Inilah hari yang besar. Hari dimana semua
makhluk berdiri dihadapan Tuhannya. Hari ini bermacam-macam muka yang ada. Ada
yang tertunduk lesu, ada yang matanya berbinar-binar, ada yang murung, ada yang
sedih lagi galau. Namun tampang muka yang paling banyak adalah tampang murung
dan bersedih. Mungkin galau karena bingung apa yang harus dikatakan pada Tuhan
yang telah menciptakannya. Bingung dengan pertanggungjawaban yang harus dia
berikan dengan segala yang telah diberi oleh Tuhannya.
Ditengah wajah-wajah yang gundah gulana. Ada
wajah yang sumringah dengan mata yang berbinar-binar. Dialah Haji Samiun, dia senang
karena merasa pasti akan dimasukkan surga. Wajahnya benar-benar menampakkan
wajah yang sangat optimis bahwa Tuhan akan memasukkannya ke dalam surga. Satu
persatu orang orang pun dipanggil. Ada yang dimasukkan ke dalam surga dengan
malaikat yang tersenyum manis. Ada pula yang diseret-seret oleh malaikat bermuka
garang dan menyeramkan menuju ke dalam neraka. Ketika melihat orang yang
dimasukkan ke dalam surga, Haji Samiun melambai-lambaikan tangannya seakan
ingin mengatakan “hai tunggu aku, aku akan menyusulmu masuk ke surga”.
Sikap Haji Samiun ini mungkin agak berlebihan.
Namun sikap haji Samiun ini bukannya tanpa alasan. Karena memang semasa didunia
dulu ia adalah seorang yang sangat taat beragama, ia habiskan hidupnya untuk
beribadah, beribadah dan hanya beribadah. Ia gadaikan hidupnya berada di jalan
Allah dengan menjadi seorang penjaga masjid. Masa tuanya ia habiskan untuk
selalu beribadah. Semua ibadah telah ia lakukan. Setiap menit ia gunakan untuk
berdzikir kepada Tuhan. Karena itulah ia sangat optimis akan dimasukkan ke
dalam surga.
Saat-saat yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Akhirnya tibalah giliran Haji Samiun untuk menghadap Tuhan. Dengan tersenyum
bangga ia menghadap dan menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan beberapa
pertanyaan. Pertama Tuhan mengajukan pertanyaan apa yang telah dilakukan oleh
Haji Samiun didunia.
“Aku selalu menyembah Engkau Tuhan.” Kata
Haji Samiun.
“Yang lainnya?”
“Aku juga membaca kitab, setiap hari setiap
waktu aku selalu menyebut-nyebut namaMu, tanpa pernah lalai sedikitpun dalam
beribadah kepadaMU.”
“Lainnya?”
“Aku telah menyempurnakan ibadah dengan
melaksanakan salah satu perintahMu yakni berangkat ke tanah suci untuk
melaksanakan ibadah haji.”
“Ada yang lainnya lagi?”
“Semua perintahMu telah aku laksanakan, semua
laranganMu telah aku tinggalkan. Walaupun seluruh dunia berlumur dosa kepadaMu
namun aku tetap berada dalam ketaatan padaMu. Akupun selalu bersyukur dan bersabar
atas segala yang telah Engkau beri.”
“Yang lain?”
Haji Samiun kebingungan, semua yang telah
dilakukannya didunia telah ia sampaikan. Hingga ia tak dapat berkata-kata lagi.
“Telah hamba sampaikan semua yang telah hamba
lakukan didunia. Sungguh tak ada lagi yang dapat hamba sampaikan. hanya itu
yang telah hamba lakukan dan kerjakan didunia selain berada dalam ketaatan
kepadaMu.
“Oke, kalau begitu masukan dia ke neraka.”
Sahut Tuhan pada malaikat.
Haji Samiun hanya ndlongop tak bisa
berkata-kata lagi. Bagaimana mungkin ia dimasukkan ke dalam neraka. Pasti Tuhan
telah melakukan kekhilafan. Pasti ini ada kesalahan. Karena tak mungkin ia bisa
dimasukkan kedalam neraka. Haji Samiun tak mengerti dengan apa yang telah
dikehendaki oleh Tuhan.[]DP
(Bersambung)
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar