Suatu
hari seorang Ibu pulang kerumah dari tempatnya mengajar dengan tergopoh-gopoh. Badannya
menggigil, panas. Sebenarnya sudah beberapa hari ini Ia tidak enak badan. Namun
tak dirasa, Ia tetap saja melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Mengajar sambil
melanjutkan studi magisternya di luar kota. Aktivitas yang demikian padat
membuatnya tak sempat memikirkan kondisi badannya hingga ngedrop seperti itu. Sedangkan
usianya yang sudah makin menua membuat kondisi tubuhnya tidak sebugar dahulu
saat masih muda.
Saat
tiba di rumah, segera suaminya menyuruhnya untuk istirahat dan membatalkan ibadah yang rutin dikerjakan oleh
istrinya. Ibadah puasa senin kamis. Namun ia menolak karena beralasan dua jam
lagi sudah adzan maghrib. Namun akhirnya ia tidak kuat juga menahan sakit yang
dideritanya. Dibatalkannya puasa yang kurang satu jam setengah lagi memasuki
waktu berbuka untuk minum obat.
Malamnya
ia harus istirahat total. Anaknya yang menjadi dokter terpaksa memaksa sang Ibu
untuk beristirahat total malam itu tanpa memegang buku atau laptop. Sang anak
lalu mengunci ruang kerjanya. Sang Ibu
berontak, ia tak bisa lepas dari buku dan laptop. Sifat keras kepala masih saja
melekat padahal badan sudah tidak mau diajak beraktivitas. Namun akhirnya mengalah karena fisik yang
harus diistirahatkan.
Gaya
kesehariannya memang energik, aktif, semangat, ceplas ceplos dan selalu mampu
membawa audiens untuk tertawa serta bergairah untuk aktif dalam perkuliahannya.
Dilihat dari segi penampilannya sehari-hari, mungkin orang mengira beliau
berumur sekitar 40an. Namun sebenarnya usianya tidak lagi muda, hampir 60
tahun.
Senyum
dan semangatnyalah yang menurut saya membuatnya tetap muda dan terlihat cantik,
bahkan diusia yang bisa dikatakan tidak lagi muda. Matanya berbinar dengan
senyum tersungging bahkan terkadang dengan suara yang melengking-lengking
terdengar jelas dan keras. Semua itu membuatnya hidup dengan gelora jiwa muda.
Usia
yang tidak lagi muda tersebut seakan tak menghalanginya untuk beraktivitas. Tak
menyurutkan semangatnya dalam menjalani kesenangannya yang bukan hanya menjadi
tuntutan pekerjaannya, yakni mengajar. Kecintaannya pada dunia mengajar seakan
sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda. Selain keluarga, dunia
pendidikan adalah segalanya baginya.
All
out dalam melakukan semuanya. Tidak ada kata setengah-setengah dalam kamusnya. Terutama
dan yang paling utama adalah semua diniatkan karena Allah, bukan yang lain. Bukan semata untuk mencari
uang. Karena jika dari awal sudah diniatkan hanya untuk mencari uang maka akan bubrah (berantakan). Padahal uang,
kebahagiaan, rasa puas akan menyusul kemudian. Persis seperti ungkapan,
barangsiapa mengejar akhirat maka dunia akan menyertai. Itulah yang selalu
melandasinya untuk semangat dalam menularkan ilmu pada anak didiknya. Selalu memotivasi
untuk belajar dan belajar. Semua dilandasi karena kecintaan padaNya.
Senantiasa
menghiasi diri dengan ilmu, tak pernah lelah untuk terus belajar dan belajar lalu
mengamalkan dengan mengajarkannya, karena itu adalah ibadah yang bernilai
tinggi dihadapanNya. Selain mengecap bahagia juga akan merasakan manisnya buah
dari hasil menyemai biji yang tak henti-hentinya ditanam. Semua karenaNya.
Menjadi
tua bukan akhir dari segalanya. Menjadi tua bukan hanya identik dengan keriput,
sakit-sakitan, lemah, dan terbungkuk letih oleh beban hidup. Apalagi menjadi
orang yang telah kehilangan semua kekuatan dan kecemerlangan yang pernah
diraihnya. Menjadi tua memang sebuah keniscayaan. Namun ada banyak hal yang bisa dilakukan saat tua mulai menyapa. Berbagi ilmu tak memandang usia. Bahkan
kematangan dan kedewasaan akan semakin menambah penyempurnaan hikmah dari setiap yang kata
yang keluar dari bibir. Terus belajar hingga ajal menjemput dan senantiasa
membagikannya. Tentu semua itu dilakukan karena-Nya bukan semata karena uang
atau yang lainnya.[]Nee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar