Kamis, 07 Juni 2012

“LELAKI UNCLAK UNCLUK”


Teori relativitas fisika tidak mengajarkan bahwa apa yang tampak pada tiap orang adalah benar baginya, tetapi sebaliknya teori itu memperingatkan agar hati-hati dengan penampakan-penampakan yang hanya terpaku pada suatu sistem partikular,”
Penampilannya sederhana, dengan kaos oblong yang selalu melekat ditubuhnya. Ia bukan siapa-siapa, dia juga bukan apa-apa, hanya manusia biasa, begitu katanya. Sekilas tidak terlihat bahwa ia seorang yang fakih dalam agama ataupun lihai dalam berdialektika, apalagi seorang intelektual ataupun eksekutif muda dengan gaya necisnya. Orang biasa menyebut dia si unclak uncluk. Terlihat ia seperti orang mbambung, gak penting dan punya otak sedeng yang agak miring. Dia tak mau berpura-pura menjadi orang baik, menjadi apa adanya saja.

Memang sering orang hanya melihat dari sisi fisiknya saja, apa yang biasa dia ucapkan, apa yang dia lakukan. Melihat penampakan-penampakan yang ada diluar saja. Tak tahukah anda bahwa sebuah ungkapan yang diucapkan oleh seorang filosof terkenal Ernest Cassier patut kita cermati, ia berkata bahwa “Teori relativitas fisika tidak mengajarkan bahwa apa yang tampak pada tiap orang adalah benar baginya, tetapi sebaliknya teori itu memperingatkan agar hati-hati dengan penampakan-penampakan yang hanya terpaku pada suatu sistem partikular,”

Sahabat penulis pun juga seorang yang terlihat seperti lelaki unclak uncluk diatas dalam perbuatan dan tingkah lakunya. Hanya saja dia seorang perempuan dan mungkin ilmunya tidak setinggi lelaki unclak uncluk yang “mbento” tadi. Tak jarang penulis merasa ia jauh lebih baik. Ia jujur dan apa adanya, ia tak terlalu memusingkan apa kata orang. Ia berjalan dengan kealamian, dan itu jauh terlihat lebih indah. Mungkin itu pula yang membuat kami yang berbeda 180 derajat dapat bertahan dalam ikatan persahabatan hingga saat ini.

Satu kali pun penulis tak pernah merasa lebih baik darinya, walaupun seringkali kata-kata sok bijak/nasehat kerap meluncur dari bibir ini. Dalam hal ketulusan ia berada jauh diatas penulis. Bahkan seringkali penulis merasa iri karena ketulusan hatinya. Kerap banyak orang bertanya kok bisa sih kalian sahabatan? Kalian kan beda banget, yang satu gitu satu gini.

**

Bagi penulis sendiri lebih respek dengan lelaki unclak uncluk itu yang tampil apa adanya tersebut, yang selalu merasa bodoh serta tak pernah hilang dahaga dalam mencari ilmu, yang juga penuh kesahajaan dan kesederhanaan. Biar kata ia terlihat seperti begundal namun jangan disangka bahwa anda tak pernah tahu apa yang ada dihatinya. Daripada melihat orang yang luarnya terlihat alim dan baik namun penuh dengan kepura-puraan. Sering penulis melihat emas berkilau dihati dari seorang sahabat yang setia menemani selama bertahun-tahun tersebut yang mungkin tak dapat dilihat oleh orang lain

Di akhir catatan singkat yang ngawur ini penulis ingin mengungkapkan satu hal bahwa semua yang terlihat benar berkemungkinan salah begitupun sebaliknya yang terlihat salah juga berkemungkinan benar.[]Delima Putih

Malang, 6-6-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar