Selasa, 01 Januari 2013

Catatan Hati

Jika Bukan Karena Pengakuan dan Kejujuranmu dari awal.

“Lalu apa motivasimu? Ingin mencari perhatiankah, tebar pesona, ingin disanjung dan dicintai oleh jutaan makhluk bernama wanita, hah?” cercaku padanya.

“Iya, begitulah. Kamu sudah tahu semuanya. Bahkan dari awal aku sudah melibatkanmu dalam urusanku dengan cewek itu. Dari semula aku sudah jujur padamu, siapa dia, siapa mereka. Tiap dia sms selalu aku forward ke kamu tho? Aku hanya ingin jujur apa adanya padamu, beginilah aku.  Itulah masa laluku. Persis seperti yang kamu bilang kemaren setelah kamu membaca semua message yang ada di laptopku. Maafkan aku, selama ini terlalu sering menyakiti perasaanmu.”

Hening. Aku hanya terdiam mendengar penuturanmu. Tanpa sanggup berkata sepatah kata pun. Kemarin kuluapkan semua kekesalanku padamu lewat pesan singkat. Walaupun sebenarnya pesan tersebut tidak jadi singkat karena panjangnya berkarakter-karakter melebihi kuota. Untung saja kemaren aku tidak bertemu langsung denganmu. Jika aku bertemu denganmu bisa jadi aku tidak bisa mengendalikan diri, main cerca dan tuduh. Atau bahkan mungkin aku hanya bisa terdiam membisu?

“Jujur saja, sejak komitmen kita dulu. Aku sudah tidak melakukan hal-hal seperti dulu lagi. Kamu yang membuatku tidak celelean lagi. Kamu yang membuatku berubah. Juga karena komitmen kita.”

Oh my God, masih sempet-sempetnya dia ngegombal. Aku sudah hafal dan kenyang dengan bermacam gombalan dari makhluk bernama laki-laki. Hingga hampir tidak mempan semua gombalan yang mereka lontarkan padaku. Sudah bukan jamannya laki-laki ngegombal, tapi sebaliknya. Perempuan pun kudu pinter nggombal, apalagi gombalin suaminya kudu plus wajib hukumnya. Karena akan menyenangkan kedua belah pihak. Benar enggak? Wah, gimana tho malah ngelantur.

Ah, menurutku  itu bukan soal gombal atau tidak gombal. Tapi memang kenyataannya begitu tho. Sahut sisi lain diriku. Aku  hanya bisa menghela napas panjang. Terdiam. Oke, aku memang hanya manusia biasa, sama sekali tak lebih baik dari kamu, dia dan mereka. Siapa pun pasti punya masa kelam. Siapapun berhak memperbaiki masa kelamnya demi masa depannya. Lalu apa hakku untuk menghukuminnya? Sama sekali tak ada bukan? Memangnya aku siapa?

Marah? Cemburu? Bete? Sebel ? Tentu saja iya. Karena aku masih normal dan aku perempuan seperti pada umumnya. Mudah marah, tersinggung, sensitive dan berbagai jenis gangguan kewanitaann lainnya. Bahkan patut dipertanyakan jika sikapku biasa-biasa saja seperti tidak ada apa-apa. Kalau kamu tahu, aku hanya ingin belajar jujur. Jujur pada diriku sendiri, pada hatiku. Juga jujur padamu. Tidak hanya diam saja. Serta berkata tidak ada apa-apa kok. Padahal di dalam hatinya nggerundel, nggedumel gak jelas.

“Enggak ada seorang pun yang sanggup membunuh sejarahnya sendiri”.

Jika mengingat kata ini maka yang kurasakan adalah hempasan napas yang semakin memburu karena luka dan borok yang terekam oleh rabaan tangan yang kian tajam menghujam tubuh ini. Serta cerminan diri yang semakin hari semakin banyak cela dan salah. Setiap insan pasti pernah melakukan kesalahan. Serta begitu banyak beragam kesalahan serius yang menimpa setiap dari kita. Namun malah banyak yang menempatkannya bukan dalam wilayah no body is perfect, tapi malah menempatkannya pada wilayah kebegoan, bodoh dan loser. Parahnya ada yang melontarkan kata tiada ampun bagimu, jangan berasalan kamu manusia biasa, tidak sempurna, jadi wajar saja jika melakukan kesalahan ini dan itu.!

Pertama yang perlu dilakukan atau the first step menurutku adalah dengan memaafkan. Atas segala kesalahan dan kebodohan dengan menempuh resiko-resikonya. Langkah awal agar jiwa kita tidak semakin terjungkal ke liang keterpurukan. Kita harus bangkit dan belajar dari kesalahan-kesalahan. Serta mengambil hikmah dari setiap pelajaran hidup tersebut.

Akal dan hati sebagai karunia terbesar manusia. Yang dengannya kita dapat berpikir secara kognitif tentang segala hal. Juga sebagai perasa yang menuntun pada pengenalan kebaikan dan keburukan. Kita harus mempergunakan kedua potensi besar tersebut sebelum menempuh sebuah keputusan hidup.

Baiklah kita mulai lagi hidup kita yang baru. Hidup barumu dan hidup baruku. Tentu tanpa ada lagi dia dengan embel-embel “mesra maupun selir utama”. Karena jujur saja itu akan membakar api yang terlanjur kau buat berkobar, karena masa lalu kalian. Jika masih bisa, tentu saja aku sangat berharap. Kita bisa bergandengan lagi dengannya, walaupun kaca yang telah retak tak mungkin kembali seperti sedia kala. Antara aku, kamu, dia, mereka. Tentu saja aku tak menghendaki hubungan kalian yang seperti dulu itu dengan adanya embel-embel “mesra” di antara kalian. Yah, tetap menjaga hubungan baik itu saja yang terpenting menurutku. Kuharap kamu bisa memegang janjimu padaku, juga pada KOMITMEN kita, yang selalu kau agungkan itu. Saling mengingatkan ya.

Aku tersenyum, jika akal dan hati sudah dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Maka status no body is perfect itu akan bergeser menjadi. “Kendati kita tidak sempurna, tapi kita tahu yang terbaik buat kita. Saling mengingatkan, saling menegur, saling menjaga komitmen. Serta tetap sehat dan rasional.” Bagaimana, apakah kamu setuju denganku?[]Nee

Tuban, 1 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar