Mata
sayu itu menyiratkan sesuatu. Entah apa, tak ada yang tahu. Mungkin bukan tak
ada yang tahu. Tapi tak ada yang mau
tahu. Buktinya sejak pagi gadis manis itu hanya termenung sendu. Sendiri
meluruh pilu. Terlihat dari gerak tubuh dan sorot
matanya yang haru. Hingga malam
menjelang ia tetap tergugu. Airnya meleleh dimata yang semula indah itu. Menyiratkan sesuatu. Apa itu?
Ada
lebam di wajahnya. Sebenarnya ia gadis kecil mungil dan cantik. Terlihat dari bentuk muka, raut dan lekuk
wajahnya. Namun lebam itu seakan melunturkan cahaya di wajahnya. Ia seperti
hendak mengatakan sesuatu lewat sorot matanya yang merah dan berair. Rembesan
air matanya yang hendak mengering seakan tak mau kering . Terus saja ia
merembes dan menetes. Membasahi pipi yang merah dan kehitaman karena lebam dan
hampir bengkak.
Ia
meringkuk sendiri di bawah pohon dipojok pagar depan rumahku. Sejak pagi disana dan tidak ada yang ingin menyapanya.
Sesekali melihat orang yang lewat sambil ketakutan. Oh gadis siapa dirimu.
Duduk sendirian dan tak membawa apa-apa. Bajunya terlihat lusuh, namun jelas Ia
bukan seorang gelandangan. Bukan pula dari anak jalanan. Apalagi orang gila.
Mungkin Ia sedang tersesat tak tahu jalan pulang. Mungkin pula ia korban
penganiayaan oleh ibu tiri, atau korban trafiking? Ah pikiran-pikiran itu
berkelebat dalam otakku.
Itulah
yang membuatku tergelitik untuk mendekatinya. Memberi senyum teduh untuk ia
bisa sedikit menaruh percaya padaku. Tapi ia tetap saja menunjukkan sikap takut
padaku. Aku terus tersenyum dan membujuknya untuk singgah di gubuk tuaku.
Dibalik pagar yang ia duduki itu.
“Nama
kamu siapa?
Ia
diam, sambil menatapku nanar.
“Tenang
saja nak, jangan takut. Rumah Ibu ada dibelakang situ. Singgahlah untuk
membersihkan badan dan
istirahat sebentar. Kau terlihat lelah dan capek.”
Ia
tetap saja membisu.
“Kamu
darimana Nak? Sebelumnya Ibu belum pernah melihatmu disekitar sini. Pasti kamu
bukan orang sini ya?”
Hening,
tak ada suara dari mulutnya. Hanya tangis yang semakin menjadi.
“Jangan
takut, Ibu tidak menggigit kok.”
Tangisnya
semakin pecah tak terbendung lagi. Tak tahu lagi bagaimana cara membujuk gadis
kecil ini. Akhirnya ku beranikan diri untuk menuntunnya agar ia bisa berdiri
dan berjalan. Ternyata Ia menurut.
**
Ia
terlihat lebih segar setelah mandi dan berganti pakaian yang telah kusediakan.
Untunglah aku juga punya anak seusianya. Lebih tepatnya besar tubuh dan tinggi
yang hampir sama dengan puteriku yang masih SMP. Jadi, gadis kecil ini bisa memakai
baju anakku yang saat ini tidak dirumah. Puteriku lebih memilih mondok seperti
kakak perempuannya yang lebih dulu mondok di Jombang.
Ada
rasa iba mengalir saat melihat gadis kecil dihadapanku ini makan dengan
lahapnya. Aku jadi membayangkan dia adalah puteriku. Oh Tuhan, siapa sebenarnya
gadis ini? kasihan sekali dia. Dimana orangtuanya? Kenapa membiarkan gadis ini
pergi sendiri dengan luka di wajah dan tubuhnya. Apa yang telah terjadinya
padanya?
Aku
membiarkannya tidur selepas ia makan dan membersihkan badan. Terlihat jelas
bahwa ia lelah dan capek. Mungkin
seharian ia tidak makan, mungkin pula sudah dua hari Ia tak makan, Apa
sudah tiga hari? Apa 4 hari? Jangan-jangan sudah berhari-hari ia tak makan.
Karena ia terlihat sangat lemah dan saat makan lahap sekali seperti sudah
berhari-hari tak makan.
**
Sudah
tiga hari gadis kecil itu tinggal di rumah ini. Lebih banyak diam memang, namun
sudah mulai ceria layaknya anak seusiannya. Lebam diwajahnya pun sudah mulai
membaik. Ia pun sudah bisa membantuku menyiram bunga, membersihkan rumah dan
menemaniku belanja dan memasak.
Dirumah
ini aku tinggal sendiri. Suamiku bekerja diluar kota. Kedua puteriku pun
sekolah diluar kota. Terkadang memang hanya sepi temanku. Namun ada bunga-bunga
yang setia menemani sepiku. Setiap hari suamiku pasti menelepon, sebulan sekali
pulang. Pasti membawakanku sesuatu.
Sore
itu kuberanikan bertanya pada gadis kecil itu. Saat kulihat senyum diwajah
manisnya. Saat santai didepan rumah sambil melihat bunga sedap malam mulai
bermekaran.
“Sebenarnya
apa yang telah terjadi padamu Nak? Dimana orangtuamu?”
“Aku
lari dari rumah, Ayah meninggal sejak aku masih kecil.”
“Ibumu?”
“Sejak
Ayah meninggal, Ibu menikah lagi. Tapi Ibu sibuk bekerja dari pagi hingga larut
malam karena Ayah tiriku tidak bekerja. Kerjaannya hanya mabuk dan marah-marah.
Kasihan Ibuku, Ia sering menangis tiap malam.”
“Setiap hari Ayah marah-marah dan
sering memukuliku. Bahkan Ia sering berbuat mesum padaku. Aku tak tahu harus
bagaimana lagi. Aku hanya bisa menangis, tidak berani melaporkan pada Ibu. Karena
itu hanya akan membuat Ibuku marah, pasti ujung-ujungnya Ibuku akan dipukulinya.”
“Sampai
akhirnya Ibu tidak pernah pulang lagi. Aku tak tahu dia dimana. Aku mencarinya.
Berhari-hari, tapi tak juga bertemu dengannya. Kutanyakan pada teman kerjanya
namun tak ada yang tahu dia dimana.”
Mata
sayu itu kembali meneteskan air mata. Mengingatkanku pada wanita gila yang tiap
bertemu dengannya hanya menangis dan menangis. Beberapa kali kutemui di jalan
ketika menuju pasar. Persis, mata itu,
hidung itu juga raut mukanya. Ah tidak mungkin, itu pasti hanya khayalanku saja.
“Kamu
tidak sekolah Nak?” Tanyaku.
“Sudah
lama aku tidak bersekolah, padahal ingin sekali aku bisa belajar seperti
teman-teman yang lain. Ingin hidup normal seperti mereka.”
Kupeluk
dia sambil kubelai rambut panjangnya yang menjuntai.
“Kalau
kamu mau, aku akan mengirimmu ke pondok bersama kedua puteriku. Aku akan
menganggapmu seperti anakku sendiri. Mereka pasti menyukaimu dan akan menganggapmu
saudara. Kamu bisa melanjutkan belajar disana.”
Ia
mengangguk penuh semangat. Ada pendar bahagia di matanya. Hal ini membuatku
menggigil karena haru. Duh Gusti. Kenapa pula ada yang tega mengambil
senyumnya. Sambil kupeluk erat dan hangat Ara. Nama yang saat ini kupakai untuk
memanggillnya.[]Nee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar