Ibuku, dia hanyalah
wanita desa yang tidak tamat SD. Sejak kecil saat berumur 6 tahun sudah
ditinggal bapaknya meninggal karena sakit. Lalu nenekku menikah lagi dan punya anak.
Sejak kecil Ibuku sudah terbiasa bekerja keras. Entah di rumah maupun di
sawah. Umurnya masih sangat kecil saat
itu. Sejak ditinggal mati bapaknya.
Apa yang dirasakannya
saat itu masih tetap membekas hingga kini. Bagaimana di pagi buta ia sudah
harus bangun untuk bekerja, entah itu bersih-bersih, nyiram tanaman di sawah
menggunakan timba dengan mengambil air di sumur. Juga kewajiban untuk momong
adik-adiknya yang masih kecil. Bahkan terkadang rela pura-pura sakit dan tidak
makan seharian agar tidak disuruh-suruh. Karena jika sudah makan walaupun masih
sakit pasti disuruh kerja lagi. Diantara saudara-saudaranya hanya Ibuku lah
yang bekerja terlalu keras. Karena ia adalah anak sulung.
Kedua tangan mungilnya
kadang terasa ngilu menahan beban berat. Usia yang harusnya masih bermain-main
itu harus tersita dengan membantu pekerjaan kedua orangtuanya. Hingga kedua
tangannya mengapal, besar dan kasar (kulit yang menebal karena terlalu sering
dipakai kerja berat). Hingga saat menikah dengan bapakku tangan ibuku masih
tetap mengapal. Namun seiring
berjalannya waktu kapal-kapal itu menghilang dan kulit tangan ibuku normal
kembali. Hal itu karena sejak menikah ibuku tidak lagi bekerja. Hanya
kadang-kadang saja ikut ke sawah.
Ibuku adalah ibu rumah tangga biasa yang lebih fokus mengurusi
rumah dan anak-anaknya. Setiap hari ibuku memasak untuk kami sekeluarga. Bahkan
masakan ibuku menjadi menu favorit bapak. Hanya ada dua masakan enak, kata
bapakku. Masakan Ibuku dan masakan Embah (ibunya bapak). Yang lainnya lewaaat
dah. Setiap hari, bahkan di saat ibuku sakit pun, acara masak tak pernah lewat.
Entah itu lagi sakit kepala, pusing, meriang atau yang lainnya. Mungkin terkecuali
saat sakit dinginnya kumat. Karena Ibuku gak bakal bisa kemana-mana kecuali di
tempat tidur dengan selimut bertumpuk-tumpuk menutupi badannya. Jika sudah
begitu gantian bapakku yang merawat ibu. Entah itu membuatkan minuman hangat
maupun membantu meminumkan obat.
Dulu sewaktu aku masih
sekolah, Ibu selalu menemaniku belajar hingga larut malam. Mungkin jika Ibuku wanita yang berpendidikan. Ia akan menjadi guru lesku di rumah. Sayangnya bahkan tamat SD pun tidak. Hanya dengan menemaniku saat belajar sudah cukup membuatku jadi berpikir. Betapa perhatiannya Ibuku padaku. Kadang aku dibuatkan
mie goreng kesukaanku. Kadang aku bertanya-tanya apakah ibu tidak bosan dengan
rutinitasnya yang itu-itu saja. Setiap hari yang dilakukan hanya masak, nyuci,
dan berbagai pekerjaan rumah lainnya. Apakah tidak bosan dan capek setiap hari
masak terus. Kenapa tidak pernah sekali waktu ngambek, trus gak mau masak?
Pernah suatu ketika aku bertanya ia hanya menjawab singkat. Terus mau makan apa
kalau nggak masak. Kalau sudah begitu gantian aku yang hanya bisa meringis.
Menjadi Ibu yang juga merangkap sebagai isteri ternyata mempunyai jam kerja tak berbatas. Tak ada kata cuti maupun liburan atau sekedar rehat barang sehari dua hari. Setap hari, setiap menit setiap detik hanya pelayanan ikhlas untuk memberi tanpa berharap untuk mendapatkan bayaran. Stok kasih sayang yang juga tak terbatas. Oh Ibu sungguh mulianya engkau.
Saat aku dan kakak
perempuanku sudah dewasa. Kakak perempuanku menikah dan hidup dengan suaminya.
Sedangkan aku, selepas lulus SMA meneruskan studi di Malang. Pastinya rumah
terasa semakin lengang. Apalagi jika bapak sedang keluar. Ibu sendirian
dirumah. Kadang aku kasian, mungkin juga ia merasa kesepian.
Hal yang aku kagumi
adalah aku tak pernah melihat ibu dan bapakku bertengkar. Aku yakin sebuah
rumah tangga pasti pernah mengalami goncangan. Bahkan aku pernah mengetahui tetangga,
suami istri yang bertengkar saat pulang sekolah. Sampai terdengar bantingan
piring segala. Denger saja sudah merinding ikutan takut, gimana liat langsung
ya.
Pernah juga aku melihat
seorang wanita yang bengkak wajahnya. Hingga lebam, kebiru-biruan. Entah kenapa
aku yakin itu hasil bertengkar dengan suaminya. Saat masih SD dulu sering juga temanku
bercerita kalau orangtuanya di rumah habis bertengkar. Dan Aku tak pernah
melihat itu semua pada kedua orangtuaku.
Aku tak pernah melihat mereka
bertengkar di depan anak-anaknya. Padahal sebuah rumah tangga pasti ada masanya
suatu ketidakcocokan atau apa. Kalau hanya eyel-eyelan mungkin sering. Karena
memang ibuku wanita yang tidak bisa bicara dengan lemah lembut. Pasti kalau
bicara nadanya keras seperti orang marah padahal sebenarnya tidak. Bapakku
selalu memuji Ibuku sebagai wanita paling cantik. Saat muda dulu tak ada yang
mampu menandingi kecantikannya. Begitu yang sering ia katakan. Kelak aku ingin sepertimu Ibu, yang tak pernah kehabisan kasih sayang untuk keluarga, yang tak pernah terlihat lelah dan jenuh mengurus kami sekeluarga. Love You Mom. <3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar