Rabu, 06 Juni 2012

Benarkah Watak Tak Bisa Diubah?

Manusia dilahirkan dalam keadaan putih lagi suci. Tak peduli bagaimana parasnya,  ataupun warna rambut dan kulitnya. Begitu pula tak peduli mau orang tuanya seorang tukang becak, penjahit, pedagang kaki lima atau bahkan seorang milyader. Anaknya seorang pezina ataupun anak seorang kiyai sama saja, ia tetap menjadi anak yang suci lagi bersih dari dosa. Lalu bagaimana jika ada yang bilang bahwa anak dari hubungan diluar nikah adalah anak haram. Jelas salah banget pendapat seperti itu, yang haram adalah aktivitas yang dilakukan oleh kedua orangtuanya bukan bayinya yang haram.



Ia ibarat kertas putih nan bersih, nah disinilah orang tua serta lingkungan yang nantinya akan memiliki peran paling penting dalam membentuk anak tersebut akan menjadi anak yang seperti apa. Setiap anak lahir dalam keadaan suci/fitrah maka kedua orang tuanya yang menjadikan ia yahudi, majusi ataupun nasrani. Begitu yang pernah diungkapkan oleh baginda Nabi saw.


Lingkungan dan juga didikan dari orang tua sangat berperan penting dalam tumbuh kembang anak hingga ia dewasa. Ada yang ia ketika ia dewasa menjadi anak yang pemalu, pendiam serta ada juga anak yang ceplas ceplos dan percaya diri. Karakter, watak ataupun sifat adalah suatu hal yang bisa dirubah. Percaya nggak? Seperti yang telah saya sebutkan diatas bahwa watak, perilaku serta kepribadian adalah sebuah bentukan. Bentukan dari lingkungannya juga dari orang tua dan orang –orang disekelilingnya.

Ia bukannya tak bisa diubah. Saya bilang bisa, kenapa? Sekali lagi karena itu adalah sebuah bentukan dan jika ingin merubah watak/kepribadian/sifat maka jawabnya adalah bentuklah diri anda menjadi seperti yang anda mau. Perlu perjuangan memang, butuh waktu yang tak sebentar. Perlu komitmen, kerjakeras dan kemauan yang luar biasa.


Sebenarnya dalam islam pun semua sudah diatur. Tak hanya mengatur ibadah manusia dengan Tuhannya namun juga mengatur segala aspek kehidupan manusia bahkan ia mengatur yang namanya naluri manusia yang itu fitrah sejak dia dilahirkan, salah satu penampakan dari naluri tersebut adalah naluri untuk mempertahankan diri (anda akan marah jika ada orang yang tiba-tiba menampar anda, itulah salah satu manifes dari naluri mempertahankan diri). Itu hanya salah satu penampakan dan saya hanya ingin membahas penampakan ini, yang biasa dinamakan gharizah baqa’. Marah adalah satu satu penampakan dari gharizah baqa’. Setiap orang pastipernah marah dan akan marah jika eksistensinya diganggu.

Saya bilang semua orang pasti punya yang namanya marah, nah disinilah peran islam dalam mengatur segalanya. Dalam islam marah pun diatur, bagaimana menempatkan marah pada tempatnya dan bukan disembarang tempat. Dalam islam marah bukan suatu hal yang dilarang bahkan bisa bernilai ibadah jika ia ditempatkan pada tempat yang seharusnya.

Teringat perkataan seorang kawan yang dengan semangat 45’nya menggebu-gebu mengatakan bahwa watak itu tak bisa dirubah. Kalau udah gini ya gini gak bisa dirubah, kalau emang dasarnya pemarah ya pemarah gak bisa dirubah. Saya jawab bisa kawan, setiap orang dilahirkan dalam keadaan suci lagi bersih dari dosa, juga dibekali dengan akal, potensi serta naluri yang sama. Kita punya garis start yang sama. Seiring berjalannya waktu, lingkungan sekitar kita serta orang – orang yang ada didekat kita itulah yang akan membentuk kita menjadi orang yang berbeda-beda. Namun tetap ada garis yang yang harus dilalui, disinilah peran penting islam dalam mengaturnya.

Berlemah lembutlah terhadap saudaramu. Dan bersikap tegas terhadap musuh Allah. Marahlah jika engkau lihat ada maksiat didepanmu. Itu hakikat marah yang benar. Boleh marah tapi tempatkan  pada tempatnya ya. :)

Mlg, 06.14 AM
12-05-2012
Reni Fee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar