Kamis, 09 Agustus 2012

Pangeran Kecil




Pagi itu seperti biasa sesudah sholat shubuh saya bersiap-siap untuk kerumah saudara didekat rumah. Sejak bulek melahirkan anak ketiganya, saya seperti terkena sihir. Setiap waktu kosong yang saya punya pasti selalu saya habiskan untuk pergi kerumah bulek hanya untuk bertemu dan dapat menggendong si adek bayi.

Karena hari masih gelap maka saya berangkat bersama Bapak yang saat itu sedang berolahraga jalan-jalan pagi terkadang juga ditemani emak. Hari masih petang. Rumahnya sudah tidak dikunci karena palek pergi bekerja sejak jam tiga dini hari. Saya tunggui adek bayinya, lalu sang ibu segera sholat. Adek bayi lalu saya gendong, serta dipakaikannya jamper atau jaket dan kaos kaki agar tidak kedinginan. Segera saja saya ajak jalan-jalan pagi bersama bapak.

Begitu aktivitasku setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, saat itu saya masih duduk dikelas satu SMA. Padahal adek bayi masih kecil bahkan belum kuat menyangga kepalanya, Aidil namanya. Sehabis jalan-jalan saya kembalikan aidil kerumah dan saya membantu mandikan serta memakaikan popok serta baju dan perlengkapan bayi lainnya. Kegiatan memandikan bayi ini menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan. Merasakan kulit lembutnya, membersihkan tubuhnya dengan sabun serta memberi shampo dan membersihkan kulit kepala serta rambutnya. Berlanjut dengan memasangkan popok dan tetek bengek lainnya.  Hal ini bukannya membuatku capek tetapi malah menjadikanku ketagihan.

Tak ada paksaan, bahkan saya rela menggendongnya berjam-jam sambil menyanyikan lagu wajibnya sebelum tidur ”gundul-gundul pacul”.  Terkadang adek idil senang dibacakan cerita-cerita yang ada didalam koleksi majalahku jaman dahulu. Melihatnya tertawa cekikikan membuatku semakin bersemangat bercerita. Saya tersihir oleh sosok pangeran kecil ini, adek bayi yang ganteng, lucu dan menggemaskan. Tak jarang pula saya mendongkol dan terbakar api cemburu yang luar biasa saat saya kerumah bulek untuk menjemputnya ternyata adek bayi sudah diajak orang. Akhirnya yang saya lakukan hanyalah menunggu dirumahnya sampai ia diantar pulang.

Semua tingkahnya membuatku mabuk kepayang. Selalu merindunya disetiap detik waktu. Entah itu senyumnya yang unyuk2, tawanya yang cekikan, tangisnya, tampangnya yang lucu dan menggemaskan saat saya suapi bubur atau makanan bayi. Semuanya membuatku hanya memalingkan wajah kepada si kecil ini. Setiap saat ingin mencium dan menggigit pipinya yang tembem karena gemes.

Setiap hari adek bayi selalu saya ajak kerumah, jika bukan saya yang mengajak pasti bapak, emak atau kakak perempuan saya. Semuanya menyayangi mahluk kecil ini. Bahkan sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga, seperti anak sendiri. Rasa sayang terhadap makhluk kecil ini tumbuh didalam tiap jiwa-jiwa kami.

Secara tidak langsung saya dan keluarga membantu bulek ngemong adek bayi. Secara tidak langsung pun juga mengaktifkan fungsi keluarga batih dalam membantu sanak keluarga yang sedang mempunyai bayi.  Saya teringat tulisan menarik dalam sebuah buku karya MRA yang berkaitan dengan hal ini. Disalah satu bagiannya menyebutkan tentang fungsi pengasuhan dalam keluarga ada yang namanya keluarga batih dan keluarga inti.  Dimana didalam keluarga inti terdiri ayah ibu dan anak. Sedangkan keluarga batih terdiri dari selain keluarga inti, bisa terdiri dari mertua, bude, atau sanak saudara yang lain.

Saat ini peran serta anggota-anggota keluarga diluar ayah ibu dan anak semakin jarang terlihat apalagi dikota-kota besar. Masih dalam buku yang sama di contohkan bahwa di Jakarta sekitar 65-79 persen bentuk keluarga adalah keluarga inti yang tidak memiliki kespontanan peran serta seperti dalam keluarga batih. Bagi keluarga inti, terlalu jauh dan lama jika melibatkan anggota-anggota keluarga lain dipandang mengurangi nilai kemandirian keluarga.

Tidak seperti didaerah yang masih tergolong ndeso fungsi keluarga batih ini masih sangat kental terasa. Sebagaimana jika ada sanak keluarga yang melahirkan, secara spontan dan otomatis fungsi keluarga batih sebagai penggerak kedua dalam melakukan pekerjaan ibu rumah tangga pun untuk membantu sang ibu yang sehabis melahirkan pun akan teraktivasi. Entah itu membantu untuk mencucikan popok, ngemong dan nggendong bayi, mencuci, membersihkan rumah atau pekerjaan yang lainnya, sehingga sang ibupun dapat melakukan pekerjaan rumah tangga yang lain tanpa mengesampingkan tanggungjawabnya dalam menciptakan hubungan persusuan yang paling sempurna dengan bayinya.

Dalam hal ini pun akan semakin memudahkan sang ibu serta meringankan beban tugas kerumahtanggaannya yang lain. Menurut saya sudah selayaknya keluarga batih dilestarikan sebagai perwujudan kedekatan hubungan emosional dengan anggota keluarga yang lain. Sebagai bentuk penyempurnaan kesinambungan aktivitas intra rumah tangga yang dikembangkan secara berganda. Selain asas kekeluargaan hal ini pun akan memudahkan para ibu terutama ibu muda dalam menjalankan tugas barunya sebagai seorang ibu.Terutama dalam menciptakan hubungan persusuan dengan bayinya yang jika kita lihat semakin jarang adanya hubungan kedekatan ibu dengan bayinya.[]DP

09.41 PM
Malang, 9 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar