Sabtu, 05 Januari 2013

Jeng Ungu Cemburu


Sudah seharian ini Jeng Ungu, istri Gus Blong, tak seceria seperti biasanya. Wajahnya terlihat murung memendam sesuatu. Bahkan makanan yang ia masak pun tak ia sentuh. Diam mematung sambil sesekali pasang muka cemberut pada suaminya. 

Hal ini tentu saja membuat bingung suaminya. Seharian istri tercintanya itu tidak menyentuh makanan. Saat meladeni dan menemani suaminya makan, ia tetap saja diam.

“Jeng Ungu cintaku, ada apakah gerangan, kok tidak seperti biasanya. Wong biasanya dari pagi sampai malem yo ngoceh terus, kok seharian ini diam saja. Kenapa? Apakah saya ada salah hingga membuat Jeng Ungu berubah seperti ini? Atau lagi sakit?” tanya Gus Blong sok perhatian.

Gak ada apa-apa, lagi sebel aja,” jawab Jeng Ungu singkat.

“Lha sebel kenapa tho? Sebel sama siapa?”            

“Ya sama kamu, sama siapa lagi.”

“Lho, lha saya salah apa?”

“Saya sekarang sudah tahu kalau selama ini kamu selingkuh tho sama perempuan lain. Ayo ngaku, saya udah tahu sekarang. Jadi kamu tak perlu menutup-nutupinya lagi.”

"Maksudmu?”

“Sudahlah, nggak usah berlagak nggak tahu. Pakai nggak ngaku lagi. Apa saya ini sudah nggak menarik lagi buatmu? Hingga tega sama saya.”

“Lho-lho piye tho (bagaimana tho)?”

“Tadi malam saya baca semua sms yang ada di hapemu. Perlu bukti apa lagi? Semuanya sudah jelas tho. Kamu selingkuh sama perempuan lain. Kalau itu cuma teman nggak mungkin semesra itu. Waktu saya coba telpon nomor itu ternyata memang yang ngangkat perempuan. Kamu memang tega banget sama saya, tega, tega, hiks…”

Isak tangis Jeng Ungu tak tertahankan.

“Biarkan saya jelaskan dulu Jeng Ungu sayang,” bujuk Gus Blong

“Gak ada yang perlu dijelaskan, semuanya udah jelas. Saya minta cerai. Pulangkan saya ke rumah orangtuaku. Nggak usah panggil-panggil sayang lagi,” kata Jeng Ungu sambil sesenggukan menahan tangis.

“Jangan putuskan…” Sahut Gus Blong yang lebih dulu dipotong oleh Jeng Ungu

“Pokoknya saya minta cerai. Saya kecewa berat sama kamu.”

Karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.  Gus Blong harus segera pergi ke rumah Sufi sinting itu. Karena sudah ada janji sebelumnya yang tidak bisa dibatalkan.
  
“Sudah jam 7, saya harus ke rumah kiai Kaspala. Nanti kita omongkan lagi masalah ini. Saya hanya mau ngomong jangan putuskan...” kata Gus Blong yang lagi-lagi dipotong oleh perkataan Jeng Ungu.

“Sudah, pergi sana.”

Akhirnya Gus Blong pergi dengan hati galau karena ulah isterinya. Jeng Ungu pun masih sesenggukan di dalam rumah. Ia dibakar api cemburu. Tak berselang lama pintu diketuk dari luar. Ternyata Gus Dob yang datang.

“Ada apa Gus Dob? Gus Blong udah pergi barusan ke rumah Kiai Kaspala.”

“Saya kira Gus Blong masih di rumah. Mau ngasih tahu kalau saya nggak jadi ikut pergi. Karena mau pergi kerumah mertua. Sama mau nanyain apa ada sms dari istri saya.”

“Isteri sampeyan? Maksutnya?

Piye tho Jeng, tadi malam kan saya pinjem hapenya suamimu buat sms isteri saya yang lagi di rumah orangtuanya. Maklum Jeng, hape saya lagi diservis. Rusak, kerendem air waktu nyuci.”

“Oh jadi itu sms dari istri sampeyan tho (kamu tho)Gus, yang ada di hape suamiku itu? Kok mesra banget pake sayang-sayangan segala.”

“Iya dong. Sama istri kan kudu mesra tho Jeng,”

Jeng Ungu hanya bisa terdiam.

 “Ya sudah Jeng, tolong sampaikan maafku pada Gus Blong. Makasih Jeng Ungu. Monggo, Asalamualaikum.”

 “Waalaikumussalam”

Jeng Ungu termangu sendirian. Ia menyadari kesalahannya. Demi ingin meminta maaf pada suaminya. Ia segera membersihkan diri dan berdandan cantik. Lalu dengan sabar menunggui suaminya pulang ke rumah. Tengah malam barulah suaminya pulang. Segera Jeng Ungu menyambutnya di depan pintu sambil tersenyum sumringah.

“Ada angin apa ini. Tadi marah-marah kok sekarang berubah drastis jadi manis begini.”

“Hehehe tadi Gus Dob datang, lalu menjelaskan kalau sms yang ada di hapemu itu sms dari isterinya, lalu menanyakan apa ada sms lagi dari isterinya,” jawab Jeng Ungu malu-malu karena telah cemburu buta.

Gus Blong tersenyum mendengar penuturan dari isterinya itu.

“Makanya Jeng, kalau baru tahu satu kata itu jangan langsung menyimpulkan seperti ia satu kalimat. Baru tahu satu kalimat langsung menyimpulkan seperti ia satu paragraf. Tunggulah kata itu hingga menuju titik, tunggulah hingga tahu cerita selengkapnya. Jangan mudah menyimpulkan sesuatu. Tanyakan duduk perkaranya. Dijaga yang namanya komunikasi. Kalau semua orang seperti  ini, bisa modyar rumah tangga semua orang. Hanya karena mengedepankan prasangka. Dikit-dikit minta cerai, kayak artis saja.”

“Iya sayangku, maafkan saya,” berkata mesrah Jeng Ungu sambil mendekap dan mengecup pipi suaminya.

“Satu lagi, tadi saya cuma mau ngomong jangan sekali-sekali memutuskan sesuatu apapun dalam keadaan emosi,” lanjut Gus Blong sambil membalas ciuman isterinya dengan sayang.[]Markonee




Tidak ada komentar:

Posting Komentar