Senin, 29 September 2014

Sore Itu

Langit temaram menambah cekam dan hening suasana sore itu, bibir ini kian lamat-lamat untuk membuka. Ada gejolak dan batu yang menggelayut di dada hingga membuat sulit untuk berkata-kata. Oh, seandainya saja untuk mengungkapkannya, bisa semudah saat aku melahap lalapan Latansa, salah satu lalapan kesukaanku. Kubuang angan-angan itu. Kembali kuubah letak dudukku senyaman mungkin. Kuukir senyum seindah kerlipan bintang di malam dingin. Kuatur napasku satu-satu. Hhhh!

Lama, lama sekali kupandangi seraut wajah itu. Berharap ianya ada di kondisi terbaik. Kuhempas bantal yang sedari tadi kudekap. Sambil merengkuhnya, tubuh mungil yang kusayangi. Bagaimanapun kita masih sedarah dik. Ada darahku yang juga mengalir hangat ditubuhmu. Bagaimanapun orang tak suka, aku akan tetap suka. Bagaimanapun orang membenci, aku tak akan bisa. Ada cinta yang menghangat diantara kita. Saat kita berdua bicara dari hati ke hati makin terasa aroma persaudaraan itu.   

Walaupun dengan hati-hati, kuharap kau mengerti. Walaupun baru bisa kuungkap namun kuharap kau memahami. Bahwa aku menyayangimu, bahwa aku berharap ada sedikit perubahan pada hati dan sikapmu. Langit tiba-tiba berbintang dan bulan bundar pun menyeruak diantara awan-awan.  Semoga saja ini pertanda baik untukku dan untukmu.[]Nee

Malang, 29-09-2014

5:15 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar