Namaku asiyah nur, nama yang hampir sama seperti nama salah satu wanita
mulia penghuni surga. Istri fir’aun, semoga akupun begitu menjadi wanita idaman
syurga. Amin. Aku dilahirkan di sebuah
dusun di kota kecil di Jawa Timur. Aku
dilahirkan dalam keluarga yang bisa dibilang agamis. Bapakku adalah seorang modin,
orang yang biasa disuruh membacakan doa jika ada selamatan, menikahkan
orang ataupun mengurusi mayat yang
meninggal. Kakekku adalah seorang bisa dibilang kiai, beliau jebolan pondok
pesantren tebu ireng. Mungkin hal itu pulalah yang membuatku dididik dengan
agama, sejak kecil ngaji di langgar dekat rumah sama kiai sholeh. Masa kecilku
indah, bermain bersama teman semasa kecil. Saat itu masih sekitar tahun 69an.
Masa kecil yang indah dengan ayunan mesra dan kidung syahdu se
syahdu suara Bapak mengumandangkan adzan atau saat menjadi imam di langgar. Ah,
aku rindu saat –saat itu. Masih teringat jelas setiap malam sebelum aku tidur
bapak selalu bercerita tentang apa saja. Dan selalu sarat makna dan penuh
hikmah. Cerita bapak yang paling membekas ialah ketika beliau menceritakan
bagaimana akhir dari kehidupan dunia ini.
“Tanda-tanda
kiamat akan bermunculan satu demi satu, Saat itu kehidupan manusia sudah gak
karuan nduk, yang laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya. Yang wanita
sudah tak punya malu,…..” cerita bapak.
“Dunia
wis rusak nduk, besok itu bakal ada fitnah. Fitnah ada dimana-mana. Hukum
Allah diinjak dicampakkan. Lalu akan
muncul ratu adil ditengah-tengah umat manusia. Memberi keadilan dan
kesejahteraan. Akan ada pemimpin yang
adil memimpin dengan aturan Allah bukan aturan yang dibuat manusia.” Cerita
bapakku walaupun mungkin tanda-tanda tersebut sudah ada namun kepolosan bocah
kecil tak mengerti maksut bapak yang kutahu aku menikmati dalam belaian kasih
dan cerita indahnya.
Hingga tertidur aku mendengar ceritanya entah seperti apa
kelanjutan kisah itu karena aku meninggalkannya berlayar kepulau kapuk. Bapak
selalu mendidik dengan ajaran islam yang suci. Bahwa islam mengatur segalanya,
segala yang kita lakukan. Entahlah, memori itu hanya sepenggal-sepenggal
terekam dalam otakku.Mungkin karena saat itu aku masih sangat belia. Masih
seumuran anak teka.
Masa kecil yang sempurna dengan cinta dari kedua orang tua juga
keluarga. Beberapa hari sekali bapak pasti ada order sebagai pendoa di acara
selamatan atau di kua untuk menikahkan anak orang. Dan itu berarti akan ada
makanan lezat, momen itu aku selalu menunggu bapak didepan rumah berharap
ketika pulang disepeda tuanya tergantung bungkusan makanan. Akulah yang akan
menjadi orang pertama untuk memakannya walaupun terkadang isinya hanya ada ikan
asing yang dibumbui serta sayuran dan nasi putih, jaman segitu nasi putih
merupakan makanan langka, makanan pokok kami sehari—hari hanyalah nasi jagung
dan tiwul.
Sambil mencium dan menggendongku, bapak membelai dan mengusap
rambutku pertanda cintanya padaku sambil menyuruh makan apa yang telah
dibawanya tadi. Serpihan-serpihan memori yang tak mungkin terhapus. Sekelibat
kenangan manis di sudut rumah sederhana kami. Dengan 3 adik yang masih kecil, walaupun
masih sangat belia aku sudah punya tanggungjawab untuk momong adik-adikku. Dan
aku lebih dekat dengan bapakku daripada simbok. Beliau sosok ayah yang hampir sempurna,
kharismatik dan bijak. Kehidupan kami sederhana namun bahagia.
***
Pak’e
kenapa mbok? Kenapa diam saja ? kenapa tidak bergerak ? mbok..mbok..pak’e
kenapa? Celotehku pada simbok saat tau pa’e tidak bergerak.
Badannya
dingin dan kaku. Aku hanya bisa menangis. Simbok hanya terdiam termangu.
Menggugu dalam linangan air mata diamnya. Bapak telah tiada. Beberapa hari
bapak dirawat dirumah sakit.
Semua
berubah ketika bapak meninggal di usiaku yang masih kecil. Usia enam tahun
dengan 3 orang adik yang juga masih sangat kecil. Bapak meninggalkan kami
semua, dan tak akan kembali. Kenangku. Semoga beliau tenang disana. Doa dari
putrimu ini takkan pernah terhenti mengirimu ayah. Walaupun memori itu mulai
tersamar menghilang namun jejaknya tetap membekas di hati.
**
**
Waktu
berputar berlalu. Inilah aku sekarang tumbuh semakin dewasa dengan postur tubuh
yang tinggi, kulit putih serta hidung yang tidak terlalu bangir namun lancip
warisan dari simbokku, simbokku adalah seorang wanita cantik dengan kecantikan
yang matang. 4 orang anak yang masih kecil dengan aku yang tertua masih berumur
sekitar 6 tahunan waktu bapak meninggal tak membuat kecantikannya memudar. dengan kebaya dan kain batiknya ia terlihat
anggun memikat.
Andai
saja dulu simbok sudah mengenal dan memakai jilbab dan kerudung pasti indah terlihat.
Cantik memikat bahkan bidadari pun akan cemburu padanya. Jilbab dan kerudung
adalah pakaian wajib seorang muslimah ketika keluar rumah. Jelas termuat dalam
kitab suci Al-Quran, al-ahzab:59 dan an-nur:31.
Kecantikan khas jawa yang beradu dengan kulit putih dan postur
tubuh yang tinggi langsing turunan dari mendiyang kakeknya yang seorang
inlander belanda. Iya, buyut laki-laki dari simbokku adalah seorang belanda
sedangkan mbah buyut putri adalah seorang wanita jawa.
*******
Semenjak kepergian bapak hidupku berubah total. Simbok menikah lagi
dengan seorang duda. Bapak baruku tidak mempunyai anak. Setelah bapak meninggal
aku ikut dengan simbah(nenek), namun hal itu tak berlangsung lama karna beban
hidup yang berat memaksa tubuh kecilku untuk membantu simbok memasak didapur juga
membantu pekerjaan di sawah kami. Juga tak lupa kewajibankulah untuk menjaga
adik-adikku juga adik baruku karena simbok akhirnya mempunyai anak dengan suami
barunya.
Tiap pagi dengan timba di kedua tangan kecil nan rapuh ini menyiram
setetes demi setetes di grogolan sawah yang ditumbuhi berbagai sayuran. Hal ini
berlangsung hingga aku dewasa. tangan yang rapuh itu telah berubah menjadi kuat
dan mengapal. Masa kecilku yang manis tersapu dengan beban yang menggelayut,
bahkan untuk pendidikan pun aku tak sedikitpun pernah mengecapnya kecuali ngaji
di langgar dekat rumah. Ada cita yang mengasap, mengepul lalu menguap dan
hilang. Rutinitas ini membuatku semakin dewasa dengan tegar kulalui hari-hari
yang terasa sepi. Mungkin jika bapak masih ada keadaan tak akan menjadi seperti
ini. Sayangnya bapak pula yang selalu mendidikku untuk tak pernah
berandai-andai karena itu amalam setan.
Bunga yang tumbuh mewangi dengan keindahan yang memikat seiring itu
pula kumbang pasti berdatangan menghampiri hendak mencicipi kenikmatan madunya.
Begitulah analogi singkat seorang perempuan yang telah menginjak dewasa, pasti
akan ada laki-laki yang berusaha mendekati. Ada sumardi yang tiap aku lewat
pasti malu-malu menyapaku namun selepas kulewat matanya tak lepas mengikuti
arah langkah kakiku pergi. Serta masih banyak pemuda-pemuda didesaku yang
lainnya. Banyak yang bilang aku ini kembang desa. Tak ada yang istimewa
menurutku, biasa saja.
Aku tumbuh menjadi gadis desa yang biasa saja menurutku. Namun
kenapa orang menganggapku cantik. Seperti miniatur simbokku. Aku dan adik
perempuanku mirip dengan simbok. Dari postur tubuh, hidung hingga semuanya. Dengan rambut ikal mayang panjang menjuntai
ini warisan dari bapakku. Banyak yang bilang aku cantik. Entahlah kecantikan
model apa yang mereka katakan, aku juga kurang mengerti apa arti yang mereka
maksut cantik itu. Namun sekarang yang kutahu dari putriku, wanita cantik
adalah wanita yang memancarkan aura
kecantikan dari hatinya berkat ketaatannya pada aturan Illahi”
“wanita
sejati adalah wanita yang taat pada aturan Tuhannya bukan pada aturan yang
lain. Ia ibarat perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita
sholiha ibu”begitu penuturannya. Membuat hati meluluh tak berdaya.
Nampaknya simbok mencium gelagat dari para pemuda didesaku yang
diam-diam tertarik denganku. Umurku sekitar 14an tahun saat itu. Cukup muda
jika dibandingkan dengan anak sekarang yang masih belum bisa apa-apa. Apalagi
yang berhubungan dengan tanggungjawab dan kedewasaan. Mungkin karena tempaan hidup
membuatnya lebih dewasa. Saat ada yang datang kerumah melamarku. Sepulang dari
ngaji, rutinitas tiap sore hingga isya baru pulang. Kulihat rumahku terbuka,
perasaanku tak enak.
“nduk
sini to” ucap ibuku sembari melambaikan tangannya kearahku. Aku pun bergegas
menuju kearah simbokku, sambil merlirik seorang pemuda yang duduk didepan ibu
dan bapak tiriku.
Ternyata
firasatku benar. Simbok mau menikahkanku dengan laki-laki bernama handoko.
Pemuda kaya sebelah desa, yang kutau dia punya perangai yang kurang baik.
“ini
handoko nduk, sebentar lagi kamu akan menikah sama dia. Tanggal pernikahannya
sudah ditentukan” sahut simbokku. Aku hanya terdiam, wajahku dingin tak
berekspresi. Akhirnya aku tak kuat menahannya. Aku pun lari masuk ke dalam
kamar dan jatuhlah berderai airmataku.
Ternyata
benar simbok mau menjodohkan aku dengan seorang lelaki yang belum kukenal
sebelumnya. Yang kutahu dia bukan laki-laki baik-baik.
“Wis
toh nduk nurut karo simbok, enak-enak uripmu mengko. Anak’e wong sugih kui.
Manut yo karo mbok’e” malam itu malam paling menyedihkan dalam hidupku.
“tapi
mbok aku belum mau menikah”ujarku yang saat itu aku masih suka bermain bersama
teman-teman. Yang kaya orang tuanya bukan dia, batinku. Tak berani membantah
simbok lagi. Aku pasrah tak bisa berbuat apa-apa. Setiap kali handoko kerumah tak satu kalipun
aku mau menemuinya. Seringkali dia hendak mengajakkku jalan-jalan nonton
ludruk, tapi aku selalu menghindarinya.
Akhirnya
menikahlah aku dengannya. Orang yang tepat kata mbokku hanya karna dia kaya. Materi
menjadi segalanya. Diatas segala apa yang ada. Yang saat ini kutaui bahwa
inilah yang disebut kapitalisme. Semua bermuara pada uang, harta dan materi.
Apapun dicari hanya untuk itu. Ternyata sejak aku kecil pun puing-puing
kapitalisme sudah mengakar. Dan pernikahan itupun terjadi tanpa persetujuanku.
Tak ada secuil kebahagiaan pun saat aku menikah.
****
“dek, nunggu siapa disini?” pertanyaan itu
menyentakku dari lamunan yang menyergap sejenak mengosongkan pikiranku dari
balada keruwetan dunia. Kuangkat wajahku dan terlihatlah seorang pemuda dengan
umur 8 tahun lebih tua dariku. Yang rumahnya ada diujung desa.
“oh..nggak
kang. Nggak nunggu siapa-siapa kang” ucapku agak kikuk. Dari sapaan singkat itu
akhirnya obrolan ringan mulai mencair.
Lalu
giriranku masuk ruangan pun tiba. saat itulah secara sah aku dan suamiku yang
dulu bercerai, lega hati rasanya.
“maafkan
aku. Aku tak bisa melanjutkan pernikahan kita ini. Pernikahan yang tak
seharusnya ada karena akupun tak pernah menginginkannya. Sudah cukup apa yang
selama ini kuderita. Sudah cukup. ”ujarku pada suamiku beberapa lama sebelum
akhirnya kami bercerai.
Karena
memang tidak ada kecocokan diantara kami. Bercerai adalah jalan satu-satunya
yang harus ditempuh. Butuh waktu lama akhirnya ia bersedia menceraikanku secara
resmi.
Ternyata Allah telah mengemas cerita secara apik dalam balutan
cintaNya. Ditempat yang sama itulah aku bertemu seseorang, penawar dahaga
hatiku. Penyembuh luka batinku. Tempat ini adalah tempat aku bertemu dengan seorang
yang kelak akan menjadi saksi bersatunya dua hati. Dialah yang kelak akan
menjadi ayah dari anak-anakku yang saat itu juga bercerai dengan mantan
istrinya. Ditempat itu kami bertemu. Iya di KUA. Dan di tempat itu pulalah
akhirnya kami berikrar dengan perjanjian maha besar.
Beberapa bulan setelah resmi bercerai, aku dengan mantan suamiku
dan dia dengan mantan isterinya. akhmad meminangku untuk menjadi isterinya.
Akhirnya kami pun menikah setelah menunggu beberapa waktu untuk melewati masa
idahku. Pernikahan sederhana namun semoga dengan kesederhanaan itu malaikat
yang ada dilangit maupun yang ada dibumi serentak mendoakan pernikahan kami
yang insyaAllah barokah dan dapat menuju ridhaNya, tak ada tabuhan genderang,
tak ada janur kuning yang melengkung juga tak ada iring2an pengantin dengan
kembang mayangnya. Begitulah pernikahan yang sangat sederhana. Dengan wali dari
pihak perempuan adalah adik laki-lakiku yang saat itu masih cukup muda
mengingat usiaku pun saat itu masih 17 tahun.
Pernikahan tak perlu seindah bunga, cukup ia semanis madu. Kehidupan
baruku pun dimulai kembali. Hidup sederhana tak membuatku goyah. Terpaan demi
terpaan mendera, kesulitan ekonomi membelit kami berdua. Untunglah aku
dikaruniai suami yang luar biasa sabar dalam menghadapi ujian ini. Kurenda hari
dengan kesabaran dan cinta. Sejak awal pernikahan kami hidup mandiri. Rumah dan
tanah pun tak punya. Kami mendirikan gubuk sederhana ditanah saudara. Tak terasa waktu berlalu hingga aku telah
melahirkan 2 putri yang manis – manis. Jarak keduanya cukup jauh, 7 tahun.
Hanya 2 inilah buah hatiku bersama suami tercinta. Kami berharap kedua putri
kami menjadi generasi yang berpendidikan tidak seperti ibunya yang tak sempat
mereguk nikmatnya ilmu di bangku sekolahan. Roda kehidupan berputar, yang dulu
kami berada dalam kondisi memprihatinkan, alhamdulillah kini kami serba
kecukupan. Setelah berjuang bersama cukup lama. Alhamdulillah, segala pujia bagi Allah. Maka nikmat Tuhan Manakah yang kamu dustakan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar