Ajiib menatap tajam orang yang ada di depannya. Ia mengamati dengan pandangan tanpa putus. Tak berkedip. Hingga tanpa sadar mulutnya menganga. Ia tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Antara reaksi kaget, takjub dan tak percaya di mix jadi satu menjadi sesuatu yang sulit diungkap menjadi kata-kata. Gadis disampingnya pun mengerutkan dahi, si Emping sahabat Ajiib kini. Wajahnya terlihat bertanya-tanya. Emping sengaja mendampingi Ajiib bertemu sahabat lama itu.
“Hei cin jangan diem saja. Kok malah bengong. Eike sudah jauh-jauh kesini cuma buat ketemu kamu lhoh. Kamunya malah diem kayak patung, malah dicuekin. Gimana sih ciin???”
“Hah? Iya iya,, “
“Kenapa ciin, lagi sakit yha?” tanyanya, perhatian.
“Hah, enggak, kaget aja kamu kok jadi cantik gini. Wah sampai aku pangling. Masak sekarang cantikan kamu sama aku.” Jawab Ajiib.
“Ah bisa aja. Kamu juga tetep cantik kok say.” Sambil nyolek pipi Ajiib. Tanpa sadar tangan Ajiib meraba pipinya yang tadi dicolek oleh sahabat lamanya itu. Ia usap-usap pipinya itu, tidak mulus karena jerawat disana sini tumbuh subur. Auw, sakit. Jerawat besar dan merah tersenggol jari Ajiib.
“Gimana kabarmu? Lama tak jumpa sekarang berubah 100 derajat gini. Suer deh. Cantik banget. Gimana ceritanya?” Tanya Ajiib sambil tetap memandang tak berkedip pada sahabatnya yang telah lama tak jumpa itu.
“Aaah biasa aja. Yah gini ini hidup gue sekarang. Jauh dari keluarga, harus kerja keras banting tulang biar bisa bertahan hidup. Sekarang gue tinggal di Prancis. Kerja disana, keadaan gue sekarang lumayan. Usaha salonku juga udah jalan.” Katanya sambil menata rambutnya yang panjang dan mengarahkannya ke depan. Sepertinya kegerahan, terlihat bulir-bulir keringat dari tubuhnya yang sintal di balut kaos putih.
“Elo juga sudah berubah, tambah manis pakai kerudung gini.” Meneruskan sambil menatap Ajib dari bawah keatas. Senyumnya tulus terbias dari bibirnya yang merona serupa coklat panas.
Ajiib meringis, tersenyum lebar membalas perkataan sahabat lamanya itu. Sebuah senyuman paksa yang teriris.
Rasanya seperti disambar petir saat melihatnya pertama kali turun dari angkot. Bukan, itu pasti bukan sahabat kecilku. Kaki jenjangnya yang putih lagi mulus terlihat memakai hak tinggi berwarna coklat keemasan. Aku sendiri saja gak pernah bisa dan gak mau pake sepatu kek gitu. rambutnya panjang menjuntai hingga pinggang. Cantik dan terawat. Saat pertama kali melihatnya, aku kira dia bukan sahabatku.
Masalahnya bukan karena saking jeleknya dia dulu hingga aku benar-benar pangling saat melihatnya tampil cantik begitu. Tapi, ah mungkin aku hanya sedang bermimpi. Kutampar pipiku berulang-ulang. Hingga sahabatku Emping menyenggol bahuku. Memberi pertanda bahwa harus kusudahi tingkah polah konyolku ini. Rasanya dunia ini benar-benar dijungkir balik. Oh Tuhan, apakah saat ini Ajiib benar-benar sedang bermimpi?
Kami duduk di kursi di dalam sebuah tenda penjual bakso. Bakso Pak Marmin, langgananku sejak duduk di bangku esempe. Kami memang sudah lama tak berjumpa. Mungkin sekitar tujuh tahun. Saat itu dia harus pindah ikut keluarganya ke kota terpencil di Jawa Timur. Namun beberapa tahun kemudian terdengar kabar kalau keluarga sahabatku itu sudah pindah lagi di kota ini. Sayangnya, sahabat kecilku ini tetap saja tak terdengar kabarnya. Bahkan anginpun serasa membisu kala kutanya bagaimana kabarmu.
Tapi kini, tiba-tiba beberapa hari yang lalu kamu mengirimkan pesan di emailku. Kamu bilang, kalau kamu kangen sama aku. Kamu telusuri jejakku hingga menemukan alamat emailku. Kamu ingin bertemu denganku dan ingin mengabarkan sesuatu. Dan kamu benar-benar memberi kejutan tak terduga saat pertama kali mataku menyusuri wajahmu.
“Jiib..!” panggilnya.
“Hehh? Iya?” Jawabku sambil menyeruput kuah bakso yang terhidang di hadapan mata. Namun rasanya tak senikmat biasanya.
“Bulan depan gue mau nikah. Rencananya nikahnya di Perancis. Mumpung lagi dikota ini makanya gue sempetin ketemu sama elo. Gue kangen sama elo. Sebenarnya keluarga menentang tapi mau gimana lagi. Gue kadung cinta sama dia. Yah, mungkin inilah jalan hidup gue yang harus dijalanin”
“Kamu mau nikah sama siapa?”
Ia membuka tasnya yang berwarna hitam. Guci, tak sengaja kubaca merk tasnya. Dikeluarkannya selembar foto dari dompetnya yang panjang tebal. Seorang bule sedang berfoto dengan sabahatku itu. Memakai kemeja putih dengan garis-garis coklat dan hitam. Rambut klimis dengan senyum yang menggoda. Ganteng, pikirku. Ups.
“Oh iya, mulai sekarang elo harus manggil gue dengan Dini, karena namaku bukan Dino lagi.” Sambungnya. Lantas tersenyum hangat.
Mataku berkunang-kunang. Gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar