Sabtu, 17 November 2012

Melatih Bukan Memerintah


    Siang itu, ceramah dan diskusi didalam sebuah ruang kelas di bimbing oleh seorang ibu muda. Ia adalah seorang dosen yang cantik dan keibuan yang juga ternyata pendidikan magisternya ditempuh di perguruan tinggi tempat saya menimba ilmu fisika. Beliau berbicara panjang lebar tentang  psikologi sosial yang saat itu menyangkut tentang anak-anak.


Mau tidak mau setelah di rumah saya pun harus mencari tau tentang hal tersebut. Lebih tepatnya tentang psikologi perkembangan anak. Walaupun saat itu beliau tidak menyinggung tentang psikologi perkembangan. Namun bagi saya sendiri pelajaran ini sangat penting untuk diketahui karena sangat erat kaitannya dengan pembahasan yang saat itu dibahas.


Selain itu, belajar tentang ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku individu dalam perkembangannya dan latar belakang yang memengaruhinya ini, kita dapat mengetahui berbagai hal terkait perkembangan anak sesuai dengan umurnya. Yang nantinya juga bisa dikaitkan dengan berbagai hal yang dapat membantunya dalam proses belajarnya.

Perkembangan otak manusia memang dimulai saat ia masih berada dalam kandungan. Namun ketika bayi lahir maka perkembangan otak  paling pesat akan dimulai pada masa early childhood, yakni pada masa bayi berumur 0 hingga 5 tahun. Dalam jangka waktu inilah didalam otak akan tumbuh serabut-serabut panjang dan tipis di otak yang dalam bahasa biologi disebut sinopsis dan menghubungkan sel-sel otak. Adanya keterkaitan sel-sel otak oleh sinopsis inilah yang akan menjadi fondasi triliunan sirkuit otak yang kelak sangat berkaitan dengan perilaku dan ketrampilan hidup seseorang. Inilah masa-masa emas bagi tumbuh kembang anak.


Pada tahap awal perkembangan anak, peran penting orangtua dalam mendampingi, mengarahkan serta mengajari anak akan berbagai hal. Tidak hanya dalam belajar untuk mengurusi dirinya sendiri, seperti makan, minum, mandi dll. Namun juga dalam kehidupan sosial atau interaksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Seperti sikap peduli dengan sesama, kemauan untuk berbagi dan membantu orang yang kesusahan.


Penting diketahui bahwa tidak hanya orang dewasa namun anak sekalipun juga tidak suka jika diperintah-perintah. Misalnya dengan berkata jangan ini jangan itu, atau kalimat perintah yang lainnya. Kalimat-kalimat seperti itu tidak akan membuat anak menjadi paham dan mengerti. Namun hanya akan membuat anak menjadi berontak karena perintah terlihat seperti sebuah ancaman bagi anak. Berikanlah pemahaman terlebih dahulu pada anak dengan cara yang lembut dan mudah dipahami anak.


Membiasakan anak untuk berbuat baik, contoh sederhananya bisa dilakukan dengan cara mengajaknya untuk mengisi kotak amal dimasjid. “Ayuk yuk dek, kita masukin uang ini ke dalam kotak amal.” Bukan dengan kata, ”Dek masukkan uang ini kekotak amal!”Seolah-olah seperti bermain namun hal ini jika dilakukan berulang-ulang akan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Kelak jika umurnya sudah lebih besar maka tak perlu bimbingan ibu atau orang tua yang mengajaknya. Namun si anaklah yang akan mengajak orangtua. Begitu juga dengan berbagai kegiatan yang lainnya.


Usia emas anak inilah yang merupakan proses bagi dia untuk melatih dan belajar. Jika proses melatih dilakukan pada umur diatas 5 tahun. Hal itu akan sulit dilakukan. Karena pada usia ini anak sudah mulai belajar untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya. anak sudah mulai belajar untuk bersosialisasi bersama kawan-kawannya. Pengaruh adanya konformitas atau kelompok sudah mulai dominan terhadap anak. Pengaruh luar dari teman-temannya akan mendominasi dalam segala kegiatannya. Maka proses melatih yang baik adalah dilakukan sejak sedini mungkin saat anak masih dominan bersama orang tua yakni pada usia 0-5 tahun.[]DP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar