Minggu, 10 Februari 2013

Saat Tua Menyapa


Suatu hari seorang Ibu pulang kerumah dari tempatnya mengajar dengan tergopoh-gopoh. Badannya menggigil, panas. Sebenarnya sudah beberapa hari ini Ia tidak enak badan. Namun tak dirasa, Ia tetap saja melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Mengajar sambil melanjutkan studi magisternya di luar kota. Aktivitas yang demikian padat membuatnya tak sempat memikirkan kondisi badannya hingga ngedrop seperti itu. Sedangkan usianya yang sudah makin menua membuat kondisi tubuhnya tidak sebugar dahulu saat masih muda.
Saat tiba di rumah, segera suaminya menyuruhnya untuk istirahat dan  membatalkan ibadah yang rutin dikerjakan oleh istrinya. Ibadah puasa senin kamis. Namun ia menolak karena beralasan dua jam lagi sudah adzan maghrib. Namun akhirnya ia tidak kuat juga menahan sakit yang dideritanya. Dibatalkannya puasa yang kurang satu jam setengah lagi memasuki waktu berbuka untuk minum obat.

Malamnya ia harus istirahat total. Anaknya yang menjadi dokter terpaksa memaksa sang Ibu untuk beristirahat total malam itu tanpa memegang buku atau laptop. Sang anak lalu mengunci ruang kerjanya.  Sang Ibu berontak, ia tak bisa lepas dari buku dan laptop. Sifat keras kepala masih saja melekat padahal badan sudah tidak mau diajak beraktivitas.  Namun akhirnya mengalah karena fisik yang harus diistirahatkan.

Gaya kesehariannya memang energik, aktif, semangat, ceplas ceplos dan selalu mampu membawa audiens untuk tertawa serta bergairah untuk aktif dalam perkuliahannya. Dilihat dari segi penampilannya sehari-hari, mungkin orang mengira beliau berumur sekitar 40an. Namun sebenarnya usianya tidak lagi muda, hampir 60 tahun.

Senyum dan semangatnyalah yang menurut saya membuatnya tetap muda dan terlihat cantik, bahkan diusia yang bisa dikatakan tidak lagi muda. Matanya berbinar dengan senyum tersungging bahkan terkadang dengan suara yang melengking-lengking terdengar jelas dan keras. Semua itu membuatnya hidup dengan gelora jiwa muda.

Usia yang tidak lagi muda tersebut seakan tak menghalanginya untuk beraktivitas. Tak menyurutkan semangatnya dalam menjalani kesenangannya yang bukan hanya menjadi tuntutan pekerjaannya, yakni mengajar. Kecintaannya pada dunia mengajar seakan sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda. Selain keluarga, dunia pendidikan adalah segalanya baginya.

All out dalam melakukan semuanya. Tidak ada kata setengah-setengah dalam kamusnya. Terutama dan yang paling utama adalah semua diniatkan karena Allah,  bukan yang lain. Bukan semata untuk mencari uang. Karena jika dari awal sudah diniatkan hanya untuk mencari uang maka akan bubrah (berantakan). Padahal uang, kebahagiaan, rasa puas akan menyusul kemudian. Persis seperti ungkapan, barangsiapa mengejar akhirat maka dunia akan menyertai. Itulah yang selalu melandasinya untuk semangat dalam menularkan ilmu pada anak didiknya. Selalu memotivasi untuk belajar dan belajar. Semua dilandasi karena kecintaan padaNya.

Senantiasa menghiasi diri dengan ilmu, tak pernah lelah untuk terus belajar dan belajar lalu mengamalkan dengan mengajarkannya, karena itu adalah ibadah yang bernilai tinggi dihadapanNya. Selain mengecap bahagia juga akan merasakan manisnya buah dari hasil menyemai biji yang tak henti-hentinya ditanam. Semua karenaNya.

Menjadi tua bukan akhir dari segalanya. Menjadi tua bukan hanya identik dengan keriput, sakit-sakitan, lemah, dan terbungkuk letih oleh beban hidup. Apalagi menjadi orang yang telah kehilangan semua kekuatan dan kecemerlangan yang pernah diraihnya. Menjadi tua memang sebuah keniscayaan. Namun ada banyak hal yang bisa dilakukan saat tua mulai menyapa. Berbagi ilmu tak memandang usia. Bahkan kematangan dan kedewasaan akan semakin  menambah penyempurnaan hikmah dari setiap yang kata yang keluar dari bibir. Terus belajar hingga ajal menjemput dan senantiasa membagikannya. Tentu semua itu dilakukan karena-Nya bukan semata karena uang atau yang lainnya.[]Nee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar