“Kami selalu merasa beruntung mempunyai yang puteri
mengagumkan sepertimu”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Lalu apakah kau
mengerti saat aku bilang aku ingin kembali dan tinggal bersama kalian lalu
kembali ke sekolah? aku tidak siap punya apartemen sendiri dan punya pekerjaan.
Tolong katakan padaku bahwa kalian mengerti.”
“Sejak kau masih
menjadi gadis kecil. Semua yang kau inginkan adalah menjadi seperti sekarang
ini. Cantik dan mandiri. Aku ingat saat foto ini diambil, kau ingin sebuah pesta
yang dewasa, semua baju dan high heels dan perhiasan. Kau mungkin tidak akan
lebih bahagia. Tapi menjadi dewasa tidak
seindah seperti yang kau bayangkan kan?
“Iya.”
“Kami memahamimu.”
“Kalian mengerti ?”
“Tentu. Kau pasti takut
masa kecilmu berakhir. Semua waktu adalah terbaik dalam hidupmu.”
“Yes”
“Kau mungkin ingin
memutar kembali waktu dan mulai lagi dari awal lagi.”
“Yayaya. itulah yang
sebenarnya ingin aku lakukan.”
“Kami tahu bagaimana
perasaanmu.”
“Jadi, aku masih akan
menjadi gadis kecilmu?”
“Kamu akan selalu
menjadi gadis pumpkin kecil kami.”
Itu adalah cuplikan
dari film yang berjudul 16 wishes. Saat
Aby, nama seorang gadis yang sedang berbicara dengan kedua orangtuanya. Ia ingin
dimengerti bahwa Ia ingin kembali menjadi anak-anak, hidup bersama kedua
orangtua dan kembali ke sekolah. Bukannya tinggal sendiri di apartemen dan
dituntut untuk harus bekerja. Namun ternyata Ia harus menelan pil kekecewaan
karena ternyata kedua orangtuanya hanya sebatas lisannya saja bilang mengerti
namun akhirnya ia ditinggal pergi begitu saja dengan mengendarai mobil mini van
mereka.
Mendadak hidupnya
menjadi perfect. Cantik, terkenal,
punya mobil mewah, menjadi ketua osis. Semua yang diinginkan telah tercapai. Semua
karena adanya 16 lilin ajaib yang diberikan oleh celesta(semacam peri masa
kini). Namun semuanya mendadak berubah karena permintaannya yang ke sepuluh.
Semua orang akan menganggapnya sebagai orang dewasa, demikian bunyi
permintaannya yang ke sepuluh. Ternyata setelah lilin ke sepuluh di tiup permintaan tersebut langsung terjadi.
Aby berubah menjadi seorang wanita berumur 22 tahun. Aby menjadi wanita cantik
dan mandiri. Itulah yang dulu ia inginkan, obsesi terbesarnya.
Walaupun mungkin secara
fisik, Aby sudah kelihatan dewasa. Namun tetap saja Ia tidak bisa menerima
kenyataan bahwa Ia harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia tidak siap, ia
masih ingin menikmati masa-masa remajanya, menikmati waktu bersama sahabatnya,
menikmati masa kelulusan, serta tidak melewatkan pesta ulangtahunnya yang ke
enam belas. Aby benar-benar dilanda
shock karena mendadak ayah dan ibunya menyuruhnya untuk tinggal sendirian di
apartemen. Ia benar-benar tidak bisa. Ia belum siap untuk itu semua.
Jika ada yang
mengatakan bahwa ukuran kedewasaan seseorang itu bukan tergantung dari umurnya
namun dari sikapnya. Tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Kalau
mengutip dari teorinya Jean Piaget, seorang psikolog terkenal bahwa setiap
orang memperlihatkan pola-pola kognisi umum yang khas dalam setiap
perkembangannya. Perkembangan dari satu tahap ke tahap berikutnya disebabkan
oleh akumulasi dari kesalahan di dalam pemahaman anak. Dalam hal ini tingkat
berfikir anak antara satu dan lainnya tentu
berbeda tergantung dari umur dan seberapa banyak pengalaman yang telah
didapat sehingga hal itu berpengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya. Dalam
persoalan Aby tentu saja ia tidak bisa menerima bahwa ternyata mendadak ia
dituntut untuk menjadi dewasa, walaupun secara fisik ia telah dewasa. Karena dewasa
merupakan sekumpulan proses pengalaman dan pemahaman yang akan membentuknya.
Sedangkan Aby tetap hanyalah seorang anak berusia enam belas tahun.
Bagian akhir film tersebut
menceritakan bahwa di permintaannya yang ke enam belas ia dapat merubah
mimpinya. Diwaktu yang tepat akhirnya ia meniup lilin ke enam belas tersebut.
Akhirnya Aby kembali pada saat ia bangun pagi di hari ulangtahunnya yang ke
enam belas. Ia berubah menjadi gadis yang baik. Melakukan semua hal dengan
sebaik-baiknya. Menjadi gadis yang menyenangkan dan menanggalkan gaun
keegoisannya yang sebelumnya selalu melekat padanya.
Hanya saja yang dialami
oleh Aby hanyalah terjadi di film. Tidak ada hal ajaib macam itu. Maka alangkah
indahnya jika kita melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya. Mengerahkan semua
energy yang kita punya untuk kebaikan.
Tanpa didahului oleh penyesalan karena perbuatan yang pernah kita lakukan.
Kalau menyitir perkataan seorang trainer terkenal yang berinisial JA, sebarkanlah energy
positif sebanyak-banyaknya tentu saja dengan dilandasi idrak sillah billah (kesadaran
akan hubungannya dengan Allah) karena kita seorang muslim. Yah, sebelum
semuanya terlambat dan tersadar bahwa ternyata kita tidak bisa melakukan kebaikan
lagi.[]Nee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar