Kamis, 01 Desember 2011

REVIEW NGAJIKU (28-11-2011)


IKHLAS

Serasa berat kaki ini untuk melangkah menuju masjid untuk mengikuti kajian rutin, akh setan memang tak pernah lelah dengan segala tipu dayanya.  Namun akhirnya bulat juga tekad ini untuk melangkah walaupun tadinya dengan banyak pergolakan. Dengan keyakinan bahwa pasti ada ilmu yang bisa didapat dan Rasul sendiri yang menyuruh untuk meminum  sebanyak-banyaknya ketika berada di taman surga. Tahukah kamu apa itu taman surga ? ialah majelis ilmu, disana malaikat-malaikat mengelilinggi majelis ilmu dan mengepakkan sayapnya. Disana insyaAllah Allah akan memberikan ilmu dan berkah yang tidak akan didapat ditempat lain. Hmm…akhirnya melangkah juga kaki ini, walau waktu sudah menunjuk angkat empat yang itu berarti bahwa saya sudah terlambat beberapa menit. Namun ketika sampai di masjid al hikmah ternyata bapak ustad Azizi belum bisa hadir. Akhirnya pengajian diisi oleh ust Fathur. pada kesempatan ini beliau memaparkan tentang keikhlasan. jika pada saat dulu ketika ulama-ulama yang seharusnya memberi kajian ketika terlambat maka akan memberi materi tentang keikhlasan. Entah kenapa bisa begitu tapi memang begitu kenyataannya.
Materi ikhlas yang diterangkan ini memang tak akan pernah basi. Hendaklah kita senantiasa untuk muhasabah diri. Karena itu selalu, selalu dan selalu ketika selesai melakukan suatu amal kita berucap dan memohon kepada Allah “Allahumma taqobbalmini” berulang-ulang dengan kepasrahan dan ketundukan kepada Allah juga berharap bahwa apa yang kita lakukan akan diterima olehNya. Karena ketidak ikhlasan bisa dikarenakan oleh riya’ padahal itu merupakan sesuatu yang sangat lembut, halus bahkan mungkin tak terlihat. Riya itu ibarat semut hitam yang berada diatas batu yang sangat hitam dan berada di malam pekat yang sangat gelap gulita. Sungguh jika tak berhati-hati kita akan terjerumus kedalamnya. Bahkan seringkali tak kita sadari, kita telah melakukan yang namanya riya’. Melakukan sesuatu bukan karena Allah dan itu jelas-jelas bukan suatu perbuatan yang disertai dengan keikhlasan.
Barangsiapa yang merasa ikhlas maka disitulah letak ketidak ikhlasannya. Berarti dia belum ikhlas. Begitu kira-kira yang dipaparkan oleh Ust Fatur. Karena itulah kita harus terus untuk mengoreksi dan bermuhasabah diri disetiap waktu. Karena amal yang telah kita lakukan pasti akan ada kekurangannya. Dan Allah hanya menerima amal dari hambanya yang bertakwa. Begitu pentingnya yang namanya ikhlas dalam setiap perbuatan, karena ikhlas merupakan sepertiga dari amal. Bisa dibayangkan, bisa-bisa amalan-amalan yang kita lakukan tak akan ada artinya dihadapan Allah jika tak dilandasi oleh keikhlasan. Ada kisah yang menarik, dari seorang sahabat yang saya lupa namanya. Ketika itu beliau ikut dalam baiat aqobah dibawah pohon kurma dan siapa-siapa yang ikut berbaiat terhadap Rasul di bawah pohon kurma pada baiat aqobah tersebut akan mendapat jaminan masuk surga oleh Allah. Surga yang seluas langit dan bumi, surga yang didalamnya hanya ada kenikmatan dan kesenangan. Namun apa yang terjadi, sahabat ini malah menangis dan terus menangis. Suatu saat beliau ditanya oleh seseorang penyebab beliau menangis, namun apa jawaban yang diberikan oleh sahabat tersebut. ternyata beliau takut akan amal-amal yang dilakukannya tidak diterima oleh Allah,  karena Allah hanya menerima amal dari hambanya yang bertakwa saja. Seandainya Allah menerima satu saja dari shalatku, maka itu telah membuatku lega.
            Subhanallah, kita tak pernah tau apakah amal kita diterima atau tidak oleh Allah, bahkan sahabat yang telah dijamin surga saja begitu takut dan hati-hatinya jika amalnya tidak diterima oleh Allah. Bagaimana dengan kita?
            Perlu diketahui bahwa godaan  ikhlas itu bukan hanya pada saat beramal namun ikhlas itu harus dijaga sebelum, saat, dan sesudah beramal. Sebagai contoh yang paling umum adalah ibadah haji. Pada saat pelaksaannya bisa jadi orang ini berusaha untuk hati-hati dan  ikhlas lillahi ta’ala. Namun ketika pulang dari naik haji godaan itu akan lebih besar lagi apalagi yang berhubungan dengan penyematan gelar haji dan hajjah, terkadang riya’ itu timbul tanpa disadari dan ikhlas tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Ikhlas adalah sesuatu yang lembut, lebih lembut dari kapas yang lembut, ikhlas itu sesuatu yang sangat haluss. Maka dari itu selalulah untuk muhasabah diri. Ada kisah lain yang sangat perlu untuk diteladani. Bagaimana beliau ini selalu muhasabah diri, takut ddan hati-hati jika tidak ikhlas, takut amalnya tidak diterima oleh Allah. Beliau ini adalah seorang ulama salaf (saya lupa namanya), beliau adalah seorang yang ulama yang banyak membuat kitab. Namun tak ada karyanya yang diterbitkan. Hal ini dikarenakan beliau takut menjadi populer dan ini mengindikasikan bahwa ada unsur ketidak ikhlasan. . pada saat beliau hendak meninggal, beliau memanggil seseorang dan berpesan bahwa jika beliau nazak disuruh untuk memegang tangannya. Jika tangan ulama ini memegang erat tangan orang ini ketika nazak maka kitab-kitabnya disuruh untuk dibuang di sungai, karena ini berarti bahwa beliau tidak ikhlas. Namun jika beliau saat nazak, meninggal dengan tenang maka disuruhnya untuk menerbitkan kitab-kitabnya karena saat meninggalnya beliau dengan tenang itu berarti bahwa beliau sudah bisa ikhlas. Subhanallah ternyata ulama ini meninggal  dengan tenang dan akhirnya kitab-kitab beliau diterbitkan.
Teladan yang seperti inilah yang hendaknya turut kita teladani
Subhanallah.
wallahualam bishowab


 29-11-2011
Fitri El Firdausy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar