SIRAJATUNDA
Buku ini berisi beberapa kumpulan cerpen pilihan
kompas tahun 2010. Seperti yang sudah mafhum kita ketahui bahwa sangat sulit
sekali untuk menembus media elit di Indonesia ini. Dalam seminggu sekali Koran
ini akan menampilkan satu kolom berisi cerpen setiap hari minggunya. Bisa
ratusan naskah yang masuk dan hanya dipilih satu yang terbaik versi mereka.
Apalagi yang belum punya nama, jangan sakit hati jika naskahmu ditolak. Saya
sendiri belum pernah mengirimkan kesana karena merasa kapasitas karya saya
masih sangat jauh jauuuh sekali dari standar mereka, Kompas gitu lho!
Saya hanya mengambil satu cepren yang menurut saya
benar-benar mengena untuk saya review. Cerpen terbaik di buku itu adalah karya
Pak SGA alias Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Dodolit dodolit dodolibret.
Namun yang ingin saya review adalah cerpen karya Nukila Akmal yang berjudul
SIRAJATUNDA. Karena menurut saya ini sangat mengena untuk pribadi saya sendiri.
Cerpen ini bercerita tentang seorang laki-laki yang
sangat menggebu-gebu untuk membuat maha karya buku. Ia bercita-cita untuk
menjadi seorang penulis ternama. Bertahun-tahun hingga 9 tahun ia menyiapkan
semua yang diperlukan untuk menulis buku tersebut. Sebelumnya ia pernah menulis
novel, namun tak laku. Untuk memenuhi hasratnya ini, ia rela mengumpulkan
data-data, mewawancarai sumber-sumber terpercaya hingga bulan madu pun mereka
pergi candi Borobudur. Semua demi maha karya agung yang akan ditulisnya.
9 tahun lama yang ia butuhkan untuk menyiapkan semuanya
ini. Namun kini ia benci, benci sebenci-bencinya dengan sang istri. Karena
menurut laki-laki tersebut, istrinyalah yang bertanggungjawab atas tidak
tertulisnya buku yang ia idam-idamkan. Istrinya bawel dan cerewet hingga
membuat si lelaki pusing tujuh keliling. Setiap si lelaki memikirkan plot,
intrik dan segala hal yang berkaitan dengan isi novel sejarah yang akan ia
tulis maka setiap itu pula sang istri pasti memuskan harapan dan angan-angan
suaminya. Istrinya selalu berkata-kata dan membuatnya putus asa. Hingga suatu
saat sang istri marah-marah, menjerit, ngambek dan pulang ke rumah orangtuanya.
Kepergian sang istri membuat si lelaki tadi senang sekali. Karena itu berarti
malam minggu ini ia akan memiliki waktunya sendiri. Hal itu akan
dimanfaatkannya untuk menulis maha karya agung novel simaratungga tanpa perlu
mendengarkan kata-kata sang istri yang memekakkan telinga.
Si lelaki benar-benar mempersiapkan sesempurna
mungkin agar ia nyaman untuk menulis. Ia setel lampu sedetail mungkin, dari
lampu ruangan, lampu meja agar temaramnya membikin nyaman untuk menulis. Ia
siapkan dan menata meja sekaligus kursinya. Ia hirup napas dalam-dalam, matanya
menatap layar. Sumpek, ia buka lebar-lebar jendela dan terlihat bulan indah mengintip
disana. Ia teringat novelnya terpaksa duduk lagi, menatap layar. Ada nyamuk
yang menggigit, ia menggeliat dan menggaruknya, jengkel. Beberapa menit
berlalu, belum satu tulisanpun yang ia ketik. Ia masih menatap tajam layarmya
sambil berpikir. Ia putuskan untuk mengecek email dulu, tak terasa ia gerakkan
tangannya untuk ngeklik yang lain berselancar di dunia maya, waktu tetap
berjalan. Ah, waktu sudah merangkak hingga tengah malam, hampir subuh. Ia masih
tetap memikirkan kalimat pertamanya yang akan ditulis.
Tiba-tiba ia rindu, tiba-tiba ia kangen dengan
istrinya. Ia teringat sang istri, sedang apa ia sekarang, bagaimana awalnya ia
terpesona dengan kecantikan dan merdu suara istri tercintanya itu. Saat itu ia
berpikir sepagi mungkin akan menjemput istrinya, ah tidak, karna ia harus tidur
dulu. Mungkin besok siang, lusa dan mungkin mungkin yang lain. Tapi, sang istri
tak akan mau pulang jika kalimat pertama mahakarya ini tidak ada. Si lelaki
berusaha memikirkan bahwa jika tak ada kalimat pertama maka tak ada istri. Agar
sang istri tidak lagi menjerit-jerit seperti tadi sore. Kamu selalu
menunda-nunda ini itu, menunda punya anak, menunda makan, berangkat ngantor,
mana katamu maharya samaratungga, bahkan satu kalimat pun ada. Kamu itu
SIRAJATUNDA!
Si lelaki pun linglung karena harus memikirkan
kalimat pertama novelnya bersamaan dengan itu ia juga harus memikirkan jika
tidak ada kalimat pertama maka sang istri pun tak akan datang. Ia merasa
memakan buah simalakama jatuh bertubi-tubi. Lelah, ia pun ingin tidur. Tidur yang
lama.
Cerpen ini sangat mengena bagi yang sering menunda-nunda
pekerjaan. Lelaki itu butuh 9 tahun untuk menulis novel sejarah, ia sudah
memiliki referensi yang lengkap. Namun ia tak segera menulis, terlalu banyak
menunda-nunda. Jadilah ia dijuluki Sirajatunda oleh istrinya. Awalnya saya kira sang istri adalah istri yang
menjengkelkan, ternyata itu disebabkan oleh perilaku suaminya sendiri yang
sering menunda-nunda.
Pelajaran yang bisa dipetik dari cerpen ini adalah
Jika ingin menulis maka waktu yang paling tepat adalah saat ini, sekarang ini. Tak perlu menunda-nunda hingga semuanya sempurna. Toh pada akhirnya kesempurnaan itu tak pernah ada. Itu hanya alibi untuk menunda. Sebenarnya tidak hanya pada bidang kepenulisan saja namun untuk semua hal. Jika bisa dikerjakan saat ini maka kerjakanlah.[]Nee
Pelajaran yang bisa dipetik dari cerpen ini adalah
Jika ingin menulis maka waktu yang paling tepat adalah saat ini, sekarang ini. Tak perlu menunda-nunda hingga semuanya sempurna. Toh pada akhirnya kesempurnaan itu tak pernah ada. Itu hanya alibi untuk menunda. Sebenarnya tidak hanya pada bidang kepenulisan saja namun untuk semua hal. Jika bisa dikerjakan saat ini maka kerjakanlah.[]Nee
6:21 AM 30-09-2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar