Sabtu, 28 April 2012

Geng Motor, Antara Kriminalitas dan Kenakalan Remaja


Setelah isu kenaikan BBM mereda kini Indonesia dibuat menangis karena ulah para anak negeri. Aksi anak negeri yang semakin hari semakin menjadi, seperti sebuah peribahasa makin tua makin menjadi. Mungkin seperti itu pula gambaran remaja kita, penerus estafet perjuangan di negeri ini. Semakin hari semakin menjadi dengan ulahnya yang tak kenal kompromi. ada saja ulahnya. Mereka menamakan diri dengan sebutan geng motor. Tren yang sudah membudaya dan terkenal dikalangan remaja, mulai balap liar hingga kumpul-kumpul menjadi agenda mereka.

Sayangnya seringkali mereka membuat aksi – aksi yang meresahkan bahkan membuat warga jakarta beberapa minggu terakhir ini was-was akan terjadinya aksi brutal yang mereka lakukan. Aksi yang dilakukan bahkan sampai merusak fasilitas umum dan melakukan aksi kekerasan. Sebenarnya geng motor bukan hal baru namun seiring berjalannya waktu semakin banyak jumlahnya. Di Jakarta dan sekitarnya saja, menurut catatan Indonesian Police Watch (IPW) ada sekitar 80 titik lokasi ajang balap liar. Jumlah ini bertambah dari hanya 20-an lokasi di tahun 2009.

Aksi geng motor pun tak hanya sekedar meresahkan warga dengan aksi pengrusakan fasilitas umum serta pengroyokan yang kerap terjadi namun juga telah banyak menghilangkan nyawa. Kawanan geng motor ini tidak jarang melakukan aksi penyerangan baik kepada anggota geng lain, ataupun kepada warga tak berdosa. Dalam serangan tersebut mereka tidak segan-segan membunuh korbannya. Masih menurut IPW, diperkirakan sebanyak 60 nyawa melayang oleh aksi anarkisme yang dilakukan mereka. Di Makasar, aksi gerombolan geng motor menyebabkan meninggalnya seorang mahasiswa, karena merasa terganggu dengan suara rauangan motor. akhirnya  sekawanan remaja tanggung menyerangnya hingga tewas.

Tak hanya aksi pengrusakan dan pengroyokan yang berujung kematian namun di garut, aksi geng motor Brigez melakukan aksinya dengan memperkosa seorang gadis berumur 17 tahun dengan cara menggilirnya. Pelaku berjumlah 4 orang. Tak hanya diperkosa namun gadis tersebut juga disekap dalam kamar selama satu malam dan diancam dengan senjata tajam. Sebuah dalih lucu dan tidak berlandas dilontarkan oleh mereka bahwa perkosaan tersebut merupakan rangkaian ospek yang harus dijalani jika ingin bergabung dengan geng motor tersebut.

Ironisnya anggota dari geng motor ini tidak hanya berasal dari remaja putera namun juga terdiri dari remaja putri. Bahkan ada yang berumur 11 tahun, hal ini terungkap ketika kawanan geng motor berhasil ditangkap di Makassar pada 15 April lalu. Tak mau kalah dengan geng motornya remaja puteri, para remaja putri pun membuat geng sendiri seperti geng nero di Pati Jawa Tengah yang pernah terkenal. Juga ada sebuah geng motor di Bali seluruh anggotanya adalah remaja putri. Mereka juga tidak sungkan untuk melakukan tindak kekerasan pada lawan-lawannya.
          
           Sebenarnya aksi anarkisme dikalangan remaja sudah biasa terjadi bahkan di sekolah-sekolah. Mulai aksi menggertak atau memalak temannya sampai tawuran antar sekolah. Hal ini disikapi hanya sebagai kenakalan remaja. Namun benarkah yang disebut kenakalan remaja tersebut hingga mengancam jiwa dan keselamatan orang lain masih bisa disebut sebagai sebuah kenakalan?

Hal ini selayaknya menjadi pr besar untuk bangsa ini. Jika kita telisik lebih jauh ada satu aspek yang memegang peranan penting dalam mengubah dan mendidik generasi muda yakni dunia pendidikan. Yang menyedihkan, dunia pendidikan saat ini nyatanya tak memberikan hasil yang signifikan dalam mendidik generasi bangsa menjadi generasi yang tak hanya unggul dalam akademisnya namun juga bermoral dan berbudi pekerti luhur. Dunia pendidikan di tanah air saat ini dalam praktek pengajarannya sangat mengesampingkan agama. Pendidikan yang berbasis sekulerisme yakni memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga jadilah output yang ada banyak generasi frustasi yang tak bermoral. Tak tau mana benar dan mana yang salah. Yang diukur dari mata pelajaran agama pun lagi-lagi kemampuan akademis, bukan aplikasi dalam kehidupan.

Dunia pendidikan lebih fokus mengejar kemampuan akademik, bukan membangun karakter yang berkepribadian Islam. Banyak aktor dunia pendidikan justru melakukan tindakan tidak terpuji.

Ada kesalahan tafsir dalam hal ini, sebuah pemahaman berbeda dalam menyikapi tindakan kriminal para remaja yang menyebabkan para remaja tak jera dalam melakukan aksi-aksinya. Ialah adanya pemakluman, kebut-kebutan di jalan, tawuran, perilaku seks bebas, sering dikategorikan sebagai ‘kenakalan’ dan bukan tindak kriminal. Merasa dapat pemakluman, banyak remaja yang kemudian tidak jera mengulangi perbuatan antisosial tersebut.

Jelas sekali aksi-aksi yang dilakukan geng motor tersebut bukan termasuk kenakalan remaja namun termasuk dalam kategori kriminalitas yang harus di tindak tegas. Karena nyatanya para remaja ini sebagian besar bisa jadi sudah terkategori dewasa atau baligh. Begitu seorang anak sudah baligh maka ia secara syar’I harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Islam juga memberikan sanksi pidana yang tegas bagi pelaku kejahatan sesuai kejahatannya. Sanksi tegas itu akan menjadi zawâjir (pencegah) yang bisa mencegah pelaku mengulangi kejahatannya dan mencegah orang lain meakukan kejahatan serupa. Dengan itu keamanan dan ketertiban masyarakat akan terwujud.

Selamatkan generasi kita dari berbagai kerusakan dengan sistem islam yang ampuh mengatasi berbagai persoalan yang ada, termasuk aksi geng  motor yang meresahkan masyarakat.

17.49 WIB
Malang, 25-04-2012




Tidak ada komentar:

Posting Komentar