Hawa dingin tiba-tiba menyergap memenuhi ruang di sore ini. Senja
yang mulai datang diam-diam mengunci gemerlap cahaya mentari. Menggantinya
dengan deru keheningan nan syahdu. Suasana sempurna menikmatisenja dengan
ditambah secangkir kopi dan sebatang rokok di pinggir kelengangan jalanan.
Langit Mahameru, pemuda berkulit gelap berkacamata yang selalu
akrab bercengkrama dengan tuhan 9cm ini sedang asyik dengan dunianya. Melamun
dan menikmati sore dalam kabut imajinasi. Ia tersenyum-senyum sendiri tatkala
mengingat dara manis asal madura. Gadis yang baru dikenalnya dua bulan yang lalu,
Zahra. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa gadis manis dan pemalu tersebut
selalu menggelayut dalam benaknya. Sejak pertemuan itu, Langit tak bisa melepaskan
bayangan gadis ini. Beberapa kali Langit sudah berkunjung ke rumah Zahra.
Keluarga gadis ini sangat agamis. Zahra memang berasal dari keluarga baik-baik
yang taat agama.
Sisi lain dari Langit ialah Ia penggila berat buku dan pengagum
Pramoedya A.T. Hingga buku-buku tersebut sedikit banyak telah memengaruhinya
menjadi pribadi yang berjiwa idealis dan pemberontak. Ia tidak suka
diperintah-perintah namun Ia sangat suka memerintah dengan gaya berkacak pinggangnya.
Angkuh, sombong, tidak membutuhkan orang lain dan sering membuat orang-orang di
sekitarnya kesal. Begitulah sosok Langit.
Sejak lulus dari Mts Ia memilih tidak melanjutkan sekolah. Baginya,
sekolah kehidupan lebih bermakna dan lebih memberikan pelajaran ketimbang sekedar
duduk, menulis dan mendengarkan gurunya mengajar. Ia lebih memilih hidup bebas dalam kerasnya
belantara kehidupan. Ia terbiasa hidup dibawah kerasnya langit ibu kota, sering
menaklukkan gunung dan tidur di alam liar. Itulah hidupnya, bersahabat dengan
kerasnya alam dan kehidupan.
Di tengah sore yang mengalun merdu suasana itu, seiring bau harum
ikan yang di goreng tetangga sayup-sayup terdengar gemericik suara di perut.
Dyah datang menghampiri omnya yang sedang duduk di teras.
“He..Om.. Jangan melamun saja, nanti kesambet lhoh.” Ucap Dyah
mengagetkan Langit yang sedang sibuk bergulat dengan pikirannya.
“Kamu ini ganggu om saja. Lagi asyik-asyiknya nih, malah
dikagetin.” Sahut Langit sembari menoleh kearah Dyah, ponakannya yang cantik
berambut panjang itu. Umur mereka memang tidak terpaut begitu jauh. Langit
berumur 27 tahun sedangkan Dyah 21 tahun. Dyah saat ini masih kuliah semester
tujuh. Mereka lebih terlihat seperti kakak adik.
“Ha..ha..ha.. Gaya lu, kayak orang penting aja.” Kata Dyah.
“Habis darimana lu ?” Tanya Langit.
“Nih dari toko buku, habis beli buku dooong kan guweh anak pinter.”
Sahut Dyah.
“Idih, emang beli buku apaan lu?” Tanya Langit sambil melirik
bungkusan plastik berisi buku yang dibawa Dyah.
“Tuh, liat aja sendiri,” sahut Dyah sambil duduk dan meletakkan
bungkusan plastik diatas meja yang ada didepan mereka.
“Beli buku agama segala, gaya lu.” Kata Langit menimpali sambil
menggeledah isi tas plastik itu, ada beberapa buku kuliah, novel dan buku agama
yang di dalamnya terdapat ayat-ayat al-quran.
“Eh, guwe udah berapa tahun yah kagak baca Al-Quran. Masih bisa
kagak ya.” Kata Langit sambil membuka plastik pembungkus buku agama tersebut,
lalu membolak-balikannya sambil melihat isi buku tersebut.
“Coba tuh baca ayatnya, masih bisa kagak?” Tantang Dyah pada Omnya.
“Bisa dong, omnya siapa, guweh gitu lhoh. Orang dulu yang ngajarin
kamu juga om gitu kok. Masih inget nggak?”
“Itu kan dulu, siapa tahu sekarang sudah lupa.” Jawab Dyah.
Langit segera membuka salah satu halaman dalam buku tersebut. Ia
mulai berusaha untuk membacanya. Saat awal membaca basmallah, lancar lidahnya
berucap. Namun selanjutnya ketika Ia mencoba mengeja huruf demi huruf, Ia
tersentak tak percaya. “Bagaimama mungkin saya lupa cara membacanya?”
Pikir Langit. Ia sudah lupa sama sekali. Ia terlihat seperti anak TK yang
sedang belajar membaca iqra’.
“Wa..maa..waa..ma…” Kata Langit sambil terputus-putus.
“Ha..ha.. ha.. tuh kan gak bisa. Apa kubilang. Om sih sombong amat
jadi orang. Sok keren lagi, masak baca quran aja gak bisa. Gitu kok mau deketin
mbk zahra.” Ejek Dyah.
**Jleb
Kata itu seperti sebilah pisau tajam yang menghujam dadanya. Ia tak
bisa berpikir. Ia pun tidak habis pikir. Ia tak bisa menerima penghinaan. Bagaimana
mungkin seorang Langit tidak bisa membaca Al-Quran? Bagaimana jika Zahra tahu?
Sepersekian detik Langit hanya termenung meresapi kata-kata yang
diucap oleh Dyah. Ia tak bisa berkata-kata. Hanya kata ini yang bisa Ia ucap.
”Kok bisa saya tidak bisa baca Al-Quran, padahal dulu waktu kamu
kecil , Om yang ngajarin kamu. Om dulu itu fasih dalam membaca Alquran.” Kata
Langit pada keponakannya, Dyah. Ponakannya hanya pasang tampang masa bodoh ke Omnya
tersebut.
Suasana mendadak hening, keduanya diam. Langit sibuk dengan
pikirannya. Ia mencoba menghitung-hitung lagi, berapa lama sudah Ia tidak
membaca Al-quran. Kira-kira sudah 11 tahun. Waktu yang cukup lama untuk
menyamarkan salah satu bagian memori dalam otaknya. Selain itu, Ia tak pernah
mau sholat. Hanya dulu ketika ada Ibunya saja Ia mau sholat. Tak lain hanya
karena tidak tega jika Ibunya menangis. Ibunya akan menangis jika tahu Langit
tidak sholat.
Namun kini sang Ibu telah tiada. Sudah bertahun-tahun Ia tidak
sholat. Menurutnya sholat hanyalah sebuah rutinitas dengan gerakan dan
bacaan-bacaan tertentu saja, tidak lebih dari itu. Hakekat sholat sebenarnya
bukan pada gerakannya saja. Percuma saja jika sholat hanya raganya saja namun
hatinya tidak ikut sholat. Begitu pikirnya.
Perbincangan dengan Dyah sore itu membuat pikirannya melayang
kemana-mana. Ia merasa seolah telah di tampar dengan keras. Kopi hangat yang
tersaji didepannya saja tidak Ia sentuh, tak lagi kopi itu menjadi enak seperti
biasanya. Suhu malam yang dingin pun tak mampu mendinginkan hati dan
pikirannya.
Sungguh, Langit tak bisa berpikir. Hal yang selama ini tak pernah
Ia perhatikan dan bahkan tidak Ia hiraukan.
Hal yang selama ini Ia anggap remeh dan kecil namun saat ini mampu
membuatnya kelimpungan. Berbagai macam pikiran yang campur aduk dan berloncatan
didalam tempurung otaknya.
“Bagaimana jika Zahra tahu bahwa Ia tidak bisa membaca Quran?
Bagaimana jika Zahra tahu bahwa selama ini Ia tidak pernah sholat? Apakah Zahra
mau dengannya jika tahu yang sebenarnya? Bagaimana pula dengan orangtuanya?”
Berbagai pikiran berkelebat di dalam otaknya.
Pikiran-pikiran itu membuatnya gila. Membuat egonya meruntuh. Dimana
Langit yang keren itu? Dimana langit yang selama ini Ia anggap hebat? Masak
ngaji saja tidak becus? Ia dihantui perasaannya sendiri. Di saat kacaunya
Langit saat itu. Ia teringat dengan salah seorang guru ngaji Dyah. Akhirnya
dengan segera dan tanpa pikir panjang lagi Ia segera mengambil hape dan
memencet tombol merangkai kata. Segera Ia kirim sms ke keponakannya, Dyah.
***
Sore itu, awan masih menyisakan hawa tangisnya. Sesekali butiran
bening menetes jatuh ke bumi. Dingin
menusuk kulit. Bau tanah selepas hujan masih tercium jelas. Sesosok makhluk
berkulit gelap bertubuh kecil terlihat sedang jongkok di depan sebuah makam
yang kala itu sedang lengang.
Langit menangis diatas nisan ibunya. Ada butiran penyesalan yang
meleleh di pipinya yang kurus itu. Ia merasa menyesal tidak bisa membahagiakan
ibunya. Entah kenapa akhirnya Ia jadi terpanggil
untuk menjenguk makam sang Ibu. Suatu malam ia bermimpi bertemu Ibunya yang
tengah menangis sesenggukan.
“Ibu, ada apa? Kenapa menangis? Apa yang membuatmu menangis Ibu?”
Tanya Langit.
“Ibu hanya sedih Langit. Ternyata selama ini aku tidak berhasil
mendidik kamu. Bahkan untuk menjenguk dan mengirim doa pada Ibu saja tidak. Ibu
disini tersiksa. Ibu membutuhkan doamu nak.” Sambil terus menangis.
Selepas mengucap kata itu, Langit melihat Ibunya dibawa paksa oleh
sosok berwarna putih. Langit hanya bisa berteriak sambil ikut menangis.
“Jangan bawa Ibuku. Jangan bawa Ibuku.” Teriak Langit, tak berapa
lama Ia terbangun.
Langit menangis sesenggukan saat terbangun dan mengingat apa yang terjadi
di dalam mimpinya. Itulah yang membuatnya bergegas untuk menjenguk makam sang
Ibu. Disana ia meratapi kebodohan demi kebodohannya selama ini. Ia seperti
mendapatkan hidayah. Disana Ia mengalami perenungan panjang. Tentang perjalanan
hidup ini.
**
Suasana panas dan terik tak membuat laki-laki dan isterinya itu
malas untuk melanjutkan ibadah. Peluh bertetesan membasahi dahi dan sekujur
tubuh karena panasnya suhu udara disana. Dialah Langit dan Isterinya. Mereka
sedang khusyuk menunaikan ibadah haji.
Ditengah suasana hiruk pikuk. Diantara jutaan manusia dari berbagai
penjuru dunia. Berbagai ragam manusia yang hadir tumpah ruah jadi satu. Ada
yang kulitnya hitam legam, putih, kuning. Begitu pula ada yang postur tubuhnya besar, kecil dan lain sebagainya. Ditengah
kerumunan Jemaah haji Langit beserta isterinya terlihat sedikit lelah. Tidak disangka
matanya menangkap sesosok yang lamat-lamat seperti ia kenal. Butuh waktu yang
lumayan lama akhirnya ia mengenali siapa sosok yang tidak jauh dari tempatnya
berdiri.
Zahra, iya itu pasti dia. Gadis manis yang sempat menyinggahi
hatinya. Ia masih tetap seperti dulu. Hanya saja tubuhnya terlihat lebih berisi
daripada dulu. Mungkin kini Ia telah mempunyai anak. Disampingnya terlihat
laki-laki tinggi besar. Dia pasti suaminya.
Lima tahun sudah mereka tak bertemu. Perpisahan yang membuatnya
sempat kecewa. Karena tiba-tiba Zahra menghilang begitu saja. Setelah Langit
selidiki ternyata Zahra pergi ke Kalimantan karena ikut suaminya. Orangtuanya
menikahkannya dengan seorang pengusaha kaya yang tinggal disana. Tinggallah
remuk redam yang tersisa dihati Langit .
Walaupun hatinya telah sakit. Walaupun harapannya pada sang pujaan
telah patah. Namun tak membuatnya berputus dalam menggapai cintaNya. Ia tetap
melangkah ke depan. Menyelami berbagai hikmah dalam perjalanan hidupnya.
Setitik cintanya pada sang Ibu, juga pada gadis yang pernah membuka gerbang
hatinya. Membuatnya mantap melangkah di jalan ini. Jalan untuk menggapai
keridhoan-Nya. Mengharap cinta sejati pada sang Pemilik Cinta abadi.
Langit telah hidup bahagia dengan isterinya yang sholeha. Dulu Ia
sangat mendambakan seoang gadis sholeha yang akan mendampingi sisa usia. Mimpi
itu pun akhirnya terwujud saat ia diperkenalkan oleh guru spiritualnya dengan
puterinya. Gadis cantik dan sholeha. Mulailah saat itu Ia merenda hidup
bahagia. Dengan sang pujaan hati tercinta.
“Zahra, kau kah itu?”
“Mas Langit?”Tanya Zahra setelah menoleh kearah sumber suara, Ia
kaget. Wajahnya seakan tidak memercayai apa yang dilihatnya.
“Iya, ini aku Zahra. Tidak kusangka kita akan bertemu di tempat ini.”
“Subhanallah, sekarang Mas Langit sudah berubah 180 derajat.” Ucap
Zahra masih tetap dengan mimik tidak percaya.
Langit hanya menanggapinya dengan tersenyum.
“Sudah lima tahun kita tak
bertemu. Sudah banyak yang berubah Ra.”
“Senang sekali rasanya melihat Mas Langit berubah total seperti
ini. Dia isteri kamu Mas?” Tanya Zahra yang disambut anggukan dan senyuman oleh
isteri Langit.
”Iya, dia isteriku. Sudah dua tahun kami menikah. Bagaimana denganmu? Itu suamimu kah Ra?”
“Iya, dia suamiku. Sungguh aku nggak menyangka kita bisa bertemu
ditempat ini. Di suasana yang berbahagia ini. Saya kira kamu masih tetap
seperti dulu. Suka tidur di gunung dan gak pernah mau sholat. Tapi ternyata
Allah membuka hatimu. Aku ikut bahagia melihat perkembanganmu Mas.” Kata Zahra
sambil tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara adzan yang
mengalun merdu menyentuh kalbu. Mengajak pendengarnya untuk bersegera menghadap
sang pemilik alam. Sambil tersenyum Langit memberi isyarat pada Zahra untuk
pergi. Menggandeng tangan Isterinya dengan lembut. Serta bibir yang terus
berbilang dzikir menyebut kebesaran Allah, Dzat Pemilik semesta alam.[]DP/Nee
Tuban, 7 Januari 2013
Tuban, 7 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar