Senin, 27 Oktober 2014

Pernikahan From Zero To Hero

Beberapa akhir ini media kita dibanjiri dengan berita Rafi Ahmad dan Nagita Slavina. Sungguh megah sekali perhelatan pesta mereka. Pesta pernikahan ini tidak hanya digelar di satu kota saja, selain di Jakarta juga dilaksanakan di Bali. Para tamu undangan yang hadir maupun pemirsa di tv pun ikut bersorak bahagia dan mendoakan kedua pasangan ini. Ada pula yang berangan-angan ingin menikah ala Rafi-Gigi dengan segala kemewahan dan kemegahannya.


Pernikahan semacam ini seolah menjadi gengsi tersendiri bagi penyelenggaranya. Gedung/hotel mewah tempat terselenggaranya pesta, tamu undangan yang banyak, makanan lezat berlimpah, dekorasi yang menawan dan tidak lupa memakai gaun desainer ternama dan make up dari salon terbaik pun menjadi impian setiap calon mempelai. Ironisnya banyak yang sampai memaksakan diri untuk bisa membuat pesta mewah. Padahal sebenarnya yang dikejar hanyalah gengsi semata.

Disini bukannya saya ingin nyinyir dengan realitas yang ada, hanya saja semua ini seperti meninggalkan nilai-nilai pernikahan sesungguhnya. Jangan sampai pernikahan ala zaman sekarang menjadi pernikahan from hero to zero, setelah menyelenggarakan pesta pernikahan yang mewah lantas meninggalkan utang yang banyak, terlebih baru beberapa tahun sudah bercerai seperti artis-artis itu. Ataupun menikah hingga memiliki anak namun kurang memerdulikan mereka hingga menjadi anak broken home.

Menurut pandangan saya sendiri lebih baik lagi jika pernikahan dilakukan dengan asas from zero to hero. Ingat, ini hanya pendapat pribadi, ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan salahnya. Maksudnya disini adalah pernikahan yang dilangsungkan secara sederhana namun memiliki pandangan dan impian tentang membangun keluarga hingga jauh ke depan. Semua dimulai dari bawah, pernikahan yang sederhana namun bersama-sama membangun keluarga super. Membangun keluarga yang penuh kedamaian, mendidik anak hingga menjadi anak-anak yang luar biasa. Dari yang tidak memiliki apa-apa menjadi punya baik secara materi, moril, ataupun spiritual.

Akhirnya yang bisa saya katakan adalah seperti apapun pernikahan kita nanti, jangan sampai meninggalkan esensi atau nilai pernikahan itu sendiri. Jika memilih pernikahan from hero, semoga bisa menjadi from hero to hero bukan sebaliknya, from hero to zero.

Kalau saya pribadi lebih memilih untuk menikah dengan cara yang sederhana saja, from zero to hero, aamiin. ;)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar