Sore itu seperti
biasa, saya duduk sambil menjaga buku-buku yang berjejer dan bertumpuk-tumpuk
di rak. Sambil menikmati sajian program acara di TV layar datar yang berada tak
jauh dari tempat dudukku. Biasanya saya tak begitu tertarik untuk menonton
acara televisi. Entah kenapa kali ini saya tergelitik untuk melihatnya.
Program acara di
salah satu stasiun TV nasional menayangkan adanya praktek jual beli pulau di
internet. Terutama yang disorot adalah berbagai pulau yang ada di dunia
ternyata banyak dikuasai oleh para selebriti papan atas. Berita ini seakan
menjadi berita hot yang wajib untuk dilihat.
Ada dua pulau di
Indonesia yang ramai dilakukan pelelangan dengan harga miliyaran rupiah. Hal
ini diketahui karena pelelangannya menggunakan media internet. Para peminatnya
berasal dari luar negeri. Sebenarnya
tidak begitu tepat jika dikatakan sebagai kegiatan jual beli pulau, yang lebih
tepat adalah pembelian hak guna atas pulau tersebut. Namun belum jelas berapa
lama jangka waktu penggunaannya. Apakah sepuluh tahun, dua puluh tahun atau
bahkan selamanya.
Lucunya dalam
program acara yang dikemas dengan agak lebay dan mendramatisir ini
sempat memperlihatkan artis-artis ibukota dengan berbagai pendapatnya.
“Menurut saya, jika pulau yang ada
di Indonesia dijual ke pihak asing. Ini sama saja dengan penjajahan. Seharusnya
pengelolaan pulau yang ada di Indonesia ini harus dikelola sendiri oleh negara
bukan yang lain. Apalagi oleh asing yang nantinya pasti akan dieksploitasi dan
dimanfaatkan, ” ujar artis A yang tak mau disebut namanya.
“Saya kira harga pulau sampai
berapa triliyun ternyata hanya miliyaran saja. Murah sekali menjual dengan
harga segitu. Bahkan nilai itu lebih sedikit daripada uang yang digondol para
koruptor. ”
“Saya rasa ini tidak boleh
dibiarkan. Bagaimana pun negara harus bertindak dan mengelola sendiri
pulau-pulau itu. Ini kan tidak ada bedanya dengan praktek penjajahan. Mereka
menguasai dan mengeksploitasi pulau-pulau milik kita.”
Agak aneh jika
mengetahui bagaimana respon terhadap permasalahan tersebut dari sebagian orang
di negeri ini, terutama para selebriti diatas. Ternyata mereka mengecam
tindakan ini. Karena akan mengganggu eksistensi dan stabilitas bangsa, sebab
dianggap sebagai bentuk penjajahan gaya baru. Saya pun setuju namun seandainya
saja mereka mau sedikit saja membuka mata bahwa bangsa ini masih dijajah. Mau
sedikit saja peka bahwa sesungguhnya bentuk penjajahan tersebut sudah
sedemikian parahnya mendera. Mungkin bentuknya saja yang berbeda, jika dulu melibatkan
fisik namun saat ini bentuk penjajahannya lebih halus dan tidak kentara.
Lucu memang jika
berita tersebut diekspos secara berlebihan dan ini dianggap sebagai sebuah
bentuk penjajahan yang harus ditindak. Memang tidak salah, namun jika kita
perhatikan masih banyak bentuk penjajahan lain yang lebih besar. Penjualan hak
guna pulau tersebut pada dasarnya memang sangat lumrah terjadi. Karena pada
hakekatnya saat ini negara hanya berorientasi pada materi. Bentuk penjajahan
lain yang lebih penting untuk diketahui masyarakat luas malah tidak tersentuh
media.
Tengoklah
sumberdaya alam kita, berapa persen yang kuasai oleh negara? Baik itu gas alam,
kilang minyak, batubara, maupun pertambangan yang lainnya. Hampir sebagian
besar telah dikuasai oleh pihak asing. Masihkah mau menutup mata dan pura-pura
tidak tahu bahwa sebenarnya kita ini sedang dijajah?
Gunung emas kita
yang ada di papua, dijarah habis-habisan oleh pihak asing hingga kini ia
menjelma menjadi sebuah lembah yang mengenaskan. Ironisnya dari hasil
penjarahan tersebut hanya satu persennya saja yang masuk kekantong pemerintah,
sedangkan sisanya masuk semua kekantong asing. Dan saat ini penjajah berkedok
“tuan besar yang baik hati” itu sedang berupaya untuk memperpanjang ijin
penjarahannya atas harta karun emas yang ada di tanah Papua hingga tahun 2041.
Dan seperti yang sudah-sudah pemerintah hanya bisa sendiko dawuh pada
majikannya tersebut.
Tidak hanya itu
penjajahan dalam bentuk lain pun masih sangat banyak. Misalnya saja pemberian
utang atau pinjaman sejumlah dana oleh IMF, Bank dunia atau lembaga keuangan
yang lainnya. Utang digelontorkan dalam jumlah besar pada negara-negara
berkembang dengan dalih membantu. Padahal dengan utang tersebut hanya membantu
dalam jangka pendek namun akibat jangka panjangnya sungguh akan memberatkan. Ia
akan masuk dalam pusaran utang yang berkepanjangan dengan sejumlah bunga yang
harus dibayar. Dengan pinjaman dana ini pihak pemberi dana secara tidak langsung
dapat ikut mengontrol apa yang ada di dalam
negara tersebut. hampir semua negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin
telah terjerat praktek utang tersebut.
Tidak hanya
dalam bidang ekonomi saja namun hampir segala bidang telah ada praktek
penjajahan. Bahkan dalam hal sejarah pun tidak luput dari penjajahan gaya baru
ini. Banyak sejarah yang telah dikaburkan bahkan dibelokkan. Semua ranah sudah
terjamah penjajahan gaya baru ini, bahkan mulai dari makanan, hiburan serta
tren mode saat ini. Atau yang biasa disebut 3F yakni food, fun,
fashion..(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar