Jumat, 05 April 2013

Catatan Perjalanan Bromo (PART III)



PERJUANGAN MENUJU PUNCAK

Jalan yang kami lewati semakin lengang.  Kendaraan dari arah berlawanan hampir tidak ada. Suasana hening ditambah dengan gelap yang menyelimuti. Jalan berkelok-kelok dan semakin menanjak. Rute yang kami lewati memang berbukit-bukit. Mirip dengan jalur pujon yang indah oleh pemandangan alamnya namun seram karena berkelok-kelok dan berada ditepian jurang. Makin lama jalanan semakin naik.  Dari arah belakang  dan depan terlihat mobil-mobil dan sepeda motor lain yang sepertinya satu arah tujuan dengan kami. Itu artinya kami semakin dekat dengan Bromo.

Sekitar pukul 3 dini hari akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Di depan tempat masuk menuju parkiran kami dicegat oleh orang yang mengelola tempat pariwisata tersebut. Untuk masuk dan parkir di area parkir wisata Bromo kami diwajibkan membayar 55ribu, untuk 7 orang dalam satu mobil. Setelah parkir, kami berbenah dan bersiap diri untuk melakukan perjalanan menuju kawah gunung Bromo.

Udara yang dingin menggigit kulit ditambah dengan lamanya perjalanan membuat saya dan beberapa teman yang lain menahan diri untuk ke belakang. Adiyat yang sejak tadi sudah merasakan ingin ke belakang akhirnya tidak tahan. Ia segera turun ke bawah di samping mobil yang diparkirkan menuju rerimbunan tanaman. Juga basahnya rumput oleh embun-embun pagi. Berbekal tisu basah ia segera turun dan mencari tempat yang aman dari jangkauan mata untuk membuang hajat.hehe… Coba saya juga cowok pasti udah ikutan ke bawah mencari tempat yang aman untuk pipis.ehe.

Setelah itu kami bersiap diri untuk naik menuju puncak kawah Bromo. Hal penting yang harus diperhatikan adalah jangan membawa barang banyak yang tidak penting. Bawalah barang sesedikit mungkin. Agar nanti saat mendaki tidak kecapean membawa beban berat. Mungkin  yang perlu dibawa adalah air minum, sedikit makanan (bisa coklat atau roti, dianjurkan makanan yang manis untuk mengganti energi yang hilang saat mendaki serta sebagai penghalau dingin). Tidak boleh lupa untuk memakai jaket yang tebal atau bisa juga memakai jaket berlapis-lapis. Sarung tangan, penutup kepala dan syal bisa juga dipakai untuk menahan udara yang dingin. Boleh aja sih gak pakai jaket, sarung tangan dan penutup kepala. Tapi kalau kedinginan saya gak ikut-ikut yha. :P

Setelah bertemu dengan rombongan satunya yang dikemudikan Afif. Kami akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Namun banyak dari orang-orang sana yang menawari kami untuk naik Hardtop. Negosiasi dilakukan. Harga awal yang di bandrol adalah 350 ribu maksimal berisi 7 orang. Terjadi negosiasi alot antara Adiyat sebagai juru bicara kami dengan Bapak-Bapak yang menawarkan jasa angkutan hardtop. Dari harga awal segitu akhirnya dengan pertimbangan matang dan proses yang panjang kami mendapat harga lumayan murah.

 “500 ribu saja bagaimana pak? Ini kami ada dua rombongan lho.”

“Wah kalau segitu gak bisa mas.”

Namun setelah bapak-bapak tersebut negosiasi dengan rekannya akhirnya beliau berkata.

“Oke mas, tapi 600ribu ya. Bagaimana? Itu sudah murah mas. Biasanya gak segitu. Jauh lho mas jaraknya. Kalau jalan pasti capek. Apalagi cewek-cewek”

“Janganlah mas kalau segitu. Wes, 550 gimana?”

“Yaudah kalau gitu mas. Ok. Satu rombongan ikut saya ya. Yang lainnya nunggu disini aja. ”

“Ok”.

Pelajaran penting buat yang mau ke Bromo. Kalau mendapat tawaran naik Hardtop menuju ke kawasan kawah maupun pendakian (karena banyak rutenya, ada pendakian satu dan dua. Tinggal milih mau jalur yang mana). Ada baiknya buat menawar dulu. Jangan asal oke aja. Siapa tahu kan dapat potongan harga? Lumayan tho buat beli cilok,.he

Setelah kesepakatan tersebut kami membagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang berangkat duluan adalah anak-anak yang mobilnya di kemudikan Afif. Sedangkan rombongan yang dikemudikan Niko mendapat giliran kedua untuk berangkat. Sambil nunggu hardtopnya datang kita ke kamar kecil dulu. Lalu kami menunggu di pinggir jalan.

Saat-saat menunggu itulah. Lamat-lamat dari kejauhan terlihat motor yang semakin mendekat. Oow ow ow.. itu siapa yang naik motor seperti pernah lihat. Walah ternyata Davis. Akhirnya Ia sampai juga dan dapat bertemu kami disini. Ia menghampiri dan menyapa kami sebentar lalu menghilang lagi.

Tak berapa lama setelah itu Hardtop yang tadi ditumpangi oleh teman-teman rombongan satu akhirnya datang juga. Segera kami naik dan cap cus berangkat. Jalanan masih gelap gulita. Jam menunjukkan pukul empat pagi kurang. Biasanya jam segini suara ayam sudah mulai bersahut-sahutan. Namun jangan harap kalian akan mendengar suara ayam disini. Yang ada adalah suara raungan hardtop yang saling bersahut-sahutan. Kami berasa tidak berada di alam luar. Tapi ada di jalan raya. Bising dan berisik, debu-debu pun makin bertebaran tak karuan. Karena medan yang dilalui makin lama makin berdebu oleh pasir.

Perjalanan kami hanya sekitar 10 menitan. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Disana teman-teman rombongan satu sudah menunggu. Segera kami turun dan melanjutkan perjalanan kami. Di depan mata sudah terpampang pemandangan luar biasa yang mengintip di balik pekatnya malam. Siluet gunung dan kawah Bromo terlihat indah menyembul di antara awan-awan hitam.

Jalan yang kami lalui dengan berjalan kaki ini adalah lautan pasir yang berada di sisi kawah gunung Bromo. Di sisi lain dari kawah gunung Bromo dan lautan pasir ini juga terdapat bukit berwarna hijau lalu di sisi lainnya ada kawasan pura. Semua pemandangan ini menambah keeksotisan alam dari kawasan gunung Bromo yang baru pertama kali saya lihat secara langsung.

Setelah kami dapat melewati lautan pasir ini kami masih di hadapkan dengan jalanan sempit yang berkelok-kelok penuh pasir. Berasa ada padang pasir memang. Jalanan sempit yang semakin menanjak ini tidak mudah kami lalui. Berkali-kali kami harus berhenti dan istirahat untuk mengatur napas. Kami semua ngos-ngosan dan capek. Tubuh kami mendadak menjadi panas. Detak jantung yang berdetak keras serta nafas yang memburu. Beradu dengan suhu udara pagi yang menggigit kulit.


Di tepian jalan kecil ini juga terdapat kios-kios kecil tanpa atap. Penduduk sekitar banyak yang berjualan disana. Namun saat kami melewati jalanan itu belum ada yang buka. Baru ada satu atau dua itupun ada di bawah. Saat masih di lautan pasir. Awalnya saya kira itu adalah orang-orang yang mendirikan tenda dan membuat api unggun. Karena memang tidak begitu jelas terlihat, terhalang oleh gelapnya malam.

Menuju puncak memang tidak mudah. Butuh perjuangan keras dan tekad yang kuat. Sama seperti dalam hidup, jika kita ingin meraih segala apa yang kita impikan, kita cita-citakan dan kita inginkan. Berjuang dan bekerja keras mutlak harus kita lakukan. Selain itu motivasi dan semangat yang luar biasa juga bisa menjadi penguat dan sumber kekuatan yang tak terduga.

Selemah apapun kondisi kita. Secapek apapun tubuh kita. Jika kita punya motivasi dan semangat yang tinggi. Sedikit demi sedikit, setapak demi setapak. Puncak itu akan terlihat melambai-lambai didepan mata kita. Semakin membuat kita tertantang untuk menaklukkannya. Lalu sejengkal demi sejengkal tanah itu akan kita pijak dan tidak disangka selangkah lagi puncak itu sudah didepan mata kita. Akhirnya kita sudah berada di sana. Tempat yang tadinya kita sangka tidak mungkin berada disana. Karena terjalnya jalan yang harus ditempuh.

Persis dengan salah seorang kawan kami. Puspa namanya. Sejak awal, sewaktu berjalan di lautan pasir. Ia sudah terlihat letih. Jalannya terseok-seok. Kadang-kadang ia menyeret-nyeret kakinya ketika berjalan. Memang badannya agak mbem mbem, mungkin itulah salah satu sebabnya ia mudah capek ketika berjalan jauh dengan medan yang juga tidak mudah. Faktor lain mungkin ia jarang berolahraga sehingga kurang terbiasa. Beberapa kali ia meminta untuk berhenti, istirahat. 

Jalan yang kami tempuh sudah lebih dari separuh jalan. Dengan kesabaran dan kegigihan akhirnya kami sudah menempuh jalanan ini dengan berjalan kaki. Capek? Tentu saja kami capek. Apalagi Puspa wajahnya saja terlihat seperti orang mau pingsan. Duh kasiannya. Dia ada di barisan paling belakang. Untuk berjalan saja hampir tidak kuat. Tas ransel yang sebelumnya ia bawa akhirnya berakhir di tangan Afif, alias di bawakan Afif. Untung saja Afif mau berbaik hati untuk menemaninya ikut berjalan di belakang dan membawakan tasnya.

Sedikit demi sedikit akhirnya mencapai puncak juga. Begitu juga dengan teman yang lain, satu  persatu akhirnya sampai juga di puncak. Sayangnya ada  dua teman kami yang tertinggal. Puspa yang tadi hampir pingsan kecapean dan ada Afif yang setia menemaninya. Syukurlah ada Afif yang mau berbaik hati menemani Puspa yang sudah tidak kuat untuk berjalan. Berjalan pelan-pelan, setapak demi setapak dan kadang beristirahat. Sehingga mereka tertinggal jauh di belakang. Bahkan ketika kami sudah sampai di puncak mereka masih di bawah.

Kulihat jam di hape. Menunjukkan pukul 5 pagi. Namun hari masih terlihat gelap. Mungkin karena langit yang tertutupi awan mendung. Pukul 5 kurang kami sampai di kaki tangga menuju puncak kawah. Tangga yang sangat tinggi dan panjang sudah ada di depan mata. Sebelum kami mendaki tangga, kami sholat shubuh dulu. Karena area tanahnya yang miring sehingga butuh waktu untuk menentukan tempat yang akan kami pakai sebagai tempat sholat. Akhirnya kami menemukan tempat yang agak menjauh dari tangga. Disitulah kami bergantian sholat. Kebetulan ada yang membawa sajadah. Kucari-cari di tas ranselku, akhirnya kutemukan sehelai kerudung. Itulah yang kujadikan sebagai alas untuk sholat. Memanfaatkan debu-debu yang ada disana untuk digunakan sebagai tayamum. Karena memang tidak ada air. Cewek-cewek sholat terlebih dahulu baru kemudian cowoknya yang sholat.

Setelah itu kami berjalan menaiki tangga. Jalannya terasa lebih mudah dari pada jalur yang sebelumnya kami lalui, karena terdiri dari tangga yang terbuat dari semen. Rulia menjadi orang pertama dalam rombongan kami yang sampai di puncak. Ia terlihat masih segar bugar. Mungkin karena badannya yang kurus itu membuatnya lincah. Ketika saya bertanya.

“Dek kamu nggak capek?”

“Nggak, biasa aja. ”

#Glek. Padahal saya sudah capek setengah mati. Nafas rasanya mau habis, serta detak jantung yang mau copot, wajah juga sudah merah dengan keringat yang bercucuran. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. terlihat sekali bahwa mereka sama seperti  saya, sudah lelah. Tapi rulia dengan coolnya bilang bahwa tidak capek. Seenaknya saja dia bilang biasa saja. Apa mungkin jangan-jangan tadi dia nggak jalan tapi terbang kali yha,,piss rul,,becanda.hehe

Saat di puncak. Tempat nya sudah dipenuhi oleh orang-orang. Untuk masuk di kawasan puncak kawah ini kami harus nyelempit-nylempit. Sesi selanjutnya saat sudah berada di puncak adalah melihat matahari terbit atau bahasa kerennya sunrise. Sayangnya kami kurang beruntung sodara-sodara. Tadi sudah mempeng biar dapet sunrise, eh saat udah diatas ternyata mataharinya ketutupan mendung. Tenyata kami memang dapat lotre, coba lagi lain kali (maksutnya coba kesana lagi kapan-kapan saat tidak mendung).

Di puncak, selain kami menikmati keindahan alam dan kemahabesaran Allah yang telah menciptakan alam dengan sungguh indah dan wow. Kami berfoto ria. Saling bergantian foto-foto dengan latar belakang alam yang indah. Yang tidak dapat kami temui di Malang. Mumpung lha ya. Jarang-jarang kan ke tempat indah gini. Mengabadikan momen-momen indah bersama.

Selain itu, kalian tahu sodara-sodara??? Puspa yang tadinya hampir pingsan dan tidak kuat jalan. Ternyata saat Ia tertinggal di bawah. Kok ya sempet-sempete melakukan sesi pemotretan.uhuk,,uhuk,,, tentunya Afif yang menjadi juru foto merangkap menjadi model. Ternyata mereka tidak mau kalah sama teman-teman yang udah di puncak yah. Sip tenan.

Kami kira Puspa bakal balik lagi dan tidak naik karena tidak kuat ternyata akhirnya ia sampai juga di puncak. Selamaad Mpus,,,akhirnya berhasil naik ke puncak juga setelah 10 tahun yang lalu berhasil mencapai puncak kawah Bromo.

Sekitar satu jaman kami menikmati keindahan alam kawasan gunung Bromo dan berfoto ria bersama. Setelah itu kami turun, tidak lupa sepanjang perjalanan menjadi tempat untuk berfoto ria. Saat perjalanan turun orang-orang yang akan naik ternyata banyak juga. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik kuda, sayangnya gak ada yang minta gendong temennya, lhoh.

Baru kami sadari ternyata jalanan sempit berdebu oleh pasir yang tadi kami lewati saat naik dan turun ini banyak sekali onde-onde anget teleceran sepanjang jalan. Bau kotoran kuda menyengat kemana-mana. Tadi kok gak kelihatan dan gak nyium baunya ya. Mungkin karena hari masih gelap dan sudah terlalu capek. Hingga tidak begitu memerhatikan keadaan sekitar. Saat jalan turun ada salah satu kawan kami Ika yang beruntung sekali mendapat ciuman special dari sang pejantan tangguh. Hahaha,,maksut saya sang pejantan tangguh itu kuda. Kan bener tho dia tangguh (lha wong kuat naik melewati jalanan yang menanjak dan berpasir sambil menggendong orang kok).

Jalan turun lebih cepat dan mudah dibandingkan saat naik tadi. Kios-kios kecil pedagang minuman dan makanan kecil mulai berbenah untuk membuka kiosnya. Orang-orang yang berjualan kembang edelweiss pun mulai banyak. Tapi kami sama sekali tak ada yang melirik lapak-lapak dan penjual-penjual itu. Kami lebih fokus untuk melakukan sesi pemotretan. Narsisnya emang never die deh. Saat sudah sampai di tempat parkir tadi pagi sebelum naik, hari ternyata masih pagi. Semangat teman-teman pun masih menyala. Dan kami siap melakukan perjalanan ke tempat lain lagi. Sampai jumpa lagi di tempat selanjutnya sodara-sodara.

Go rumahnya Elies,…….



Tidak ada komentar:

Posting Komentar