Alkisah ada dua saudara kandung, si sulung bernama Saritok dan si bungsu bernama Markonee. Dua saudara ini terkait jauh umurnya sekitar 7 tahunan. Sehingga jarang terjadi pertengkaran diantara mereka. Saat itu si sulung sedang hamil tua dan mengambil jatah cuti tiga bulan di instansi tempat ia bekerja untuk melahirkan dan pulang kampung ke rumah orangtuanya. Rencananya pertengahan januari melahirkan dan itu baru di akhir bulan desember. Saat itu pula si Markonee juga sedang liburan kuliah. Jadilah mereka bertemu dirumah orangtuanya.
Pagi itu seperti kebiasaan yang sudah-sudah saat pulang kampung. Markonee pun berniat untuk nritishalaman depan dan belakang rumahnya untuk berburu buah-buahan yang ditanam di pekarangan rumahnya.
“Nee, ini lho buah nagane uwoh lumayan akeh timbang biasane.” Seru emak yang sedang masak didapur.
“wis podho mateng, sing putih karo sing abang uwoh kabeh. Biasane sing putih jarang uwoh. Lha undoh kabeh.” Tambah Emak.
Mendapat tawaran emas itu Markonee pun tak mau kehilangan kesempatan emas tersebut.
“Nggih mak, siap.” Teriak Markonee sambil nyengir.
Segera ia langkahkan kakinya menuju halaman belakang rumah yang penuh dengan berbagai tanaman buah-buahan. Buah naga yang berjejer rapi hasil ketekunan Babe yang menanam dan merawatnya. Juga masih banyak beraneka macam buah-buahan selain buah naga seperti ada buah belimbing, kelengkeng, alpukat di pekarangan depan rumah, juga masih banyak berbagai macam buah yang lainnya.
“Nggawe glathi iki lho karo nggowo kepis.” Kata Emak.
“Ten pundi mak glatine ?” Tanya si Mar
“Tok nduwure kulkas.” Jawab Emak.
Dengan semangat 45 si Markonee menuju halaman belakang rumahnya sambil membawa kepis dan glathi.
“Ape ngunduh buah naga dek ?” Tanya Saritok, sang kakak yang sedang hamil tua sambil menyapu ruang makan.
“Iyo mbk, hehehe..”
Si Mar pun nggeloyor menuju pekarangan belakang rumah lalu asyik memilih buah naga yang hendak dipetik dengan berbekal pisau ditangannya.
***
Saat lagi asyik menyapu ruang makan, si sulung Saritok mendengar teriakan dari arah belakang rumah.
“Aduh mak…mbak..tulungi..” Teriak si Mar.
“ Opo dek?” Tanya si kakak kaget.
“Hiks, drijiku tugel mbak kebacok.”
“Ojo didemek.” Jerit si Mar saat sang kakak hendak melihat jari adiknya yang katanya tugel itu.
Darah berceceran dimana-mana, kedua tangan si Mar pun berpeluh dengan darah segar yang mengucur. Membuat shock sang kakak dan emak yang langsung datang tergopoh-gopoh. Raungan dan tangis si Markonee pun belum juga mereda membuat Saritok pucat pasi karena shock mendengar jari adiknya tugel.
Tangis Markonee baru agak mereda ketika si Emak yang datang menghampiri dengan tegas dan cekatan yang membersihkan darah dan berkolaborasi dengan sang kakak untuk memerban jari si Mar. Butuh perjuangan yang lumayan panjang untuk menenangkan si Mar, yang histeris karena jari tugeldan darahnya yang berceceran.
“Ndi Mar jare drijine tugel ?” Tanya Saritok setelah tangis si Mar mereda.
“Lha mbuh mbk, mau rasane tugel akeh alias putul setengah kuku. Tapi kok ternyata kok ndak yow.”Jawab si Mar sambil nyengir.
“Ngunu kui sakjane yow gak loro. Ancene kaet cilik eruh geteh lak koyok kate keseper wae.” Sahut Emak sambil membersihkan sisa darah yang menempel di jari si Mar.
“Untung gak jantungen, ngagetno uwong ae.” Lanjut Saritok dengan wajah pucatnya yang masih terlihat shock.
Sejak saat itu si Mar jadi bulan-bulanan keluarganya yang hanya ditanggapi dengan senyuman khasnya, ndrenges.
***
Esok hari setelah kejadian memalukan itu, Saritok merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Si Markonee pun dengan setia menunggui kakaknya. Karena sakit yang kian menyiksa, akhirnya siang itu di bawalah Saritok ke bidan desa oleh suaminya, Kang Robert namanya. Kang Robert dan Emak menunggui sang kakak. Sedangkan si Mar dan Babe mendapat jatah menunggui rumah. Sore harinya Saritok melahirkan bayi perempuan yang mungil dan cantik.
Esok paginya dijemputlah anggota keluarga baru tersebut dengan mobil tua Babe. Di dalam mobil mereka berbincang.
“Padahal prediksine dokter pertengahan januari lha kok saiki bayine wis metu tapi kok yow alhamdulillah nglahirne normal.” Kata Babe.
“Paling iku gara-gara driji putule Markonee karo crito tentang wak ngatimen tok bale deso wingi. Sampe bayine shock njaluk ndang metu.” Sahut Emak. Dan akhirnya hipotesis ngawur itu di iyakan oleh seluruh anggota keluarga aneh tersebut. Jadilah si Mar salah satu tersangkanya.
Namun Si Mar hanya cengar cengir mendengar keluarganya berbincang. Lalu ia malah asik dengan keponakan barunya yang sedang ia gendong, yang suatu saat diberi nama si Markorin.
#penulis lupa cerita lengkapnya tentang Wak ngatimen. Namun ia juga menjadi salah satu tersangka penyebab Saritok melahirkan mendadak. Mungkin kalau penulis sudah tidak hilang ingatan bisa ditulis kembali cerita tentangnya.:D
Perjalanan Malang-Depok, 19 Mei 2012
Delima Putih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar