Tidak terasa liburan kuliah telah tiba. Markonee pun dengan semangat merangkai jadwal liburannya. Liburan kali ini ia berencana untuk berlibur di sebuah kampung di Jawa Timur. Ia kesana bersama kakak tingkatnya kuliah yang sekaligus menjadi senior di organisasi tempatnya bernaung. Kakak tingkat yang pada suatu saat nanti juga sekaligus menjadi guru ngajinya serta guru kuliah selain kuliah formal yang didapatnya dikampus. Beliau juga sekaligus sebagai motivator si Mar karena mengingat ia adalahi murid yang pemalas, ngantuk’an, sak karepe dewe dan embel-embel lain yang gak mbois banget.
Kata orang-orang sih nama kampung ini adalah kampung inggris, kalo menurut pengamatan si Mar sendiri lebih tepatnya kampung tersebut bernama “kampung keminggris”. Sayangnya ketika penulis bertanya pada si Mar kenapa bisa kampung tersebut lebih layak dikatakan sebagai kampung keminggristernyata ia sedang tidak berminat menjelaskannya. Jadi langsung saja ya pada inti poin cerita.
Di Kampung keminggris inilah si Mar bertemu anak hilang dari Makasar yang akhirnya diadopsi menjadi adiknya. Namanya si Ijak. gadis kecil baru lulus SMA yang tomboynya minta ampun. Penampilan macho seperti rambut cepak dengan kaos oblong dan celana pendek menjadi baju kesukaannya. namun ketika tiba giliran nonton pilem drama jadi mewek dan nangis.
Walaupun perbedaan usia lumayan jauh serta kepribadian yang berbeda mereka merasa cocok satu sama lain. Ada satu hal yang saat momen itu sama bagi mereka. Karena heboh, orang tuanya sama-sama akan pergi ke Jogja untuk menghadiri Muktamar Muhamadiyah ke 46. Mama si Ijak ini jauh-jauh dari Makasar terbang ke Jogja untuk hadir di acara sakral bagi warga kamdiyah tersebut. Begitupun juga dengan Babe dan Emak yang heboh mau pergi ke Jogja untuk menghadiri acara yang sama. Si Mar pun sebenarnya diajak juga namun ia lebih memilih untuk tetap berada di kampung keminggristersebut.
“Mamah sudah sampai di Jogja sekarang lagi cek in hotel nak,” kata mamah si Ijak diujung telepon seluler.
Begitulah, Mamah si Ijak ini pun dengan semangat 45’nya beberapa hari sebelum hari H sudah datang (padahal sekaligus mau jalan-jalan kayaknya, hehe). Berbeda dengan Mamah si Ijak yang canggih naik terpedo menuju Jogja, Babe dan Emaknya si Mar pun berencana berangkat malam naik bus menuju kesana bersama warga Palang yang lain. Saat hari H keberangkatan tiba persiapan yang telah matang, mulai dari perbekalan seperti makanan, minuman dan obat-obatan serta perlengkapan yang lainnya telah siap.
Tak lupa id card pun sudah terkalung dileher Babe dan Emak yang udah nyanteng tinggal berangkat dan menunggu bus yang akan mengangkut mereka semua ke Jogja. Namun bus yang ditunggu tak kunjung datang, hingga malam semakin larut mendekati tengah malam. Belum juga ada tanda-tanda kedatangan bus tersebut. akhirnya setelah dikonfirmasi ada kesalahan komunikasi atau entah apa namanya yang jelas mereka tidak jadi berangkat.
Paginya, Markonee di telpon Babe.
“Owalah Nee Nee, Babe karo Emak ra sido budhal nang Jogja. Keculak teng tiwas nyanteng.” Kata Babe. Si Mar hanya tertawa mendengarnya dan dengan seksama mendengarkan cerita dari orang terkasihnya tersebut.
Terlepas jadi tidaknya si Emak dan Babe ini berangkat ke Jogja untuk menghadiri acara 5 tahunan tersebut, semangatnya perlu diacungi jempol. Semoga saja mereka masih mendapat kesempatan untuk hadir di Muktamar yang akan datang. Celetukan yang akan selalu diingat oleh Babe dan Emak juga warga yang lainnya karena tidak jadi berangkat ialah “Owalah keculak teng tiwas nyanteng."
7.03 PM
Malang, 24-05-2012
Delima Putih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar