Sebenarnya dalam
pengertian ideologis bumi juga sudah berarti keranjang sampah-celakanya tidak
ada tukang sampah untuk itu. Ibarat kata semua orang kentut, meludah, membuang
ingus dan muntah berak di sembarang tempat. Kata-kata yang keluar dari mulut
manusia ibarat cerobong asap yang kepulannya menghitamkan langit. Bacalah Koran,
maka engkau akan membaca kebohongan. Bunyikan radio maka engkau mendengar
kebohongan. Nyalakan TV, maka engkau akan tenggelam dalam lautan kebohongan. Namun
kita akan terus berada di depannya karena tidak punya pilihan lain. Dari saluran
satu ke saluran lain. Kita hanya akan mendapatkan kebohongan. Sampai kita
tertidur di depan TV, dengan mimpi-mimpi yang juga bohong.
Paragraf diatas
saya kutip dari buku Trilogi Insiden (buku Jazz, Parfum dan insiden) yang
ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Setelah membaca kalimat-kalimat dalam paragraf
tersebut saya menjadi teringat dengan salah satu aliran klasik dalam
pendidikan. Aliran itu bernama aliran Naturalisme. Aliran ini di pelopori oleh
seorang filsuf Prancis bernama J.J. Rousseau yang hidup pada tahun 1700an. Ia berpendapat
bahwa semua anak yang dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Sedangkan pembawaan
baik yang dimiliki oleh anak akan menjadi buruk atau rusak karena dipengaruhi
oleh lingkungan.
Disini pendidikan
sama sekali tidak dibutuhkan (terutama pendidikan formal ). Karena hanya akan
menimbulkan kerusakan pada pembawaan anak yang baik. Hal yang perlu dilakukan menurut
aliran ini adalah membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Agar pembawaan anak
yang baik itu tidak rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan kependidikan.
Aliran ini ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba
dibuat-buat (artificial) sehingga kebaikan anak-anak yang diperoleh secara alamiah
sejak saat kelahirannya itu tampak secara spontan.
Hanya saja
gagasan naturalisme atau ingin mengembalikan pendidikan anak seluruhnya kepada
alam atau ada juga yang menyebutnya sebagai gagasan/aliran negativisme tersebut
tidak terbukti dan dianggap sebagai aliran klasik yang tidak sepenuhnya
diterima. Karena kini pendidikan malah semakin diutamakan dan di galakkan di
segala lini. Berkebalikan dengan aliran naturalisme/negativisme.
Jika kita amati kata demi kata yang dirangkai oleh SGA (nama keren
dari Seno Gumira Ajidarma) dalam buku Trilogi Insiden pada paragraph diatas. Akan
kita temukan hal yang semakna dengan teori yang pernah di pelopori oleh J.J.
Rosusseau. Entah karena memang SGA terinspirasi dari aliran naturalisme
tersebut sehingga mengartikan bahwa bumi adalah sebuah keranjang sampah yang
berisi keburukan-keburukan dan kebohongan. Sama seperti pada aliran naturalisme
yang menganggap bahwa lingkungan hanya penuh dengan kepura-puraan dan kerusakan.
Atau mungkin SGA dan aliran klasik ini sebenarnya tidak ada kaitan apa-apa dan
hal tersebut memang hanya kebetulan belaka.
Namun disini ingin saya tekankan, bahwa saya rasa kita bisa
memberikan kata sepakat pada tulisan SGA diatas bahwa pada kenyataannya dunia
ini memang lebih banyak dipenuhi dengan kebohongan-kebohongan dan kerusakan
layaknya keranjang sampah. Media yang setiap hari kita konsumsi pun entah itu
berupa media cetak serupa Koran, tabloid, majalah maupun media lain seperti TV, radio, internet
dan lainnya sebenarnya hanya menyajikan serangkaian informasi yang masih perlu
dipertanyakan (jika tidak ingin dikatakan sebagai sebuah kebohongan-kebohongan).
Bagaimana dengan aliran naturalisme diatas? saya rasa kita pun
sepakat jika aliran tersebut tidak bisa digunakan. Karena pada hakekatnya
seorang anak dilahirkan dengan keadaan yang suci layaknya kertas putih. Maka kitalah
yang akan membantunya mewarnai tiap inci dari lembaran awal kertas putih
tersebut. Iya, anak memang dilahirkan dengan keadaan besih, putih dan suci. Selain
itu ia pun dilahirkan dengan berbagai potensi yang dimiliki oleh manusia. Sesuai
fitrah yang telah diberikan olehNya pada kita setiap insan manusia. Tak mungkin
kita membiarkan anak-anak kita di didik oleh alam. Tapi tangan-tangan kitalah
yang akan menjadi penunjuk dan pemberi arah pada anak-anak untuk mencapai
pemahaman dalam membedakan dan memilih mana yang baik dan buruk.
Anak laksana cermin yang memantulkan segala jenis pemberian
respon, perilaku atau tingkah laku dari orangtua dan lingkungan di sekitarnya. Ia
ibarat sebuah gelas kosong bening yang dapat kita isi dengan berbagai hal. Apa yang
kita isikan pada gelas tersebutlah yang akan terlihat dari balik kaca bening
dari gelas itu. Jika kita mengisinya dengan lumpur maka lumpurlah yang akan
mengisi gelas tersebut dan terlihat tampak dari luar. Begitu pula jika
mengisinya dengan susu putih maka susu jualah yang mengisi gelas itu dan
putihnya susu yang terlihat dari luar. Hanya saja terkadang debu-debu dan kotoran
lain pun dapat masuk kedalamnya tanpa kita ketahui kapan saat ia masuk. Tiba-tiba
saja terlihat dan kita malah disibukkan dengan saling menyalahkan siapa yang
memasukkan kotoran itu ke dalam gelas.
Bukankah alangkah pentingnya untuk menjaga apa saja yang masuk ke
dalam gelas tersebut? Dan memastikan bahwa yang masuk ke dalam gelas adalah
sesuatu yang baik-baik dan meminimalisir pengaruh buruk dari lingkungan luar? Jika
sudah terkena pengaruh buruk/kotoran maka bagaimana caranya agar gelas tersebut kembali
terisi oleh sesuatu yang baik ? dan berusaha untuk membersihkannya? Bukankah di
lingkungan yang sudah sedemikian rusaknya ini pendidikan* menjadi semakin penting untuk
anak-anak?[]Nee
*Pendidikan yang dimaksud
bisa pendidikan formal, informal maupun nonformal(atau gabungan dari yang satu
dengan lainnya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar