“Pendidikan
adalah investasi bagi anak-anak untuk masa depan mereka. Sebuah proses transfer
budaya yang harus terus dilakukan agar generasi muda mampu menjawab tantangan
global.”
Begitulah menurut wakil presiden Republik Indonesia, Boediono.
Pendidikan adalah sebuah transfer budaya yang harus terus dilakukan guna
menghasilkan para generasi yang tangguh serta mampu menjawab tantangan global.
Sebuah investasi bagi anak-anak yang disiapkan untuk menjadi generasi yang
tanggap dan tangguh serta mampu menjawab tantangan global yang kian deras arus
perkembangannya. Tak ada yang salah dengan penilaian beliau tentang pendidikan,
ia ibarat sebuah pondasi dari suatu bangunan, ibarat akar dalam sebuah pohon
yang nantinya akan menghasilkan buah.
Ketika pohon berbuah maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yakni
buah tersebut menghasilkan buah yang terasa manis ataukah buah yang sepah lagi
pahit? Sekali lagi pertanyaan sederhana ini perlu kita renungkan. Adakah dari
pendidikan di negeri ini yang telah sukses melahirkan generasi –generasi luar
biasa, generasi unggul yang menyumbangkan ilmunya demi peradaban bangsa yang
semakin cemerlang, serta dari segi spiritualnya yang memancar dalam segala
aktivitas yang dilakukannya. Tidak hanya segi intelektualitasnya tanpa
mengesampingkan aspek akidah. Mempunyai jiwa intelektual serta spiritual yang
tinggi. Ataukah hanya melahirkan generasi yang “pembebek”, generasi letoy di
era sekarang, hanya materi yang menjadi tujuan hidupnya?
Jika kita teropong ternyata hasil dari sebuah pendidikan beberapa
tahun yang lalu dapat dilihat saat ini. Redupnya cahaya permata buah pendidikan
di indonesia dapat dilihat dari perilaku – perilaku para generasinya saat ini.
Bagaimana para generasi sekarang yang memegang kendali dalam peradaban bangsa.
Ternyata kenyaatan saat ini sungguh memilukan, yang seharusnya menjadi wakil
rakyat dan berjuang demi kepentingan rakyat tak lagi menggubris kepentingan
rakyat, ada saja ulah-ulah yang bahkan tidak pantas dilakukan oleh wakil
rakyat. Begitupun juga dengan para pelajar serta mahasiswanya, dari mulai
pelajar sd (tentu kita masih ingat kasus yang menimpa Al dan ibunya yang dikucilkan
karena kejujurannya) hingga para mahasiswanya, budaya menyontek menjadi hal
yang biasa dan lumrah dilakukan. standart kelulusan yang menjadi target membuat
halal dan haram tidak diperdulikan. Yang terpenting bagaimana caranya harus
lulus semua.
Begitu juga dengan para mahasiswa yang mengejar nilai tinggi dengan
mengesampingkan proses belajar, hanya fokus pada bagaimana mendapat nilai
tinggi. Yang ujung-ujungnya dengan nilai tinggi tersebut harapannya untuk
mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi serta kedudukan yang tinggi di
masyarakat, tidak hanya itu mahasiswa pun seringkali anarkis, juga penyak
seperti plegmatis, oportunis serta penyakit-penyakit yang lain. Dipungkiri
ataupun tidak begitulah frame yang telah terbentuk di masyarakat, mencontek
telah menjadi hal yang biasa dan dianggap lumrah.
Alhasil pendidikan sekarang hanya sebagai alat untuk mendapatkan
selembar kertas yang pada akhirnya untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya
bukan lagi sebagai lembaga yang benar-benar mendidik dan tempat untuk menuntut
ilmu. Pendidikan hanya sebagai suatu lembaga yang bukan mencetak generasi
unggul namun mencetak generasi kapital yang dari dulu hingga sekarang semakin
berkembang.
Berarti ada yang salah dengan pendidikan saat ini, pun juga
pendidikan beberapa tahun yang lalu terbukti dengan banyak -perilaku menyimpang
yang terjadi mulai dari penyelenggara pemerintahan, pelajar hingga mahasiswa
dan jika hal ini terus saja berkembang dan berjalan maka bukan tidak mungkin
bangsa ini akan mengalami kehancurannya. Karena fungsi utama pendidikan telah
roboh dan melenceng jauh dari yang seharusnya. Pondasi yang menjadi penobang
bangsa telah roboh tak berkeping.
Kontrol individu saja tak cukup mengatasi permasalahan yang begitu
kompleks ini. Karena individu yang cemerlang pasti akan redup dengan sistem
yang membelit. Ibarat sebuah batu permata yang bersih dan mengkilat pasti akan
tetap kotor jika dimasukkan kedalam kubangan got yang hitam dan kotor.
Begitupun dengan yang terjadi saat ini.
Disamping perlu adanya individu-individu cemerlang yang tidak hanya
dari segi intelektualitasnya namun juga dari segi spiritualitasnya, penting
dengan adanya dukungan dan sokongan dari sistem yang juga bersih dan cemerlang
pula. Bukan hanya dalam bidang pendidikan saja yang perlu dicermati dalam
masalah ini namun juga pasti akan menyangkut sistem ekonomi, dimana ekonomi
juga berperan penting dalam bidang pendidikan, dengan ekonomi yang kuat maka
akan dapat menyokong pendidikan yang berkualiatas.
Begitupun juga sistem politiknya, setiap kebijakan yang dikeluarkan
pasti akan berpengaruh terhadap pendidikannya. Hal ini seperti mata rantai yang
tak bisa diputus. Sistem yang dipakai saat ini pun tidak dapat diandalkan lagi,
karena sudah terbukti kerusakan yang ditimbulkannya. Begitulah jika memakai
aturan dan standart yang dibuat oleh manusia yang serba terbatas. Jika mau
memakai aturan dan standart yang telah dibuat oleh sang pencipta manusia tentu
kesejahteraan yang didapat.
Hal ini pun sudah terbukti selama 13 abad dengan adanya daulah
khilafah, yang menjamin terterapkannya aturan dari sang pencipta secara
sempurna. Dunia pun mengakui kehebatannya, yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang
menghasilkan banyak sekali dari berbagai disiplin ilmu yang menjadi pondasi
dasar ilmu pengetahuan dunia saat ini. Kegemilangannya tak tertandingi bahkan
oleh peradaban barat yang saat ini sedang merajai.
Sistem yang memakai aturan dari sang Pencipta, manusia hanya
sebagai pelaksana bukan pembuat aturan. Jika ingin Indonesia sejahtera maka
terapkanlah aturan islam yang berasal dari sang Pencipta. Tentu aturan-aturan
ini dipakai bukan dengan sebagian-sebagian namun harus sempurna, karena antara
satu dan yang lainnya saling berkaitan.
Malang,
4 Mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar