Selama ini saya kira pilihan
menjadi wanita karir adalah pilihan yang kurang baik bagi wanita yang
menginginkan sebuah kehidupan rumah tangga yang harmonis. Stigma negatif
sebagai ibu yang tidak baik seakan telah melekat begitu saja padanya. Diakui
atau tidak, beberapa kalangan ada yang begitu saja memandang dan menjudge tidak
baik predikat sebagai wanita karir. Padahal wanita yang bekerja di luar rumah
tidak serta merta Ia hanya bekerja untuk mencari uang. Atau jika untuk mencari
uang tidak serta merta untuk kepuasan duniawi semata. Ada begitu banyak hal
yang melandasi itu semua.
Pemahaman saya tersebut meruntuh
ketika saya membaca sebuah buku berjudul maverick. Buku tersebut bercerita
tentang perjuangan seorang ibu untuk menyembuhkan anaknya. Seorang Ibu yang
juga berperan sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya. Atau istilah kerennya
single parent. Seorang diri Ia harus membesarkan dan mendidik ketiga anaknya
yang masih balita. Dengan umur ketiga anaknya yang hampir sama, mungkin umurnya
hanya terpaut sekitar satu tahunan. Sedangkan anak terakhirnya mengalami
kelainan, tidak seperti anak-anak pada umumnya.
Dokter telah menjudge bahwa anak
bungsunya mengalami autis. Namun wanita yang bernama Florence ini tidak mau
begitu saja memercayainya. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa puteranya
tidak autis, seperti diagnosa dokter. Ia berjuang untuk menyembuhkan puteranya
dari ketidaknormalan. Tubuhnya tumbuh layaknya anak normal. Semua organnya
berfungsi dengan baik, ia tumbuh menjadi anak yang tampan. Namun ada beberapa
hal yang membuat Ibunya harus menahan nafas karena sejak masih bayi anak
terakhirnya itu tidak merespon jika diberi rangsangan.
Florence, adalah seorang wanita
dengan karir yang menanjak. Ia telah membangun sebuah perusahaan konsultasi
untuk membantu anak-anak dan orang dewasa yang mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi. Dalam bidang pendidikan Ia telah meraih dua gelar doktor di
bidang ilmu pendengaran dan wicara serta pemrosesan linguistik. Setiap hari Ia
bekerja hingga malam tiba. Hingga sebagian orang mengira bahwa Ia hanya
terobsesi untuk mengejar karir.
Walaupun begitu, Ia tidak seperti
wanita karir kebanyakan. Sejak masih muda, Ia telah bercita-cita untuk
mempunyai keluarga besar. Mempunyai banyak anak adalah idamannya sejak dulu.
Itulah kenapa akhirnya Ia memutuskan untuk mempunyai banyak anak dan tidak menunda
kelahiran anaknya. Walaupun pada akhirnya Ia harus berpisah dengan suaminya dan
menjadi orangtua tunggal untuk kedua putera dan seorang puterinya.
Dia bekerja bukan hanya sekedar
untuk mencari uang. Namun Ia merasa inilah hidupnya. Selain karena ia mempunyai
etos kerja yang tinggi. Ia juga ingin membantu anak-anak serta orang yang
berkebutuhan khusus lewat kliniknya.
Ia terlihat sebagai seorang ahli
terapi yang empatik di tempat kerja. Juga sebagai seorang ibu yang enerjik dan
cekatan di rumah. Walaupun begitu Ia tetaplah seorang wanita yang diluar
terlihat kokoh dan kuat namun didalam menyimpan seribu gejolak. Di
malam-malamnya, saat semua buah hatinya telah terlelap, dia hanya bisa diam,
menangis, merasa frustasi, takut dan putus asa. Ia begitu memikirkan
anak-anaknya. Apalagi si bungsu yang tidak seperti anak kebanyakan. Juga
perkembangan psikologi anak-anaknya yang lain dengan hidup bersama putera
bungsunya yang kadang meledak-ledak. Tidak mungkin mereka harus terus mengalah
dan memahami adik bungsunya tersebut.
Orang memang hanya bisa
berkomentar namun tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana Ia
harus pontang panting untuk merawat anak-anaknya. Bagaimana Ia harus membagi
waktunya untuk anak-anak dan kerjaan yang menumpuk. Belum lagi harus memberi
terapi pada putera bungsunya. Florence selalu ingin memberi yang terbaik untuk
anak-anaknya. Walaupun pekerjaan menumpuk namun anak-anaknya tak pernah
kehilangan kasih sayang dari sang Ibu.
Pekerjaan di kliniknya bisa
disambi dengan membawa serta anak-anaknya. Sehingga Ia bisa leluasa melimpahi
kasih sayang pada ketiga anaknya namun tetap bisa sambil bekerja. Itu sebelum
akhirnya klinik yang Ia punya belum ada masalah. Karena pada akhirnya Ia harus
melepaskan kllinik yang telah bertahun-tahun telah Ia besarkan. Klinik tersebut
harus ditutup. Akhirnya Ia bekerja di tempat lain. Inilah saat-saat paling
sulit dalam hidupnya. Karena Ia harus bekerja ektra keras dari biasanya namun
tetap harus membagi watu untuk ketiga anaknya yang masih sangat kecil.
Kerja keras yang Ia lakukan
akhirnya berbuah. Walaupun pada awalnya banyak orang mencibirnya sebagai Ibu
yang tidak becus mendidik anak. Karena jika dilihat sepintas anak terakhirnya
seperti anak normal, namun kadang sikapnya sangat sulit dikendalikan. Seperti
orang kesetanan. Hal inilah yang membuat orang-orang berpikir bahwa florence
tidak bisa mendidik anaknya menjadi anak yang manis dan mudah diatur.
Setelah bertahun-tahun
bereksperimen untuk mencoba berbagai terapi yang tepat utuk anaknya, akhirnya
Ia berhasil membuat anaknya berbicara. Florence sempat dibuat setres karena
masalah anaknya ini. Bagaimana tidak, Ia telah membantu menyembuhkan ratusan
kasus orang yang berkebutuhuan khusus. Namun Ia diuji dengan kehadiran anaknya
sendiri yang ternyata tidak semudah menerapi anak orang lain. Hal ini karena
kasusnya agak berbeda.
Puteranya tersebut ternyata
mengidap suatu gangguan komunikasi yakni Ia tidak mampu berbicara karena tidak
memahami komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang. Ia bertindak sangat tidak
terkendali dan terkadang sangat pendiam dan tidak merespon lingkungan. Sulit
ditebak. Gangguan ini akhirnya diberi nama dengan Maverick, sejenis syndrom
yang ditemukan oleh Prof. Florence yang menimpa puteranya sendiri. Di sisi lain ternyata puteranya tersebut
memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Dengan kerja keras selama
bertahun-tahun akhirnya Ia dapat menyembuhkan puteranya. Kini puteranya tumbuh
layaknya remaja normal dan sangat cerdas. Ia mendapat penghargaan karena
penemuannya akan syndrom tersebut. Ia menikmati kebersamaan bersama ketiga buah
hatinya yang telah memasuki masa remaja. Bahagia dengan ketiga anak yang sangat
ia sayangi. Merekalah sumber kekuatannya selama ini. Satu-satunya alasan kenapa
Ia harus tetap hidup dan bertahan dengan berbagai keadaan yang menimpanya.
Satu hal yang terkadang membuat
kita begitu mudahnya melihat hanya yang tampak didepan mata. Kita tak pernah
mau bersusah payah untuk melihat jauh ke dalam. Melihat apa yang sebenarnya
sedang terjadi. Lalu dengan mudahnya menjudge sesuatu yang terlihat oleh mata
tersebut. Padahal ada banyak hal yang sebenarnya tidak kita ketahui. Jika
memang keadaan yang membuat semua berbeda dan tidak seperti yang umumnya orang
anggap “baik”. Maka bukan berarti hal itu benar-benar tidak baik.
Bagi saya, Florence adalah
seorang Ibu yang sangat keren. Ia bekerja sangat keras dan berjuang untuk
anak-anaknya yang masih sangat kecil. Tidak hanya untuk melimpahi mereka dengan
materi semata namun juga kasih sayang dan cinta tiada tara. Tetesan air mata,
peluh keringat, senyuman, pundak yang senantiasa dikuatkan untuk menopang
beban, juga kesabaran yang luar biasa membuatnya terlihat bersinar. Daripada
seorang Ibu yang merasa benar sendiri dengan memandang rendah wanita yang
terpaksa harus bekerja. Yang mengisi hari-harinya dengan menggosip, menonton
telenovela, serta mudah marah-marah pada anak hanya karena kesalahan yang
sepele.[]Nee
keren gan
BalasHapusKunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/
Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/
Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/
Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/
Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/
keren :)
BalasHapuskeren kan dewi persik :p
HapusDaripada seorang Ibu yang merasa benar sendiri dengan memandang rendah wanita yang terpaksa harus bekerja. Yang mengisi hari-harinya dengan menggosip, menonton telenovela, serta mudah marah-marah pada anak hanya karena kesalahan yang sepele.
BalasHapusluweh keren maneh nak ditambahi ngene: daripada seorang ibu yang menyebut dirinya muslimah paling suci yang merasa benar sendiri, banyak mengutip ayat dan hadis kesana-kemari dengan fasih menyalahkan dan bahkan mengutuk wanita karir tanpa mengetahui betul realita yang terjadi.
moga hal itu tidak terjadi pada penulis sendiri.