Beberapa waktu yang lalu saya
membaca sebuah buku pinjaman dari seorang teman. Dream catcher judul buku tersebut. Ditulis oleh seorang penulis
muda bernama Alanda Kariza. Usianya masih 21 tahun, namun sudah menerbitkan 4 buku. Buku pertamanya adalah
sebuah novel yang terbit saat ia berusia 14 tahun.
Saat membuka buku tersebut saya
terkesan karena secara visual buku tersebut memang menarik. Covernya terdiri
dari gambar-gambar yang menarik. Di halamannya pun sangat membuat mata untuk
menelusuri tiap halamannya. Secara tampilan
sangat cocok dibaca untuk para remaja. Saya rasa buku tersebut memang lebih
cocok dibaca oleh remaja. Tapi bukan berarti tidak cocok untuk orang yang telah
berumur.
Secara isi buku tersebut berisi tentang
motivasi. Menurut saya buku tersebut biasa-biasa saja karena sudah banyak buku-buku motivasi sejenis.
Bagaimana kita bisa bermimpi dan meraih mimpi tersebut. Memang telah banyak
buku-buku dengan genre tersebut. Saya pun sering membaca buku-buku serupa. Namun
ada hal yang membuat saya tergelitik dengan isi buku tersebut. Bagaimana seorang
remaja yang mempunyai semangat yang luar biasa dalam menggapai cita-citanya.
Pengalaman yang ia tuangkan dalam
bukunya tersebutlah yang membuat buku tersebut mempunyai nilai lebih dibanding
buku motivasi lain. Ia banyak berbagi cerita dalam buku tersebut. Alanda adalah
putri dari salah seorang tersangka dalam kasus bank century. Sedangkan ayahnya
di PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Goncangan demi goncangan yang menerpa
keluarganya tak membuatnya berputus asa. Bahkan kesulitan ekonomi yang membelit
keluarga tetap membuatnya semangat dalam meraih cita-cita. Hingga akhirnya ia
mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah bisnis internasional atau BINUS dan
beasiswa parsial di salah satu PTN ternama di Indonesia. Namun akhirnya ia
lebih memilih kuliah di BINUS selama 3 tahun karena disana ia mendapatkan
beasiswa penuh hingga lulus.
Demi membantu ekonomi keluarganya,
ia bekerja sebagai penulis freelance, menulis buku, ikut modeling. Bahkan yang
hanya mendapatkan gaji beberapa lembar uang ribuan pun pernah ia alami. Semua itu
ia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri karena ia masih memiliki 2 adik
yang harus sekolah. Sedangkan ekonomi keluarganya sedang sekarat. Walaupun gaji
yang ia terima pun sebenarnya tak seberapa.
Semangatnya dalam menulislah yang
membuat saya termotivasi. Ia sudah menulis sejak kecil karena memang menjadi
hobinya. Di usianya yang masih sangat muda yakni 21 tahun, Alanda sudah
mempunyai 4 buku. Sudah memiliki pengalaman-pengalaman yang luar biasa dan
tentu saja ia sudah membuat Ibunya bangga. Seperti yang selalu ia cita-citakan
yakni ia bercita-cita untuk membuat Ibunya bangga. Membuat bangga orangtua,
menorehkan prestasi dan tetap menjadi diri sendiri. Ia dapat membuktikan dan
mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan yang telah dipilihnya.
Kembali saya renungkan dan
cerminkan ke dalam diri saya sendiri. Apa yang selama ini sudah saya capai? Pengalaman
apa yang sudah saya peroleh? Seberapa seriuskah saya untuk menulis? Sudah berapa
buku yang saya punya? (satu pun belum). Sudahkah selama ini yang saya lakukan
membuat orangtua bangga?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku
bangun dan membuka mata. Tak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan dan
beralasan. Umur saya lebih tua darinya. Tapi saya tak ada apa-apanya
dibandingkan dia. Apa yang saya capai, apa yang saya peroleh tak ada seujung
kuku darinya. Itu masih satu Alanda, sedangkan diluar sana masih ada
beribu-ribu Alanda lain yang telah dan siap dengan semangat yang lebih dahsyat
lagi.
So,,. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar