“Saya berpendapat bahwa semua spekulasi yang
benar dalam dunia sains bersumber dari rasa religius yang dalam dan tanpa
perasaan tersebut spekulasi itu tidak akan menghasilkan apa-apa.” Mbah Ten.
Dia dilahirkan jauh sebelum saya dilahirkan. Tepatnya pada tahun 1879 di Ulm. Mbah Ten namanya, orang tak biasa menyebutnya demikian. Dia adalah orang yang terkenal, bahkan jauh setelah beliau meninggal. Apalagi dalam lingkungan fisika, jangan ditanya lagi. Setiap orang yang bergelut dengan bidang itu pasti sudah akrab dengannya dan akan menganggapnya sebagai saudara sendiri lebih tepatnya sebagai “mbahnya”. Tidak hanya itu, saya rasa hampir semua orang didunia ini mengenalnya, paling tidak tahu bahwa dia adalah salah seorang dedengkot dalam kerajaan ilmu fisika. Kecuali jika orang tersebut memang bener-bener kuper. (:D)
Mbah Ten adalah keturunan Yahudi. Bisa dibilang kedua orangtuanya bukan orang yang fanatik dalam beragama. Hal ini ditunjukkan ketika sang orang tua memberi nama pada anaknya. Kakek dari mbah Ten adalah seorang Yahudi bernama Abraham yang lahir di Jerman pada tahun 1808. Seharusnya sesuai lazimnya dalam keluarga yahudi, mbah Ten diberi nama Abraham seperti nama kakeknya. Namun yang terjadi tidak demikian. Ia malah diberi nama Albert Einstein.
Hal ini pula yang mempengaruhi kehidupan beragama mbah Ten selanjutnya. Pada umur 12 tahun ia yang seharusnya melakukan upacara bar mitzvah agar ia sah menjadi orang yahudi malah tidak melaksanakannya, sehingga mbah Ten tumbuh menjadi orang yang tidak beragama. Namun ia tetaplah seorang yahudi dan ia mendapat berbagai pendidikan agama. Seperti pendidikan agama katolik yang ada disekolahnya juga pendidikan yahudi dari seorang guru yang didatangkan khusus untuknya. Hingga akhirnya ia belajar menghormati keyakinan tulus setiap orang, apapun agamanya. Sikap yang terus ia pertahankan hingga akhirnya dikemudian hari ia menolak afiliasi dengan sebuah organisasi agama institusional.
Tidak fanatik dalam beragama. Itulah kedua orangtua mbah Ten. Yang selanjutnya sedikit banyak mempengaruhi kehidupan beragama seorang mbah Ten. Beliau tidak begitu mengindahkan tentang keharusan menjadi anggota agama tertentu. Hal ini dapat dilihat ketika mbah Ten menikahi istri pertamanya, Mileva Maric. Mereka berdua kawin lari. Menikah secara sipil tanpa adanya seorang pendeta pada tahun 1903 di Zurich. Karena tidak mendapat restu dari orang tua kedua belah pihak. Perbedaan agamalah yang menjadi penyebab utama pertentangan kedua orangtua kedua belah pihak.
Pemikiran ilmiah tetap menjadi hal yang sangat penting bagi mbah Ten. Ketika harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa kedua puteranya Hans Albert dan Eduard lahir. Ia harus menentukan bagaimana pendidikan agama yang tepat untuk putera-puteranya juga untuk memilih sekolah dasar yang tepat. Mbah Ten pasti ingin yang terbaik untuk kedua puteranya, beliau pernah memaparkan hal ini dengan berkata bahwa, “bagaimanapun, aku tidak terlalu suka bila anak-anakku harus diajari sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran ilmiah.”
Mbah Ten tidak pernah beranggapan bahwa antara agama dan sains adalah suatu hal yang bertentangan atau antitesis. Namun yang terjadi sebaliknya ia menganggap bahwa antara agama dan sains adalah suatu hal yang berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain. Hal ini dapat dilihat dari metaforanya yang terkenal. “Sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta.”
Menjadi hal yang umum bahwa mbah Ten tidak pernah menghadiri pelayanan agama dan tidak pernah berdoa di sinagog atau tempat-tempat ibadah dimanapun. Ia hanya mau menghadiri tempat-tempat semacam itu untuk ikut serta dalam kegiatan sosial. Bahkan mbah Ten berpesan dalam pesan terakhirnya untuk tidak menguburnya dalam tradisi Yahudi jika ia meninggal. Ia memilih untuk dikremasi dan ditebarkan abunya. Hal yang patut menjadi perhatian bahwa fakta ini menunjukkan bahwa mbah Ten tidak begitu memperdulikan ritual agama hingga akhir hayatnya pada tahun 1955.
Walaupun hingga kini saya masih kurang tahu dengan jelas Mbah Ten sebenarnya beragama apa atau lebih condong kemana. Setidaknya saya mengetahui sedikit hal bahwa walaupun ia tidak pernah mengindahkan aturan salah satu agama ia memiliki jiwa spiritual dan religiusitas yang unik. “Musik, alam dan Tuhan menjadi lebur dalam perasaan yang kompleks dalam diri mbah Ten.” Sejak kecil ia menerima pelajaran dari dua kitab yakni injil dan talmud. Saya tidak membayangkan bagaimana jika mbah Ten juga mempelajari dan memahami kitab suci yang lain, yakni Al-Quran.[]Delima Putih.
Dia dilahirkan jauh sebelum saya dilahirkan. Tepatnya pada tahun 1879 di Ulm. Mbah Ten namanya, orang tak biasa menyebutnya demikian. Dia adalah orang yang terkenal, bahkan jauh setelah beliau meninggal. Apalagi dalam lingkungan fisika, jangan ditanya lagi. Setiap orang yang bergelut dengan bidang itu pasti sudah akrab dengannya dan akan menganggapnya sebagai saudara sendiri lebih tepatnya sebagai “mbahnya”. Tidak hanya itu, saya rasa hampir semua orang didunia ini mengenalnya, paling tidak tahu bahwa dia adalah salah seorang dedengkot dalam kerajaan ilmu fisika. Kecuali jika orang tersebut memang bener-bener kuper. (:D)
Mbah Ten adalah keturunan Yahudi. Bisa dibilang kedua orangtuanya bukan orang yang fanatik dalam beragama. Hal ini ditunjukkan ketika sang orang tua memberi nama pada anaknya. Kakek dari mbah Ten adalah seorang Yahudi bernama Abraham yang lahir di Jerman pada tahun 1808. Seharusnya sesuai lazimnya dalam keluarga yahudi, mbah Ten diberi nama Abraham seperti nama kakeknya. Namun yang terjadi tidak demikian. Ia malah diberi nama Albert Einstein.
Hal ini pula yang mempengaruhi kehidupan beragama mbah Ten selanjutnya. Pada umur 12 tahun ia yang seharusnya melakukan upacara bar mitzvah agar ia sah menjadi orang yahudi malah tidak melaksanakannya, sehingga mbah Ten tumbuh menjadi orang yang tidak beragama. Namun ia tetaplah seorang yahudi dan ia mendapat berbagai pendidikan agama. Seperti pendidikan agama katolik yang ada disekolahnya juga pendidikan yahudi dari seorang guru yang didatangkan khusus untuknya. Hingga akhirnya ia belajar menghormati keyakinan tulus setiap orang, apapun agamanya. Sikap yang terus ia pertahankan hingga akhirnya dikemudian hari ia menolak afiliasi dengan sebuah organisasi agama institusional.
Tidak fanatik dalam beragama. Itulah kedua orangtua mbah Ten. Yang selanjutnya sedikit banyak mempengaruhi kehidupan beragama seorang mbah Ten. Beliau tidak begitu mengindahkan tentang keharusan menjadi anggota agama tertentu. Hal ini dapat dilihat ketika mbah Ten menikahi istri pertamanya, Mileva Maric. Mereka berdua kawin lari. Menikah secara sipil tanpa adanya seorang pendeta pada tahun 1903 di Zurich. Karena tidak mendapat restu dari orang tua kedua belah pihak. Perbedaan agamalah yang menjadi penyebab utama pertentangan kedua orangtua kedua belah pihak.
Pemikiran ilmiah tetap menjadi hal yang sangat penting bagi mbah Ten. Ketika harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa kedua puteranya Hans Albert dan Eduard lahir. Ia harus menentukan bagaimana pendidikan agama yang tepat untuk putera-puteranya juga untuk memilih sekolah dasar yang tepat. Mbah Ten pasti ingin yang terbaik untuk kedua puteranya, beliau pernah memaparkan hal ini dengan berkata bahwa, “bagaimanapun, aku tidak terlalu suka bila anak-anakku harus diajari sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran ilmiah.”
Mbah Ten tidak pernah beranggapan bahwa antara agama dan sains adalah suatu hal yang bertentangan atau antitesis. Namun yang terjadi sebaliknya ia menganggap bahwa antara agama dan sains adalah suatu hal yang berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain. Hal ini dapat dilihat dari metaforanya yang terkenal. “Sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta.”
Menjadi hal yang umum bahwa mbah Ten tidak pernah menghadiri pelayanan agama dan tidak pernah berdoa di sinagog atau tempat-tempat ibadah dimanapun. Ia hanya mau menghadiri tempat-tempat semacam itu untuk ikut serta dalam kegiatan sosial. Bahkan mbah Ten berpesan dalam pesan terakhirnya untuk tidak menguburnya dalam tradisi Yahudi jika ia meninggal. Ia memilih untuk dikremasi dan ditebarkan abunya. Hal yang patut menjadi perhatian bahwa fakta ini menunjukkan bahwa mbah Ten tidak begitu memperdulikan ritual agama hingga akhir hayatnya pada tahun 1955.
Walaupun hingga kini saya masih kurang tahu dengan jelas Mbah Ten sebenarnya beragama apa atau lebih condong kemana. Setidaknya saya mengetahui sedikit hal bahwa walaupun ia tidak pernah mengindahkan aturan salah satu agama ia memiliki jiwa spiritual dan religiusitas yang unik. “Musik, alam dan Tuhan menjadi lebur dalam perasaan yang kompleks dalam diri mbah Ten.” Sejak kecil ia menerima pelajaran dari dua kitab yakni injil dan talmud. Saya tidak membayangkan bagaimana jika mbah Ten juga mempelajari dan memahami kitab suci yang lain, yakni Al-Quran.[]Delima Putih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar