Selasa, 13 November 2012

Ibu yang Keren



Selama ini saya kira pilihan menjadi wanita karir adalah pilihan yang kurang baik bagi wanita yang menginginkan sebuah kehidupan rumah tangga yang harmonis. Stigma negatif sebagai ibu yang tidak baik seakan telah melekat begitu saja padanya. Diakui atau tidak, beberapa kalangan ada yang begitu saja memandang dan menjudge tidak baik predikat sebagai wanita karir. Padahal wanita yang bekerja di luar rumah tidak serta merta Ia hanya bekerja untuk mencari uang. Atau jika untuk mencari uang tidak serta merta untuk kepuasan duniawi semata. Ada begitu banyak hal yang melandasi itu semua.




Pemahaman saya tersebut meruntuh ketika saya membaca sebuah buku berjudul maverick. Buku tersebut bercerita tentang perjuangan seorang ibu untuk menyembuhkan anaknya. Seorang Ibu yang juga berperan sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya. Atau istilah kerennya single parent. Seorang diri Ia harus membesarkan dan mendidik ketiga anaknya yang masih balita. Dengan umur ketiga anaknya yang hampir sama, mungkin umurnya hanya terpaut sekitar satu tahunan. Sedangkan anak terakhirnya mengalami kelainan, tidak seperti anak-anak pada umumnya.


Dokter telah menjudge bahwa anak bungsunya mengalami autis. Namun wanita yang bernama Florence ini tidak mau begitu saja memercayainya. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa puteranya tidak autis, seperti diagnosa dokter. Ia berjuang untuk menyembuhkan puteranya dari ketidaknormalan. Tubuhnya tumbuh layaknya anak normal. Semua organnya berfungsi dengan baik, ia tumbuh menjadi anak yang tampan. Namun ada beberapa hal yang membuat Ibunya harus menahan nafas karena sejak masih bayi anak terakhirnya itu tidak merespon jika diberi rangsangan.


Florence, adalah seorang wanita dengan karir yang menanjak. Ia telah membangun sebuah perusahaan konsultasi untuk membantu anak-anak dan orang dewasa yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Dalam bidang pendidikan Ia telah meraih dua gelar doktor di bidang ilmu pendengaran dan wicara serta pemrosesan linguistik. Setiap hari Ia bekerja hingga malam tiba. Hingga sebagian orang mengira bahwa Ia hanya terobsesi untuk mengejar karir.


Walaupun begitu, Ia tidak seperti wanita karir kebanyakan. Sejak masih muda, Ia telah bercita-cita untuk mempunyai keluarga besar. Mempunyai banyak anak adalah idamannya sejak dulu. Itulah kenapa akhirnya Ia memutuskan untuk mempunyai banyak anak dan tidak menunda kelahiran anaknya. Walaupun pada akhirnya Ia harus berpisah dengan suaminya dan menjadi orangtua tunggal untuk kedua putera dan seorang puterinya.


Dia bekerja bukan hanya sekedar untuk mencari uang. Namun Ia merasa inilah hidupnya. Selain karena ia mempunyai etos kerja yang tinggi. Ia juga ingin membantu anak-anak serta orang yang berkebutuhan khusus lewat kliniknya.


Ia terlihat sebagai seorang ahli terapi yang empatik di tempat kerja. Juga sebagai seorang ibu yang enerjik dan cekatan di rumah. Walaupun begitu Ia tetaplah seorang wanita yang diluar terlihat kokoh dan kuat namun didalam menyimpan seribu gejolak. Di malam-malamnya, saat semua buah hatinya telah terlelap, dia hanya bisa diam, menangis, merasa frustasi, takut dan putus asa. Ia begitu memikirkan anak-anaknya. Apalagi si bungsu yang tidak seperti anak kebanyakan. Juga perkembangan psikologi anak-anaknya yang lain dengan hidup bersama putera bungsunya yang kadang meledak-ledak. Tidak mungkin mereka harus terus mengalah dan memahami adik bungsunya tersebut.


Orang memang hanya bisa berkomentar namun tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana Ia harus pontang panting untuk merawat anak-anaknya. Bagaimana Ia harus membagi waktunya untuk anak-anak dan kerjaan yang menumpuk. Belum lagi harus memberi terapi pada putera bungsunya. Florence selalu ingin memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Walaupun pekerjaan menumpuk namun anak-anaknya tak pernah kehilangan kasih sayang dari sang Ibu.


Pekerjaan di kliniknya bisa disambi dengan membawa serta anak-anaknya. Sehingga Ia bisa leluasa melimpahi kasih sayang pada ketiga anaknya namun tetap bisa sambil bekerja. Itu sebelum akhirnya klinik yang Ia punya belum ada masalah. Karena pada akhirnya Ia harus melepaskan kllinik yang telah bertahun-tahun telah Ia besarkan. Klinik tersebut harus ditutup. Akhirnya Ia bekerja di tempat lain. Inilah saat-saat paling sulit dalam hidupnya. Karena Ia harus bekerja ektra keras dari biasanya namun tetap harus membagi watu untuk ketiga anaknya yang masih sangat kecil.


Kerja keras yang Ia lakukan akhirnya berbuah. Walaupun pada awalnya banyak orang mencibirnya sebagai Ibu yang tidak becus mendidik anak. Karena jika dilihat sepintas anak terakhirnya seperti anak normal, namun kadang sikapnya sangat sulit dikendalikan. Seperti orang kesetanan. Hal inilah yang membuat orang-orang berpikir bahwa florence tidak bisa mendidik anaknya menjadi anak yang manis dan mudah diatur.


Setelah bertahun-tahun bereksperimen untuk mencoba berbagai terapi yang tepat utuk anaknya, akhirnya Ia berhasil membuat anaknya berbicara. Florence sempat dibuat setres karena masalah anaknya ini. Bagaimana tidak, Ia telah membantu menyembuhkan ratusan kasus orang yang berkebutuhuan khusus. Namun Ia diuji dengan kehadiran anaknya sendiri yang ternyata tidak semudah menerapi anak orang lain. Hal ini karena kasusnya agak berbeda.


Puteranya tersebut ternyata mengidap suatu gangguan komunikasi yakni Ia tidak mampu berbicara karena tidak memahami komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang. Ia bertindak sangat tidak terkendali dan terkadang sangat pendiam dan tidak merespon lingkungan. Sulit ditebak. Gangguan ini akhirnya diberi nama dengan Maverick, sejenis syndrom yang ditemukan oleh Prof. Florence yang menimpa puteranya sendiri.  Di sisi lain ternyata puteranya tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata.


Dengan kerja keras selama bertahun-tahun akhirnya Ia dapat menyembuhkan puteranya. Kini puteranya tumbuh layaknya remaja normal dan sangat cerdas. Ia mendapat penghargaan karena penemuannya akan syndrom tersebut. Ia menikmati kebersamaan bersama ketiga buah hatinya yang telah memasuki masa remaja. Bahagia dengan ketiga anak yang sangat ia sayangi. Merekalah sumber kekuatannya selama ini. Satu-satunya alasan kenapa Ia harus tetap hidup dan bertahan dengan berbagai keadaan yang menimpanya.


Satu hal yang terkadang membuat kita begitu mudahnya melihat hanya yang tampak didepan mata. Kita tak pernah mau bersusah payah untuk melihat jauh ke dalam. Melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lalu dengan mudahnya menjudge sesuatu yang terlihat oleh mata tersebut. Padahal ada banyak hal yang sebenarnya tidak kita ketahui. Jika memang keadaan yang membuat semua berbeda dan tidak seperti yang umumnya orang anggap “baik”. Maka bukan berarti hal itu benar-benar tidak baik.


Bagi saya, Florence adalah seorang Ibu yang sangat keren. Ia bekerja sangat keras dan berjuang untuk anak-anaknya yang masih sangat kecil. Tidak hanya untuk melimpahi mereka dengan materi semata namun juga kasih sayang dan cinta tiada tara. Tetesan air mata, peluh keringat, senyuman, pundak yang senantiasa dikuatkan untuk menopang beban, juga kesabaran yang luar biasa membuatnya terlihat bersinar. Daripada seorang Ibu yang merasa benar sendiri dengan memandang rendah wanita yang terpaksa harus bekerja. Yang mengisi hari-harinya dengan menggosip, menonton telenovela, serta mudah marah-marah pada anak hanya karena kesalahan yang sepele.[]Nee

4 komentar:

  1. keren gan

    Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/

    Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/

    Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/

    Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/

    Kunjungi Blog : http://christian-xp.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. Daripada seorang Ibu yang merasa benar sendiri dengan memandang rendah wanita yang terpaksa harus bekerja. Yang mengisi hari-harinya dengan menggosip, menonton telenovela, serta mudah marah-marah pada anak hanya karena kesalahan yang sepele.

    luweh keren maneh nak ditambahi ngene: daripada seorang ibu yang menyebut dirinya muslimah paling suci yang merasa benar sendiri, banyak mengutip ayat dan hadis kesana-kemari dengan fasih menyalahkan dan bahkan mengutuk wanita karir tanpa mengetahui betul realita yang terjadi.

    moga hal itu tidak terjadi pada penulis sendiri.

    BalasHapus