Sabtu, 12 Januari 2013

ARA


Mata sayu itu menyiratkan sesuatu. Entah apa, tak ada yang tahu. Mungkin bukan tak ada yang tahu.  Tapi tak ada yang mau tahu. Buktinya sejak pagi gadis manis itu hanya termenung sendu. Sendiri meluruh pilu.   Terlihat dari gerak tubuh dan sorot matanya  yang haru. Hingga malam menjelang ia tetap tergugu. Airnya meleleh dimata yang semula indah itu.  Menyiratkan sesuatu. Apa itu?

Ada lebam di wajahnya. Sebenarnya ia gadis kecil mungil dan cantik.  Terlihat dari bentuk muka, raut dan lekuk wajahnya. Namun lebam itu seakan melunturkan cahaya di wajahnya. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu lewat sorot matanya yang merah dan berair. Rembesan air matanya yang hendak mengering seakan tak mau kering . Terus saja ia merembes dan menetes. Membasahi pipi yang merah dan kehitaman karena lebam dan hampir bengkak.

Ia meringkuk sendiri di bawah pohon dipojok pagar depan rumahku. Sejak pagi  disana dan tidak ada yang ingin menyapanya. Sesekali melihat orang yang lewat sambil ketakutan. Oh gadis siapa dirimu. Duduk sendirian dan tak membawa apa-apa. Bajunya terlihat lusuh, namun jelas Ia bukan seorang gelandangan. Bukan pula dari anak jalanan. Apalagi orang gila. Mungkin Ia sedang tersesat tak tahu jalan pulang. Mungkin pula ia korban penganiayaan oleh ibu tiri, atau korban trafiking? Ah pikiran-pikiran itu berkelebat dalam otakku.

Itulah yang membuatku tergelitik untuk mendekatinya. Memberi senyum teduh untuk ia bisa sedikit menaruh percaya padaku. Tapi ia tetap saja menunjukkan sikap takut padaku. Aku terus tersenyum dan membujuknya untuk singgah di gubuk tuaku. Dibalik pagar yang ia duduki itu.

“Nama kamu siapa?

Ia diam, sambil menatapku nanar.

“Tenang saja nak, jangan takut. Rumah Ibu ada dibelakang situ. Singgahlah untuk membersihkan badan dan 
istirahat sebentar. Kau terlihat lelah dan capek.”

Ia tetap saja membisu.

“Kamu darimana Nak? Sebelumnya Ibu belum pernah melihatmu disekitar sini. Pasti kamu bukan orang sini ya?”

Hening, tak ada suara dari mulutnya. Hanya tangis yang semakin menjadi.

“Jangan takut, Ibu tidak menggigit kok.”

Tangisnya semakin pecah tak terbendung lagi. Tak tahu lagi bagaimana cara membujuk gadis kecil ini. Akhirnya ku beranikan diri untuk menuntunnya agar ia bisa berdiri dan berjalan. Ternyata Ia menurut.

**

Ia terlihat lebih segar setelah mandi dan berganti pakaian yang telah kusediakan. Untunglah aku juga punya anak seusianya. Lebih tepatnya besar tubuh dan tinggi yang hampir sama dengan puteriku yang masih SMP. Jadi, gadis kecil ini bisa memakai baju anakku yang saat ini tidak dirumah. Puteriku lebih memilih mondok seperti kakak perempuannya yang lebih dulu mondok di Jombang.

Ada rasa iba mengalir saat melihat gadis kecil dihadapanku ini makan dengan lahapnya. Aku jadi membayangkan dia adalah puteriku. Oh Tuhan, siapa sebenarnya gadis ini? kasihan sekali dia. Dimana orangtuanya? Kenapa membiarkan gadis ini pergi sendiri dengan luka di wajah dan tubuhnya. Apa yang telah terjadinya padanya?

Aku membiarkannya tidur selepas ia makan dan membersihkan badan. Terlihat jelas bahwa ia lelah dan capek. Mungkin  seharian ia tidak makan, mungkin pula sudah dua hari Ia tak makan, Apa sudah tiga hari? Apa 4 hari? Jangan-jangan sudah berhari-hari ia tak makan. Karena ia terlihat sangat lemah dan saat makan lahap sekali seperti sudah berhari-hari tak makan.

**

Sudah tiga hari gadis kecil itu tinggal di rumah ini. Lebih banyak diam memang, namun sudah mulai ceria layaknya anak seusiannya. Lebam diwajahnya pun sudah mulai membaik. Ia pun sudah bisa membantuku menyiram bunga, membersihkan rumah dan menemaniku belanja dan memasak.

Dirumah ini aku tinggal sendiri. Suamiku bekerja diluar kota. Kedua puteriku pun sekolah diluar kota. Terkadang memang hanya sepi temanku. Namun ada bunga-bunga yang setia menemani sepiku. Setiap hari suamiku pasti menelepon, sebulan sekali pulang. Pasti membawakanku sesuatu.

Sore itu kuberanikan bertanya pada gadis kecil itu. Saat kulihat senyum diwajah manisnya. Saat santai didepan rumah sambil melihat bunga sedap malam mulai bermekaran.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu Nak? Dimana orangtuamu?”

“Aku lari dari rumah, Ayah meninggal sejak aku masih kecil.”

“Ibumu?”

“Sejak Ayah meninggal, Ibu menikah lagi. Tapi Ibu sibuk bekerja dari pagi hingga larut malam karena Ayah tiriku tidak bekerja. Kerjaannya hanya mabuk dan marah-marah. Kasihan Ibuku, Ia sering menangis tiap malam.” 

“Setiap hari Ayah marah-marah dan sering memukuliku. Bahkan Ia sering berbuat mesum padaku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku hanya bisa menangis, tidak berani melaporkan pada Ibu. Karena itu hanya akan membuat Ibuku marah, pasti ujung-ujungnya Ibuku akan dipukulinya.”  

“Sampai akhirnya Ibu tidak pernah pulang lagi. Aku tak tahu dia dimana. Aku mencarinya. Berhari-hari, tapi tak juga bertemu dengannya. Kutanyakan pada teman kerjanya namun tak ada yang tahu dia dimana.”

Mata sayu itu kembali meneteskan air mata. Mengingatkanku pada wanita gila yang tiap bertemu dengannya hanya menangis dan menangis. Beberapa kali kutemui di jalan ketika  menuju pasar. Persis, mata itu, hidung itu juga raut mukanya. Ah tidak mungkin, itu pasti hanya khayalanku saja.

“Kamu tidak sekolah Nak?” Tanyaku.

“Sudah lama aku tidak bersekolah, padahal ingin sekali aku bisa belajar seperti teman-teman yang lain. Ingin hidup normal seperti mereka.”

Kupeluk dia sambil kubelai rambut panjangnya yang menjuntai.

“Kalau kamu mau, aku akan mengirimmu ke pondok bersama kedua puteriku. Aku akan menganggapmu seperti anakku sendiri. Mereka pasti menyukaimu dan akan menganggapmu saudara. Kamu bisa melanjutkan belajar disana.”

Ia mengangguk penuh semangat. Ada pendar bahagia di matanya. Hal ini membuatku menggigil karena haru. Duh Gusti. Kenapa pula ada yang tega mengambil senyumnya. Sambil kupeluk erat dan hangat Ara. Nama yang saat ini kupakai untuk memanggillnya.[]Nee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar