Senin, 14 Januari 2013

Dibalik Nama Kacaberdebu

Aku semakin mengenalmu lewat goresan penamu yang tak sengaja terbaca olehku.

Aku mengenalnya 2 tahun yang lalu, saat ia tiba-tiba diperkenalkan oleh Bu Susi, wali kelasku didepan kelas. Namanya Nurdin, Nurdin Maulana Ibrahim. Siswa baru pindahan dari kota Solo. Ia masuk kelasku, kelas X1 IPA 1.
 
“Hy, kenalkan aku Rosi, kamu nggak ke kantin?” Tanyaku sok akrab padanya pada saat jam istirahat. Karena saat itu ia malah duduk dikursinya yang berada di barisan paling belakang, sambil menunduk membaca sesuatu.

Enggak ah males, enak dikelas aja sambil baca buku.” Jawabnya enteng sambil tersenyum.

“Ooowh, kamu suka baca yha? Rajin ya, kalau aku suka dikit-dikit.” Jawabku.

“Iya suka, lumayan.” Jawab Nurdin datar.

“Kamu mah sukanya baca komik donal bebek kalau nggak gitu baca majalah bobo Ros, haha.” Sahut Elis teman sekelas kami yang tak sengaja mendengarkan obrolan kami berdua.

“Hhehe, bisa aja kamu lis,” aku hanya bisa meringis malu-malu.

“Eh, punya facebook ndak Nur?” Tanyaku padanya.

“Ada.”

“Oke, ntar aku add yha, jangan lupa dikonfirm.”

“Sip.”

Itulah awal kami ngobrol. Saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kelas kami. Duduk sendirian di bangku paling belakang, di pojok ruang kelas. Itulah empat duduk favoritnya selama satu semester. Pendiam dan suka menyendiri. Cerdas dan  rajin membaca. Jarang sekali aku melihatnya berinteraksi dengan makhluk bernama perempuan. Dia pindah ke sekolah kami saat kelas 2 pada awal semester 2.  Hanya satu semester kami sekelas. Karena saat kelas tiga kami terpisah oleh kelas yang berbeda. Saat masih satu kelas pun kami jarang berinteraksi.


Malamnya, saat aku selesai mengerjakan pr, aku buka komputer butut kesayanganku. Ku add akun teman baruku itu, si Nurdin. Iseng-iseng ku buka saja profilenya. Hm,,ternyata dia suka menulis. Waw banyak banget tulisannya, ia taruh tulisannya di note facebook. Ku intip satu persatu, kubuka dan kupaksa baca semua tulisannya. Entah kenapa aku jadi tertarik dengan sosok Nurdin.

Sejak saat itu mulailah kekagumanku padanya tumbuh subur seperti bunga yang diguyur hujan semakin tumbuh semakin bermekaran. Rasa penasaranku muncul saat membaca tulisan-tulisannya. Aku memang tak sengaja membaca salah satu tulisannya.

Sejak saat itu aku  mulai bergelirya mantengin komputer bututku ini. Melintas dalam benakku untuk melakukan suatu hal. Aha, iseng-iseng aku buat akun baru, bernama Kacaberdebu. Aku add dia. Beberapa hari kemudian dia mengkonfirm pertemananku

“Panggil aja aku Cha,” kataku saat Ia menanyakan siapa namaku lewat aplikasi chating.

“Cha? Nama kamu Chacha atau Icha. Atau siapa?” Tanyanya lagi.

“Kaca, hehehe,” jawabku sekenanya.

“Aku suka tulisan-tulisannmu,” lanjutku.

“Apa yang membuat kamu suka? Perasaan tulisanku biasa saja.” Kata Nurdin diseberang sana.

Mulailah saat itu kami sering chat bareng. Diskusi bareng tentang tulisan. Tentang buku bacaan yang ia baca. Tentang dunia jurnalisme yang ternyata ia minati. Tentang ragam sastra yang ia geluti. Luarbiasa, aku menikmati semuanya tentangnya. Semua tentang warna warni harmoni kehidupannya. Walaupun ia hanya mengenalku sebagai kacaberdebu, itulah nama akun yang aku pakai. Walaupun kami akrab di dunia maya, namun tidak begitu adanya dengan di dunia nyata. Aku tetap dan hanya berdiri di balik nama Kacaberdebu.

Ia banyak menuntunku untuk belajar menulis mulai dari nol. Mengajariku tentang banyak hal. Menarikku ke dalam dunianya yang unik. Semakin lama semakin akrablah kami. Aku mengagumi ketekunannya. Aku mengagumi semua tulisan-tulisannya. Ia membuatku terpacu untuk terus belajar dan belajar. Dia banyak menelurkan karya yang bertebaran di berbagai media. Juga sudah menerbitkan beberapa buku. Oh kawan, suatu saat aku pasti akan bisa sepertimu. Ungkapku suatu ketika padanya.

Kami masih tetap akrab hingga saat ini. Lulus sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Masih tetap berada dalam satu kota. Aku tahu ia penasaran denganku. Namun tiap kali ia bertanya tentangku, aku selalu asal saja menjawabnya.

“Hampir dua tahun sudah kita berteman. Tapi kamu sama sekali tak memberiku kesempatan untuk mengenalmu. Aku tahu kamu mengenalku dengan baik. Cha, ”

“Ehehe..” aku hanya bisa ketawa sambil meringis.

“Lalu apa yang kamu inginkan dariku? Jika hanya berdiri dibalik nama Kacaberdebu? Sudah 2 tahun Cha kita berteman dan aku sama sekali tidak tahu menahu tentangmu.” Tuntut Nurdin padaku.

“Kamu tak perlu mengenalku Din, aku memang mengenalmu dan aku semakin mengenalmu lewat goresan penamu yang tak sengaja terbaca olehku, biarkan cukup sampai disitu. Biarkan takdir yang menuntun kita, apakah  kita akan saling mengenal didunia nyata atau akan tetap seperti ini.” Jawabku.[]Nee

Tuban, 5 Januari 2013

3 komentar:

  1. curhat pribadi ato bikin cerpen ni? bagus.

    BalasHapus
  2. cerita ini hanya fiktif belaka non.:D
    ceritanya aku lagi belajar nulis cerita mini alias flash fiction/cerita singkat,,ehe..makasih udah main di blogku,.. :)

    BalasHapus
  3. bagus kok. terusin aja. aq juga pengen blajar2, tapi belum kesampean juga

    BalasHapus