Kamis, 21 Februari 2013

16 WISHES



 “Kami selalu merasa beruntung mempunyai yang puteri mengagumkan sepertimu”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Lalu apakah kau mengerti saat aku bilang aku ingin kembali dan tinggal bersama kalian lalu kembali ke sekolah? aku tidak siap punya apartemen sendiri dan punya pekerjaan. Tolong katakan padaku bahwa kalian mengerti.”
“Sejak kau masih menjadi gadis kecil. Semua yang kau inginkan adalah menjadi seperti sekarang ini. Cantik dan mandiri. Aku ingat saat foto ini diambil, kau ingin sebuah pesta yang dewasa, semua baju dan high heels dan perhiasan. Kau mungkin tidak akan lebih bahagia. Tapi  menjadi dewasa tidak seindah seperti yang kau bayangkan kan?
“Iya.”
“Kami memahamimu.”
“Kalian mengerti ?”
“Tentu. Kau pasti takut masa kecilmu berakhir. Semua waktu adalah terbaik dalam hidupmu.”
“Yes”
“Kau mungkin ingin memutar kembali waktu dan mulai lagi dari awal lagi.”
“Yayaya. itulah yang sebenarnya ingin aku lakukan.”
“Kami tahu bagaimana perasaanmu.”
“Jadi, aku masih akan menjadi gadis kecilmu?”
“Kamu akan selalu menjadi gadis pumpkin kecil kami.”

Itu adalah cuplikan dari film yang berjudul 16 wishes. Saat Aby, nama seorang gadis yang sedang berbicara dengan kedua orangtuanya. Ia ingin dimengerti bahwa Ia ingin kembali menjadi anak-anak, hidup bersama kedua orangtua dan kembali ke sekolah. Bukannya tinggal sendiri di apartemen dan dituntut untuk harus bekerja. Namun ternyata Ia harus menelan pil kekecewaan karena ternyata kedua orangtuanya hanya sebatas lisannya saja bilang mengerti namun akhirnya ia ditinggal pergi begitu saja dengan mengendarai mobil mini van mereka.

Mendadak hidupnya menjadi perfect. Cantik, terkenal, punya mobil mewah, menjadi ketua osis. Semua yang diinginkan telah tercapai. Semua karena adanya 16 lilin ajaib yang diberikan oleh celesta(semacam peri masa kini). Namun semuanya mendadak berubah karena permintaannya yang ke sepuluh. Semua orang akan menganggapnya sebagai orang dewasa, demikian bunyi permintaannya yang ke sepuluh. Ternyata setelah lilin ke sepuluh  di tiup permintaan tersebut langsung terjadi. Aby berubah menjadi seorang wanita berumur 22 tahun. Aby menjadi wanita cantik dan mandiri. Itulah yang dulu ia inginkan, obsesi terbesarnya.

Walaupun mungkin secara fisik, Aby sudah kelihatan dewasa. Namun tetap saja Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ia harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia tidak siap, ia masih ingin menikmati masa-masa remajanya, menikmati waktu bersama sahabatnya, menikmati masa kelulusan, serta tidak melewatkan pesta ulangtahunnya yang ke enam belas. Aby benar-benar  dilanda shock karena mendadak ayah dan ibunya menyuruhnya untuk tinggal sendirian di apartemen. Ia benar-benar tidak bisa. Ia belum siap untuk itu semua.

Jika ada yang mengatakan bahwa ukuran kedewasaan seseorang itu bukan tergantung dari umurnya namun dari sikapnya. Tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Kalau mengutip dari teorinya Jean Piaget, seorang psikolog terkenal bahwa setiap orang memperlihatkan pola-pola kognisi umum yang khas dalam setiap perkembangannya. Perkembangan dari satu tahap ke tahap berikutnya disebabkan oleh akumulasi dari kesalahan di dalam pemahaman anak. Dalam hal ini tingkat berfikir anak antara satu dan lainnya tentu  berbeda tergantung dari umur dan seberapa banyak pengalaman yang telah didapat sehingga hal itu berpengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya. Dalam persoalan Aby tentu saja ia tidak bisa menerima bahwa ternyata mendadak ia dituntut untuk menjadi dewasa, walaupun secara fisik ia telah dewasa. Karena dewasa merupakan sekumpulan proses pengalaman dan pemahaman yang akan membentuknya. Sedangkan Aby tetap hanyalah seorang anak berusia enam belas tahun. 

Bagian akhir film tersebut menceritakan bahwa di permintaannya yang ke enam belas ia dapat merubah mimpinya. Diwaktu yang tepat akhirnya ia meniup lilin ke enam belas tersebut. Akhirnya Aby kembali pada saat ia bangun pagi di hari ulangtahunnya yang ke enam belas. Ia berubah menjadi gadis yang baik. Melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya. Menjadi gadis yang menyenangkan dan menanggalkan gaun keegoisannya yang sebelumnya selalu melekat padanya.

Hanya saja yang dialami oleh Aby hanyalah terjadi di film. Tidak ada hal ajaib macam itu. Maka alangkah indahnya jika kita melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya. Mengerahkan semua energy yang kita punya  untuk kebaikan. Tanpa didahului oleh penyesalan karena perbuatan yang pernah kita lakukan. Kalau menyitir perkataan seorang trainer terkenal yang berinisial JA, sebarkanlah energy positif sebanyak-banyaknya tentu saja dengan dilandasi idrak sillah billah (kesadaran akan hubungannya dengan Allah) karena kita seorang muslim. Yah, sebelum semuanya terlambat dan tersadar bahwa  ternyata kita tidak bisa melakukan kebaikan lagi.[]Nee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar