Sabtu, 29 September 2012

“PENJAJAHAN”


           Sore itu seperti biasa, saya duduk sambil menjaga buku-buku yang berjejer dan bertumpuk-tumpuk di rak. Sambil menikmati sajian program acara di TV layar datar yang berada tak jauh dari tempat dudukku. Biasanya saya tak begitu tertarik untuk menonton acara televisi. Entah kenapa kali ini saya tergelitik untuk melihatnya. 
Program acara di salah satu stasiun TV nasional menayangkan adanya praktek jual beli pulau di internet. Terutama yang disorot adalah berbagai pulau yang ada di dunia ternyata banyak dikuasai oleh para selebriti papan atas. Berita ini seakan menjadi berita hot yang wajib untuk dilihat.

Ada dua pulau di Indonesia yang ramai dilakukan pelelangan dengan harga miliyaran rupiah. Hal ini diketahui karena pelelangannya menggunakan media internet. Para peminatnya berasal dari luar negeri.  Sebenarnya tidak begitu tepat jika dikatakan sebagai kegiatan jual beli pulau, yang lebih tepat adalah pembelian hak guna atas pulau tersebut. Namun belum jelas berapa lama jangka waktu penggunaannya. Apakah sepuluh tahun, dua puluh tahun atau bahkan selamanya.
Lucunya dalam program acara yang dikemas dengan agak lebay dan mendramatisir ini sempat memperlihatkan artis-artis ibukota dengan berbagai pendapatnya.

“Menurut saya, jika pulau yang ada di Indonesia dijual ke pihak asing. Ini sama saja dengan penjajahan. Seharusnya pengelolaan pulau yang ada di Indonesia ini harus dikelola sendiri oleh negara bukan yang lain. Apalagi oleh asing yang nantinya pasti akan dieksploitasi dan dimanfaatkan, ” ujar artis A yang tak mau disebut namanya.

“Saya kira harga pulau sampai berapa triliyun ternyata hanya miliyaran saja. Murah sekali menjual dengan harga segitu. Bahkan nilai itu lebih sedikit daripada uang yang digondol para koruptor. ”

“Saya rasa ini tidak boleh dibiarkan. Bagaimana pun negara harus bertindak dan mengelola sendiri pulau-pulau itu. Ini kan tidak ada bedanya dengan praktek penjajahan. Mereka menguasai dan mengeksploitasi pulau-pulau milik kita.”

Agak aneh jika mengetahui bagaimana respon terhadap permasalahan tersebut dari sebagian orang di negeri ini, terutama para selebriti diatas. Ternyata mereka mengecam tindakan ini. Karena akan mengganggu eksistensi dan stabilitas bangsa, sebab dianggap sebagai bentuk penjajahan gaya baru. Saya pun setuju namun seandainya saja mereka mau sedikit saja membuka mata bahwa bangsa ini masih dijajah. Mau sedikit saja peka bahwa sesungguhnya bentuk penjajahan tersebut sudah sedemikian parahnya mendera. Mungkin bentuknya saja yang berbeda, jika dulu melibatkan fisik namun saat ini bentuk penjajahannya lebih halus dan tidak kentara.

Lucu memang jika berita tersebut diekspos secara berlebihan dan ini dianggap sebagai sebuah bentuk penjajahan yang harus ditindak. Memang tidak salah, namun jika kita perhatikan masih banyak bentuk penjajahan lain yang lebih besar. Penjualan hak guna pulau tersebut pada dasarnya memang sangat lumrah terjadi. Karena pada hakekatnya saat ini negara hanya berorientasi pada materi. Bentuk penjajahan lain yang lebih penting untuk diketahui masyarakat luas malah tidak tersentuh media.

Tengoklah sumberdaya alam kita, berapa persen yang kuasai oleh negara? Baik itu gas alam, kilang minyak, batubara, maupun pertambangan yang lainnya. Hampir sebagian besar telah dikuasai oleh pihak asing. Masihkah mau menutup mata dan pura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya kita ini sedang dijajah?

Gunung emas kita yang ada di papua, dijarah habis-habisan oleh pihak asing hingga kini ia menjelma menjadi sebuah lembah yang mengenaskan. Ironisnya dari hasil penjarahan tersebut hanya satu persennya saja yang masuk kekantong pemerintah, sedangkan sisanya masuk semua kekantong asing. Dan saat ini penjajah berkedok “tuan besar yang baik hati” itu sedang berupaya untuk memperpanjang ijin penjarahannya atas harta karun emas yang ada di tanah Papua hingga tahun 2041. Dan seperti yang sudah-sudah pemerintah hanya bisa sendiko dawuh pada majikannya tersebut.

Tidak hanya itu penjajahan dalam bentuk lain pun masih sangat banyak. Misalnya saja pemberian utang atau pinjaman sejumlah dana oleh IMF, Bank dunia atau lembaga keuangan yang lainnya. Utang digelontorkan dalam jumlah besar pada negara-negara berkembang dengan dalih membantu. Padahal dengan utang tersebut hanya membantu dalam jangka pendek namun akibat jangka panjangnya sungguh akan memberatkan. Ia akan masuk dalam pusaran utang yang berkepanjangan dengan sejumlah bunga yang harus dibayar. Dengan pinjaman dana ini pihak pemberi dana secara tidak langsung dapat ikut mengontrol apa yang ada di dalam  negara tersebut. hampir semua negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin telah terjerat praktek utang tersebut.

Tidak hanya dalam bidang ekonomi saja namun hampir segala bidang telah ada praktek penjajahan. Bahkan dalam hal sejarah pun tidak luput dari penjajahan gaya baru ini. Banyak sejarah yang telah dikaburkan bahkan dibelokkan. Semua ranah sudah terjamah penjajahan gaya baru ini, bahkan mulai dari makanan, hiburan serta tren mode saat ini. Atau yang biasa disebut 3F yakni food, fun, fashion..(bersambung)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar