22 tahun sudah saya lahir, tinggal,
hidup dan besar di kabupaten Tuban. Kota kecil yang ada di pesisir pantai
utara. Berjarak 103 km ke arah barat dari ibukota propinsi jawa timur jika
ditempuh dengan kecepatan 1 jam 30 menit. 22 tahun bukan waktu yang singkat,
seharusnya waktu yang cukup untuk mencetak saya paling tidak menjadi seseorang
yang mengenal daerahnya sendiri. Namun apa mau dikata ternyata saya tidak tahu
apa-apa tentang daerah sendiri. Pengetahuan saya hanya seujung kuku bahkan
mungkin bisa dibilang hanya sebutir debu bahkan lebih kecil lagi, lagi dan lagi.
Jika bukan karena Babe, mungkin
saya tidak akan mencari tahu tentang seluk beluk Tuban. Iya. Beliaulah yang
paling sering bertanya (atau mungkin bisa dibilang ngetes) tentang Tuban dan
pengetahuan umum lainnya. Ternyata apa yang saya ketahui tak ada apa-apanya
dibandingkan dari yang diketahui Babe. Walaupun Beliau hanya seorang yang tidak
lulus SD. Namun pengetahuan dan wawasannya luas. Karena rasa keingintahuannya
yang tinggi, suka membaca dan selalu update berita terkini (yang jelas bukan
berita selebriti :P)
Tuban, kota kelahiran yang
menyimpan seribu potensi didalamnya. Siapa yang tidak tahu jika dulu Ia
terkenal sebagai pelabuhan besar. Harum kemasyurannya masih tercium hingga
kini. Walaupun kini kebesaran pelabuhan tersebut hanya tinggal bekas-bekasnya
saja. Kabupaten yang terkenal dengan pantainya yang panjang. Dari wilayah sebelah
timur hingga barat wilayah bagian utara berbatasan langsung dengan pantai
utara. Panjangnya sekitar 65 km. Dengan panjang pantainya tersebut merupakan
potensi yang sangat bagus sebagai daerah yang mampu mengeksplotasi perikanan
baik penangkapan, budidaya tambak atau sawah maupun hasil olahan laut lainnya.
Belum lagi dengan potensi
pertaniannya yang juga luas dan subur. Tuban bisa disebut sebagai daerah dengan
produksi kacang tanah terbaik yang ada di Indonesia. Hal ini ditandai dengan
dipatenkannya kacang varietas Tuban menjadi varietas kacang tanah unggul
nasional oleh Menteri Pertanian pada tahun 2003. Hasil pertanian yang lain
adalah padi Pendok yang juga khas Tuban. Dan masih banyak hasil pertanian yang
lainnya. Selain itu ada buah yang juga menjadi ciri khas Tuban yakni siwalan. Karena
itu juga Tuban banyak dikenal dengan kota tuak (saya lebih suka istilah legen
daripada tuak, walaupun emang keduanya berbeda :D). Ada juga buah yang telah di
patenkan menjadi buah khas Tuban yakni duku prunggahan. Selain itu ada juga
buah blimbing dari desa Tasikmadu kecamatan Palang serta kawis dari kecamatan Bancar.
Hutan yang luas dengan bermacam
tanaman di dalamnya. Di dominasi oleh tanaman jati, ada yang telah berumur
ratusan tahun, ada juga yang baru beberapa tahun. Terdiri dari hutan konservasi
(cagar alam) dan hutan lindung. Karena hutan yang ada di kabupaten ini banyak
di dominasi oleh tanaman jati maka banyak orang di daerah sekitar hutan yang
membuat kerajinan meubel gembol (terbuat dari tunggak jati). Hasilnya sangat
indah dan bernilai seni serta memiliki nilai jual yang tinggi.
Potensi pertambangannya pun bisa
dibilang bagus. Mulai dari pertambangan kalsit, dolomit, batu gamping, lempung
atau tanah liat serta pasir kuarsa. Potensi pertambangan yang ada di Tuban
memang cukup bagus, hal ini pula yang membuat dunia industri menjamah kota
kecil ini. Mulai dari PT. Semen Gresik, TPPI dan Wood Center yang membangun
pabriknya di kota ini. Sayangnya hanya sebagian kecil dari penduduk Tuban yang
menikmati adanya pembangunan industri tersebut. Tentunya banyak pula hal
negatif yang menyertainya, salah satunya semakin banyaknya polusi yang merambah
.
Jika berbicara tentang potensi di
Tuban memang serasa tak ada habisnya. Dari mulai potensi laut (perikanan,
tambak, hasil laut dan olahannya), persawahan, kebun, kerajinan, pariwisata,
perhutanan dan juga pertambangan. Dari situ saya sadar ternyata daerah yang sudah
22 tahun saya tinggali ini adalah daerah kaya dengan beribu potensi di dalamnya.
Untuk SDMnya pun saya percaya bahwa putera daerah ini merupakan bibit-bibit
unggul yang cerdas dan mumpuni untuk mengelola sumber daya alam yang melimpah
ini.
Saya yakin daerah-daerah lain
juga tidak kalah bahkan mempunyai potensi yang lebih dari Tuban. Paling tidak
marilah kita mengenal daerah kita sendiri. Mengetahui sejarahnya dan berbagai
macam pengetahuan tentangnya. Jangan sampai kita hafal di luar kepala berbagai
disiplin ilmu yang lain, serta sejarah berbagai bangsa dan daerah yang ada di belahan
dunia yang lain namun sama sekali tidak mengenal daerah sendiri. Harapannya ketika
kita sudah bisa mengenal daerah sendiri (anggap saja sebagai salah satu bentuk
dan wujud kita untuk mengenal diri sendiri sebelum mengenal orang lain dan
dunia luar) adalah adanya kontribusi kita, apapun bentuknya (tentunya bukan hal
yang negatif :) )![] DP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar