Senin, 23 April 2012

Antara Rok, Legging dan Celana Jeans

  
Suasana siang itu hening dan senyap. Lalu lalang pengunjung perpustakaan berseliweran namun tak sebanyak waktu-waktu biasanya. Perpustakaan ini biasanya ramai saat waktu-waktu tertentu seperti waktu-waktu istirahat atau sore hari selepas para mahasiswa selesai kuliah. Dengan tugas bertumpuk, mencari buku-buku referensi untuk tugas kuliahnya. Atau sekedar menghabiskan waktu sembari melepas dahaga mencari mangsa buku-buku langka yang diincarnya.

Aku menoleh sekeliling, hanya ada beberapa mahasiswa yang ada diruangan ini. Agak seram juga suasananya. Dengan buku-buku tua berjejer di rak-rak, ataupun bertumpuk-tumpuk di meja pengembalian buku yang telah dibaca. Menunggu ditata kembali oleh para petugas perpustakaan. Aku heran apa istimewanya perpustakaan ini, isinya aja buku-buku tua. Hanya seperti gudang penyimpan buku tua menurutku. Memang sih buku-buku tersebut bagus tapi menurutku yang namanya ilmu apalagi ilmu pengetahuan pasti akan selalu bergerak. Harus ada dong yang namanya buku-buku baru. Apalagi yang banyak gambarnya. Gue banget tuh..hahaha..
Diseberang terlihat mahasiswi puteri yang asik mencari daftar buku di mesin pencari buku. Sembari menunggu temenku tya yang sibuk mencari buku fismat di rak-rak yang berjejer. Rajinnya temenku, batinku. Akupun membaca-baca ulang catatan yang telah kubuat saat  perkuliahan. Hah,..tetap saja aku tak mengerti maksutnya. Sebel banget liat rumus-rumus. Padahal aku orang yang paling anti sama rumus-rumus dan simbol-simbol aneh. Berkunang-kunang mataku melihatnya. Alhasil yang kulakukan hanya melamun sembari melihat temenku yang asik mencari buku. Akhirnya aku kembali dengan kebiasaanku, mencoret-coret buku dengan gambar-gambar. Yang menurutku lebih mengasikkan daripada sekedar membaca buku diktat yang membuatku pusing tujuh keliling.. 
“udah dapet bukunya?”tanyaku pada tya yang muncul dengan setumpuk buku ditangannya.
“iya nih, kamu baca yang ini ya. Aku tak coba baca yang ini”. Sahut tya sambil menghempaskan buku-bukunya didepanku. Lalu mengambil tempat duduk didepanku,
“yap,”jawabku. Aku pun pura-pura baca sambil bibir agak monyong-monyong gitu. Males banget sebenernya tapi gengsi sama temenku yang udah semangat 45 ini.
Akhirnya kami tenggelam dengan pekerjaan masing-masing. Sembari kadang-kadang bercerita sana-sini. Kami pun berdiskusi ringan yang juga asyik menulis. Kami juga ngobrol ringan seputar kuliah, teman dan pastinya nyambung kemana-mana. Dasar lidah gak tau aturan, sukanya kemana-mana. Sekali-sekali harus diparkir nih. diiket biar gak lari.
“eh, ren boleh jujur gak?kata tya. Sambil tetap menulis.
“apa ndul? Ngomong aja”sahutku.
“aku seneng temenan sama kamu, aku juga sayang sama kamu, makanya aku mau ngomong ini.”kata tya. aku pun mengernyitkan kening sambil melihatnya. Mau ngomong apaan sih ni anak, serius amat kelihatannya, batinku (enggak ding, suasananya nggak seserius itu.hehe)
“aku sih nyantai aja sebenernya tapi gak enak kalau dilihat orang. Dikiranya kamu pasti orang yang plin plan dan gak punya prinsip. Kalau mau pakai rok itu pake rok aja. Jangan hari ini pakai rok besok pakai leging, besoknya pakai celana jeans ketat, besoknya lagi pakai rok. Kayak gak punya pendirian tau.”kata temenku tya.
“ tapi aku tuh orangnya nyantai, kalau aku mau rok kayak gini ya ini aku pakai, kalau mau pake celana ya gpp, terserah aku.Yang penting kan tetep nutup aurat.” Sahutku membela diri. Tapi sebenernya tuh kata-kata sahabatku nancep banget ke otak dan hatiku.
“kayak aku gini, aku pake celana kadang keluar gak pake kerudung karna memang aku kayak gini. Paling nggak kalau mau nakal ya nakal aja. Alim ya alim. Jangan plin plan” kata tya menjelaskan. Bagai ditampar rasanya.
Ternyata temanku satu ini perhatian sekali padaku. Selama ini selalu mengawasi dan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi padaku.
Namun entah kenapa kata-katanya tersebut tak bisa hilang dari ingatanku. Aku selalu terngiang-ngiang bahkan hingga waktu berlalu cukup lama. Karena saat itu kami masih menjabat predikat sebagai mahasiswa baru.
***
Sekarang aku tau, antara rok, legging dan celana jeans tak ada yang bisa dipilih untuk digunakan diluar rumah. Satu-satunya yang dapat digunakan hanyalah sepasang baju luar yakni jilbab dan kerudung tak ada yang lain. Hal ini sesuai dengan isi dari al-quran, di al-ahzab:59 dan an-nur 31, dan sesuai tafsir yang ada di kitab tafsir serta pendapat para ulama pun tak ada yang berlainan pendapat antara jilbab dan kerudung. Kalau kita mengaku muslim maka sudah menjadi kewajiban untuk memakainya jika keluar rumah dan tetap dengan syarat jilbab dan kerudung yakni tidak nerawang, longgar dan tidak membentuk tubuh juga memakai pakaian yang dipakai dirumah didalamnya.
Terima kasih untuk nasihatnya yang hingga saat ini masih teringat amat jelas terekam dalam otakku sayang. Padahal saat itu kita masih diawal-awal kuliah. Sekarang aku tau kenapa aku dulu memang plin-plan dan tak punya prinsip, hal ini karena aku masih mencari jati diriku. Aku masih mencari harus seperti apa aku bersikap dan berpakaian. Aku belum tau harus bagaimana dan seperti apa. Terima kasih untuk kritikkannya. Sekarang aku sudah tau. Aku sudah menemukan jati diriku. Jati diri seorang muslim sejati. Karena aku seorang muslim. Kamu kapan sayang .. ??

17.13 WIB
Malang, di kamar kost. 23 April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar