Don't judge person by its performance or face but its ass
Unclak hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Perempuan berjubah dan berjilbab panjang itu heran tak percaya setelah mengetahui kepribadian sebenarnya Uncluk, kawannya yang ia baru kenal beberapa waktu yang lalu.
Pada awalnya, ia menyangka Uncluk hanyalah tak lebih seperti anak-anak pada umumnya. Tampang dan penampilanya sama sekali tak mencerminkan seorang yang layak untuk ia ajak diskusi. Bahkan pemikiran dan sikapnya menurut kawan-kawannya yang lebih duluan kenal, semuanya pada menilai nyeleneh dan mbeling.
Namun, setelah memperhatikan dan membaca beberapa tulisan pendeknya yang sering diupload di akun media sosial, ia menjadi penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang kawannya itu. “Ini orang unik juga, boleh juga tuh tulisannya,” pikirnya dalam hati.
Pada suatu hari, tanpa disengaja, ia ngobrol langsung dengan Uncluk di situs media sosial. “Afwan akhi, jujur aku suka sekali dengan tulisan situ,” sapa Unclak di awal obrolan. Kemudian Uncluk membalas, “Sopo koen? Akhi-akhi Gundulmu!”
Mendapati balasan seperti itu, ia tidak melanjutkan obrolannya lagi. Kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan itu seakan menegaskan penilaian kawan-kawannya tentang Uncluk. Tapi, ia masih tak percaya sepenuhnya dengan penilaian kawan-kawanya itu.
“Siapa tahu dia lagi nggak mau diajak ngobrol. Atau jangan-jangan memang seperti itu orangnya, apa adanya. Ah masah bodoh. Yang jelas aku tak boleh terburu-terburu menjudgenya. Aku harus kenal dulu siapa dia, apa latar belakangnya, bagaimana dia kok bisa menulis seunik itu dengan beragam tema bahasan.” desisnya pelan.
Tak ingin rasa penasarannya terpendam begitu saja tanpa kejelasan, ia memutuskan untuk mencari informasi tentangnya. Salah satu cara adalah dengan mengorek-ngorek akun media sosialnya. Satu per satu status dan catatan pendeknya ia perhatikan. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah catatan yang berjudul Kawan.
Mohon maaf kawan, aku belum bisa bermain mesra dengan gerakan rodamu. Gerakan gesit, lincah dan siklikalmu itu telah membuatku capek berpikir dan berdialektika. Aku pikir kawan, untuk sementara aku masih ingin jadi orang yang peragu, ketika aku ragu berarti aku harus banyak mempertanyakan sekaligus mencari jawaban tentang segala hal yang aku ragukan. Tapi ingat kawan, kamu dan kawan-kawanmu jangan membenci dan melupakan aku hanya karena pemikiranku sedikit berubah. Kau harus ingat kawan, aku masih menaruh harapan atas cita-cita pembebasanmu dan siapa tau suatu saat nanti aku kembali berlari mengiringi gerakanmu.
Dari catatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa Unclak bukan anak sembarangan. Menurutnya, tulisan itu secara implisit mencerminkan kepribadian dan kapasitas intelektualnya.“Terserah orang mau bilang apa tentang Unclak, dia anak biasa yang tidak layak untuk dikagumi, tetapi menarik dan bahkan mesti dipelajari,” kata Unclak kepada salah seorang kawannya.[]Jepang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar