“Sejarah
yang hakiki adalah menjadi anak-anak. Karena, menjadi anak-anak adalah sejarah
subjektif setiap orang, yang menjadi objektif karena semua orang mengalaminya.
Karenanya belajar dari sejarah sama dengan belajar dari masa kanak-kanak kita
atau dari proses menghadapi anak-anak yang hadir dihadapan kita.“MRA.
Teringat saat masih kecil duduk dibangku SD. Saya termasuk anak
yang aneh, saya lebih tertarik dengan buku bacaan apapun itu entah komik,
majalah, buku cerita dll. Namun tidak begitu tertarik dengan buku pelajaran.
Saya sentuh hanya ketika belajar atau mengerjakan pr saja. Jika saya sudah
menyentuh buku, bisa seharian gak ngapa-ngapain, yang saya lakukan hanyalah ngemong
buku, kemanapun pergi buku akan saya bawa. Padahal pada jaman itu
teman-teman sekolah saya tidak ada yang punya perilaku aneh seperti itu. Hal
ini membuat ibu saya jadi risih dan kadang marah-marah. Tapi saya cuek saja,
kalaupun dilarang saya tetap akan membaca secara sembunyi-sembunyi.
Selain punya hobi membaca, saya juga sangat menggilai menggambar.
Saya paling suka menggambar baju (bahasa kerennya mendesain baju). Sambil
berangan-angan besok kalau sudah besar pengen jadi desainer terkenal. Kalau
lagi kumat, saya hanya akan tekun untuk menggambar sampai saya punya buku
khusus untuk menuangkan imajinasi saya itu.
Sayangnya sang ibu tidak menyukainya. Marah-marah kalau saya hanya
menghabiskan waktu untuk itu. Menurutnya itu tidak bermanfaat dan
membuang-buang waktu saja. Karena memang ketika saya sudah hanyut dalam
aktivitas menyenang itu saya pasti jadi lupa waktu dan itu yang tidak disukai
ibu saya. Padahal saya sangat menikmatinya. Saya lebih menyukai kesenian,
membuat berbagai karya lebih mengasyikkan daripada harus duduk diam
mendengarkan guru mengajar. Daripada harus belajar mati-matian bergelut dengan
angka-angka yang hanya membuat saya jadi pusing. Kegiatan-kegiatan itulah yang
sampai saat ini masih terekam dalam otakku ketika saya masih di bangku SD. Ketika masih kecilpun saya suka berkhayal kadang ingin menjadi seorang ekonom yang kaya, pernah pula terobsesi menjadi seorang pembantu yang memakai baju lucu khas telenovela dan yang paling parah saya pernah sangat terobsesi menjadi kulkas. Entah apa yang dulu saya pikirkan hingga muncul pikiran gila itu.
Saya jadi teringat sebuah buku menarik karangan MRA yang berjudul
Cahaya Rumah Kita. Di dalam bukunya disebutkan tentang salah satu sekolah unik.
Sekolah milik seorang jepang yang bernama Kobayashi. Toto chan adalah salah
seorang anak didik di sekolah tersebut. Toto chan selalu berbuat onar di
sekolahnya yang dulu hingga ia dikeluarkan dan bersekolah di sekolah
Tomoe-Gakuen. Sekolah Toto-Chan yang mengantarkannya pada kesuksesan. Ia dikeluarkan
dari sekolahnya yang dulu karena selalu berimajinasi aneh hingga berbuat onar. Pada
detik ini ia berhayal menjadi seorang mata-mata namun pada detik berikutnya
berubah ingin menjadi tukang penjual
karcis kereta api.
Di sekolah tersebut lebih menekankan tentang bentuk pengajaran
daripada hanya sekedar mengejar nilai. Sekolah ini selalu melakukan kegiatan
belajar mengajar yang sebelumnya membebaskan para siswanya untuk melakukan
kegiatan apapun yang disukainya. Entah itu membaca, menulis atau apa saja. Intinya
sekolah tersebut berbeda dari sekolah kebanyakan. Siswanya dibuat senyaman
mungkin serta membuat mereka bergairah dan bersemangat dalam belajar karena
setiap murid dibebaskan untuk belajar apapun yang disukainya. Guru sebagai
fasilitator. Sekolah Toto-Chan ini tidak hanya mengajarkan tentang teori dan
materi belaka namun juga mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan. Saya jadi
membayangkan bagaimana menyenangkannya jika bisa bersekolah di sekolah Toto-Chan.
Ketika mendidik anak, memang tidak hanya cukup dengan penguasaan materi
saja namun seperti yang dikatakan Miranda di akhir bukunya ia menegaskan
tentang betapa pentingnya untuk selalu menyempatkan berjalan kaki dengan anak
kesekolah sambil bercerita tentang matahari, burung, rerumputan, dan Tuhan,
kemudian bernyanyi, di pucuk pohon cemara. Dengan ini hubungan kedekatan
emosional ibu dan anak secara otomatis akan terbentuk. Karena seorang anak akan
merasa disayangi dan dihargai ketika ia didengarkan dan diperhatikan. Apapun yang
ia katakan, sekacau apapun penuturannya ketika bercerita. Maka dengarkanlah,
sambil sesekali tersenyum dan bertanya. Itu akan membuatnya senang dan merasa
dihargai sebagai seorang anak.
Mendidik anak memang
tidak hanya identik dengan mengajari membaca, menulis, dan menghafal
buku-buku., tetapi juga membaca tanda-tanda alam sebagai media penyampaian
ilham dari Tuhan. Anak tidak hanya dididik untuk mengerti tetapi juga
menghayati. []DP
09.06 PM
Malang,11 Agustus 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar