Pagi itu si Mar kecil dan Saritok sedang sarapan. Saat itu mereka sedang liburan sekolah, si Mar yang masih duduk di bangku SD dan Saritok yang menginjak bangku SMP. Ada makanan rakyat kesukaan si Mar yakni kerupuk yang kala itu dibawa si Emak.
“Iki lho nduk kerupuk.” Kata Emak
“Nggih mak.” Kata si Mar sambil langsung melahapnya.
“Nyam..nyam,,krius..krius..” Si Mar lagi makan kerupuk.
“Njaluk dek.” Kata Saritok
“Yo mbk.” Jawab si Mar sambil melirik kakaknya.
“Ojo akeh-akeh mbk.” Lanjut si Mar.
Si Mar manyun-manyun cemberut, melihat kakaknya yang terus saja makan kerupuk yang diberikan emak padanya.
“Uwis mbk ojo njaluk maneh." Kata si Mar sambil manyun.
Mengetahui hal tersebut si emak cuma tersenyum lalu diam-diam pergi ke toko entah membeli apa.
***
Sedang enak-enaknya makan si emak datang dengan membawa kerupuk sebungkus besar.
“Buat apa mak kok banyak banget beli kerupuknya?” tanya si Mar
“Numbasno sampeyan, lha maem kabeh.”
“Ha,...” Si Mar cuman bisa ndlongop.
“Lha entekno kabeh saiki, dijaluk’i mbak’e wae kok gak oleh. Lha maem saiki ben mblenger, lek kurang engko tak tumbasno maneh.” Kata Emak.
Dengan terpaksa si Mar pun makan kerupuk tersebut. Sambil cemberut dan pengen nangis karena di hukum Emaknya. Mustahil kerupuk sebanyak itu mampu ia habiskan sendirian. Ketika si emak tidak kelihatan, dengan polosnya ia pun minta bantuan kakaknya untuk menghabiskan kerupuk-kerupuk tersebut.
“Mbak tulungi, ewangi maem.” Kata si mar sambil memperlihatkan wajah melasnya yang hampir menangis.
Karena Saritok kakak yang baik hati dan tidak sombong serta sayang terhadap adiknya makadiewangilah adik semata wayangnya itu. Akhirnya dua saudara itupun makan kerupuk hukuman yang diberikan si emak. Sampai mblenger-mblenger.
Begitulah cara emak untuk menghukum kedua putrinya. Selalu membuat asas ngapokno bukan sekali dua kali itu terjadi namun sudah berkali-kali. Bukan si Mar saja yang mengalaminya namun Saritok juga. Bahkan sampai mblenger telur, buah apel, pentol bakso, wingko dan masih banyak yang lainnya. Setiap mereka meminta sesuatu apalagi terkait makanan maka pasti dibelikan atau dibuatkannya. Dan akan berulang besoknya lagi dan besoknya lagi sampai kami ngomong “sampun mak, aku wis mbelenger.”
Dan hukuman itu memang efektif untuk membuat kami menjadi tidak tamak dan mau berbagi dengan yang lain, karena akan kapok dengan hukuman yang diberikan emak.
Depok, 20-05-2012
delima putih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar