Senin, 07 Mei 2012

Masih Tentang Pendidikan


“Pendidikan adalah investasi bagi anak-anak untuk masa depan mereka. Sebuah proses transfer budaya yang harus terus dilakukan agar generasi muda mampu menjawab tantangan global.”

Begitulah menurut wakil presiden Republik Indonesia, Boediono. Pendidikan adalah sebuah transfer budaya yang harus terus dilakukan guna menghasilkan para generasi yang tangguh serta mampu menjawab tantangan global. Sebuah investasi bagi anak-anak yang disiapkan untuk menjadi generasi yang tanggap dan tangguh serta mampu menjawab tantangan global yang kian deras arus perkembangannya. Tak ada yang salah dengan penilaian beliau tentang pendidikan, ia ibarat sebuah pondasi dari suatu bangunan, ibarat akar dalam sebuah pohon yang nantinya akan menghasilkan buah.
Ketika pohon berbuah maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yakni buah tersebut menghasilkan buah yang terasa manis ataukah buah yang sepah lagi pahit? Sekali lagi pertanyaan sederhana ini perlu kita renungkan. Adakah dari pendidikan di negeri ini yang telah sukses melahirkan generasi –generasi luar biasa, generasi unggul yang menyumbangkan ilmunya demi peradaban bangsa yang semakin cemerlang, serta dari segi spiritualnya yang memancar dalam segala aktivitas yang dilakukannya. Tidak hanya segi intelektualitasnya tanpa mengesampingkan aspek akidah. Mempunyai jiwa intelektual serta spiritual yang tinggi. Ataukah hanya melahirkan generasi yang “pembebek”, generasi letoy di era sekarang, hanya materi yang menjadi tujuan hidupnya?
Jika kita teropong ternyata hasil dari sebuah pendidikan beberapa tahun yang lalu dapat dilihat saat ini. Redupnya cahaya permata buah pendidikan di indonesia dapat dilihat dari perilaku – perilaku para generasinya saat ini. Bagaimana para generasi sekarang yang memegang kendali dalam peradaban bangsa. Ternyata kenyaatan saat ini sungguh memilukan, yang seharusnya menjadi wakil rakyat dan berjuang demi kepentingan rakyat tak lagi menggubris kepentingan rakyat, ada saja ulah-ulah yang bahkan tidak pantas dilakukan oleh wakil rakyat. Begitupun juga dengan para pelajar serta mahasiswanya, dari mulai pelajar sd (tentu kita masih ingat kasus yang menimpa Al dan ibunya yang dikucilkan karena kejujurannya) hingga para mahasiswanya, budaya menyontek menjadi hal yang biasa dan lumrah dilakukan. standart kelulusan yang menjadi target membuat halal dan haram tidak diperdulikan. Yang terpenting bagaimana caranya harus lulus semua.
Begitu juga dengan para mahasiswa yang mengejar nilai tinggi dengan mengesampingkan proses belajar, hanya fokus pada bagaimana mendapat nilai tinggi. Yang ujung-ujungnya dengan nilai tinggi tersebut harapannya untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi serta kedudukan yang tinggi di masyarakat, tidak hanya itu mahasiswa pun seringkali anarkis, juga penyak seperti plegmatis, oportunis serta penyakit-penyakit yang lain. Dipungkiri ataupun tidak begitulah frame yang telah terbentuk di masyarakat, mencontek telah menjadi hal yang biasa dan dianggap lumrah.
Alhasil pendidikan sekarang hanya sebagai alat untuk mendapatkan selembar kertas yang pada akhirnya untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya bukan lagi sebagai lembaga yang benar-benar mendidik dan tempat untuk menuntut ilmu. Pendidikan hanya sebagai suatu lembaga yang bukan mencetak generasi unggul namun mencetak generasi kapital yang dari dulu hingga sekarang semakin berkembang.
Berarti ada yang salah dengan pendidikan saat ini, pun juga pendidikan beberapa tahun yang lalu terbukti dengan banyak -perilaku menyimpang yang terjadi mulai dari penyelenggara pemerintahan, pelajar hingga mahasiswa dan jika hal ini terus saja berkembang dan berjalan maka bukan tidak mungkin bangsa ini akan mengalami kehancurannya. Karena fungsi utama pendidikan telah roboh dan melenceng jauh dari yang seharusnya. Pondasi yang menjadi penobang bangsa telah roboh tak berkeping. 
Kontrol individu saja tak cukup mengatasi permasalahan yang begitu kompleks ini. Karena individu yang cemerlang pasti akan redup dengan sistem yang membelit. Ibarat sebuah batu permata yang bersih dan mengkilat pasti akan tetap kotor jika dimasukkan kedalam kubangan got yang hitam dan kotor. Begitupun dengan yang terjadi saat ini.
Disamping perlu adanya individu-individu cemerlang yang tidak hanya dari segi intelektualitasnya namun juga dari segi spiritualitasnya, penting dengan adanya dukungan dan sokongan dari sistem yang juga bersih dan cemerlang pula. Bukan hanya dalam bidang pendidikan saja yang perlu dicermati dalam masalah ini namun juga pasti akan menyangkut sistem ekonomi, dimana ekonomi juga berperan penting dalam bidang pendidikan, dengan ekonomi yang kuat maka akan dapat menyokong pendidikan yang berkualiatas.
Begitupun juga sistem politiknya, setiap kebijakan yang dikeluarkan pasti akan berpengaruh terhadap pendidikannya. Hal ini seperti mata rantai yang tak bisa diputus. Sistem yang dipakai saat ini pun tidak dapat diandalkan lagi, karena sudah terbukti kerusakan yang ditimbulkannya. Begitulah jika memakai aturan dan standart yang dibuat oleh manusia yang serba terbatas. Jika mau memakai aturan dan standart yang telah dibuat oleh sang pencipta manusia tentu kesejahteraan yang didapat.
Hal ini pun sudah terbukti selama 13 abad dengan adanya daulah khilafah, yang menjamin terterapkannya aturan dari sang pencipta secara sempurna. Dunia pun mengakui kehebatannya, yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang menghasilkan banyak sekali dari berbagai disiplin ilmu yang menjadi pondasi dasar ilmu pengetahuan dunia saat ini. Kegemilangannya tak tertandingi bahkan oleh peradaban barat yang saat ini sedang merajai.
Sistem yang memakai aturan dari sang Pencipta, manusia hanya sebagai pelaksana bukan pembuat aturan. Jika ingin Indonesia sejahtera maka terapkanlah aturan islam yang berasal dari sang Pencipta. Tentu aturan-aturan ini dipakai bukan dengan sebagian-sebagian namun harus sempurna, karena antara satu dan yang lainnya saling berkaitan.

Malang, 4 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar