Senin, 18 Juni 2012

Sepenggal Kisah Dari Wanita Nomor Satu Dalam Hidupku


Namaku asiyah nur, nama yang hampir sama seperti nama salah satu wanita mulia penghuni surga. Istri fir’aun, semoga akupun begitu menjadi wanita idaman syurga. Amin.  Aku dilahirkan di sebuah dusun di kota kecil  di Jawa Timur. Aku dilahirkan dalam keluarga yang bisa dibilang agamis. Bapakku adalah seorang modin, orang yang biasa disuruh membacakan doa jika ada selamatan, menikahkan orang  ataupun mengurusi mayat yang meninggal. Kakekku adalah seorang bisa dibilang kiai, beliau jebolan pondok pesantren tebu ireng. Mungkin hal itu pulalah yang membuatku dididik dengan agama, sejak kecil ngaji di langgar dekat rumah sama kiai sholeh. Masa kecilku indah, bermain bersama teman semasa kecil. Saat itu masih sekitar tahun 69an.
Masa kecil yang indah dengan ayunan mesra dan kidung syahdu se syahdu suara Bapak mengumandangkan adzan atau saat menjadi imam di langgar. Ah, aku rindu saat –saat itu. Masih teringat jelas setiap malam sebelum aku tidur bapak selalu bercerita tentang apa saja. Dan selalu sarat makna dan penuh hikmah. Cerita bapak yang paling membekas ialah ketika beliau menceritakan bagaimana akhir dari kehidupan dunia ini.
“Tanda-tanda kiamat akan bermunculan satu demi satu, Saat itu kehidupan manusia sudah gak karuan nduk, yang laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya. Yang wanita sudah tak punya malu,…..”  cerita bapak.

“Dunia wis rusak nduk, besok itu bakal ada fitnah. Fitnah ada dimana-mana. Hukum Allah  diinjak dicampakkan. Lalu akan muncul ratu adil ditengah-tengah umat manusia. Memberi keadilan dan kesejahteraan. Akan ada pemimpin  yang adil memimpin dengan aturan Allah bukan aturan yang dibuat manusia.” Cerita bapakku walaupun mungkin tanda-tanda tersebut sudah ada namun kepolosan bocah kecil tak mengerti maksut bapak yang kutahu aku menikmati dalam belaian kasih dan cerita indahnya.
Hingga tertidur aku mendengar ceritanya entah seperti apa kelanjutan kisah itu karena aku meninggalkannya berlayar kepulau kapuk. Bapak selalu mendidik dengan ajaran islam yang suci. Bahwa islam mengatur segalanya, segala yang kita lakukan. Entahlah, memori itu hanya sepenggal-sepenggal terekam dalam otakku.Mungkin karena saat itu aku masih sangat belia. Masih seumuran anak teka.

Masa kecil yang sempurna dengan cinta dari kedua orang tua juga keluarga. Beberapa hari sekali bapak pasti ada order sebagai pendoa di acara selamatan atau di kua untuk menikahkan anak orang. Dan itu berarti akan ada makanan lezat, momen itu aku selalu menunggu bapak didepan rumah berharap ketika pulang disepeda tuanya tergantung bungkusan makanan. Akulah yang akan menjadi orang pertama untuk memakannya walaupun terkadang isinya hanya ada ikan asing yang dibumbui serta sayuran dan nasi putih, jaman segitu nasi putih merupakan makanan langka, makanan pokok kami sehari—hari hanyalah nasi jagung dan tiwul. 

Sambil mencium dan menggendongku, bapak membelai dan mengusap rambutku pertanda cintanya padaku sambil menyuruh makan apa yang telah dibawanya tadi. Serpihan-serpihan memori yang tak mungkin terhapus. Sekelibat kenangan manis di sudut rumah sederhana kami. Dengan 3 adik yang masih kecil, walaupun masih sangat belia aku sudah punya tanggungjawab untuk momong adik-adikku. Dan aku lebih dekat dengan bapakku daripada simbok. Beliau sosok ayah yang hampir sempurna, kharismatik dan bijak. Kehidupan kami sederhana namun bahagia.  
***
Pak’e kenapa mbok? Kenapa diam saja ? kenapa tidak bergerak ? mbok..mbok..pak’e kenapa? Celotehku pada simbok saat tau pa’e tidak bergerak.

Badannya dingin dan kaku. Aku hanya bisa menangis. Simbok hanya terdiam termangu. Menggugu dalam linangan air mata diamnya. Bapak telah tiada. Beberapa hari bapak dirawat dirumah sakit.
Semua berubah ketika bapak meninggal di usiaku yang masih kecil. Usia enam tahun dengan 3 orang adik yang juga masih sangat kecil. Bapak meninggalkan kami semua, dan tak akan kembali. Kenangku. Semoga beliau tenang disana. Doa dari putrimu ini takkan pernah terhenti mengirimu ayah. Walaupun memori itu mulai tersamar menghilang namun jejaknya tetap membekas di hati.
**


Waktu berputar berlalu. Inilah aku sekarang tumbuh semakin dewasa dengan postur tubuh yang tinggi, kulit putih serta hidung yang tidak terlalu bangir namun lancip warisan dari simbokku, simbokku adalah seorang wanita cantik dengan kecantikan yang matang. 4 orang anak yang masih kecil dengan aku yang tertua masih berumur sekitar 6 tahunan waktu bapak meninggal tak membuat kecantikannya memudar.  dengan kebaya dan kain batiknya ia terlihat anggun memikat.

Andai saja dulu simbok sudah mengenal dan memakai  jilbab dan kerudung pasti indah terlihat. Cantik memikat bahkan bidadari pun akan cemburu padanya. Jilbab dan kerudung adalah pakaian wajib seorang muslimah ketika keluar rumah. Jelas termuat dalam kitab suci Al-Quran, al-ahzab:59 dan an-nur:31.
Kecantikan khas jawa yang beradu dengan kulit putih dan postur tubuh yang tinggi langsing turunan dari mendiyang kakeknya yang seorang inlander belanda. Iya, buyut laki-laki dari simbokku adalah seorang belanda sedangkan mbah buyut putri adalah seorang wanita jawa.
*******
Semenjak kepergian bapak hidupku berubah total. Simbok menikah lagi dengan seorang duda. Bapak baruku tidak mempunyai anak. Setelah bapak meninggal aku ikut dengan simbah(nenek), namun hal itu tak berlangsung lama karna beban hidup yang berat memaksa tubuh kecilku untuk membantu simbok memasak didapur juga membantu pekerjaan di sawah kami. Juga tak lupa kewajibankulah untuk menjaga adik-adikku juga adik baruku karena simbok akhirnya mempunyai anak dengan suami barunya.
Tiap pagi dengan timba di kedua tangan kecil nan rapuh ini menyiram setetes demi setetes di grogolan sawah yang ditumbuhi berbagai sayuran. Hal ini berlangsung hingga aku dewasa. tangan yang rapuh itu telah berubah menjadi kuat dan mengapal. Masa kecilku yang manis tersapu dengan beban yang menggelayut, bahkan untuk pendidikan pun aku tak sedikitpun pernah mengecapnya kecuali ngaji di langgar dekat rumah. Ada cita yang mengasap, mengepul lalu menguap dan hilang. Rutinitas ini membuatku semakin dewasa dengan tegar kulalui hari-hari yang terasa sepi. Mungkin jika bapak masih ada keadaan tak akan menjadi seperti ini. Sayangnya bapak pula yang selalu mendidikku untuk tak pernah berandai-andai karena itu amalam setan.
Bunga yang tumbuh mewangi dengan keindahan yang memikat seiring itu pula kumbang pasti berdatangan menghampiri hendak mencicipi kenikmatan madunya. Begitulah analogi singkat seorang perempuan yang telah menginjak dewasa, pasti akan ada laki-laki yang berusaha mendekati. Ada sumardi yang tiap aku lewat pasti malu-malu menyapaku namun selepas kulewat matanya tak lepas mengikuti arah langkah kakiku pergi. Serta masih banyak pemuda-pemuda didesaku yang lainnya. Banyak yang bilang aku ini kembang desa. Tak ada yang istimewa menurutku, biasa saja. 
Aku tumbuh menjadi gadis desa yang biasa saja menurutku. Namun kenapa orang menganggapku cantik. Seperti miniatur simbokku. Aku dan adik perempuanku mirip dengan simbok. Dari postur tubuh, hidung hingga semuanya.  Dengan rambut ikal mayang panjang menjuntai ini warisan dari bapakku. Banyak yang bilang aku cantik. Entahlah kecantikan model apa yang mereka katakan, aku juga kurang mengerti apa arti yang mereka maksut cantik itu. Namun sekarang yang kutahu dari putriku, wanita cantik adalah wanita yang memancarkan aura  kecantikan dari hatinya berkat ketaatannya pada aturan Illahi”
“wanita sejati adalah wanita yang taat pada aturan Tuhannya bukan pada aturan yang lain. Ia ibarat perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholiha ibu”begitu penuturannya. Membuat hati meluluh tak berdaya.

Nampaknya simbok mencium gelagat dari para pemuda didesaku yang diam-diam tertarik denganku. Umurku sekitar 14an tahun saat itu. Cukup muda jika dibandingkan dengan anak sekarang yang masih belum bisa apa-apa. Apalagi yang berhubungan dengan tanggungjawab dan kedewasaan. Mungkin karena tempaan hidup membuatnya lebih dewasa. Saat ada yang datang kerumah melamarku. Sepulang dari ngaji, rutinitas tiap sore hingga isya baru pulang. Kulihat rumahku terbuka, perasaanku tak enak.
“nduk sini to” ucap ibuku sembari melambaikan tangannya kearahku. Aku pun bergegas menuju kearah simbokku, sambil merlirik seorang pemuda yang duduk didepan ibu dan bapak tiriku.
Ternyata firasatku benar. Simbok mau menikahkanku dengan laki-laki bernama handoko. Pemuda kaya sebelah desa, yang kutau dia punya perangai yang kurang baik.
“ini handoko nduk, sebentar lagi kamu akan menikah sama dia. Tanggal pernikahannya sudah ditentukan” sahut simbokku. Aku hanya terdiam, wajahku dingin tak berekspresi. Akhirnya aku tak kuat menahannya. Aku pun lari masuk ke dalam kamar dan jatuhlah berderai airmataku.
Ternyata benar simbok mau menjodohkan aku dengan seorang lelaki yang belum kukenal sebelumnya. Yang kutahu dia bukan laki-laki baik-baik.
“Wis toh nduk nurut karo simbok, enak-enak uripmu mengko. Anak’e wong sugih kui. Manut yo karo mbok’e” malam itu malam paling menyedihkan dalam hidupku.
“tapi mbok aku belum mau menikah”ujarku yang saat itu aku masih suka bermain bersama teman-teman. Yang kaya orang tuanya bukan dia, batinku. Tak berani membantah simbok lagi. Aku pasrah tak bisa berbuat apa-apa.  Setiap kali handoko kerumah tak satu kalipun aku mau menemuinya. Seringkali dia hendak mengajakkku jalan-jalan nonton ludruk, tapi aku selalu menghindarinya.
Akhirnya menikahlah aku dengannya. Orang yang tepat kata mbokku hanya karna dia kaya. Materi menjadi segalanya. Diatas segala apa yang ada. Yang saat ini kutaui bahwa inilah yang disebut kapitalisme. Semua bermuara pada uang, harta dan materi. Apapun dicari hanya untuk itu. Ternyata sejak aku kecil pun puing-puing kapitalisme sudah mengakar. Dan pernikahan itupun terjadi tanpa persetujuanku. Tak ada secuil kebahagiaan pun saat aku menikah.
****
 “dek, nunggu siapa disini?” pertanyaan itu menyentakku dari lamunan yang menyergap sejenak mengosongkan pikiranku dari balada keruwetan dunia. Kuangkat wajahku dan terlihatlah seorang pemuda dengan umur 8 tahun lebih tua dariku. Yang rumahnya ada diujung desa.
“oh..nggak kang. Nggak nunggu siapa-siapa kang” ucapku agak kikuk. Dari sapaan singkat itu akhirnya obrolan  ringan mulai mencair.
Lalu giriranku masuk ruangan pun tiba. saat itulah secara sah aku dan suamiku yang dulu bercerai, lega hati rasanya.
“maafkan aku. Aku tak bisa melanjutkan pernikahan kita ini. Pernikahan yang tak seharusnya ada karena akupun tak pernah menginginkannya. Sudah cukup apa yang selama ini kuderita. Sudah cukup. ”ujarku pada suamiku beberapa lama sebelum akhirnya kami bercerai.
Karena memang tidak ada kecocokan diantara kami. Bercerai adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh. Butuh waktu lama akhirnya ia bersedia menceraikanku secara resmi.  
Ternyata Allah telah mengemas cerita secara apik dalam balutan cintaNya. Ditempat yang sama itulah aku bertemu seseorang, penawar dahaga hatiku. Penyembuh luka batinku. Tempat ini adalah tempat aku bertemu dengan seorang yang kelak akan menjadi saksi bersatunya dua hati. Dialah yang kelak akan menjadi ayah dari anak-anakku yang saat itu juga bercerai dengan mantan istrinya. Ditempat itu kami bertemu. Iya di KUA. Dan di tempat itu pulalah akhirnya kami berikrar dengan perjanjian maha besar.
Beberapa bulan setelah resmi bercerai, aku dengan mantan suamiku dan dia dengan mantan isterinya. akhmad meminangku untuk menjadi isterinya. Akhirnya kami pun menikah setelah menunggu beberapa waktu untuk melewati masa idahku. Pernikahan sederhana namun semoga dengan kesederhanaan itu malaikat yang ada dilangit maupun yang ada dibumi serentak mendoakan pernikahan kami yang insyaAllah barokah dan dapat menuju ridhaNya, tak ada tabuhan genderang, tak ada janur kuning yang melengkung juga tak ada iring2an pengantin dengan kembang mayangnya. Begitulah pernikahan yang sangat sederhana. Dengan wali dari pihak perempuan adalah adik laki-lakiku yang saat itu masih cukup muda mengingat usiaku pun saat itu masih 17 tahun.
Pernikahan tak perlu seindah bunga, cukup ia semanis madu. Kehidupan baruku pun dimulai kembali. Hidup sederhana tak membuatku goyah. Terpaan demi terpaan mendera, kesulitan ekonomi membelit kami berdua. Untunglah aku dikaruniai suami yang luar biasa sabar dalam menghadapi ujian ini. Kurenda hari dengan kesabaran dan cinta. Sejak awal pernikahan kami hidup mandiri. Rumah dan tanah pun tak punya. Kami mendirikan gubuk sederhana ditanah saudara.  Tak terasa waktu berlalu hingga aku telah melahirkan 2 putri yang manis – manis. Jarak keduanya cukup jauh, 7 tahun. Hanya 2 inilah buah hatiku bersama suami tercinta. Kami berharap kedua putri kami menjadi generasi yang berpendidikan tidak seperti ibunya yang tak sempat mereguk nikmatnya ilmu di bangku sekolahan. Roda kehidupan berputar, yang dulu kami berada dalam kondisi memprihatinkan, alhamdulillah kini kami serba kecukupan. Setelah berjuang bersama cukup lama. Alhamdulillah, segala pujia bagi Allah. Maka nikmat Tuhan Manakah yang kamu dustakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar