Minggu, 06 Januari 2013

Setetes Cinta Langit

Hawa dingin tiba-tiba menyergap memenuhi ruang di sore ini. Senja yang mulai datang diam-diam mengunci gemerlap cahaya mentari. Menggantinya dengan deru keheningan nan syahdu. Suasana sempurna menikmatisenja dengan ditambah secangkir kopi dan sebatang rokok di pinggir kelengangan jalanan.

Langit Mahameru, pemuda berkulit gelap berkacamata yang selalu akrab bercengkrama dengan tuhan 9cm ini sedang asyik dengan dunianya. Melamun dan menikmati sore dalam kabut imajinasi. Ia tersenyum-senyum sendiri tatkala mengingat dara manis asal madura. Gadis yang baru dikenalnya dua bulan yang lalu, Zahra. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa gadis manis dan pemalu tersebut selalu menggelayut dalam benaknya. Sejak pertemuan itu, Langit tak bisa melepaskan bayangan gadis ini. Beberapa kali Langit sudah berkunjung ke rumah Zahra. Keluarga gadis ini sangat agamis. Zahra memang berasal dari keluarga baik-baik yang taat agama.

Pemuda bernama Langit ini selalu merasa bahwa apapun yang diinginkannya harus selalu ada dan tersedia. Ia tidak pernah merasa kekurangan apapun. Mungkin orang yang baru mengenalnya akan menganggap Ia sombong. Walaupun Langit belum termasuk pengusaha besar namun Ia telah mempunyai usaha sendiri. Langit merasa bahwa Ia bisa segalanya, mampu menguasai apapun, hingga terkadang Ia terlihat sangat sombong dan merendahkan orang lain. Lebih tepatnya tidak membutuhkan orang lain. Termasuk untuk mendapatkan Zahra. Ia merasa itu hal yang sangat remeh dan mudah. Ia memang agak tinggi hati dan sedikit congkak. Idealismenya mengalahkan para revolusioner yang sering berorasi di tengah teriknya jalanan.

Sisi lain dari Langit ialah Ia penggila berat buku dan pengagum Pramoedya A.T. Hingga buku-buku tersebut sedikit banyak telah memengaruhinya menjadi pribadi yang berjiwa idealis dan pemberontak. Ia tidak suka diperintah-perintah namun Ia sangat suka memerintah dengan gaya berkacak pinggangnya. Angkuh, sombong, tidak membutuhkan orang lain dan sering membuat orang-orang di sekitarnya kesal. Begitulah sosok Langit.

Sejak lulus dari Mts Ia memilih tidak melanjutkan sekolah. Baginya, sekolah kehidupan lebih bermakna dan lebih memberikan pelajaran ketimbang sekedar duduk, menulis dan mendengarkan gurunya mengajar.  Ia lebih memilih hidup bebas dalam kerasnya belantara kehidupan. Ia terbiasa hidup dibawah kerasnya langit ibu kota, sering menaklukkan gunung dan tidur di alam liar. Itulah hidupnya, bersahabat dengan kerasnya alam dan kehidupan.

Di tengah sore yang mengalun merdu suasana itu, seiring bau harum ikan yang di goreng tetangga sayup-sayup terdengar gemericik suara di perut. Dyah datang menghampiri omnya yang sedang duduk di teras.

“He..Om.. Jangan melamun saja, nanti kesambet lhoh.” Ucap Dyah mengagetkan Langit yang sedang sibuk bergulat dengan pikirannya.

“Kamu ini ganggu om saja. Lagi asyik-asyiknya nih, malah dikagetin.” Sahut Langit sembari menoleh kearah Dyah, ponakannya yang cantik berambut panjang itu. Umur mereka memang tidak terpaut begitu jauh. Langit berumur 27 tahun sedangkan Dyah 21 tahun. Dyah saat ini masih kuliah semester tujuh. Mereka lebih terlihat seperti kakak adik.

“Ha..ha..ha.. Gaya lu, kayak orang penting aja.” Kata Dyah.

“Habis darimana lu ?” Tanya Langit.

“Nih dari toko buku, habis beli buku dooong kan guweh anak pinter.” Sahut Dyah.

“Idih, emang beli buku apaan lu?” Tanya Langit sambil melirik bungkusan plastik berisi buku yang dibawa Dyah.

“Tuh, liat aja sendiri,” sahut Dyah sambil duduk dan meletakkan bungkusan plastik diatas meja yang ada didepan mereka.

“Beli buku agama segala, gaya lu.” Kata Langit menimpali sambil menggeledah isi tas plastik itu, ada beberapa buku kuliah, novel dan buku agama yang di dalamnya terdapat ayat-ayat al-quran.

“Eh, guwe udah berapa tahun yah kagak baca Al-Quran. Masih bisa kagak ya.” Kata Langit sambil membuka plastik pembungkus buku agama tersebut, lalu membolak-balikannya sambil melihat isi buku tersebut.

“Coba tuh baca ayatnya, masih bisa kagak?” Tantang Dyah pada Omnya.

“Bisa dong, omnya siapa, guweh gitu lhoh. Orang dulu yang ngajarin kamu juga om gitu kok. Masih inget nggak?”

“Itu kan dulu, siapa tahu sekarang sudah lupa.” Jawab Dyah.

Langit segera membuka salah satu halaman dalam buku tersebut. Ia mulai berusaha untuk membacanya. Saat awal membaca basmallah, lancar lidahnya berucap. Namun selanjutnya ketika Ia mencoba mengeja huruf demi huruf, Ia tersentak tak percaya. “Bagaimama mungkin saya lupa cara membacanya?” Pikir Langit. Ia sudah lupa sama sekali. Ia terlihat seperti anak TK yang sedang belajar membaca iqra’.

“Wa..maa..waa..ma…” Kata Langit sambil terputus-putus.

“Ha..ha.. ha.. tuh kan gak bisa. Apa kubilang. Om sih sombong amat jadi orang. Sok keren lagi, masak baca quran aja gak bisa. Gitu kok mau deketin mbk zahra.” Ejek Dyah.

**Jleb

Kata itu seperti sebilah pisau tajam yang menghujam dadanya. Ia tak bisa berpikir. Ia pun tidak habis pikir. Ia tak bisa menerima penghinaan. Bagaimana mungkin seorang Langit tidak bisa membaca Al-Quran? Bagaimana jika Zahra tahu?

Sepersekian detik Langit hanya termenung meresapi kata-kata yang diucap oleh Dyah. Ia tak bisa berkata-kata. Hanya kata ini yang bisa Ia ucap.

”Kok bisa saya tidak bisa baca Al-Quran, padahal dulu waktu kamu kecil , Om yang ngajarin kamu. Om dulu itu fasih dalam membaca Alquran.” Kata Langit pada keponakannya, Dyah. Ponakannya hanya pasang tampang masa bodoh ke Omnya tersebut.

Suasana mendadak hening, keduanya diam. Langit sibuk dengan pikirannya. Ia mencoba menghitung-hitung lagi, berapa lama sudah Ia tidak membaca Al-quran. Kira-kira sudah 11 tahun. Waktu yang cukup lama untuk menyamarkan salah satu bagian memori dalam otaknya. Selain itu, Ia tak pernah mau sholat. Hanya dulu ketika ada Ibunya saja Ia mau sholat. Tak lain hanya karena tidak tega jika Ibunya menangis. Ibunya akan menangis jika tahu Langit tidak sholat. 

Namun kini sang Ibu telah tiada. Sudah bertahun-tahun Ia tidak sholat. Menurutnya sholat hanyalah sebuah rutinitas dengan gerakan dan bacaan-bacaan tertentu saja, tidak lebih dari itu. Hakekat sholat sebenarnya bukan pada gerakannya saja. Percuma saja jika sholat hanya raganya saja namun hatinya tidak ikut sholat. Begitu pikirnya.

Perbincangan dengan Dyah sore itu membuat pikirannya melayang kemana-mana. Ia merasa seolah telah di tampar dengan keras. Kopi hangat yang tersaji didepannya saja tidak Ia sentuh, tak lagi kopi itu menjadi enak seperti biasanya. Suhu malam yang dingin pun tak mampu mendinginkan hati dan pikirannya.

Sungguh, Langit tak bisa berpikir. Hal yang selama ini tak pernah Ia perhatikan dan bahkan tidak Ia hiraukan.  Hal yang selama ini Ia anggap remeh dan kecil namun saat ini mampu membuatnya kelimpungan. Berbagai macam pikiran yang campur aduk dan berloncatan didalam tempurung otaknya.

“Bagaimana jika Zahra tahu bahwa Ia tidak bisa membaca Quran? Bagaimana jika Zahra tahu bahwa selama ini Ia tidak pernah sholat? Apakah Zahra mau dengannya jika tahu yang sebenarnya? Bagaimana pula dengan orangtuanya?” Berbagai pikiran berkelebat di dalam otaknya.

Pikiran-pikiran itu membuatnya gila. Membuat egonya meruntuh. Dimana Langit yang keren itu? Dimana langit yang selama ini Ia anggap hebat? Masak ngaji saja tidak becus? Ia dihantui perasaannya sendiri. Di saat kacaunya Langit saat itu. Ia teringat dengan salah seorang guru ngaji Dyah. Akhirnya dengan segera dan tanpa pikir panjang lagi Ia segera mengambil hape dan memencet tombol merangkai kata. Segera Ia kirim sms ke keponakannya, Dyah.

***

Sore itu, awan masih menyisakan hawa tangisnya. Sesekali butiran bening menetes jatuh ke bumi.  Dingin menusuk kulit. Bau tanah selepas hujan masih tercium jelas. Sesosok makhluk berkulit gelap bertubuh kecil terlihat sedang jongkok di depan sebuah makam yang kala itu sedang lengang.

Langit menangis diatas nisan ibunya. Ada butiran penyesalan yang meleleh di pipinya yang kurus itu. Ia merasa menyesal tidak bisa membahagiakan ibunya.  Entah kenapa akhirnya Ia jadi terpanggil untuk menjenguk makam sang Ibu. Suatu malam ia bermimpi bertemu Ibunya yang tengah menangis sesenggukan.

“Ibu, ada apa? Kenapa menangis? Apa yang membuatmu menangis Ibu?” Tanya Langit.

“Ibu hanya sedih Langit. Ternyata selama ini aku tidak berhasil mendidik kamu. Bahkan untuk menjenguk dan mengirim doa pada Ibu saja tidak. Ibu disini tersiksa. Ibu membutuhkan doamu nak.” Sambil terus menangis.

Selepas mengucap kata itu, Langit melihat Ibunya dibawa paksa oleh sosok berwarna putih. Langit hanya bisa berteriak sambil ikut menangis.

“Jangan bawa Ibuku. Jangan bawa Ibuku.” Teriak Langit, tak berapa lama Ia terbangun.

Langit menangis sesenggukan saat terbangun dan mengingat apa yang terjadi di dalam mimpinya. Itulah yang membuatnya bergegas untuk menjenguk makam sang Ibu. Disana ia meratapi kebodohan demi kebodohannya selama ini. Ia seperti mendapatkan hidayah. Disana Ia mengalami perenungan panjang. Tentang perjalanan hidup ini.

**

Suasana panas dan terik tak membuat laki-laki dan isterinya itu malas untuk melanjutkan ibadah. Peluh bertetesan membasahi dahi dan sekujur tubuh karena panasnya suhu udara disana. Dialah Langit dan Isterinya. Mereka sedang khusyuk menunaikan ibadah haji.

Ditengah suasana hiruk pikuk. Diantara jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia. Berbagai ragam manusia yang hadir tumpah ruah jadi satu. Ada yang kulitnya hitam legam, putih, kuning. Begitu pula ada yang postur tubuhnya  besar, kecil dan lain sebagainya. Ditengah kerumunan Jemaah haji Langit beserta isterinya terlihat sedikit lelah. Tidak disangka matanya menangkap sesosok yang lamat-lamat seperti ia kenal. Butuh waktu yang lumayan lama akhirnya ia mengenali siapa sosok yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Zahra, iya itu pasti dia. Gadis manis yang sempat menyinggahi hatinya. Ia masih tetap seperti dulu. Hanya saja tubuhnya terlihat lebih berisi daripada dulu. Mungkin kini Ia telah mempunyai anak. Disampingnya terlihat laki-laki tinggi besar. Dia pasti suaminya.

Lima tahun sudah mereka tak bertemu. Perpisahan yang membuatnya sempat kecewa. Karena tiba-tiba Zahra menghilang begitu saja. Setelah Langit selidiki ternyata Zahra pergi ke Kalimantan karena ikut suaminya. Orangtuanya menikahkannya dengan seorang pengusaha kaya yang tinggal disana. Tinggallah remuk redam yang tersisa dihati Langit .

Walaupun hatinya telah sakit. Walaupun harapannya pada sang pujaan telah patah. Namun tak membuatnya berputus dalam menggapai cintaNya. Ia tetap melangkah ke depan. Menyelami berbagai hikmah dalam perjalanan hidupnya. Setitik cintanya pada sang Ibu, juga pada gadis yang pernah membuka gerbang hatinya. Membuatnya mantap melangkah di jalan ini. Jalan untuk menggapai keridhoan-Nya. Mengharap cinta sejati pada sang Pemilik Cinta abadi.

Langit telah hidup bahagia dengan isterinya yang sholeha. Dulu Ia sangat mendambakan seoang gadis sholeha yang akan mendampingi sisa usia. Mimpi itu pun akhirnya terwujud saat ia diperkenalkan oleh guru spiritualnya dengan puterinya. Gadis cantik dan sholeha. Mulailah saat itu Ia merenda hidup bahagia. Dengan sang pujaan hati tercinta.

“Zahra, kau kah itu?”

“Mas Langit?”Tanya Zahra setelah menoleh kearah sumber suara, Ia kaget. Wajahnya seakan tidak memercayai apa yang dilihatnya.

“Iya, ini aku Zahra. Tidak kusangka kita akan bertemu di tempat ini.”

“Subhanallah, sekarang Mas Langit sudah berubah 180 derajat.” Ucap Zahra masih tetap dengan mimik tidak percaya.

Langit hanya menanggapinya dengan tersenyum.

“Sudah lima tahun kita tak bertemu. Sudah banyak yang berubah Ra.”

“Senang sekali rasanya melihat Mas Langit berubah total seperti ini. Dia isteri kamu Mas?” Tanya Zahra yang disambut anggukan dan senyuman oleh isteri Langit.

”Iya, dia isteriku. Sudah dua tahun kami menikah.  Bagaimana denganmu? Itu suamimu kah Ra?”

“Iya, dia suamiku. Sungguh aku nggak menyangka kita bisa bertemu ditempat ini. Di suasana yang berbahagia ini. Saya kira kamu masih tetap seperti dulu. Suka tidur di gunung dan gak pernah mau sholat. Tapi ternyata Allah membuka hatimu. Aku ikut bahagia melihat perkembanganmu Mas.” Kata Zahra sambil tersenyum.

Tiba-tiba terdengar suara adzan yang mengalun merdu menyentuh kalbu. Mengajak pendengarnya untuk bersegera menghadap sang pemilik alam. Sambil tersenyum Langit memberi isyarat pada Zahra untuk pergi. Menggandeng tangan Isterinya dengan lembut. Serta bibir yang terus berbilang dzikir menyebut kebesaran Allah, Dzat Pemilik semesta alam.[]DP/Nee

Tuban, 7 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar