Selasa, 02 April 2013

IBUKU

Ibuku, dia hanyalah wanita desa yang tidak tamat SD. Sejak kecil saat berumur 6 tahun sudah ditinggal bapaknya meninggal karena sakit. Lalu nenekku menikah lagi dan punya anak. Sejak kecil Ibuku sudah terbiasa bekerja keras. Entah di rumah maupun di sawah.  Umurnya masih sangat kecil saat itu. Sejak ditinggal mati bapaknya.

Apa yang dirasakannya saat itu masih tetap membekas hingga kini. Bagaimana di pagi buta ia sudah harus bangun untuk bekerja, entah itu bersih-bersih, nyiram tanaman di sawah menggunakan timba dengan mengambil air di sumur. Juga kewajiban untuk momong adik-adiknya yang masih kecil. Bahkan terkadang rela pura-pura sakit dan tidak makan seharian agar tidak disuruh-suruh. Karena jika sudah makan walaupun masih sakit pasti disuruh kerja lagi. Diantara saudara-saudaranya hanya Ibuku lah yang bekerja terlalu keras. Karena ia adalah anak sulung.

Kedua tangan mungilnya kadang terasa ngilu menahan beban berat. Usia yang harusnya masih bermain-main itu harus tersita dengan membantu pekerjaan kedua orangtuanya. Hingga kedua tangannya mengapal, besar dan kasar (kulit yang menebal karena terlalu sering dipakai kerja berat). Hingga saat menikah dengan bapakku tangan ibuku masih tetap mengapal.  Namun seiring berjalannya waktu kapal-kapal itu menghilang dan kulit tangan ibuku normal kembali. Hal itu karena sejak menikah ibuku tidak lagi bekerja. Hanya kadang-kadang saja ikut ke sawah.

Ibuku adalah ibu  rumah tangga biasa yang lebih fokus mengurusi rumah dan anak-anaknya. Setiap hari ibuku memasak untuk kami sekeluarga. Bahkan masakan ibuku menjadi menu favorit bapak. Hanya ada dua masakan enak, kata bapakku. Masakan Ibuku dan masakan Embah (ibunya bapak). Yang lainnya lewaaat dah. Setiap hari, bahkan di saat ibuku sakit pun, acara masak tak pernah lewat. Entah itu lagi sakit kepala, pusing, meriang atau yang lainnya. Mungkin terkecuali saat sakit dinginnya kumat. Karena Ibuku gak bakal bisa kemana-mana kecuali di tempat tidur dengan selimut bertumpuk-tumpuk menutupi badannya. Jika sudah begitu gantian bapakku yang merawat ibu. Entah itu membuatkan minuman hangat maupun membantu meminumkan obat.

Dulu sewaktu aku masih sekolah, Ibu selalu menemaniku belajar hingga larut malam. Mungkin jika Ibuku wanita yang berpendidikan. Ia akan menjadi guru lesku di rumah. Sayangnya bahkan tamat SD pun tidak. Hanya dengan menemaniku saat belajar sudah cukup membuatku jadi berpikir. Betapa perhatiannya Ibuku padaku. Kadang aku dibuatkan mie goreng kesukaanku. Kadang aku bertanya-tanya apakah ibu tidak bosan dengan rutinitasnya yang itu-itu saja. Setiap hari yang dilakukan hanya masak, nyuci, dan berbagai pekerjaan rumah lainnya. Apakah tidak bosan dan capek setiap hari masak terus. Kenapa tidak pernah sekali waktu ngambek, trus gak mau masak?

Pernah suatu ketika aku bertanya ia hanya menjawab singkat. Terus mau makan apa kalau nggak masak. Kalau sudah begitu gantian aku yang hanya bisa meringis. Menjadi Ibu yang juga merangkap sebagai isteri ternyata mempunyai jam kerja tak berbatas. Tak ada kata cuti maupun liburan atau sekedar rehat barang sehari dua hari. Setap hari, setiap menit setiap detik hanya pelayanan ikhlas untuk memberi tanpa berharap untuk mendapatkan bayaran. Stok kasih sayang yang juga tak terbatas. Oh Ibu sungguh mulianya engkau.

Saat aku dan kakak perempuanku sudah dewasa. Kakak perempuanku menikah dan hidup dengan suaminya. Sedangkan aku, selepas lulus SMA meneruskan studi di Malang. Pastinya rumah terasa semakin lengang. Apalagi jika bapak sedang keluar. Ibu sendirian dirumah. Kadang aku kasian, mungkin juga ia merasa kesepian.

Hal yang aku kagumi adalah aku tak pernah melihat ibu dan bapakku bertengkar. Aku yakin sebuah rumah tangga pasti pernah mengalami goncangan. Bahkan aku pernah mengetahui tetangga, suami istri yang bertengkar saat pulang sekolah. Sampai terdengar bantingan piring segala. Denger saja sudah merinding ikutan takut, gimana liat langsung ya.

Pernah juga aku melihat seorang wanita yang bengkak wajahnya. Hingga lebam, kebiru-biruan. Entah kenapa aku yakin itu hasil bertengkar dengan suaminya. Saat masih SD dulu sering juga temanku bercerita kalau orangtuanya di rumah habis bertengkar. Dan Aku tak pernah melihat itu semua pada kedua orangtuaku. 

Aku tak pernah melihat mereka bertengkar di depan anak-anaknya. Padahal sebuah rumah tangga pasti ada masanya suatu ketidakcocokan atau apa. Kalau hanya eyel-eyelan mungkin sering. Karena memang ibuku wanita yang tidak bisa bicara dengan lemah lembut. Pasti kalau bicara nadanya keras seperti orang marah padahal sebenarnya tidak. Bapakku selalu memuji Ibuku sebagai wanita paling cantik. Saat muda dulu tak ada yang mampu menandingi kecantikannya. Begitu yang sering ia katakan. Kelak aku ingin sepertimu Ibu, yang tak pernah kehabisan kasih sayang untuk keluarga, yang tak pernah terlihat lelah dan jenuh mengurus kami sekeluarga. Love You Mom. <3



Tidak ada komentar:

Posting Komentar