Singkat cerita saya punya dua orang teman dekat. Yang satu
adalah sahabat semenjak semester satu hingga kini. Teman yang menurut pandangan
orang kami berbeda seratus delapan puluh derajat, Sedangkan yang satu adalah
teman yang baru dekat dengan saya sejak awal semester tujuh. Dia adalah gadis
pendiam dan pintar yang selalu memakai kerudung serta jilbab yang lebar dan
panjang dengan warna gelap. Dia adalah teman dekat saya karena adanya pertemuan
yang intens diantara kami. Karena kami sering bersama.
Saat itu adalah liburan semester enam. Saat itu teman dekat
saya Ngesti sedang pulang kampung dan saat itu ada tawaran untuk mengerjakan
skripsi lanjutan dari kakak tingkat tentang polimer. Mau tidak mau saya harus
punya partner untuk mengerjakan ini. Karena teman saya Ngesti sedang tidak ada
maka akhirnya saya mengajak teman saya yang pendiam ini. Selain karena dia
pintar dan nantinya bisa saya manfaatkan untuk belajar bersama, berdiskusi
serta dalam mengerjakan bareng penelitian ini. Dari situlah awal pertemanan
kami. Akhirnya kemana-kemana selalu bersama. Ngasdosi di dua mata kuliah yang
sama, tidur bareng, makan bareng, belajar bareng, kuliah bareng, ngelab bareng.
Setiap ada saya yang ditanyakan teman saya satunya, setiap ada teman saya yang
ditanyakan saya. Begitulah karena kami selalu sama-sama. Seperti saat saya
menulis ini. Ada saja pertanyaan dari adek tingkat.
“Mbak, mbk bekti kemana kok sendiri ?” tanya seorang adik
tingkat.
“Oh, ada di Mushola dek,” jawabku sambil tersenyum.
Begitulah, kalau tidak dengan dia pasti dengan teman saya
yang satunya Ngesti. Tapi beberapa bulan terakhir ini Ngesti lebih banyak menghabiskan
waktu dengan pacarnya. Namun tak jarang juga kami menghabiskan waktu bertiga.
***
Hari itu adalah hari upacara yudisium atau pengukuhan di
tingkat fakultas bagi kami yang lulus di semester pendek. Setelah upacara
dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya (tentunya saya tak ikut menyanyi karena pura-pura
lupa dan tidak hapal). Setelah itu berbagai rangkaian acara dilakukan. Nama temanku Bekti yang pendiam tadi dipanggil
menjadi salah satu lulusan yang lulus dengan pujian alias kumlot. Semua
bertepuk tangan untuk teman-teman yang dapat lulus dengan pujian. Semua paham
kalau dia jagonya fisika. Jadi tak ada peristiwa yang tidak diinginkan seperti
orang yang teriak-teriak manggil dia turun dari panggung karena tak rela,
mungkin akan lain ceritanya jika saya atau teman saya Ngesti yang lulus dengan
pujian. Semua pasti akan memandang tidak suka serta akan teriak-teriak tidak
rela dan menyuruh turun dari panggung.
Setelah ia maju dan mendapat sertifikat serta bersalaman
dengan dekan serta bapak-bapak petinggi fakultas. Terlihat bahwa wajahnya begitu tegang. Ia pun
kembali duduk disampingku dan mendekat serta berbisik memberitahukan bahwa
tangannya begitu dingin serta pucat. Lucu sekali wajahnya saat itu. Bukan
karena saking senangnya mendapat nilai bagus, bukan pula karena saking
senangnya dapat bersalaman dengan Bapak Dekan namun tangan dingin serta pucat
tersebut akibat ia gugup dan takut harus bersalaman dengan para bapak-bapak. Ah
lucu sekali wajah temanku satu itu. Aku dan temanku Ngesti yang ada disebelahku
hanya cekikikan melihatnya.
Temanku itu memang sungguh menjaga dirinya. Saya tak
bisa banyak berkomentar tentangnya. Yang jelas saya menyayanginya, juga menyayangi
Ngesti sabahat saya itu. Tulisan ini biar saja menjadi kenangan saat-saat itu. Saat ia
dengan terpaksa harus berjabat tangan dengan para bapak-bapak. Dengan wajah
yang tegang ditekuk serta tangan yang sangat dingin serta pucat pasi. Semoga persahabatan
ini akan tetap menyala hingga kita dipisahkan oleh jarak yang membentang
diantara kita.[]DP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar