Sudah
seharian ini Jeng Ungu, istri Gus Blong, tak seceria seperti biasanya. Wajahnya
terlihat murung memendam sesuatu. Bahkan makanan yang ia masak pun tak ia
sentuh. Diam mematung sambil sesekali pasang muka cemberut pada suaminya.
Hal ini tentu saja membuat bingung
suaminya. Seharian istri tercintanya itu tidak menyentuh makanan. Saat meladeni
dan menemani suaminya makan, ia tetap saja diam.
“Jeng Ungu cintaku, ada apakah gerangan,
kok tidak seperti biasanya. Wong biasanya dari pagi sampai malem yo ngoceh
terus, kok seharian ini diam saja. Kenapa? Apakah saya ada salah hingga membuat
Jeng Ungu berubah seperti ini? Atau lagi sakit?” tanya Gus Blong sok perhatian.
“Gak
ada apa-apa, lagi sebel aja,” jawab Jeng Ungu singkat.
“Lha sebel kenapa tho? Sebel sama siapa?”
“Ya sama kamu, sama siapa lagi.”
“Lho, lha saya salah apa?”
“Saya sekarang sudah tahu kalau selama ini
kamu selingkuh tho sama perempuan lain. Ayo ngaku, saya udah tahu sekarang.
Jadi kamu tak perlu menutup-nutupinya lagi.”
"Maksudmu?”
“Sudahlah, nggak usah berlagak nggak tahu.
Pakai nggak ngaku lagi. Apa saya ini sudah nggak menarik lagi buatmu? Hingga
tega sama saya.”
“Lho-lho piye tho (bagaimana tho)?”
“Tadi malam saya baca semua sms yang ada di
hapemu. Perlu bukti apa lagi? Semuanya sudah jelas tho. Kamu selingkuh sama
perempuan lain. Kalau itu cuma teman nggak mungkin semesra itu. Waktu saya coba
telpon nomor itu ternyata memang yang ngangkat perempuan. Kamu memang tega
banget sama saya, tega, tega, hiks…”
Isak tangis Jeng Ungu tak tertahankan.
“Biarkan saya jelaskan dulu Jeng Ungu
sayang,” bujuk Gus Blong
“Gak ada yang perlu dijelaskan, semuanya
udah jelas. Saya minta cerai. Pulangkan saya ke rumah orangtuaku. Nggak usah
panggil-panggil sayang lagi,” kata Jeng Ungu sambil sesenggukan menahan tangis.
“Jangan putuskan…” Sahut Gus Blong yang
lebih dulu dipotong oleh Jeng Ungu
“Pokoknya saya minta cerai. Saya kecewa
berat sama kamu.”
Karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh
malam. Gus Blong harus segera pergi ke rumah Sufi sinting itu. Karena
sudah ada janji sebelumnya yang tidak bisa dibatalkan.
“Sudah jam 7, saya harus ke rumah kiai
Kaspala. Nanti kita omongkan lagi masalah ini. Saya hanya mau ngomong jangan
putuskan...” kata Gus Blong yang lagi-lagi dipotong oleh perkataan Jeng Ungu.
“Sudah, pergi sana.”
Akhirnya Gus Blong pergi dengan hati galau
karena ulah isterinya. Jeng Ungu pun masih sesenggukan di dalam rumah. Ia
dibakar api cemburu. Tak berselang lama pintu diketuk dari luar. Ternyata Gus
Dob yang datang.
“Ada apa Gus Dob? Gus Blong udah pergi
barusan ke rumah Kiai Kaspala.”
“Saya kira Gus Blong masih di rumah. Mau
ngasih tahu kalau saya nggak jadi ikut pergi. Karena mau pergi kerumah mertua.
Sama mau nanyain apa ada sms dari istri saya.”
“Isteri sampeyan? Maksutnya?
”Piye tho
Jeng, tadi malam kan saya pinjem hapenya suamimu buat sms isteri saya yang lagi
di rumah orangtuanya. Maklum Jeng, hape saya lagi diservis. Rusak, kerendem air
waktu nyuci.”
“Oh jadi itu sms dari istri sampeyan
tho (kamu
tho)Gus, yang ada di hape suamiku itu? Kok mesra banget pake
sayang-sayangan segala.”
“Iya dong. Sama istri kan kudu mesra tho
Jeng,”
Jeng Ungu hanya bisa terdiam.
“Ya sudah Jeng, tolong sampaikan maafku
pada Gus Blong. Makasih Jeng Ungu. Monggo, Asalamualaikum.”
“Waalaikumussalam”
Jeng Ungu termangu sendirian. Ia menyadari
kesalahannya. Demi ingin meminta maaf pada suaminya. Ia segera membersihkan
diri dan berdandan cantik. Lalu dengan sabar menunggui suaminya pulang ke
rumah. Tengah malam barulah suaminya pulang. Segera Jeng Ungu menyambutnya di
depan pintu sambil tersenyum sumringah.
“Ada angin apa ini. Tadi marah-marah kok
sekarang berubah drastis jadi manis begini.”
“Hehehe tadi Gus Dob datang, lalu
menjelaskan kalau sms yang ada di hapemu itu sms dari isterinya, lalu
menanyakan apa ada sms lagi dari isterinya,” jawab Jeng Ungu malu-malu karena
telah cemburu buta.
Gus Blong tersenyum mendengar penuturan
dari isterinya itu.
“Makanya Jeng, kalau baru tahu satu kata
itu jangan langsung menyimpulkan seperti ia satu kalimat. Baru tahu satu
kalimat langsung menyimpulkan seperti ia satu paragraf. Tunggulah kata itu
hingga menuju titik, tunggulah hingga tahu cerita selengkapnya. Jangan mudah
menyimpulkan sesuatu. Tanyakan duduk perkaranya. Dijaga yang namanya
komunikasi. Kalau semua orang seperti ini, bisa modyar rumah tangga semua
orang. Hanya karena mengedepankan prasangka. Dikit-dikit minta cerai, kayak
artis saja.”
“Iya sayangku, maafkan saya,” berkata
mesrah Jeng Ungu sambil mendekap dan mengecup pipi suaminya.
“Satu lagi, tadi saya cuma mau ngomong
jangan sekali-sekali memutuskan sesuatu apapun dalam keadaan emosi,” lanjut Gus
Blong sambil membalas ciuman isterinya dengan sayang.[]Markonee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar