Jumat, 07 September 2012

“BODOH” Ajari Aku Tentang Banyak Hal Yang Tak Kuketahui


Sejak sore tadi Nindya menunggu Rama dikostnya. Rama adalah pacar pertama gadis pendiam ini. Mereka bertemu tak sengaja di sebuah forum. Diakui atau tidak sejak pertama kali Rama angkat suara mengemukakan pendapatnya, Nindya seperti tak bisa mengalihkan perhatiannya pada Rama. Gadis itu begitu terpesona dengan kata-kata yang keluar dari mulut Rama. Gelagat ini langsung ditangkap dan ditanggapi oleh Rama. Secara sengaja ia mengisi nomor hapenya ditempat yang salah, ia mengisinya dikolom no hp Nindya. Ah, lelaki memang punya seribu cara untuk mendekati wanita. Apalagi jika sejak pertama wanitanya sudah menunjukkan gelagat yang berbeda.

Nindya memang begitu polos dan lugu atau bodoh? Sejak dari forum itu dua hari kemudian akhirnya mereka jadian. Tak pernah bertemu. Hanya lewat sms dan kadang-kadang telpon. Kadang pun tak setiap hari smsan. Baru beberapa waktu akhirnya mereka hampir putus hanya gara-gara Nindya tidak mau mengatakan kata sayang. Lucu sekali, hanya karena itu Rama mutung dan mengancam  putus. Akhirnya sore itu Rama berencana untuk berkunjung ke tempat Nindya.

Selepas maghrib Rama datang dengan menggunakan motor bututnya. Akhirnya mereka berdua ngobrol didepan rumah. Entah kenapa Nindya hanya diam tak bicara. Hening. Senyap. Diam. Akhirnya Rama bicara untuk mencairkan suasana. Rama sepertinya jengkel menghadapi Nindya yang hanya diam dan tersenyum.

“Rasanya daritadi saya terus yang ngomong, gantian dong, sekarang sampeyan yang ngomong.” Kata Rama

“He,,,iya mas.” Nindya hanya tersenyum sambil mengangguk. Nindya bingung harus berkata apa. Ia terlihat kikuk.

“Oh iya boleh pinjam hape sampeyan? ” kata Rama.

“Iya, ini mas.” Kata Nindya

Dibukalah hape Nindya. Dilihat foto-foto yang ada di dalamnya. Mulai foto jaman-jaman SMA. Foto bersama teman-temannya. Fotonya tidak memakai kerudung. Ia memang baru saja lulus dan baru memasuki dunia perkuliahan. Tidak mengherankan jika di album fotonya terdapat banyak foto bersama teman-teman SMAnya.

“Ini foto sampeyan?” tanyanya

“Iya,” kata Nindya sambil tersenyum kikuk.

“Kenapa sampeyan ijinkan saya membuka hape sampeyan? Padahal ini kan harusnya menjadi privasi sampeyan. Kalau saya, saya tidak akan mengijinkan karena ini merupakan privasi.” Kata Rama sambil memandang Nindya dan menaruh hapenya di meja yang memisahkan tempat duduk mereka. Saat itu Nindya hanya diam dan menunduk. Ia begitu tercengang dengan orang yang ada didepannya. Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu? Bukannya tadi yang ngomong pinjam dia sendiri? Pikir Nindya. Mendongkol sekali Nindya saat itu. Ingin rasanya ia menangis. Pasti saat ini Rama benar-benar menganggapku gadis bodoh yang tidak bisa menjaga diri. Ah bodohnya aku. Batin Nindya saat itu.

 “Sampeyan masih perlu belajar banyak hal. Pernah baca manajemen kalbu? Kalau belum. Peyan perlu membacanya,” kata Rama menambahi.

Ah rasanya aku seperti ditelanjangi, aku memang bodoh. Trus kamu mau apa? Aku memang gadis polos dan bodoh yang masih harus banyak belajar. Kalau gak mau sama aku yaudah gak papa. Kenapa harus dengan cara seperti ini? Batin Nindya, sayangnya kata itu hanya tertahan di mulutnya saja.
Rama kembali memulai pembicaraan.

“Kita harus bisa memilih antara kebutuhan dan keinginan, karena kita bisa diperbudak oleh keinginan. Misalnya saja saya membeli sebuah helikopter dan jika itu memang menjadi sebuah kebutuhan maka tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada saya membeli sepuluh sandal jepit yang hanya saya beli karena saya ingin membelinya tidak didasari oleh sebuah kebutuhan yang mendesak.” Kata Rama. Nindya hanya tersenyum dan diam.

“Kenapa daritadi sampeyan hanya diam saja dan tersenyum? Manusia itu membutuhkan orang lain bahkan untuk tersenyum pun membutuhkan orang lain. Jangan sampai kita dikira menjadi orang gila hanya karena tersenyum sendiri seperti orang-orang yang jalan gak pakai baju dijalanan itu,” lanjut Rama
Jleb!Haduw salah lagi, batin Nindya.

“Oh iya disekitar sini ada ada jual minum tidak? Aku haus pengen minum. Kata Rama.

“Biar aku ambilkan didalam saja mas.” Sahut Nindya.

“Nggak usah biar aku beli sendiri saja, ehm. Kamu antar aku ya beli ditoko dekat-dekat sini.” Kata Rama.

“Iya, baiklah, ” sahut Nindya

Akhirnya mereka berjalan berdua menembus malam mencari toko minuman. Sambil berjalan Rama bertanya pada Nindya.

“Kenapa sampeyan mau saya ajak berjalan jalan gini. Inikan sudah malam?” Tanyanya.

Ya Allah apa aku salah lagi? Kenapa dia bertanya seperti itu? Heloo ini kan dekat sama kostku, lagian juga baru jam setengah delapan. Batin Nindya.

“Ya kan gak papa mas, masih jam segini belum larut malam banget lagian kan cuma dekat. ”Jawabnya.

Sumpah, nyebelin banget ni orang. Hiks pengen nangis rasanya. Dia cuman ngetes terus dari tadi. 
Dan aku, malah terjebak terus daritadi. Awas ya, besok gak bakalan kayak gini lagi, hiks.. Kata Nindya dalam hati.

***

Sejak saat itu Nindya tak pernah bisa melupakan malam memalukan tersebut. Malam dimana ia ditelanjangi habis-habisan. Malam dimana ia ditonjok-tonjok hingga babak belur. Dan sejak itu pula Rama menghilang entah kemana. Ia pergi meninggalkan banyak pertanyaan. Ia sempat menunjukkan sebuah bendera warna putih dengan tulisan arab berwarna hitam didalamnya. Baru beberapa tahun kemudian Nindya mengetahui bendera apa itu. 

Sejak itu ia belajar banyak. Ia belajar bagaimana seharusnya sikap seorang perempuan dalam menjaga dirinya. Ia belajar tentang sebuah area privat yang mungkin tak boleh dilanggar oleh siapapun. Ia belajar banyak. 

Dan sejak malam itu ia tak pernah melihat Rama lagi. Baru beberapa tahun kemudian ia bertemu lagi dengannya. Sayangnya semua sudah berubah, semua sudah berbeda. Ia bukan lagi gadis kecil dan bodoh seperti dulu lagi. Ia bukan lagi gadis bodoh yang mudah ditipu dan di tes kadar kepintarannya.

Semua sudah berubah mas, aku bukan lagi yang dulu. Seperti katamu, aku telah banyak belajar dan masih akan terus belajar. Maafkan aku, aku tak bisa seperti dulu.[]DP

Malang, 7 september 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar