Klise menatap
wajah sahabatnya itu, Sarra.
“Kenapa harus pulang mendadak begitu sih Sar?
Emangnya ada apa di rumah?”
Klise dan Sarra memang bersahabat. Mereka adalah
teman kuliah yang selalu bersama dan berbagi cerita.
Pagi itu Sarra berpamitan pada Klise bahwa ia mau
pulang kampung, mendadak.
“Ndak papa Se, kebetulan emak sama bapakku mau pergi
naik haji minggu depan jadi aku disuruh pulang. Alhamdulillah.” Jawab Sarra
sambil tersenyum dan membenahi kerudungnya yang tertiup angin semilir.
“Wah, Alhamdulillah kalau begitu. Salam ya sama emak
en bapak kamu di rumah.”
Klise tersenyum manis sekali, ia senang mendengar
berita baik dari sahabat yang disayanginya itu.
“Kamu kok nggak pernah cerita sih kalau emak sama
bapak kamu mau pergi haji?”Tanya Klise melanjutkan.
“Iya nih, aku juga baru dikasih tau sama kakak
perempuanku. Katanya sih uangnya dari hasil tabungan kakakku. Aku bangga sama
kakakku, biarpun hidupnya pas-pasan tapi ia rela menabung demi orangtuaku bisa
naik ke tanah suci. Kuliahku ini kan juga kakakku yang biayain. Pengorbanan
beliau banyak banget, moga aja suatu saat aku bisa membalas kebaikannya”
“Iya, aamiin ya Sar.” Sahut Klise sembari tersenyum.
Klise malu dengan Sarra, kehidupan Klise jauh lebih
berada dibandingkan dengan Sarra. Orangtua Klise sudah 2 kali naik haji dan 3
kali umroh. Begitu pula dengan dua saudara Mama Klise yang semuanya sudah
pernah naik haji. Mobil dan harta benda lainnya pun keluarga Klise punya.
Kehidupan yang sejahtera dan serba ada. Namun semua itu seakan hanya
fatamorgana semata. Karena keluarga Klise sudah terlena dengan gemerlapnya
harta dunia.
Kenapa semua saudara Mama nggak ada yang kepikiran
buat membiayai nenek biar bisa naik haji? Nenek sudah makin renta tapi beliau belum
pernah sekalipun naik ke tanah suci.
Padahal jika dibandingkan dengan keluarga Sarra, tentu
berbeda jauh, kakak Sarra naik haji pun belum pernah, mobil pun tak ada. Tapi
mereka lebih memikirkan orangtua dibandingkan diri mereka sendiri? Seakan-akan
setiap apa yang dimiliki, setiap gerak yang dilakukan, semua untuk mengabdikan
diri pada orangtua.
Ah Sarra,
keluargamu memang kaya. Kalianlah orangkaya yang sebenarnya. Aku bangga dengan
keluargamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar