Sabtu, 13 Oktober 2012

Senja dan Gerbong Kereta

[Puisi Edisi Kamis, 11 Oktober 2012]

Delima Putih

Senjalah yang kembali menuangkan hangat
Berbisik pelan, santun, lembut
Dengan aroma khas gerbong yang berkarat
Menyebarkan bau senyinyir darah

Adalah senja ini menjadi saksi
Juga gemerisik suara rel kereta yang beradu dengan rodanya
Membawa kabar akan ikhwal negeri ini
Bawalah saja pergi berlari menyusuri
Semua hal tak pasti
Yang membawa derita bagi rakyat negeri ini


Gerbong itu semakin penuh sesak
Semakin busuk bau nyinyir celoteh para pecundang
Penjilat dan pe pe yang lain
Semakin menyanyat hati
Karena peluh tetes darah rakyat jelata yang semakin menjelaga

Senja itu kini tak lagi seindah mawar merekah
Senja itu kini hanya seonggok manusia tua
Senja yang makin menua
Dengan mata berkaca-kaca oleh harap
Menunggu terbitnya fajar
Menunggu perginya gerbong kebengisan

Semoga saja kereta itu cepat berlari
Berganti gerbong kereta baru
Yang penuh dengan harumnya bunga-bunga
Bukan gerbong yang penuh darah pengkhianat.!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar