“Lalu apa motivasimu? Ingin
mencari perhatiankah, tebar pesona, ingin disanjung dan dicintai oleh jutaan
makhluk bernama wanita, hah?” cercaku padanya.
“Iya, begitulah. Kamu
sudah tahu semuanya. Bahkan dari awal aku sudah melibatkanmu dalam urusanku
dengan cewek itu. Dari semula aku sudah jujur padamu, siapa dia, siapa mereka.
Tiap dia sms selalu aku forward ke kamu tho? Aku hanya ingin jujur apa adanya
padamu, beginilah aku. Itulah masa
laluku. Persis seperti yang kamu bilang kemaren setelah kamu membaca semua
message yang ada di laptopku. Maafkan aku, selama ini terlalu sering menyakiti
perasaanmu.”
Hening. Aku hanya
terdiam mendengar penuturanmu. Tanpa sanggup berkata sepatah kata pun. Kemarin
kuluapkan semua kekesalanku padamu lewat pesan singkat. Walaupun sebenarnya
pesan tersebut tidak jadi singkat karena panjangnya berkarakter-karakter
melebihi kuota. Untung saja kemaren aku tidak bertemu langsung denganmu. Jika
aku bertemu denganmu bisa jadi aku tidak bisa mengendalikan diri, main cerca
dan tuduh. Atau bahkan mungkin aku hanya bisa terdiam membisu?
“Jujur saja, sejak
komitmen kita dulu. Aku sudah tidak melakukan hal-hal seperti dulu lagi. Kamu
yang membuatku tidak celelean lagi. Kamu
yang membuatku berubah. Juga karena komitmen kita.”
Oh my God, masih sempet-sempetnya
dia ngegombal. Aku sudah hafal dan kenyang dengan bermacam gombalan dari
makhluk bernama laki-laki. Hingga hampir tidak mempan semua gombalan yang
mereka lontarkan padaku. Sudah bukan jamannya laki-laki ngegombal, tapi
sebaliknya. Perempuan pun kudu pinter nggombal, apalagi gombalin suaminya kudu
plus wajib hukumnya. Karena akan menyenangkan kedua belah pihak. Benar enggak?
Wah, gimana tho malah ngelantur.
Ah, menurutku itu bukan soal gombal atau tidak gombal. Tapi
memang kenyataannya begitu tho. Sahut sisi lain diriku. Aku hanya bisa menghela napas panjang. Terdiam. Oke,
aku memang hanya manusia biasa, sama sekali tak lebih baik dari kamu, dia dan
mereka. Siapa pun pasti punya masa kelam. Siapapun berhak memperbaiki masa
kelamnya demi masa depannya. Lalu apa hakku untuk menghukuminnya? Sama sekali
tak ada bukan? Memangnya aku siapa?
Marah? Cemburu? Bete?
Sebel ? Tentu saja iya. Karena aku masih normal dan aku perempuan seperti pada
umumnya. Mudah marah, tersinggung, sensitive dan berbagai jenis gangguan
kewanitaann lainnya. Bahkan patut dipertanyakan jika sikapku biasa-biasa saja
seperti tidak ada apa-apa. Kalau kamu tahu, aku hanya ingin belajar jujur.
Jujur pada diriku sendiri, pada hatiku. Juga jujur padamu. Tidak hanya diam
saja. Serta berkata tidak ada apa-apa kok. Padahal di dalam hatinya nggerundel, nggedumel gak jelas.
“Enggak
ada seorang pun yang sanggup membunuh sejarahnya sendiri”.
Jika mengingat kata ini
maka yang kurasakan adalah hempasan napas yang semakin memburu karena luka dan
borok yang terekam oleh rabaan tangan yang kian tajam menghujam tubuh ini.
Serta cerminan diri yang semakin hari semakin banyak cela dan salah. Setiap
insan pasti pernah melakukan kesalahan. Serta begitu banyak beragam kesalahan
serius yang menimpa setiap dari kita. Namun malah banyak yang menempatkannya
bukan dalam wilayah no body is perfect, tapi malah menempatkannya pada wilayah
kebegoan, bodoh dan loser. Parahnya
ada yang melontarkan kata tiada ampun bagimu, jangan berasalan kamu manusia
biasa, tidak sempurna, jadi wajar saja jika melakukan kesalahan ini dan itu.!
Pertama yang perlu
dilakukan atau the first step
menurutku adalah dengan memaafkan. Atas segala kesalahan dan kebodohan dengan
menempuh resiko-resikonya. Langkah awal agar jiwa kita tidak semakin terjungkal
ke liang keterpurukan. Kita harus bangkit dan belajar dari kesalahan-kesalahan.
Serta mengambil hikmah dari setiap pelajaran hidup tersebut.
Akal dan hati sebagai
karunia terbesar manusia. Yang dengannya kita dapat berpikir secara kognitif
tentang segala hal. Juga sebagai perasa yang menuntun pada pengenalan kebaikan
dan keburukan. Kita harus mempergunakan kedua potensi besar tersebut sebelum
menempuh sebuah keputusan hidup.
Baiklah kita mulai lagi
hidup kita yang baru. Hidup barumu dan hidup baruku. Tentu tanpa ada lagi dia dengan
embel-embel “mesra maupun selir utama”. Karena jujur saja itu
akan membakar api yang terlanjur kau buat berkobar, karena masa lalu kalian. Jika
masih bisa, tentu saja aku sangat berharap. Kita bisa bergandengan lagi
dengannya, walaupun kaca yang telah retak tak mungkin kembali seperti sedia
kala. Antara aku, kamu, dia, mereka. Tentu saja aku tak menghendaki hubungan
kalian yang seperti dulu itu dengan adanya embel-embel “mesra” di antara kalian.
Yah, tetap menjaga hubungan baik itu saja yang terpenting menurutku. Kuharap
kamu bisa memegang janjimu padaku, juga pada KOMITMEN kita, yang selalu kau
agungkan itu. Saling mengingatkan ya.
Aku tersenyum, jika
akal dan hati sudah dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Maka status no body is perfect itu akan bergeser
menjadi. “Kendati kita tidak sempurna, tapi kita tahu yang terbaik buat kita.
Saling mengingatkan, saling menegur, saling menjaga komitmen. Serta tetap sehat
dan rasional.” Bagaimana, apakah kamu setuju denganku?[]Nee
Tuban,
1 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar