum mandi
ia melakukan terapi senam payudara untuk memperlancar ASI. Hasilnya cukup
memuaskan. Sang bayi pun dengan mudah mendapatkan ASI dari ibunya. Saat
awal-awal menyusui, agak kasihan juga melihatnya kesakitan tiap kali sang bayi
menyusu. Badannya panas dingin dan sakit semua terutama setiap kali bayinya
menyusu, ini yang kata ibu saya disebut “ngrangsemi”.
Langganan:
Postingan (Atom)
