Senin, 29 September 2014

Cerpen Pilihan KOMPAS 2010

SIRAJATUNDA

Buku ini berisi beberapa kumpulan cerpen pilihan kompas tahun 2010. Seperti yang sudah mafhum kita ketahui bahwa sangat sulit sekali untuk menembus media elit di Indonesia ini. Dalam seminggu sekali Koran ini akan menampilkan satu kolom berisi cerpen setiap hari minggunya. Bisa ratusan naskah yang masuk dan hanya dipilih satu yang terbaik versi mereka. Apalagi yang belum punya nama, jangan sakit hati jika naskahmu ditolak. Saya sendiri belum pernah mengirimkan kesana karena merasa kapasitas karya saya masih sangat jauh jauuuh sekali dari standar mereka, Kompas gitu lho!


Saya hanya mengambil satu cepren yang menurut saya benar-benar mengena untuk saya review. Cerpen terbaik di buku itu adalah karya Pak SGA alias Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Dodolit dodolit dodolibret. Namun yang ingin saya review adalah cerpen karya Nukila Akmal yang berjudul SIRAJATUNDA. Karena menurut saya ini sangat mengena untuk pribadi saya sendiri.

Cerpen ini bercerita tentang seorang laki-laki yang sangat menggebu-gebu untuk membuat maha karya buku. Ia bercita-cita untuk menjadi seorang penulis ternama. Bertahun-tahun hingga 9 tahun ia menyiapkan semua yang diperlukan untuk menulis buku tersebut. Sebelumnya ia pernah menulis novel, namun tak laku. Untuk memenuhi hasratnya ini, ia rela mengumpulkan data-data, mewawancarai sumber-sumber terpercaya hingga bulan madu pun mereka pergi candi Borobudur. Semua demi maha karya agung yang akan ditulisnya.

9 tahun lama yang ia butuhkan untuk menyiapkan semuanya ini. Namun kini ia benci, benci sebenci-bencinya dengan sang istri. Karena menurut laki-laki tersebut, istrinyalah yang bertanggungjawab atas tidak tertulisnya buku yang ia idam-idamkan. Istrinya bawel dan cerewet hingga membuat si lelaki pusing tujuh keliling. Setiap si lelaki memikirkan plot, intrik dan segala hal yang berkaitan dengan isi novel sejarah yang akan ia tulis maka setiap itu pula sang istri pasti memuskan harapan dan angan-angan suaminya. Istrinya selalu berkata-kata dan membuatnya putus asa. Hingga suatu saat sang istri marah-marah, menjerit, ngambek dan pulang ke rumah orangtuanya. Kepergian sang istri membuat si lelaki tadi senang sekali. Karena itu berarti malam minggu ini ia akan memiliki waktunya sendiri. Hal itu akan dimanfaatkannya untuk menulis maha karya agung novel simaratungga tanpa perlu mendengarkan kata-kata sang istri yang memekakkan telinga.

Si lelaki benar-benar mempersiapkan sesempurna mungkin agar ia nyaman untuk menulis. Ia setel lampu sedetail mungkin, dari lampu ruangan, lampu meja agar temaramnya membikin nyaman untuk menulis. Ia siapkan dan menata meja sekaligus kursinya. Ia hirup napas dalam-dalam, matanya menatap layar. Sumpek, ia buka lebar-lebar jendela dan terlihat bulan indah mengintip disana. Ia teringat novelnya terpaksa duduk lagi, menatap layar. Ada nyamuk yang menggigit, ia menggeliat dan menggaruknya, jengkel. Beberapa menit berlalu, belum satu tulisanpun yang ia ketik. Ia masih menatap tajam layarmya sambil berpikir. Ia putuskan untuk mengecek email dulu, tak terasa ia gerakkan tangannya untuk ngeklik yang lain berselancar di dunia maya, waktu tetap berjalan. Ah, waktu sudah merangkak hingga tengah malam, hampir subuh. Ia masih tetap memikirkan kalimat pertamanya yang akan ditulis.

Tiba-tiba ia rindu, tiba-tiba ia kangen dengan istrinya. Ia teringat sang istri, sedang apa ia sekarang, bagaimana awalnya ia terpesona dengan kecantikan dan merdu suara istri tercintanya itu. Saat itu ia berpikir sepagi mungkin akan menjemput istrinya, ah tidak, karna ia harus tidur dulu. Mungkin besok siang, lusa dan mungkin mungkin yang lain. Tapi, sang istri tak akan mau pulang jika kalimat pertama mahakarya ini tidak ada. Si lelaki berusaha memikirkan bahwa jika tak ada kalimat pertama maka tak ada istri. Agar sang istri tidak lagi menjerit-jerit seperti tadi sore. Kamu selalu menunda-nunda ini itu, menunda punya anak, menunda makan, berangkat ngantor, mana katamu maharya samaratungga, bahkan satu kalimat pun ada. Kamu itu SIRAJATUNDA!

Si lelaki pun linglung karena harus memikirkan kalimat pertama novelnya bersamaan dengan itu ia juga harus memikirkan jika tidak ada kalimat pertama maka sang istri pun tak akan datang. Ia merasa memakan buah simalakama jatuh bertubi-tubi. Lelah, ia pun ingin tidur. Tidur yang lama.

Cerpen ini sangat mengena bagi yang sering menunda-nunda pekerjaan. Lelaki itu butuh 9 tahun untuk menulis novel sejarah, ia sudah memiliki referensi yang lengkap. Namun ia tak segera menulis, terlalu banyak menunda-nunda. Jadilah ia dijuluki Sirajatunda oleh istrinya. Awalnya saya kira sang istri adalah istri yang menjengkelkan, ternyata itu disebabkan oleh perilaku suaminya sendiri yang sering menunda-nunda. 

Pelajaran yang bisa dipetik dari cerpen ini adalah 

Jika ingin menulis maka waktu yang paling tepat adalah saat ini, sekarang ini. Tak perlu menunda-nunda hingga semuanya sempurna. Toh pada akhirnya kesempurnaan itu tak pernah ada. Itu hanya alibi untuk menunda. Sebenarnya tidak hanya pada bidang kepenulisan saja namun untuk semua hal. Jika bisa dikerjakan saat ini maka kerjakanlah.[]Nee

6:21 AM 30-09-2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar