“Ilmu tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa
ilmu buta”
Albert Einstein
Surat itu
telah selesai ia tulis dan harus segera ia kirim ke orang nomor satu di
Amerika, yakni Presiden USA, FD Roosevelt pada tahun 1939. Sebenarnya dengan
berat hati ia menulis surat tersebut. tekanan rasa bersalah menggelayuti
pikirannya beberapa hari ini. Membuatnya tidak bisa tidur dan tidak enak makan.
Bahkan ia akhir-akhir ini terlihat linglung.
Kerja kerasnya
selama ini tentang pengembangan teori kesetaraan energi-massa yang kini sudah
mahsyur dikenal orang. Pengaplikasian dari teori tersebut salah satunya adalah
dengan realisasi teknologi bom atom. Bagi orang lain mungkin ini adalah suatu
yang membanggakan karena teori yang dengan susah payah selama bertahun-tahun ia
kembangkan akhirnya dipakai dan digunakan oleh negara adidaya tersebut. Namun hal
tersebut tidak berlaku bagi ilmuwan jenius satu ini.
Setelah menulis
surat tersebut langsung ia layangkan ke alamat yang dituju. Surat yang berisi
peringatan tentang bom atom tersebut harus segera ia kirim karena ini
menyangkut keselamatan hidup banyak orang. Ia ingin mengingatkan bagaimana efek
dahsyat yang dapat ditimbulkan oleh bom atom. Bom berbahaya yang sanggup
meluluhlantakkan jutaan jiwa dalam waktu sesingkat-singkatnya. Sekarang ia
hanya bisa berharap bahwa rencana besar tersebut diurungkan dan dibatalkan
yakni pengeboman dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki.
Pada kenyataannya bom itu jadi juga
dijatuhkan pada Agustus 1945. Itulah pukulan terbesar bagi Albert Einstein
dalam sisi spiritualitasnya. Ia sangat kecewa hingga menyebabkan ia pikun
selama beberapa waktu lamanya, ada yang menyebut ia pikun hingga 10 tahun
terakhir hidupnya. Sejak saat itu ia gigih untuk mengkampanyekan sesantinya
yang terkenal “Agama tanpa ilmu lumpuh dan ilmu tanpa agama buta. Suatu bentuk
kekecewaan yang mendalam dari seorang Einstein.
Banyak orang
yang tidak mengenal dan lebih mengesampingkan sisi spiritualitas dari bapak
fisika satu ini. Orang-orang hanya mengenal beliau karena kejeniusan otaknya. Serta
lebih terkenal dengan teori relativitasnya. Ternyata dibalik kejeniusan otaknya
ia memiliki sisi spiritualitas yang unik. Kehidupan ruhani dengan musikalitas
yang serius. Dengan memainkan biolanya untuk menyelammi komposisi-komposisi
rumit dari Johann Sebastian Bach. Hal ini membebaskannya dari keangkuhan
rasionalisme sainstek. Dalam khasanah jawa musikalitas ini disebut dengan
gendhing jawa yang mengutamakan pengolahan rasa.
Terlepas dari
apakah Einstein beragama apa dan ataukah menganut mahzab apa, atau bahkan jika
ia tidak beragama, hal tersebut tidaklah terlalu penting karena bukan ini yang
ingin diangkat. Penulis hanya ingin memperlihatkan sisi lain seorang ilmuwan
fisika yakni Albert Einstein yang terkenal dengan hukum kesetaraan energi-massa
: E = m.c^2. Bahwa ia memiliki sisi lain yang tidak begitu dipedulikan bahkan
oleh orang yang terbiasa menggunakan teorinya tersebut.
Jember, 27 Mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar