[Puisi
Edisi Kamis, 11 Oktober 2012]
Delima Putih
Senjalah yang kembali menuangkan hangat
Berbisik pelan, santun, lembut
Dengan aroma khas gerbong yang berkarat
Menyebarkan bau senyinyir darah
Adalah senja ini menjadi saksi
Juga gemerisik suara rel kereta yang beradu dengan rodanya
Membawa kabar akan ikhwal negeri ini
Bawalah saja pergi berlari menyusuri
Semua hal tak pasti
Gerbong itu semakin penuh sesak
Semakin busuk bau nyinyir celoteh para pecundang
Penjilat dan pe pe yang lain
Semakin menyanyat hati
Karena peluh tetes darah rakyat jelata yang semakin
menjelaga
Senja itu kini tak lagi seindah mawar merekah
Senja itu kini hanya seonggok manusia tua
Senja yang makin menua
Dengan mata berkaca-kaca oleh harap
Menunggu terbitnya fajar
Menunggu perginya gerbong kebengisan
Semoga saja kereta itu cepat berlari
Berganti gerbong kereta baru
Yang penuh dengan harumnya bunga-bunga
Bukan gerbong yang penuh darah pengkhianat.!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar