PERJUANGAN
MENUJU PUNCAK
Jalan
yang kami lewati semakin lengang.
Kendaraan dari arah berlawanan hampir tidak ada. Suasana hening ditambah
dengan gelap yang menyelimuti. Jalan berkelok-kelok dan semakin menanjak. Rute yang
kami lewati memang berbukit-bukit. Mirip dengan jalur pujon yang indah oleh
pemandangan alamnya namun seram karena berkelok-kelok dan berada ditepian
jurang. Makin lama jalanan semakin naik.
Dari arah belakang dan depan
terlihat mobil-mobil dan sepeda motor lain yang sepertinya satu arah tujuan
dengan kami. Itu artinya kami semakin dekat dengan Bromo.
Sekitar
pukul 3 dini hari akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Di depan tempat masuk
menuju parkiran kami dicegat oleh orang yang mengelola tempat pariwisata
tersebut. Untuk masuk dan parkir di area parkir wisata Bromo kami diwajibkan
membayar 55ribu, untuk 7 orang dalam satu mobil. Setelah parkir, kami berbenah
dan bersiap diri untuk melakukan perjalanan menuju kawah gunung Bromo.
Udara
yang dingin menggigit kulit ditambah dengan lamanya perjalanan membuat saya dan
beberapa teman yang lain menahan diri untuk ke belakang. Adiyat yang sejak tadi
sudah merasakan ingin ke belakang akhirnya tidak tahan. Ia segera turun ke
bawah di samping mobil yang diparkirkan menuju rerimbunan tanaman. Juga basahnya
rumput oleh embun-embun pagi. Berbekal tisu basah ia segera turun dan mencari
tempat yang aman dari jangkauan mata untuk membuang hajat.hehe… Coba saya juga
cowok pasti udah ikutan ke bawah mencari tempat yang aman untuk pipis.ehe.
Setelah
itu kami bersiap diri untuk naik menuju puncak kawah Bromo. Hal penting yang
harus diperhatikan adalah jangan membawa barang banyak yang tidak penting.
Bawalah barang sesedikit mungkin. Agar nanti saat mendaki tidak kecapean
membawa beban berat. Mungkin yang perlu
dibawa adalah air minum, sedikit makanan (bisa coklat atau roti, dianjurkan
makanan yang manis untuk mengganti energi yang hilang saat mendaki serta
sebagai penghalau dingin). Tidak boleh lupa untuk memakai jaket yang tebal atau
bisa juga memakai jaket berlapis-lapis. Sarung tangan, penutup kepala dan syal
bisa juga dipakai untuk menahan udara yang dingin. Boleh aja sih gak pakai
jaket, sarung tangan dan penutup kepala. Tapi kalau kedinginan saya gak ikut-ikut
yha. :P
Setelah
bertemu dengan rombongan satunya yang dikemudikan Afif. Kami akan melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki. Namun banyak dari orang-orang sana yang
menawari kami untuk naik Hardtop. Negosiasi dilakukan. Harga awal yang di
bandrol adalah 350 ribu maksimal berisi 7 orang. Terjadi negosiasi alot antara
Adiyat sebagai juru bicara kami dengan Bapak-Bapak yang menawarkan jasa
angkutan hardtop. Dari harga awal segitu akhirnya dengan pertimbangan matang
dan proses yang panjang kami mendapat harga lumayan murah.
“500 ribu saja bagaimana pak? Ini kami ada dua
rombongan lho.”
“Wah
kalau segitu gak bisa mas.”
Namun
setelah bapak-bapak tersebut negosiasi dengan rekannya akhirnya beliau berkata.
“Oke
mas, tapi 600ribu ya. Bagaimana? Itu sudah murah mas. Biasanya gak segitu. Jauh
lho mas jaraknya. Kalau jalan pasti capek. Apalagi cewek-cewek”
“Janganlah
mas kalau segitu. Wes, 550 gimana?”
“Yaudah
kalau gitu mas. Ok. Satu rombongan ikut saya ya. Yang lainnya nunggu disini
aja. ”
“Ok”.
Pelajaran
penting buat yang mau ke Bromo. Kalau mendapat tawaran naik Hardtop menuju ke
kawasan kawah maupun pendakian (karena banyak rutenya, ada pendakian satu dan
dua. Tinggal milih mau jalur yang mana). Ada baiknya buat menawar dulu. Jangan
asal oke aja. Siapa tahu kan dapat potongan harga? Lumayan tho buat beli cilok,.he
Setelah
kesepakatan tersebut kami membagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang berangkat
duluan adalah anak-anak yang mobilnya di kemudikan Afif. Sedangkan rombongan
yang dikemudikan Niko mendapat giliran kedua untuk berangkat. Sambil nunggu
hardtopnya datang kita ke kamar kecil dulu. Lalu kami menunggu di pinggir
jalan.
Saat-saat
menunggu itulah. Lamat-lamat dari kejauhan terlihat motor yang semakin
mendekat. Oow ow ow.. itu siapa yang naik motor seperti pernah lihat. Walah
ternyata Davis. Akhirnya Ia sampai juga dan dapat bertemu kami disini. Ia
menghampiri dan menyapa kami sebentar lalu menghilang lagi.
Tak
berapa lama setelah itu Hardtop yang tadi ditumpangi oleh teman-teman rombongan
satu akhirnya datang juga. Segera kami naik dan cap cus berangkat. Jalanan
masih gelap gulita. Jam menunjukkan pukul empat pagi kurang. Biasanya jam
segini suara ayam sudah mulai bersahut-sahutan. Namun jangan harap kalian akan
mendengar suara ayam disini. Yang ada adalah suara raungan hardtop yang saling
bersahut-sahutan. Kami berasa tidak berada di alam luar. Tapi ada di jalan
raya. Bising dan berisik, debu-debu pun makin bertebaran tak karuan. Karena
medan yang dilalui makin lama makin berdebu oleh pasir.
Perjalanan
kami hanya sekitar 10 menitan. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Disana
teman-teman rombongan satu sudah menunggu. Segera kami turun dan melanjutkan
perjalanan kami. Di depan mata sudah terpampang pemandangan luar biasa yang
mengintip di balik pekatnya malam. Siluet gunung dan kawah Bromo terlihat indah
menyembul di antara awan-awan hitam.
Jalan
yang kami lalui dengan berjalan kaki ini adalah lautan pasir yang berada di
sisi kawah gunung Bromo. Di sisi lain dari kawah gunung Bromo dan lautan pasir
ini juga terdapat bukit berwarna hijau lalu di sisi lainnya ada kawasan pura.
Semua pemandangan ini menambah keeksotisan alam dari kawasan gunung Bromo yang
baru pertama kali saya lihat secara langsung.
Setelah
kami dapat melewati lautan pasir ini kami masih di hadapkan dengan jalanan
sempit yang berkelok-kelok penuh pasir. Berasa ada padang pasir memang. Jalanan
sempit yang semakin menanjak ini tidak mudah kami lalui. Berkali-kali kami
harus berhenti dan istirahat untuk mengatur napas. Kami semua ngos-ngosan dan
capek. Tubuh kami mendadak menjadi panas. Detak jantung yang berdetak keras
serta nafas yang memburu. Beradu dengan suhu udara pagi yang menggigit kulit.
Di
tepian jalan kecil ini juga terdapat kios-kios kecil tanpa atap. Penduduk
sekitar banyak yang berjualan disana. Namun saat kami melewati jalanan itu
belum ada yang buka. Baru ada satu atau dua itupun ada di bawah. Saat masih di
lautan pasir. Awalnya saya kira itu adalah orang-orang yang mendirikan tenda
dan membuat api unggun. Karena memang tidak begitu jelas terlihat, terhalang
oleh gelapnya malam.
Menuju
puncak memang tidak mudah. Butuh perjuangan keras dan tekad yang kuat. Sama
seperti dalam hidup, jika kita ingin meraih segala apa yang kita impikan, kita
cita-citakan dan kita inginkan. Berjuang dan bekerja keras mutlak harus kita
lakukan. Selain itu motivasi dan semangat yang luar biasa juga bisa menjadi
penguat dan sumber kekuatan yang tak terduga.
Selemah
apapun kondisi kita. Secapek apapun tubuh kita. Jika kita punya motivasi dan
semangat yang tinggi. Sedikit demi sedikit, setapak demi setapak. Puncak itu
akan terlihat melambai-lambai didepan mata kita. Semakin membuat kita
tertantang untuk menaklukkannya. Lalu sejengkal demi sejengkal tanah itu akan
kita pijak dan tidak disangka selangkah lagi puncak itu sudah didepan mata
kita. Akhirnya kita sudah berada di sana. Tempat yang tadinya kita sangka tidak
mungkin berada disana. Karena terjalnya jalan yang harus ditempuh.
Persis
dengan salah seorang kawan kami. Puspa namanya. Sejak awal, sewaktu berjalan di
lautan pasir. Ia sudah terlihat letih. Jalannya terseok-seok. Kadang-kadang ia
menyeret-nyeret kakinya ketika berjalan. Memang badannya agak mbem mbem,
mungkin itulah salah satu sebabnya ia mudah capek ketika berjalan jauh dengan
medan yang juga tidak mudah. Faktor lain mungkin ia jarang berolahraga sehingga
kurang terbiasa. Beberapa kali ia meminta untuk berhenti, istirahat.
Jalan
yang kami tempuh sudah lebih dari separuh jalan. Dengan kesabaran dan kegigihan
akhirnya kami sudah menempuh jalanan ini dengan berjalan kaki. Capek? Tentu
saja kami capek. Apalagi Puspa wajahnya saja terlihat seperti orang mau
pingsan. Duh kasiannya. Dia ada di barisan paling belakang. Untuk berjalan saja
hampir tidak kuat. Tas ransel yang sebelumnya ia bawa akhirnya berakhir di
tangan Afif, alias di bawakan Afif. Untung saja Afif mau berbaik hati untuk
menemaninya ikut berjalan di belakang dan membawakan tasnya.
Sedikit
demi sedikit akhirnya mencapai puncak juga. Begitu juga dengan teman yang lain,
satu persatu akhirnya sampai juga di
puncak. Sayangnya ada dua teman kami
yang tertinggal. Puspa yang tadi hampir pingsan kecapean dan ada Afif yang
setia menemaninya. Syukurlah ada Afif yang mau berbaik hati menemani Puspa yang
sudah tidak kuat untuk berjalan. Berjalan pelan-pelan, setapak demi setapak dan
kadang beristirahat. Sehingga mereka tertinggal jauh di belakang. Bahkan ketika
kami sudah sampai di puncak mereka masih di bawah.
Kulihat
jam di hape. Menunjukkan pukul 5 pagi. Namun hari masih terlihat gelap. Mungkin
karena langit yang tertutupi awan mendung. Pukul 5 kurang kami sampai di kaki
tangga menuju puncak kawah. Tangga yang sangat tinggi dan panjang sudah ada di
depan mata. Sebelum kami mendaki tangga, kami sholat shubuh dulu. Karena area
tanahnya yang miring sehingga butuh waktu untuk menentukan tempat yang akan
kami pakai sebagai tempat sholat. Akhirnya kami menemukan tempat yang agak
menjauh dari tangga. Disitulah kami bergantian sholat. Kebetulan ada yang
membawa sajadah. Kucari-cari di tas ranselku, akhirnya kutemukan sehelai
kerudung. Itulah yang kujadikan sebagai alas untuk sholat. Memanfaatkan
debu-debu yang ada disana untuk digunakan sebagai tayamum. Karena memang tidak
ada air. Cewek-cewek sholat terlebih dahulu baru kemudian cowoknya yang sholat.
Setelah
itu kami berjalan menaiki tangga. Jalannya terasa lebih mudah dari pada jalur
yang sebelumnya kami lalui, karena terdiri dari tangga yang terbuat dari semen.
Rulia menjadi orang pertama dalam rombongan kami yang sampai di puncak. Ia
terlihat masih segar bugar. Mungkin karena badannya yang kurus itu membuatnya
lincah. Ketika saya bertanya.
“Dek
kamu nggak capek?”
“Nggak,
biasa aja. ”
#Glek.
Padahal saya sudah capek setengah mati. Nafas rasanya mau habis, serta detak
jantung yang mau copot, wajah juga sudah merah dengan keringat yang bercucuran.
Begitu juga dengan teman-teman yang lain. terlihat sekali bahwa mereka sama
seperti saya, sudah lelah. Tapi rulia
dengan coolnya bilang bahwa tidak capek. Seenaknya saja dia bilang biasa saja.
Apa mungkin jangan-jangan tadi dia nggak jalan tapi terbang kali yha,,piss
rul,,becanda.hehe
Saat
di puncak. Tempat nya sudah dipenuhi oleh orang-orang. Untuk masuk di kawasan
puncak kawah ini kami harus nyelempit-nylempit. Sesi selanjutnya saat sudah
berada di puncak adalah melihat matahari terbit atau bahasa kerennya sunrise.
Sayangnya kami kurang beruntung sodara-sodara. Tadi sudah mempeng biar dapet
sunrise, eh saat udah diatas ternyata mataharinya ketutupan mendung. Tenyata
kami memang dapat lotre, coba lagi lain kali (maksutnya coba kesana lagi
kapan-kapan saat tidak mendung).
Di
puncak, selain kami menikmati keindahan alam dan kemahabesaran Allah yang telah
menciptakan alam dengan sungguh indah dan wow. Kami berfoto ria. Saling
bergantian foto-foto dengan latar belakang alam yang indah. Yang tidak dapat
kami temui di Malang. Mumpung lha ya. Jarang-jarang kan ke tempat indah gini.
Mengabadikan momen-momen indah bersama.
Selain
itu, kalian tahu sodara-sodara??? Puspa yang tadinya hampir pingsan dan tidak
kuat jalan. Ternyata saat Ia tertinggal di bawah. Kok ya sempet-sempete
melakukan sesi pemotretan.uhuk,,uhuk,,, tentunya Afif yang menjadi juru foto
merangkap menjadi model. Ternyata mereka tidak mau kalah sama teman-teman yang
udah di puncak yah. Sip tenan.
Kami
kira Puspa bakal balik lagi dan tidak naik karena tidak kuat ternyata akhirnya
ia sampai juga di puncak. Selamaad Mpus,,,akhirnya berhasil naik ke puncak juga
setelah 10 tahun yang lalu berhasil mencapai puncak kawah Bromo.
Sekitar
satu jaman kami menikmati keindahan alam kawasan gunung Bromo dan berfoto ria
bersama. Setelah itu kami turun, tidak lupa sepanjang perjalanan menjadi tempat
untuk berfoto ria. Saat perjalanan turun orang-orang yang akan naik ternyata banyak
juga. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik kuda, sayangnya gak ada yang minta
gendong temennya, lhoh.
Baru
kami sadari ternyata jalanan sempit berdebu oleh pasir yang tadi kami lewati
saat naik dan turun ini banyak sekali onde-onde anget teleceran sepanjang
jalan. Bau kotoran kuda menyengat kemana-mana. Tadi kok gak kelihatan dan gak
nyium baunya ya. Mungkin karena hari masih gelap dan sudah terlalu capek.
Hingga tidak begitu memerhatikan keadaan sekitar. Saat jalan turun ada salah
satu kawan kami Ika yang beruntung sekali mendapat ciuman special dari sang
pejantan tangguh. Hahaha,,maksut saya sang pejantan tangguh itu kuda. Kan bener
tho dia tangguh (lha wong kuat naik melewati jalanan yang menanjak dan berpasir
sambil menggendong orang kok).
Jalan
turun lebih cepat dan mudah dibandingkan saat naik tadi. Kios-kios kecil
pedagang minuman dan makanan kecil mulai berbenah untuk membuka kiosnya.
Orang-orang yang berjualan kembang edelweiss pun mulai banyak. Tapi kami sama
sekali tak ada yang melirik lapak-lapak dan penjual-penjual itu. Kami lebih
fokus untuk melakukan sesi pemotretan. Narsisnya emang never die deh. Saat
sudah sampai di tempat parkir tadi pagi sebelum naik, hari ternyata masih pagi.
Semangat teman-teman pun masih menyala. Dan kami siap melakukan perjalanan ke
tempat lain lagi. Sampai jumpa lagi di tempat selanjutnya sodara-sodara.
Go
rumahnya Elies,…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar