Minggu, 27 Mei 2012

Sisi Lain Einstein


“Ilmu tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa ilmu buta” Albert Einstein

Surat itu telah selesai ia tulis dan harus segera ia kirim ke orang nomor satu di Amerika, yakni Presiden USA, FD Roosevelt pada tahun 1939. Sebenarnya dengan berat hati ia menulis surat tersebut. tekanan rasa bersalah menggelayuti pikirannya beberapa hari ini. Membuatnya tidak bisa tidur dan tidak enak makan. Bahkan ia akhir-akhir ini terlihat linglung.
Kerja kerasnya selama ini tentang pengembangan teori kesetaraan energi-massa yang kini sudah mahsyur dikenal orang. Pengaplikasian dari teori tersebut salah satunya adalah dengan realisasi teknologi bom atom. Bagi orang lain mungkin ini adalah suatu yang membanggakan karena teori yang dengan susah payah selama bertahun-tahun ia kembangkan akhirnya dipakai dan digunakan oleh negara adidaya tersebut. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi ilmuwan jenius satu ini.
Setelah menulis surat tersebut langsung ia layangkan ke alamat yang dituju. Surat yang berisi peringatan tentang bom atom tersebut harus segera ia kirim karena ini menyangkut keselamatan hidup banyak orang. Ia ingin mengingatkan bagaimana efek dahsyat yang dapat ditimbulkan oleh bom atom. Bom berbahaya yang sanggup meluluhlantakkan jutaan jiwa dalam waktu sesingkat-singkatnya. Sekarang ia hanya bisa berharap bahwa rencana besar tersebut diurungkan dan dibatalkan yakni pengeboman dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki.
Pada kenyataannya bom itu jadi juga dijatuhkan pada Agustus 1945. Itulah pukulan terbesar bagi Albert Einstein dalam sisi spiritualitasnya. Ia sangat kecewa hingga menyebabkan ia pikun selama beberapa waktu lamanya, ada yang menyebut ia pikun hingga 10 tahun terakhir hidupnya. Sejak saat itu ia gigih untuk mengkampanyekan sesantinya yang terkenal “Agama tanpa ilmu lumpuh dan ilmu tanpa agama buta. Suatu bentuk kekecewaan yang mendalam dari seorang Einstein.
Banyak orang yang tidak mengenal dan lebih mengesampingkan sisi spiritualitas dari bapak fisika satu ini. Orang-orang hanya mengenal beliau karena kejeniusan otaknya. Serta lebih terkenal dengan teori relativitasnya. Ternyata dibalik kejeniusan otaknya ia memiliki sisi spiritualitas yang unik. Kehidupan ruhani dengan musikalitas yang serius. Dengan memainkan biolanya untuk menyelammi komposisi-komposisi rumit dari Johann Sebastian Bach. Hal ini membebaskannya dari keangkuhan rasionalisme sainstek. Dalam khasanah jawa musikalitas ini disebut dengan gendhing jawa yang mengutamakan pengolahan rasa.  
Terlepas dari apakah Einstein beragama apa dan ataukah menganut mahzab apa, atau bahkan jika ia tidak beragama, hal tersebut tidaklah terlalu penting karena bukan ini yang ingin diangkat. Penulis hanya ingin memperlihatkan sisi lain seorang ilmuwan fisika yakni Albert Einstein yang terkenal dengan hukum kesetaraan energi-massa : E = m.c^2. Bahwa ia memiliki sisi lain yang tidak begitu dipedulikan bahkan oleh orang yang terbiasa menggunakan teorinya tersebut.


Jember, 27 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar