“Orang dewasa mengira bahwa dengan mengomeli kami mereka sedang berkomunikasi. Sebenarnya, mereka cuma bicara sendiri.“ kata Jerry dalam hati, saat Ibunya memarahi dia dan kakaknya.
“Kami pura-pura mendengarkan. Tapi omongan mereka, cucucuccucu, langsung menguap begitu saja. Mereka tidak peduli kami mendengarkan atau tidak. Asalkan mereka bisa bicara panjang dan lebar. Aku ragu mereka sadar, kalau omelan mereka bisa membunuh kami. Orang dewasa terlalu banyak bicara. Apa mereka tidak mengerti yang disebut dengan -kelebihan muatan-.” Kata Tom tak kalah serunya sambil melamun saat Ibunya asyik sendiri dengan omongan yang tidak ada jedanya.
“Kadang-kadang kami juga ingin didengar. Kami sama sekali tidak boleh membantah, akhirnya kami tahu lebih baik diam saja.” Rintih kedua kakak beradik itu.
Alhasil semua perkataan dan nasehat dari orangtua mereka hanya menguap begitu saja. Karena sebenarnya mereka tak pernah benar-benar mendengarkan saat orangtuanya marah-marah dan mengomeli mereka.
Perkataan-perkataan diatas merupakan cuplikan dari sebuah film yang berkisah tentang anak-anak dan keluarga. Setelah aku perhatikan perkataan-perkataan tersebut ada benarnya juga. Flashback pada masa kecil dulu bahkan kadang hingga saat ini. Aku tidak pernah suka jika dimarahi. Dan aku pun pernah melontarkan itu pada Ibu, “Bu, jangan marahi aku” pintaku. Berkali-kali aku berkata seperti itu pada Ibu jika Ibuku sedang marah-marah. Dan saat itu yang aku pikirkan adalah orangtua memang hobinya marah-marah.
Pada film tersebut, si Jerry menganggap bahwa saat Ibunya marah-marah dan mengomeli mereka, saat itu sebenarnya Ia hanya sedang berbicara sendiri. Bukan sedang melakukan komunikasi. Benar saja, karena jika merujuk arti dari komunikasi sendiri adalah
Interaksi antara dua orang atau lebih yang masing-masing diberlakukan sebagai individu atau subjek dan bukan sebagai objek.
Sedangkan dalam berkomunikasi dibutuhkan adanya syarat-syarat yang harus dipenuhi. Diantaranya adalah
1. Sender atau pengirim
2. Message atau pesan
3. Chanel atau media pengiriman pesan
4. Decoding atau menafsirkan pesan
5. Receiver atau penerima pesan
6. Feedback atau timbal balik
Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi maka mustahil akan terjadi komunikasi. Dalam kasus diatas secara tidak langsung anak dijadikan sebagai objek dan bukan subjek. Sehingga tidak ada timbal balik didalamnya. Orangtua yang sedang memarahi dan mengomeli anaknya tentunya juga ingin adanya sebuah respon timbal balik. Namun kebanyakan jika dalam kondisi seperti ini, saat anak mencoba untuk mengemukakan pendapat dan suara, maka ini dinilai sebagai sebuah bantahan. Inilah yang menyebabkan anak lebih memilih untuk diam saja ketika sedang diomeli. Karena nanti akan dianggap sebagai tindakan membangkang, membantah dan lain sebagainya.
Memang benar jika dalam berkomunikasi akan lebih mudah jika terdapat kesamaan seperti usia, pendidikan, latar belakang kehidupan, budaya dan bahasa. Karena itulah anak lebih memercayakan segala sesuatu pada temannya yang notabene memiliki banyak kesamaan dengannya. Namun bukan berarti hal ini akan menutup kemungkinan untuk orangtua berkomunikasi dengan anak-anaknya.
Seperti yang dikatakan oleh pakar komunikasi Jalaludin Rahmat dalam bukunya yang berjudul psikologi komunikasi berkata bahwa, agar komunikasi interpersonal yang kita lakukan melahirkan hubungan interpersonal yang efektif, dogmatisme harus digantikan dengan sikap terbuka. Bersama-sama dengan sikap percaya dan sikap suportif, sikap terbuka mendorong timbulnya saling pengertian, saling menghargai dan yang paling penting adalah saling mengembangkan kualitas hubungan interpersonal. Carl Rogers berpesan bahwa
“Bila orang lain memahami bagaimana perasaan dan pandangan saya, tanpa berkeinginan untuk menganalisis atau menilai saya, barulah saya dapat tumbuh dan berkembang pada iklim seperti itu.”
Karena itulah pentingnya adanya sebuah sikap keterbukaan dan saling percaya. Perlu diingat bahwa anak membutuhkan adanya kepercayaan. Jika hal ini sudah didapat maka lebih mudah bagi kita untuk berkomunikasi dengan mereka tanpa adanya keterpaksaan maupun omelan-omelan yang sesungguhnya hanya akan membuat anak menjadi bebal atau bandel. Sesekali berikanlah pujian karena ini akan membuat mereka semakin bersemangat. Jangan hanya melihat kekurangannya saja namun lihatlah kelebihan yang dimilikinya.
Jika ada buah yang busuk, jangan buang buah tersebut. Karena dengan begitu tidak akan ada yang kita dapatkan. Tapi buanglah bagian yang busuk itu dan sisakan bagian yang masih bagus. :)
Tuban, 2 Desember 2012
Reni Fee
Reni Fee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar