Aku mengenalnya 2 tahun yang lalu, saat ia
tiba-tiba diperkenalkan oleh Bu Susi, wali kelasku didepan kelas. Namanya
Nurdin, Nurdin Maulana Ibrahim. Siswa baru pindahan dari kota Solo. Ia masuk
kelasku, kelas X1 IPA 1.
“Hy, kenalkan aku Rosi, kamu
nggak ke kantin?” Tanyaku
sok akrab padanya pada saat jam istirahat. Karena saat itu ia malah duduk
dikursinya yang berada di barisan paling belakang, sambil menunduk membaca
sesuatu.
“Enggak ah males, enak dikelas aja
sambil baca buku.” Jawabnya
enteng sambil tersenyum.
“Ooowh, kamu suka baca yha? Rajin
ya, kalau aku suka dikit-dikit.” Jawabku.
“Iya suka, lumayan.” Jawab Nurdin datar.
“Kamu mah sukanya baca komik
donal bebek kalau nggak gitu baca majalah bobo Ros, haha.” Sahut Elis teman sekelas
kami yang tak sengaja mendengarkan obrolan kami berdua.
“Hhehe, bisa aja
kamu lis,” aku
hanya bisa meringis malu-malu.
“Eh, punya facebook ndak Nur?” Tanyaku padanya.
“Ada.”
“Oke, ntar aku add yha, jangan
lupa dikonfirm.”
“Sip.”
Itulah
awal kami ngobrol. Saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kelas kami. Duduk
sendirian di bangku paling belakang, di pojok ruang kelas. Itulah empat duduk
favoritnya selama satu semester. Pendiam dan suka menyendiri. Cerdas dan rajin membaca. Jarang sekali aku melihatnya
berinteraksi dengan makhluk bernama perempuan. Dia pindah ke sekolah kami saat
kelas 2 pada awal semester 2. Hanya satu
semester kami sekelas. Karena saat kelas tiga kami terpisah oleh kelas yang
berbeda. Saat masih satu kelas pun kami jarang berinteraksi.
Malamnya,
saat aku selesai mengerjakan pr, aku buka komputer butut kesayanganku. Ku add
akun teman baruku itu, si Nurdin. Iseng-iseng ku buka saja profilenya. Hm,,ternyata
dia suka menulis. Waw banyak banget tulisannya, ia taruh tulisannya di note
facebook. Ku intip satu persatu, kubuka dan kupaksa baca semua tulisannya.
Entah kenapa aku jadi tertarik dengan sosok Nurdin.
Sejak
saat itu mulailah kekagumanku padanya tumbuh subur seperti bunga yang diguyur
hujan semakin tumbuh semakin bermekaran. Rasa penasaranku muncul saat membaca
tulisan-tulisannya. Aku memang tak sengaja membaca salah satu tulisannya.
Sejak saat itu aku mulai bergelirya mantengin komputer bututku
ini. Melintas dalam benakku untuk melakukan suatu hal. Aha, iseng-iseng aku
buat akun baru, bernama Kacaberdebu.
Aku add dia. Beberapa hari kemudian dia mengkonfirm pertemananku
“Panggil
aja aku Cha,” kataku saat Ia menanyakan siapa namaku lewat aplikasi chating.
“Cha?
Nama kamu Chacha atau Icha. Atau siapa?” Tanyanya lagi.
“Kaca,
hehehe,” jawabku sekenanya.
“Aku suka
tulisan-tulisannmu,” lanjutku.
“Apa yang
membuat kamu suka? Perasaan tulisanku biasa saja.” Kata Nurdin diseberang sana.
Mulailah
saat itu kami sering chat bareng. Diskusi bareng tentang tulisan. Tentang buku
bacaan yang ia baca. Tentang dunia jurnalisme yang ternyata ia minati. Tentang
ragam sastra yang ia geluti. Luarbiasa, aku menikmati semuanya tentangnya.
Semua tentang warna warni harmoni kehidupannya. Walaupun ia hanya mengenalku
sebagai kacaberdebu, itulah nama
akun yang aku pakai. Walaupun kami akrab di dunia maya, namun tidak begitu
adanya dengan di dunia nyata. Aku tetap dan hanya berdiri di balik nama Kacaberdebu.
Ia banyak
menuntunku untuk belajar menulis mulai dari nol. Mengajariku tentang banyak
hal. Menarikku ke dalam dunianya yang unik. Semakin lama semakin akrablah kami.
Aku mengagumi ketekunannya. Aku mengagumi semua tulisan-tulisannya. Ia
membuatku terpacu untuk terus belajar dan belajar. Dia banyak menelurkan karya
yang bertebaran di berbagai media. Juga sudah menerbitkan beberapa buku. Oh
kawan, suatu saat aku pasti akan bisa sepertimu. Ungkapku suatu ketika padanya.
Kami
masih tetap akrab hingga saat ini. Lulus sekolah dan melanjutkan ke perguruan
tinggi. Masih tetap berada dalam satu kota. Aku tahu ia penasaran denganku.
Namun tiap kali ia bertanya tentangku, aku selalu asal saja menjawabnya.
“Hampir
dua tahun sudah kita berteman. Tapi kamu sama sekali tak memberiku kesempatan
untuk mengenalmu. Aku tahu kamu mengenalku dengan baik. Cha, ”
“Ehehe..”
aku hanya bisa ketawa sambil meringis.
“Lalu apa
yang kamu inginkan dariku? Jika hanya berdiri dibalik nama Kacaberdebu? Sudah 2 tahun Cha kita berteman dan aku sama
sekali tidak tahu menahu tentangmu.” Tuntut Nurdin padaku.
“Kamu tak
perlu mengenalku Din, aku memang mengenalmu dan aku semakin mengenalmu lewat goresan
penamu yang tak sengaja terbaca olehku, biarkan cukup sampai disitu. Biarkan takdir yang
menuntun kita, apakah kita akan saling
mengenal didunia nyata atau akan tetap seperti ini.” Jawabku.[]Nee
Tuban, 5 Januari 2013
Tuban, 5 Januari 2013
curhat pribadi ato bikin cerpen ni? bagus.
BalasHapuscerita ini hanya fiktif belaka non.:D
BalasHapusceritanya aku lagi belajar nulis cerita mini alias flash fiction/cerita singkat,,ehe..makasih udah main di blogku,.. :)
bagus kok. terusin aja. aq juga pengen blajar2, tapi belum kesampean juga
BalasHapus