Suasana siang itu hening dan senyap. Lalu lalang pengunjung
perpustakaan berseliweran namun tak sebanyak waktu-waktu biasanya. Perpustakaan
ini biasanya ramai saat waktu-waktu tertentu seperti waktu-waktu istirahat atau
sore hari selepas para mahasiswa selesai kuliah. Dengan tugas bertumpuk,
mencari buku-buku referensi untuk tugas kuliahnya. Atau sekedar menghabiskan waktu
sembari melepas dahaga mencari mangsa buku-buku langka yang diincarnya.
Aku menoleh sekeliling, hanya ada beberapa mahasiswa yang ada
diruangan ini. Agak seram juga suasananya. Dengan buku-buku tua berjejer di
rak-rak, ataupun bertumpuk-tumpuk di meja pengembalian buku yang telah dibaca. Menunggu
ditata kembali oleh para petugas perpustakaan. Aku heran apa istimewanya
perpustakaan ini, isinya aja buku-buku tua. Hanya seperti gudang penyimpan buku
tua menurutku. Memang sih buku-buku tersebut bagus tapi menurutku yang namanya
ilmu apalagi ilmu pengetahuan pasti akan selalu bergerak. Harus ada dong yang
namanya buku-buku baru. Apalagi yang banyak gambarnya. Gue banget tuh..hahaha..
Diseberang terlihat mahasiswi puteri yang asik mencari daftar buku
di mesin pencari buku. Sembari menunggu temenku tya yang sibuk mencari buku fismat
di rak-rak yang berjejer. Rajinnya temenku, batinku. Akupun membaca-baca ulang
catatan yang telah kubuat saat perkuliahan.
Hah,..tetap saja aku tak mengerti maksutnya. Sebel banget liat rumus-rumus. Padahal
aku orang yang paling anti sama rumus-rumus dan simbol-simbol aneh. Berkunang-kunang
mataku melihatnya. Alhasil yang kulakukan hanya melamun sembari melihat temenku
yang asik mencari buku. Akhirnya aku kembali dengan kebiasaanku, mencoret-coret
buku dengan gambar-gambar. Yang menurutku lebih mengasikkan daripada sekedar
membaca buku diktat yang membuatku pusing tujuh keliling..
“udah
dapet bukunya?”tanyaku pada tya yang muncul dengan setumpuk buku ditangannya.
“iya
nih, kamu baca yang ini ya. Aku tak coba baca yang ini”. Sahut tya sambil
menghempaskan buku-bukunya didepanku. Lalu mengambil tempat duduk didepanku,
“yap,”jawabku.
Aku pun pura-pura baca sambil bibir agak monyong-monyong gitu. Males banget
sebenernya tapi gengsi sama temenku yang udah semangat 45 ini.
Akhirnya
kami tenggelam dengan pekerjaan masing-masing. Sembari kadang-kadang bercerita
sana-sini. Kami pun berdiskusi ringan yang juga asyik menulis. Kami juga
ngobrol ringan seputar kuliah, teman dan pastinya nyambung kemana-mana. Dasar lidah
gak tau aturan, sukanya kemana-mana. Sekali-sekali harus diparkir nih. diiket
biar gak lari.
“eh,
ren boleh jujur gak?kata tya. Sambil tetap menulis.
“apa
ndul? Ngomong aja”sahutku.
“aku
seneng temenan sama kamu, aku juga sayang sama kamu, makanya aku mau ngomong
ini.”kata tya. aku pun mengernyitkan kening sambil melihatnya. Mau ngomong
apaan sih ni anak, serius amat kelihatannya, batinku (enggak ding, suasananya
nggak seserius itu.hehe)
“aku
sih nyantai aja sebenernya tapi gak enak kalau dilihat orang. Dikiranya kamu
pasti orang yang plin plan dan gak punya prinsip. Kalau mau pakai rok itu pake
rok aja. Jangan hari ini pakai rok besok pakai leging, besoknya pakai celana
jeans ketat, besoknya lagi pakai rok. Kayak gak punya pendirian tau.”kata
temenku tya.
“
tapi aku tuh orangnya nyantai, kalau aku mau rok kayak gini ya ini aku pakai,
kalau mau pake celana ya gpp, terserah aku.Yang penting kan tetep nutup aurat.”
Sahutku membela diri. Tapi sebenernya tuh kata-kata sahabatku nancep banget ke
otak dan hatiku.
“kayak
aku gini, aku pake celana kadang keluar gak pake kerudung karna memang aku
kayak gini. Paling nggak kalau mau nakal ya nakal aja. Alim ya alim. Jangan plin
plan” kata tya menjelaskan. Bagai ditampar rasanya.
Ternyata
temanku satu ini perhatian sekali padaku. Selama ini selalu mengawasi dan
memperhatikan setiap perubahan yang terjadi padaku.
Namun
entah kenapa kata-katanya tersebut tak bisa hilang dari ingatanku. Aku selalu
terngiang-ngiang bahkan hingga waktu berlalu cukup lama. Karena saat itu kami
masih menjabat predikat sebagai mahasiswa baru.
***
Sekarang aku tau, antara rok, legging dan celana jeans tak ada yang
bisa dipilih untuk digunakan diluar rumah. Satu-satunya yang dapat digunakan
hanyalah sepasang baju luar yakni jilbab dan kerudung tak ada yang lain. Hal
ini sesuai dengan isi dari al-quran, di al-ahzab:59 dan an-nur 31, dan sesuai
tafsir yang ada di kitab tafsir serta pendapat para ulama pun tak ada yang
berlainan pendapat antara jilbab dan kerudung. Kalau kita mengaku muslim maka
sudah menjadi kewajiban untuk memakainya jika keluar rumah dan tetap dengan
syarat jilbab dan kerudung yakni tidak nerawang, longgar dan tidak membentuk
tubuh juga memakai pakaian yang dipakai dirumah didalamnya.
Terima kasih untuk nasihatnya yang hingga saat ini masih teringat
amat jelas terekam dalam otakku sayang. Padahal saat itu kita masih diawal-awal
kuliah. Sekarang aku tau kenapa aku dulu memang plin-plan dan tak punya prinsip,
hal ini karena aku masih mencari jati diriku. Aku masih mencari harus seperti apa
aku bersikap dan berpakaian. Aku belum tau harus bagaimana dan seperti apa. Terima
kasih untuk kritikkannya. Sekarang aku sudah tau. Aku sudah menemukan jati
diriku. Jati diri seorang muslim sejati. Karena aku seorang muslim. Kamu kapan
sayang .. ??
17.13
WIB
Malang,
di kamar kost. 23 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar