Pagi
itu seperti biasa sesudah sholat shubuh saya bersiap-siap untuk kerumah saudara
didekat rumah. Sejak bulek melahirkan anak ketiganya, saya seperti terkena
sihir. Setiap waktu kosong yang saya punya pasti selalu saya habiskan untuk
pergi kerumah bulek hanya untuk bertemu dan dapat menggendong si adek bayi.
Karena
hari masih gelap maka saya berangkat bersama Bapak yang saat itu sedang berolahraga
jalan-jalan pagi terkadang juga ditemani emak. Hari masih petang. Rumahnya
sudah tidak dikunci karena palek pergi bekerja sejak jam tiga dini hari. Saya
tunggui adek bayinya, lalu sang ibu segera sholat. Adek bayi lalu saya gendong,
serta dipakaikannya jamper atau jaket dan kaos kaki agar tidak kedinginan.
Segera saja saya ajak jalan-jalan pagi bersama bapak.
Begitu
aktivitasku setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, saat itu saya masih duduk
dikelas satu SMA. Padahal adek bayi masih kecil bahkan belum kuat menyangga
kepalanya, Aidil namanya. Sehabis jalan-jalan saya kembalikan aidil kerumah dan
saya membantu mandikan serta memakaikan popok serta baju dan perlengkapan bayi
lainnya. Kegiatan memandikan bayi ini menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan.
Merasakan kulit lembutnya, membersihkan tubuhnya dengan sabun serta memberi
shampo dan membersihkan kulit kepala serta rambutnya. Berlanjut dengan
memasangkan popok dan tetek bengek lainnya.
Hal ini bukannya membuatku capek tetapi malah menjadikanku ketagihan.
Tak
ada paksaan, bahkan saya rela menggendongnya berjam-jam sambil menyanyikan lagu
wajibnya sebelum tidur ”gundul-gundul pacul”. Terkadang adek idil senang dibacakan
cerita-cerita yang ada didalam koleksi majalahku jaman dahulu. Melihatnya
tertawa cekikikan membuatku semakin bersemangat bercerita. Saya tersihir oleh
sosok pangeran kecil ini, adek bayi yang ganteng, lucu dan menggemaskan. Tak
jarang pula saya mendongkol dan terbakar api cemburu yang luar biasa saat saya
kerumah bulek untuk menjemputnya ternyata adek bayi sudah diajak orang.
Akhirnya yang saya lakukan hanyalah menunggu dirumahnya sampai ia diantar
pulang.
Semua
tingkahnya membuatku mabuk kepayang. Selalu merindunya disetiap detik waktu. Entah
itu senyumnya yang unyuk2, tawanya yang cekikan, tangisnya, tampangnya yang
lucu dan menggemaskan saat saya suapi bubur atau makanan bayi. Semuanya
membuatku hanya memalingkan wajah kepada si kecil ini. Setiap saat ingin mencium
dan menggigit pipinya yang tembem karena gemes.
Setiap
hari adek bayi selalu saya ajak kerumah, jika bukan saya yang mengajak pasti
bapak, emak atau kakak perempuan saya. Semuanya menyayangi mahluk kecil ini.
Bahkan sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga, seperti anak sendiri.
Rasa sayang terhadap makhluk kecil ini tumbuh didalam tiap jiwa-jiwa kami.
Secara
tidak langsung saya dan keluarga membantu bulek ngemong adek bayi. Secara
tidak langsung pun juga mengaktifkan fungsi keluarga batih dalam membantu sanak
keluarga yang sedang mempunyai bayi. Saya
teringat tulisan menarik dalam sebuah buku karya MRA yang berkaitan dengan hal
ini. Disalah satu bagiannya menyebutkan tentang fungsi pengasuhan dalam
keluarga ada yang namanya keluarga batih dan keluarga inti. Dimana didalam keluarga inti terdiri ayah ibu
dan anak. Sedangkan keluarga batih terdiri dari selain keluarga inti, bisa
terdiri dari mertua, bude, atau sanak saudara yang lain.
Saat
ini peran serta anggota-anggota keluarga diluar ayah ibu dan anak semakin
jarang terlihat apalagi dikota-kota besar. Masih dalam buku yang sama di
contohkan bahwa di Jakarta sekitar 65-79 persen bentuk keluarga adalah keluarga
inti yang tidak memiliki kespontanan peran serta seperti dalam keluarga batih. Bagi
keluarga inti, terlalu jauh dan lama jika melibatkan anggota-anggota keluarga
lain dipandang mengurangi nilai kemandirian keluarga.
Tidak
seperti didaerah yang masih tergolong ndeso fungsi keluarga batih ini
masih sangat kental terasa. Sebagaimana jika ada sanak keluarga yang melahirkan,
secara spontan dan otomatis fungsi keluarga batih sebagai penggerak kedua dalam
melakukan pekerjaan ibu rumah tangga pun untuk membantu sang ibu yang sehabis
melahirkan pun akan teraktivasi. Entah itu membantu untuk mencucikan popok,
ngemong dan nggendong bayi, mencuci, membersihkan rumah atau pekerjaan yang
lainnya, sehingga sang ibupun dapat melakukan pekerjaan rumah tangga yang lain
tanpa mengesampingkan tanggungjawabnya dalam menciptakan hubungan persusuan
yang paling sempurna dengan bayinya.
Dalam
hal ini pun akan semakin memudahkan sang ibu serta meringankan beban tugas
kerumahtanggaannya yang lain. Menurut saya sudah selayaknya keluarga batih
dilestarikan sebagai perwujudan kedekatan hubungan emosional dengan anggota
keluarga yang lain. Sebagai bentuk penyempurnaan kesinambungan aktivitas intra
rumah tangga yang dikembangkan secara berganda. Selain asas kekeluargaan hal
ini pun akan memudahkan para ibu terutama ibu muda dalam menjalankan tugas
barunya sebagai seorang ibu.Terutama dalam menciptakan
hubungan persusuan dengan bayinya yang jika kita lihat semakin jarang adanya
hubungan kedekatan ibu dengan bayinya.[]DP
09.41 PM
Malang, 9 Agustus 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar