“Hujani aku dengan permata sebesar gunung sarondip. Banjiri aku dengan butiran emas. Selama napas masih melekat. Rezeki tak pernah beranjak dariku. Jikalau aku mati, kuburan akan menantiku." Imam safi'i
Sambil bejalan terseok-seok di jalanan yang berdebu. Laki-laki tua itu terlihat letih dengan jubahnya yang berdebu dan kusam. Serta surban atau penutup kepalanya yang acak-acakan. Lelaki tua itu tersebut terlihat seperti habis perjalanan jauh dengan kitab-kitab tebal yang dibawanya. Ia terlihat tak ubahnya seperti seorang gelandangan. Disaat kelelahan yang memuncak tersebut ia melangkahkan kaki menuju sebuah tukang salon diujung jalan. Mengingat rambutnya yang sudah panjang, kotor dan awut-awutan sudah waktunya untuk dirapikan. Namun sebelum sempat ia langkahkan kakinya menuju salon tersebut ia sudah dihardik terlebih dahulu oleh sang pemilik salon.
“Ngapain kau gelandangan kesini?”
“Tempat ini hanya untuk orang-orang penting dan berduit, sedangkan kamu hanya seorang yang jelek dan pasti kau tak akan punya uang untuk membayar jasa disalon ini.”
“Sebaiknya kamu pulang saja, jangan kesini lagi. Nanti pelanggan-pelanggan saya lain bisa kabur. “ Kata sang pemilik salon sambil mengusir laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut secara spontan meluncurkan sebuah syair yang indah. “Hujani aku dengan permata sebesar gunung sarondip. Banjiri aku dengan butiran emas. Selama napas masih melekat, rezeki tak pernah beranjak dariku. Jikalau aku mati, kuburan akan menantiku”
Pemilik salon tesebut tidak tahu bahwa orang yang telah diusirnya tersebut adalah seorang imam besar pendiri mahzab safi’I yang saat ini terkenal itu. Beliau pernah mengalami pengusiran dari salon tempat ia ingin mencukur dan merapikan penampilannya hanya karena ia dianggap gelandangan yang pastinya tidak punya uang untuk membayar. Hanya karena tampangnya yang miskin dan jubahnya yang lusuh, acak-acakan dan berdebu karena telah melakukan perjalanan jauh ia dihina.
Fenomena-fenomena seperti inilah yang disebut dengan mereli ego. Dalam kalimat sederhananya adalah memuja diri sendiri dan merendahkan diri orang lain. Saat ini fenomena mereli ego ini sudah menjadi hal yang biasa. Apalagi dengan sistem kapitalis saat ini yang hanya mendewakan materi. Menjadikan mereli ego sebagai suatu hal yang biasa.
Ada sebuah kisah menarik dari seorang ilmuwan dan gurunya, yakni Einstein dan Spinoza. Mereka berdua mempunyai sebuah kesamaan yang unik. Sama-sama memiliki pemikiran yang erat kaitannya dengan gagasan sufisme ibnu ‘arabi. Dalam kehidupan intelektualnya mereka menjauhi sikap mereli ego. Hal ini terlihat ketika spinozamenolak ditawari menjadi profesor di Universitas Heigelberg. Ia malah memilih menjadi seorang tukang gosok lensa kacamata dan hidup sederhana penuh perenungan. Mungkin sikap menjauhi mereli ego yang ini pula yang menyebabkan Einstein menolak tawaran Marilyn Monroe untuk menikahinya, tentu penolakan tersebut dengan gaya kocaknya.
Marilyn yang berharap bahwa dari pernikahan tersebut akan melahirkan anak yang jenius seperti Einstein dan cantik seperti Marylin. Einstein pun menolaknya dengna halus melalui gurauan. " Bagaimana jika nanti yang dilahirkan adalah anak yang buruk rupa seperti saya dan tolol seperti ibunya?"
Begitu pula ketika Einstein di ditawari posisi tertinggi dalam Zionisme Internasional ia pun menolaknya dengan halus. ia pun dengan rendah hati menjawab " Terima kasih atas penghargaan Anda terhadap saya, namun biarkan saya khusuk dengan persamaan-persamaan matematika."
Pola relasi teologis amor dei atau mahabah dalam khasanah istilah tasawuf membawa orang-orang ini pada satu kecenderungan yang sama yakni meninggalkan kemewahan dunia serta jauh sikap mereli ego.
Perjalanan Jember-Malang 27 Mei 2012
Delima Putih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar