Siang itu, ceramah dan diskusi didalam sebuah ruang kelas di
bimbing oleh seorang ibu muda. Ia adalah seorang dosen yang cantik dan keibuan
yang juga ternyata pendidikan magisternya ditempuh di perguruan tinggi tempat
saya menimba ilmu fisika. Beliau berbicara panjang lebar tentang psikologi sosial yang saat itu menyangkut
tentang anak-anak.
Mau tidak mau setelah di rumah saya pun harus mencari tau
tentang hal tersebut. Lebih tepatnya tentang psikologi perkembangan anak. Walaupun
saat itu beliau tidak menyinggung tentang psikologi perkembangan. Namun bagi
saya sendiri pelajaran ini sangat penting untuk diketahui karena sangat erat
kaitannya dengan pembahasan yang saat itu dibahas.
Selain itu, belajar tentang ilmu yang mempelajari tentang
tingkah laku individu dalam perkembangannya dan latar belakang yang
memengaruhinya ini, kita dapat mengetahui berbagai hal terkait perkembangan
anak sesuai dengan umurnya. Yang nantinya juga bisa dikaitkan dengan berbagai
hal yang dapat membantunya dalam proses belajarnya.
Perkembangan otak manusia memang dimulai saat ia masih
berada dalam kandungan. Namun ketika bayi lahir maka perkembangan otak paling pesat akan dimulai pada masa early
childhood, yakni pada masa bayi berumur 0 hingga 5 tahun. Dalam jangka
waktu inilah didalam otak akan tumbuh serabut-serabut panjang dan tipis di otak
yang dalam bahasa biologi disebut sinopsis dan menghubungkan sel-sel otak. Adanya
keterkaitan sel-sel otak oleh sinopsis inilah yang akan menjadi fondasi
triliunan sirkuit otak yang kelak sangat berkaitan dengan perilaku dan
ketrampilan hidup seseorang. Inilah masa-masa emas bagi tumbuh kembang anak.
Pada tahap awal perkembangan anak, peran penting orangtua
dalam mendampingi, mengarahkan serta mengajari anak akan berbagai hal. Tidak hanya
dalam belajar untuk mengurusi dirinya sendiri, seperti makan, minum, mandi dll.
Namun juga dalam kehidupan sosial atau interaksi dengan orang lain dan
lingkungan sekitar. Seperti sikap peduli dengan sesama, kemauan untuk berbagi
dan membantu orang yang kesusahan.
Penting diketahui bahwa tidak hanya orang dewasa namun anak
sekalipun juga tidak suka jika diperintah-perintah. Misalnya dengan berkata
jangan ini jangan itu, atau kalimat perintah yang lainnya. Kalimat-kalimat
seperti itu tidak akan membuat anak menjadi paham dan mengerti. Namun hanya akan
membuat anak menjadi berontak karena perintah terlihat seperti sebuah ancaman
bagi anak. Berikanlah pemahaman terlebih dahulu pada anak dengan cara yang
lembut dan mudah dipahami anak.
Membiasakan anak untuk berbuat baik, contoh sederhananya bisa
dilakukan dengan cara mengajaknya untuk mengisi kotak amal dimasjid. “Ayuk yuk
dek, kita masukin uang ini ke dalam kotak amal.” Bukan dengan kata, ”Dek
masukkan uang ini kekotak amal!”Seolah-olah seperti bermain namun hal ini jika
dilakukan berulang-ulang akan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Kelak jika
umurnya sudah lebih besar maka tak perlu bimbingan ibu atau orang tua yang
mengajaknya. Namun si anaklah yang akan mengajak orangtua. Begitu juga dengan
berbagai kegiatan yang lainnya.
Usia emas anak inilah yang merupakan proses bagi dia untuk
melatih dan belajar. Jika proses melatih dilakukan pada umur diatas 5 tahun. Hal
itu akan sulit dilakukan. Karena pada usia ini anak sudah mulai belajar untuk
bergaul dengan teman-teman sebayanya. anak sudah mulai belajar untuk
bersosialisasi bersama kawan-kawannya. Pengaruh adanya konformitas atau
kelompok sudah mulai dominan terhadap anak. Pengaruh luar dari teman-temannya
akan mendominasi dalam segala kegiatannya. Maka proses melatih yang baik adalah
dilakukan sejak sedini mungkin saat anak masih dominan bersama orang tua yakni
pada usia 0-5 tahun.[]DP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar