Selasa, 18 September 2012

Indahnya Menyusui

Suatu saat saudara sepupu saya telah menjadi wanita yang sempurna. Ia baru saja melahirkan seorang bayi mungil yang cantik. Tak terkira bagaimana rasa senang di hatinya, walaupun sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan dengan tugas yang banyak menyita waktunya. Ia tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk puterinya. Ia ingin tetap menyusui bayinya sebagaimana dulu ibunya menyusui dia. Memberikan ASI eksklusif.


Ia sempat dibuat setres karena putingnya yang kecil tidak mau keluar dan cenderung tenggelam atau “ndlesep”. Sehingga menyebabkan kesulitan ketika akan menyusui. Namun ia tak kehilangan akal, berbagai cara ia lakukan. Setiap pagi dan sore sebelum mandi ia melakukan terapi senam payudara untuk memperlancar ASI. Hasilnya cukup memuaskan. Sang bayi pun dengan mudah mendapatkan ASI dari ibunya. Saat awal-awal menyusui, agak kasihan juga melihatnya kesakitan tiap kali sang bayi menyusu. Badannya panas dingin dan sakit semua terutama setiap kali bayinya menyusu, ini yang kata ibu saya disebut “ngrangsemi”.


Ia melahirkan dirumah orangtuanya hingga tiga bulan selepas melahirkan. Walaupun begitu ia tidak serta merta melepas semua pekerjaan merawat bayi pada ibunya. Walaupun belum pernah merawat bayi sebelumnya ia belajar dengan cepat. Karena dari hasil pengamatan saya pada orang lain, biasanya ada yang cenderung njagakno. Karena sudah ada ibu yang merawat bayinya. Hingga semua tugas merawat bayi diserahkan ke ibunya, nenek dari sang bayi. Dari memandikan dan tetek bengek yang lainnya. Namun tidak demikian dengan saudara saya ini. Sebisa mungkin ia ingin melakukan tugas-tugas seorang ibu yang merawat bayinya.


Keadaan memang memaksanya untuk bekerja diluar rumah dari pagi hingga siang sampai sekitar pukul dua. Walaupun begitu tekadnya untuk menjadi seorang ibu patut diacungi jempol. Karena pagi hingga siang Ia tidak berada dirumah namun harus bekerja, suaminya juga kebetulan satu instansi dengannya. Mau tidak mau Ia harus menyewa jasa seorang baby sister untuk menjaga puterinya kala ia bekerja. Pagi sebelum bekerja sepupu saya itu sudah bergegas untuk menjerang air untuk mandi sang bayi, menyiapkan popok, baju dan segala peralatan bayi yang lainnya. Lalu ia memandikan puterinya sendiri. Ia memang tidak mau menyerahkan urusan ini untuk dikerjakan pembantunya. Karena Ia tidak mau melewatkan saat-saat penting bersama puterinya. Sehingga peran pembantunya hanya sebagai penjaga bayi dikala ibu harus bekerja.


Walaupun terlihat sepele, memandikan bayi termasuk salah satu kegiatan yang penting sebagai sarana mendekatkan emosional Ibu dan anak. Termasuk hal yang juga vital adalah memberi ASI. Karena menyusui adalah sebuah pokok bahasan yang bermuatan emosional. Kata ini akan menimbulkan respon emosional yang begitu kuat bagi seorang wanita yang sedang mengandung dan memikirkan cara yang tepat untuk memberi makan bayinya kelak.


Sebenarnya jika dipahami lebih mendalam lagi makna dan respon ini sangat berkaitan erat dengan budaya dan tren yang sedang terjadi. Di barat misalnya, payudara hanya diidentikkan sebagai sebuah simbol sex semata. Ia menjadi ikon keindahan tubuh wanita yang bahkan dirasa perlu untuk dieksploitasi. Peranan dan fungsinya sudah sangat bergeser dari makna yang sebenarnya yakni sebagai sarana untuk memberi makan bayi. Apalagi dengan propaganda media yang sangat gencar mempromosikan susu formula sebagai makanan bayi.


Selain itu di televisipun banyak menyuguhkan tayangan seorang bayi yang sedang membawa dot kemana-kemana serta menyusu pada botol. Iklan susu formula menjamur di berbagai media. Hal ini seakan menjadikan tren bahwa bayi seharusnya dan sudah sewajarnya memang seperti tu, bukan lagi menyusu pada ibu tapi pada botol berisi susu sapi.


Padahal jika kita tahu ASI adalah makanan yang paling ideal untuk bayi. Semua unsur gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi normal ada di dalam ASI. Ia adalah makanan unik yang disesuaikan untuk bayi manusia seperti halnya pada susu sapi yang juga terbaik untuk sapi.


Menyusui juga bisa membangun hubungan intim dan hangat antara ibu dan bayi. Hal ini sangat penting bagi perkembangan psikologis yang sehat dari sang bayi. Karena menyusui berarti memberikan awal kehidupan yang baik kepada seorang anak. Tidak hanya dari segi kesehatan namun juga dari segi perkembangan psikologis anak di masa depan.[]Nee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar