Sejak sore tadi Nindya menunggu
Rama dikostnya. Rama adalah pacar pertama gadis pendiam ini. Mereka bertemu tak
sengaja di sebuah forum. Diakui atau tidak sejak pertama kali Rama angkat suara
mengemukakan pendapatnya, Nindya seperti tak bisa mengalihkan perhatiannya pada
Rama. Gadis itu begitu terpesona dengan kata-kata yang keluar dari mulut Rama. Gelagat
ini langsung ditangkap dan ditanggapi oleh Rama. Secara sengaja ia mengisi
nomor hapenya ditempat yang salah, ia mengisinya dikolom no hp Nindya. Ah, lelaki
memang punya seribu cara untuk mendekati wanita. Apalagi jika sejak pertama
wanitanya sudah menunjukkan gelagat yang berbeda.
Nindya memang begitu polos dan
lugu atau bodoh? Sejak dari forum itu dua hari kemudian akhirnya mereka jadian.
Tak pernah bertemu. Hanya lewat sms dan kadang-kadang telpon. Kadang pun tak
setiap hari smsan. Baru beberapa waktu akhirnya mereka hampir putus hanya gara-gara
Nindya tidak mau mengatakan kata sayang. Lucu sekali, hanya karena itu Rama mutung
dan mengancam putus. Akhirnya sore itu
Rama berencana untuk berkunjung ke tempat Nindya.
Selepas maghrib Rama datang
dengan menggunakan motor bututnya. Akhirnya mereka berdua ngobrol didepan
rumah. Entah kenapa Nindya hanya diam tak bicara. Hening. Senyap. Diam. Akhirnya
Rama bicara untuk mencairkan suasana. Rama sepertinya jengkel menghadapi Nindya
yang hanya diam dan tersenyum.
“Rasanya daritadi saya terus yang
ngomong, gantian dong, sekarang sampeyan yang ngomong.” Kata Rama
“He,,,iya mas.” Nindya hanya
tersenyum sambil mengangguk. Nindya bingung harus berkata apa. Ia terlihat
kikuk.
“Oh iya boleh pinjam hape sampeyan?
” kata Rama.
“Iya, ini mas.” Kata Nindya
Dibukalah hape Nindya. Dilihat foto-foto
yang ada di dalamnya. Mulai foto jaman-jaman SMA. Foto bersama teman-temannya. Fotonya
tidak memakai kerudung. Ia memang baru saja lulus dan baru memasuki dunia
perkuliahan. Tidak mengherankan jika di album fotonya terdapat banyak foto bersama
teman-teman SMAnya.
“Ini foto sampeyan?”
tanyanya
“Iya,” kata Nindya sambil
tersenyum kikuk.
“Kenapa sampeyan ijinkan saya
membuka hape sampeyan? Padahal ini kan harusnya menjadi privasi sampeyan.
Kalau saya, saya tidak akan mengijinkan karena ini merupakan privasi.” Kata
Rama sambil memandang Nindya dan menaruh hapenya di meja yang memisahkan tempat
duduk mereka. Saat itu Nindya hanya diam dan menunduk. Ia begitu tercengang
dengan orang yang ada didepannya. Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti
itu? Bukannya tadi yang ngomong pinjam dia sendiri? Pikir Nindya. Mendongkol
sekali Nindya saat itu. Ingin rasanya ia menangis. Pasti saat ini Rama
benar-benar menganggapku gadis bodoh yang tidak bisa menjaga diri. Ah bodohnya
aku. Batin Nindya saat itu.
“Sampeyan masih perlu belajar banyak
hal. Pernah baca manajemen kalbu? Kalau belum. Peyan perlu membacanya,”
kata Rama menambahi.
Ah rasanya aku seperti ditelanjangi,
aku memang bodoh. Trus kamu mau apa? Aku memang gadis polos dan bodoh yang
masih harus banyak belajar. Kalau gak mau sama aku yaudah gak papa. Kenapa harus
dengan cara seperti ini? Batin Nindya, sayangnya kata itu hanya tertahan di
mulutnya saja.
Rama kembali memulai pembicaraan.
“Kita harus bisa memilih antara
kebutuhan dan keinginan, karena kita bisa diperbudak oleh keinginan. Misalnya saja
saya membeli sebuah helikopter dan jika itu memang menjadi sebuah kebutuhan
maka tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada saya membeli sepuluh sandal jepit
yang hanya saya beli karena saya ingin membelinya tidak didasari oleh sebuah
kebutuhan yang mendesak.” Kata Rama. Nindya hanya tersenyum dan diam.
“Kenapa daritadi sampeyan hanya
diam saja dan tersenyum? Manusia itu membutuhkan orang lain bahkan untuk
tersenyum pun membutuhkan orang lain. Jangan sampai kita dikira menjadi orang
gila hanya karena tersenyum sendiri seperti orang-orang yang jalan gak pakai
baju dijalanan itu,” lanjut Rama
Jleb!Haduw salah lagi, batin
Nindya.
“Oh iya disekitar sini ada ada
jual minum tidak? Aku haus pengen minum.” Kata Rama.
“Biar aku ambilkan didalam saja mas.”
Sahut Nindya.
“Nggak usah biar aku beli sendiri
saja, ehm. Kamu antar aku ya beli ditoko dekat-dekat sini.” Kata Rama.
“Iya, baiklah, ” sahut Nindya
Akhirnya mereka berjalan berdua
menembus malam mencari toko minuman. Sambil berjalan Rama bertanya pada Nindya.
“Kenapa sampeyan mau saya
ajak berjalan jalan gini. Inikan sudah malam?” Tanyanya.
Ya Allah apa aku salah lagi? Kenapa
dia bertanya seperti itu? Heloo ini kan dekat sama kostku, lagian juga baru jam
setengah delapan. Batin Nindya.
“Ya kan gak papa mas, masih jam
segini belum larut malam banget lagian kan cuma dekat. ”Jawabnya.
Sumpah, nyebelin banget ni orang.
Hiks pengen nangis rasanya. Dia cuman ngetes terus dari tadi.
Dan aku, malah
terjebak terus daritadi. Awas ya, besok gak bakalan kayak gini lagi, hiks.. Kata
Nindya dalam hati.
***
Sejak saat itu Nindya tak pernah
bisa melupakan malam memalukan tersebut. Malam dimana ia ditelanjangi
habis-habisan. Malam dimana ia ditonjok-tonjok hingga babak belur. Dan sejak
itu pula Rama menghilang entah kemana. Ia pergi meninggalkan banyak pertanyaan.
Ia sempat menunjukkan sebuah bendera warna putih dengan tulisan arab berwarna
hitam didalamnya. Baru beberapa tahun kemudian Nindya mengetahui bendera apa
itu.
Sejak itu ia belajar banyak. Ia belajar bagaimana seharusnya sikap seorang
perempuan dalam menjaga dirinya. Ia belajar tentang sebuah area privat yang
mungkin tak boleh dilanggar oleh siapapun. Ia belajar banyak.
Dan sejak malam
itu ia tak pernah melihat Rama lagi. Baru beberapa tahun kemudian ia bertemu
lagi dengannya. Sayangnya semua sudah berubah, semua sudah berbeda. Ia bukan
lagi gadis kecil dan bodoh seperti dulu lagi. Ia bukan lagi gadis bodoh yang
mudah ditipu dan di tes kadar kepintarannya.
Semua sudah berubah mas, aku
bukan lagi yang dulu. Seperti katamu, aku telah banyak belajar dan masih akan
terus belajar. Maafkan aku, aku tak bisa seperti dulu.[]DP
Malang, 7 september 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar