Rabu, 06 Maret 2013

Dream Catcher


Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah buku pinjaman dari seorang teman. Dream catcher judul buku tersebut. Ditulis oleh seorang penulis muda bernama Alanda Kariza. Usianya masih 21 tahun, namun  sudah menerbitkan 4 buku. Buku pertamanya adalah sebuah novel yang terbit saat ia berusia 14 tahun.

Saat membuka buku tersebut saya terkesan karena secara visual buku tersebut memang menarik. Covernya terdiri dari gambar-gambar yang menarik. Di halamannya pun sangat membuat mata untuk menelusuri tiap halamannya.  Secara tampilan sangat cocok dibaca untuk para remaja. Saya rasa buku tersebut memang lebih cocok dibaca oleh remaja. Tapi bukan berarti tidak cocok untuk orang yang telah berumur.

Secara isi buku tersebut berisi tentang motivasi. Menurut saya buku tersebut biasa-biasa saja karena sudah banyak buku-buku motivasi sejenis. Bagaimana kita bisa bermimpi dan meraih mimpi tersebut. Memang telah banyak buku-buku dengan genre tersebut. Saya pun sering membaca buku-buku serupa. Namun ada hal yang membuat saya tergelitik dengan isi buku tersebut. Bagaimana seorang remaja yang mempunyai semangat yang luar biasa dalam menggapai cita-citanya.

Pengalaman yang ia tuangkan dalam bukunya tersebutlah yang membuat buku tersebut mempunyai nilai lebih dibanding buku motivasi lain. Ia banyak berbagi cerita dalam buku tersebut. Alanda adalah putri dari salah seorang tersangka dalam kasus bank century. Sedangkan ayahnya di PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Goncangan demi goncangan yang menerpa keluarganya tak membuatnya berputus asa. Bahkan kesulitan ekonomi yang membelit keluarga tetap membuatnya semangat dalam meraih cita-cita. Hingga akhirnya ia mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah bisnis internasional atau BINUS dan beasiswa parsial di salah satu PTN ternama di Indonesia. Namun akhirnya ia lebih memilih kuliah di BINUS selama 3 tahun karena disana ia mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus.

Demi membantu ekonomi keluarganya, ia bekerja sebagai penulis freelance, menulis buku, ikut modeling. Bahkan yang hanya mendapatkan gaji beberapa lembar uang ribuan pun pernah ia alami. Semua itu ia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri karena ia masih memiliki 2 adik yang harus sekolah. Sedangkan ekonomi keluarganya sedang sekarat. Walaupun gaji yang ia terima pun sebenarnya tak seberapa.

Semangatnya dalam menulislah yang membuat saya termotivasi. Ia sudah menulis sejak kecil karena memang menjadi hobinya. Di usianya yang masih sangat muda yakni 21 tahun, Alanda sudah mempunyai 4 buku. Sudah memiliki pengalaman-pengalaman yang luar biasa dan tentu saja ia sudah membuat Ibunya bangga. Seperti yang selalu ia cita-citakan yakni ia bercita-cita untuk membuat Ibunya bangga. Membuat bangga orangtua, menorehkan prestasi dan tetap menjadi diri sendiri. Ia dapat membuktikan dan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan yang telah dipilihnya.

Kembali saya renungkan dan cerminkan ke dalam diri saya sendiri. Apa yang selama ini sudah saya capai? Pengalaman apa yang sudah saya peroleh? Seberapa seriuskah saya untuk menulis? Sudah berapa buku yang saya punya? (satu pun belum). Sudahkah selama ini yang saya lakukan membuat orangtua bangga?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku bangun dan membuka mata. Tak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan dan beralasan. Umur saya lebih tua darinya. Tapi saya tak ada apa-apanya dibandingkan dia. Apa yang saya capai, apa yang saya peroleh tak ada seujung kuku darinya. Itu masih satu Alanda, sedangkan diluar sana masih ada beribu-ribu Alanda lain yang telah dan siap dengan semangat yang lebih dahsyat lagi.


So,,. ^_^





Tidak ada komentar:

Posting Komentar